International Visitor Leadership Program of US Gov

skip to main | skip to sidebar

International Visitor Leadership Program of US Gov

Live Peace and Harmony in Diversity and Multicultural Society

Mosque

Mosque
Masjid at Massachussette, Wash, DC

Grand Central, Washington, DC.

Grand Central, Washington, DC.
in Front of Train Station of Grand Central Wash. DC

Washington, DC

Washington, DC
During IV Leadership Program, at George Washington Statue

Portland, Maine

Portland, Maine
Family Dinner Program in Portland, Maine.

IV Leadership Program

IV Leadership Program
On Right, DR. Razi Hasan, Imam Masjid Tauhid, Hunstville, Alabama after an International Seminar of Muslim Community, May 2005

Birmingham, Alabama

Birmingham, Alabama
At the Hospital for Senior Citizen with Participant from Uganda, the Philipine, Tanzania and …..

IV Pasrticipants

IV Pasrticipants
Left and Right Participant from Nigeria (Abdul Latif) Washin and Tanzania

George Washington University

George  Washington University
A part of Medical Faculty of George Washington University

IV Program, Friends

IV Program, Friends
A friend from Pakistan. Snap in front of White House arena

IV 2005, Friends

IV 2005, Friends
Bob, A Efendi, some one, Jo, all of Staff of IV Leadership Program 2005, visited Malaysia after program on Jan, 2006

Santa Fe, NM, USA

Santa Fe, NM, USA
Down-hill Skiing, Santa Fe, IV 2005

Seattle Farmer Market

Seattle Farmer Market
Azhari Affabdi, Pakistani Lady, South Africa Lady, The Pihilipine and others at Farmer Market Seattle, WA

Surat dari Mesir (1)

Hifzi, Pengurus Wisma Nusantara Kairo
Mahasiswa dari Piladang
.
Pak Darlis dan sahabat-sahabat persku Hasril, Zaili, Eko di Sgl, MM, Padek dan Haluan Yth. Kepada salah seorang di antara sahabatku, kemarin saya berjanji untuk menulis terus dalam perjalanan ini. Seperti yang sudah saya tulis sebelum keberangkatan kemarin, (entah sudah bapak terima dan baca) dalam email, kami berangkat dari Padang Pukul 12.55 dengan Garuda GA 844. Setelah transit di PekanBaru kami sampai di Singapura pukul 16.15 waktu Singapuara.
Pukul 06.40 pagi ini (Kamis, 22/7) saya Imnati dan Adam sampai di Bandara internasional Kairo. Ada sedikit perbedaan proses imigrasi. Di Singapura dan Bangkok pemeriksaan imigrasi dan barang dilakukan secara otomotis dengan kotak sinar X ketika masuk dan keluar. Ini sudah biasa di seluruh ariport di dunia.
Di sini, kotak Sinar X itu meskipun ada tidak terlalu diperlukan. Setelah ceking pasport dan slip kedatangan, oleh petugas di balik kaca lintas keluar imigrasi, kami di suruh mengunggu di satu sudut. Ternyata di beberapa kursi di sudut ruangan itu ada pula penumpang lain yang akan masuk ke Kairo. Rupanya bagi orang yang bukan warga Mesir sering atau memang seperti itu.
Terasa kepada saya seperti masuk kota Jeddah waktu musim haji saja. Sahabatku Haji Darlis, Kita kan pernah sama-sama naik haji tahun 1996 ? Kira-kira begitulah. Artinya ada petugas lain sesudah dari meja imigrasi yang bertugas membagikan passport yang sudah distamp itu. Pada mulanya saya ragu. Jangan-jangan karena baru kali ini saya masuk Mesir, ada sedikit kesulitan. Tetapi ketika saya tanya kepada pengunjung Mesir yang lain yang duduk di sebelah saya tadi, yang juga mengalami hal yang sama, rupanya ini sudah hal biasa. Kata dia, sudah tiga kali masuk Mesir, dia mengalami hal seperti itu. Jadi tidak ada masalah samasekali.
Namun sebelum passport yang sudah distamp itu diberikan ke saya, hati saya agak ragu juga. Apalagi mahasiswa Minang yang menunggu saya di luar mengirim sms ke saya, apakah ada kesulitan ? Saya terangkan keadaan itu.Total waktu yang saya butuhkan satu setengah jam. Dan kira-kitra selama itu pulalah Abdul Baari, Hasnul Yakin, Syaiful, Arif Taufik, dan Sirajuudin, menunggu. Mereka adalah Ketua dan Wakil Ketua Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau dan petugas KBRI Kairo.
Seperti yang telah saya terangkan, kedatangan saya ke sini atas undangan mereka. Bagi saya ini sangat menarik. Saya selalu berhubungan dengan mahasiswa-mahasiswa kita di luar negeri. Kemarin di Singapura saya memperkenalkan anak saya yang kuliah Ilmu Komunikasi Universita Islam Bandung kepada Ridha, putri Drs. Usman Alnas, MA, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang tempat saya menjadi salah seorang dosennya. Bulqish sedang mengeksplorasi data dan resources serta informasi dan materi untuk menulis tesis, tugas akhirnya .
Hari ini Ridha, mahasiswa Universitas Nasional Singapura itu membawa Putri Bulqish ke Kampusnya. Kata Bulqish via sms tadi, kampus Ridha sangat moderen dan canggih. Ridha adalah mahsiswi di univeristas bergengsi ini. Dan di Singapura juga ada kesatuan mahasiswa Minang. Bara Mamiya yang kuliah di Nan Yang University dan lain-lain adalah anggotanya. Mereka semua mendapat bea-siswa yang sangat memadai.
Eh, ternyata di Kairo, saya bertemu pula dengan adik kelas setahun di bawah Putri Bulqish yang sama-sama di Diniyah Putri Padang Panjang tiga tahun lalu. Yang terakhir ini bernama Kuntum, mahasiswi jurusan Bahasa Arab di al-Azhar yang orang tuanya tinggal di daerah Tunggul Hitam Padang. Ah, saya juga ingin mengatakan bahwa Arif Taufik yang tadi salah satu menjemput kami di Bandara adalah teman anak saya di Pesantren Darun Najah di Jakarta dan Cipining Bogor dulunya. Iqbal, teman Arif itu kini sedang kuliah S2 jurusan studi hubungan internasional di UGM Yogyakarta.
Sampai di Wisma Nusantara Kairo saya bertemu dengan beberapa mahasiswa Minang dan Indonesia lainnya. Di antaranya yang akan banyak tempat saya bertanya sampai 26 Juli pagi nanti adalah Hifzi, mahasiswa jurusan Hadist dari Piladang, Kab. 50 Kota. Ia sudah lebih 5 tahun di sini dan sebelumnya adalah tamatan Gontor Ponorogo. Sedangkan Hasnul, Abdul Baari dan lain-lain tadi, sebelumnya adalah tamatan MAN Program Khusus Koto Baru Padang Panjang.
Wisma Nusantara adalah sebuah gedung berlantai lima dengan masing-masing lantai ada tujuh ruang. Di antara 35 ruangan itu, di lantai dua, ada 7 kamar dijadikan kamar tempat menginap tamu warga Indonesia yang berkunjung ke Mesir. Hifzi, adalah salah seorang di antara 8 orang mahasiswa yang diangkat mengurus wisma ini. Kata Hifzi, dulu wisma ini dibeli oleh ICMI. Ketika itu ICMI dipimpin Prof Dr. BJ Habibie pada th 1997 sewaktu Mantan Presiden RI 1998-1999 itu menjadi Menristek. Habibie, banyak meninggalkan kesan mendalam bagi mahasiswa Indonesia Mesir.
Di Gedung inilah sekarang dipusatkan berbagai kegiatan mahasiswa dan sekaligus menjadi kantor DPP Persatuan Pelajar dan Mahassiswa Indonesia Mesir sejak tahun 2001 lalu. Di lantai paling atas ada perpustakaan yang lumayan. Dan bagi mahasiswa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan ethnis, daerah dan provinsi, wisma nusantara pusat kegiatan yang sangat membantu untuk pengembangan diri dan komunitas.
Nanti malam, sesuai agenda yang KMM susun, kami akan makan malam di rumah Atase Pertahanan KBRI Kairo, Kolonel Laut Yuhastiar. Menurut info, beliau adalah teman Pak Wako Padang kita sekarang Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si. Ketika kemarin saya terima telepon Pak Wako dengan temanya : “yang kujaga dan kubela” Kota Padang itu di Singapura, beliau membenarkan . Susana nanti malam dan apa kesan dan pikiran saya akan saya tulis untuk besok. Oh, ya beda waktu antara Indonesia dan Mesir adalah 4 jam musim panas dan 5 jam untuk beda pada musim dingin. Sekarang adalah musim panas. Itu artinya ketika kami makan malam di rumah Pak Yuhastira pk. 20.00 malam ini, maka di Padang sudah pukul 12.00 tengah malam kepergantian hari 23 Juli. Sampai besok, sahabat-sahabatku. ***

Surat dari Mesir (2)

Surat Shofwan Karim dari Kario (2):
Hidup dari Wisata Sejarah
Sahabatku H Darlis, Hasril, Zaili dan Eko di Singgalang, Mimbar Minang, Padek dan Haluan. Kemarin agenda yang dibuat oleh KMM cukup padat. Disela-sela acara itulah surat ini dibuat. Pada surat kemarin, seakan-akan saya langsung akan menulis soal acara dengan Atase Pertahanan KBRI yang mengundang makan malam hari itu.
Sayang rasanya cerita soal poerjalanan saya sesudah menulis surat kemarin itu dilampaui. Maka laporan saya tentang atase itu saya tulis dalam surat yang ketiga. Sementara yang kedua ini, saya akan cerita apa yang dilakukan sore hari kamis kemarin.
Mobil KBRI yang disopiri Abdul Rahman, anggota KMM membawa kami ke Giza. Memang agak lelah, karena baru pagi harinya sampai dan beerapa saat istirahat langsung jalan. Wilayah di seberang Sungai Nil menjadi kunjungan utama wisatawan di Mesir.
Di situlah, menurut adik-adik KMM, negara Mesir meraup salah satu dari sekian devisa masuk Mesir. Dasar utama ekonomi Mesir di antarnyta memang dari sektor pariwisata. Dari sekor lain, misalnya minyak bumi, memang ada, tetapi jauh di bawah Libya , Aljazair, dan lebih jauh lagi di bawah bawah Saudi, Irak, Quwait.
Pertanian juga memasok pendapatan warga dengan adanya bendungan raksasa Aswan yang membendung sungai Nil untuk irigasi dan oembangkit listrik. Dengan begitu Mesir dianggap negeri pemnghasil produk tani seperti sayuran dan buah yang lumayan. Tetapi sektor wiisata dinggap lebih utama.
Objek wisata dari bekas negeri Nabi Musa, Nabi Yusuf dan sekaligus raja-raja Fir’aun ini, di antara yang paling utama adalah Ahram atau Piramid dan Abul Haul atau Spinx. Di dalam catatan tujuh keajaiban Dunia, ciptaan manusia di samping Tembok Raksasa Cina, Borobudur, Menara Pisa dan lain-lain, maka Piramid dan Spinx adalah yang paling tertua di antaranya.
Di musim panas yang berkabut dan kering ini, bangunan segi tiga lancip menjulang itu, dikunjungi ramai sekali wisatawan manca negara. Dari wilayah Panorama yang telah ditimbun sedemikian rupa oleh Pemerintah Mesir, kami memandang kepada ketiga Piramid itu.
Tak jauh di belakangnya, di situ bediri pula bangunan batu terjal patung raksasa Kepala Manusia berbadan singa yang disebut Abul Haul atau Spinx itu berada. Hidung Spinx sudah copot. Kata gosip sejarah, hidung yang tercampak itu dibawa Napoleon setelah meinggalkan Mesir pada lebih dua abad lalu. Menuju ke Piramid yang berdiri tiga sejajar dengan ukuran besar menengah dan agak kecil, itu kami tempuh sekitar 1 jam dari Wisma Nusantara, distrik Nasir City, Kairo.
Nampaknya pengelolaan tidak terlalu rapih. Namun, seperti kata sebagian pengunjung, Mesir tetap mendapatkan keuntungan dari peradaban Fir’aun kuno yang sudah ribuan tahun ini. Untung ada Benteng Shalahuddin al-Ayubi, yang berdiri setelah kemenangan Panglima Perang Salib pada abad ke 10 Miladiyah itu. Maka benteng ini yang tetap berdiri kokoh menjadi pula sasaran kunjungan wisata Mesir yang tak kalah dengan Piramid dan Spinx itu.
Ini menjadi perimbangan kebanggaan orang Mesir terhadap dua peradaban: Fir’aun dan Islam. Berturut-turut sesudah kedua tempat tadi, kami berkunjung ke Masjid Imam Syafii. Masjid tempat mengajar ilmu keeslaman Imam Besar Syafii terletak di daerah yan disebut Hayun Safii wilayah Fusthat.
Muhammad bin Idris Al-Syafii lahir di Ghaza, Palestina pada 150 H. Beliau hidup dan belajar serta mengajar ilmu keislaman berpindah-pindah. Dari kampungnya, ulama besar sumber Mazhab Syafii ini hidup dan belajar berturut-turut di Mekkah, Madinah, Yaman, Irak dan Parsi atau Iran sekarang. Kemudian beliau pindah ke dan wafat di Mesir. Begitu penyesuaian dan elastisnya Imam ini memberikan fatwa, maka dikenal apa yang disebut fatwa lama dan fatwa baru. Suatu istilah yang popler di kalangan ilmuwan fikih yang disebut Qualul Qadim dan Qaulul Jadid. Suatu istilah sebagai pembeda antara fatwa yang keluar dari beliau pada masa kehidupannya di Irak dan di Mesir.
Di Masjid ini, menurut ornamen yang tertulis di dindingnya, Imam Syafii sehari-hari hidup dengan mengajar murid-murid dan jama’ahnya. Pagi-pag sesudah shalat subuh mengajar Tafsir. Kemudian matahari mulai muncul beliau mengajar hadist dan ketika waktu dhuha baru beliau membuka lebar pintu untuk masyarakat umum berdiskusi dan berdialog soal-soal praktis bagi kalangan awam.
Sayang, tempat wisata sejarah ini terletak di daerah yang agak sempit dan terkesan kurang mendapat perhatian . Menurut sebagian orang, ada kemungkinan pemerintah memang kekurangan dana untuk pemeliharaan atau ada faktor lain. Misalnya, mazhab Syafii kurang populer di Mesir yang mayoritas mengikuti Mazhab Maliki.
Antisipasi terhadap kemungkinan masyarakat hanya terfokus pada salah satu mazhab, nampaknya ada pula masjid-masjid yang terbuka untuk jama’ah semua mazhab. Setiap warga dan umat baik pengikut mazhab Syafii, Hanbali, Hanafi dan Maliki dapat melakukan ibadahnya di Masjid ini menurut caranya masing-masing. Inilah Masjid Hasan Bin Thalun yang terletak lebih terbuka dan tempatnya lebih strategis tak jauh dari wilayah benteng Shalahudiin yang sudah disinggung di atas tadi. Masjid ini dibangun, menurutu shahibul hikayat sebagai peringatan untuk Saidah Aiisyah Radhiallahu’anha, istri Rasulullah. SWA.
Membangun proyek-proyek yang bersifat monumental untuk memperingati peritiswa dan tokoh samapi sekarang diteruskan oleh Mesir. Misalnya jalan layang toll bebas hambatan melintas kota Kairo yang dijuluki layang dan toll tepanjang di Afrika adalah dalam rangka monumen kemenangan Mesir dari perang melaawan Israel pada bulan Oktober atau Ramadhan tahun 1973.
Begitu pula dibangun monumen dengan pilar segitiga dan taman yang terpelihara rapi di hadapan stadion seberang jalan raya yang membelah kota Kairo. Monumen itu untuk mengenang wafatnya Anwar Sadat ditembak oleh salah seorang prajurit dalam suatu upacara parade militer pada bulan Oktober 1981. Sampai kami berhenti di temnpat itu, kami melihat tentara dengan pakaian kebesarannya berjaga-jaga dengan disiplin. Dengan pakain yang penuh assesoris agak mencolok, menurut pikiran saya sebagai tanda penghargaan yang tinggi kepada almarhum mantan Presiden Mesir itu. ***

Surat dari Mesir (3)

Surat Shofwan Karim dari Kario (3):
Hidup dari Wisata Sejarah

Sahabatku H Darlis, Hasril, Zaili dan Eko di Singgalang, Mimbar Minang, Padek dan Haluan. Kemarin agenda yang dibuat oleh KMM cukup padat. Disela-sela acara itulah surat ini dibuat. Pada surat kemarin, seakan-akan saya langsung akan menulis soal acara dengan Atase Pertahanan KBRI yang mengundang makan malam hari itu.
Sayang rasanya cerita soal poerjalanan saya sesudah menulis surat kemarin itu dilampaui. Maka laporan saya tentang atase itu saya tulis dalam surat yang ketiga. Sementara yang kedua ini, saya akan cerita apa yang dilakukan sore hari kamis kemarin.
Mobil KBRI yang disopiri Abdul Rahman, anggota KMM membawa kami ke Giza. Memang agak lelah, karena baru pagi harinya sampai dan beerapa saat istirahat langsung jalan. Wilayah di seberang Sungai Nil menjadi kunjungan utama wisatawan di Mesir.
Di situlah, menurut adik-adik KMM, negara Mesir meraup salah satu dari sekian devisa masuk Mesir. Dasar utama ekonomi Mesir di antarnyta memang dari sektor pariwisata. Dari sekor lain, misalnya minyak bumi, memang ada, tetapi jauh di bawah Libya , Aljazair, dan lebih jauh lagi di bawah bawah Saudi, Irak, Quwait.
Pertanian juga memasok pendapatan warga dengan adanya bendungan raksasa Aswan yang membendung sungai Nil untuk irigasi dan oembangkit listrik. Dengan begitu Mesir dianggap negeri pemnghasil produk tani seperti sayuran dan buah yang lumayan. Tetapi sektor wiisata dinggap lebih utama.
Objek wisata dari bekas negeri Nabi Musa, Nabi Yusuf dan sekaligus raja-raja Fir’aun ini, di antara yang paling utama adalah Ahram atau Piramid dan Abul Haul atau Spinx. Di dalam catatan tujuh keajaiban Dunia, ciptaan manusia di samping Tembok Raksasa Cina, Borobudur, Menara Pisa dan lain-lain, maka Piramid dan Spinx adalah yang paling tertua di antaranya.
Di musim panas yang berkabut dan kering ini, bangunan segi tiga lancip menjulang itu, dikunjungi ramai sekali wisatawan manca negara. Dari wilayah Panorama yang telah ditimbun sedemikian rupa oleh Pemerintah Mesir, kami memandang kepada ketiga Piramid itu.
Tak jauh di belakangnya, di situ bediri pula bangunan batu terjal patung raksasa Kepala Manusia berbadan singa yang disebut Abul Haul atau Spinx itu berada. Hidung Spinx sudah copot. Kata gosip sejarah, hidung yang tercampak itu dibawa Napoleon setelah meinggalkan Mesir pada lebih dua abad lalu. Menuju ke Piramid yang berdiri tiga sejajar dengan ukuran besar menengah dan agak kecil, itu kami tempuh sekitar 1 jam dari Wisma Nusantara, distrik Nasir City, Kairo.
Nampaknya pengelolaan tidak terlalu rapih. Namun, seperti kata sebagian pengunjung, Mesir tetap mendapatkan keuntungan dari peradaban Fir’aun kuno yang sudah ribuan tahun ini. Untung ada Benteng Shalahuddin al-Ayubi, yang berdiri setelah kemenangan Panglima Perang Salib pada abad ke 10 Miladiyah itu. Maka benteng ini yang tetap berdiri kokoh menjadi pula sasaran kunjungan wisata Mesir yang tak kalah dengan Piramid dan Spinx itu.
Ini menjadi perimbangan kebanggaan orang Mesir terhadap dua peradaban: Fir’aun dan Islam. Berturut-turut sesudah kedua tempat tadi, kami berkunjung ke Masjid Imam Syafii. Masjid tempat mengajar ilmu keeslaman Imam Besar Syafii terletak di daerah yan disebut Hayun Safii wilayah Fusthat.
Muhammad bin Idris Al-Syafii lahir di Ghaza, Palestina pada 150 H. Beliau hidup dan belajar serta mengajar ilmu keislaman berpindah-pindah. Dari kampungnya, ulama besar sumber Mazhab Syafii ini hidup dan belajar berturut-turut di Mekkah, Madinah, Yaman, Irak dan Parsi atau Iran sekarang. Kemudian beliau pindah ke dan wafat di Mesir. Begitu penyesuaian dan elastisnya Imam ini memberikan fatwa, maka dikenal apa yang disebut fatwa lama dan fatwa baru. Suatu istilah yang popler di kalangan ilmuwan fikih yang disebut Qualul Qadim dan Qaulul Jadid. Suatu istilah sebagai pembeda antara fatwa yang keluar dari beliau pada masa kehidupannya di Irak dan di Mesir.
Di Masjid ini, menurut ornamen yang tertulis di dindingnya, Imam Syafii sehari-hari hidup dengan mengajar murid-murid dan jama’ahnya. Pagi-pag sesudah shalat subuh mengajar Tafsir. Kemudian matahari mulai muncul beliau mengajar hadist dan ketika waktu dhuha baru beliau membuka lebar pintu untuk masyarakat umum berdiskusi dan berdialog soal-soal praktis bagi kalangan awam.
Sayang, tempat wisata sejarah ini terletak di daerah yang agak sempit dan terkesan kurang mendapat perhatian . Menurut sebagian orang, ada kemungkinan pemerintah memang kekurangan dana untuk pemeliharaan atau ada faktor lain. Misalnya, mazhab Syafii kurang populer di Mesir yang mayoritas mengikuti Mazhab Maliki.
Antisipasi terhadap kemungkinan masyarakat hanya terfokus pada salah satu mazhab, nampaknya ada pula masjid-masjid yang terbuka untuk jama’ah semua mazhab. Setiap warga dan umat baik pengikut mazhab Syafii, Hanbali, Hanafi dan Maliki dapat melakukan ibadahnya di Masjid ini menurut caranya masing-masing. Inilah Masjid Hasan Bin Thalun yang terletak lebih terbuka dan tempatnya lebih strategis tak jauh dari wilayah benteng Shalahudiin yang sudah disinggung di atas tadi. Masjid ini dibangun, menurutu shahibul hikayat sebagai peringatan untuk Saidah Aiisyah Radhiallahu’anha, istri Rasulullah. SWA.
Membangun proyek-proyek yang bersifat monumental untuk memperingati peritiswa dan tokoh samapi sekarang diteruskan oleh Mesir. Misalnya jalan layang toll bebas hambatan melintas kota Kairo yang dijuluki layang dan toll tepanjang di Afrika adalah dalam rangka monumen kemenangan Mesir dari perang melaawan Israel pada bulan Oktober atau Ramadhan tahun 1973.
Begitu pula dibangun monumen dengan pilar segitiga dan taman yang terpelihara rapi di hadapan stadion seberang jalan raya yang membelah kota Kairo. Monumen itu untuk mengenang wafatnya Anwar Sadat ditembak oleh salah seorang prajurit dalam suatu upacara parade militer pada bulan Oktober 1981. Sampai kami berhenti di temnpat itu, kami melihat tentara dengan pakaian kebesarannya berjaga-jaga dengan disiplin. Dengan pakain yang penuh assesoris agak mencolok, menurut pikiran saya sebagai tanda penghargaan yang tinggi kepada almarhum mantan Presiden Mesir itu. Ataukah sekedar untuk menarik perhatian wisatawan ?***

International Visitor

International Visitor
Evaluation Meeting of Program in Seattle, WA, May, 25, 2005

Transformasi Islam, Budaya dan Peradaban

Transformasi Islam, Budaya dan Peradaban, (Kerisauan Bersama Cucu Magek Dirih)
www.padangekspres.co.id/
Kamis, 12 Juni 2008
Oleh : Shofwan Karim, Cendekiawan MuslimKerisauan Cucu Magek Dirih (Cucu Magek/CM), harus diakui telah menjadi kerisauan kita bersama. Termasuk Cucu Bandaro Saga Jantan (Cucu Saga/CS). Maka berikut ini diskusi lanjutan dalam rangkaian menyambut esai CM, Selasa 3 Juni lalu: “ Transformasi Islam yang Membina Perilaku Umat (Shofwan Tidak Risau/Sudah Puas?)”.
Sebelumnya, CM (Sutan Zaili Asril) menulis kegagalan subyek pembina perilaku umat. (Lihat, Padang Eskpres, “Kenapa Umara/Ulama dan Dai/Mubaligh Gagal Membina Perilaku Masyarakat?”, Minggu, 25/5. Terhadap esai itulah CS (Shofwan Karim) menulis, “Tanggung Jawab Membina Perilaku Masyarakat—Mempertimbangkan Esai Cucu Magek Dirih”, Sabtu, 31/5.
Kalau tidak salah, kali ini CM menggeser pokok pembahasan dari yang semula subyek (umara/ulama, dai/muballigh) yang gagal melakukan pembinaan ummat kepada hal bawaan subyek itu, yaitu transformasi Islam. Paling tidak, gagasan itu yang ditangkap oleh CS dalam membaca diskusi 3/6 yang baru lalu. Oleh karena itu, sebaiknya ke mana irama gendang CM, ke situ pula langkah SC berayun. Singkatnya, CM menghendaki cendekiawan muslim memiliki konsep transformasi Islam yang membina perilaku umat.
Mungkin yang diinginkan CM adalah konsep baru. Kalau konsep lama, rasanya seperti menuangkan garam ke laut. Khazanah “garam” intelektual CM sudah penuh dengan konsep lama itu. Katakanlah, setiap cendekiawan yang tergabung di dalam berbagai organisasi ummat di Indonesia telah memiliki konsep transformasi Islam yang sudah lama tersebut. Muhammadiyah (dulu) memiliki konsep 9 komponen matan-keyakinan hidup dan cita-cita.
Sejak Muktamar 2000, konsep itu dilengkapi dengan pedoman hidup Islami warga Muhammadiyah. Nahdhatul Ulama dengan konsep ahlu sunnah wal jamaah-nya; persaudaraan (ukhuwah) imaniah, wathaniyah dan basyariah-nya. Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dengan konsep 5 K-nya. Tidak perlu pula CS menguraikan satu persatu karena nanti CM akan menganggap menggurui. Itu hanya untuk menyebut secuil konsep yang menurut CS perlu dipertimbangkan terus-menerus dikaji, diaplikasikan dan dievaluasi.
Kalau kita mau singgung Persatuan Islam (Persis), al-Jamiah-alkhairiah, al-Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan seterusnya, maka deretan konsep itu semakin panjang. Lebih dari itu, sejak dari wafatnya Rasulullah, masa sahabat dan masa kekhalifahan Bani Abbasiyah, Bani Umaiyah, Shafawi, Mughal, Ustmani, sampai berakhirnya kekhalifahan Islam dengan merdekanya negara-negara Islam di dunia sejak pertengahan abad lalu, secara global transformasi Islam tidak pernah selesai dan tidak pernah tuntas.
Ketidakselesaian transformasi Islam itu, menurut hemat CS adalah sesuatu yang harus direnungkan secara dalam. Apakah Islam sudah selesai menjadi agama kebudayaan dan peradaban? Islam mungkin sudah selesai menjadi agama wahyu, menjadi agama theologi atau dimensi akidah. Tetapi ketika Islam menjadi perilaku budaya dan peradaban, maka menurut CS, transformasi Islam tidak akan pernah berhenti dan berakhir.
Hal itu menjadi relevan karena kebudayaan dan peradaban manusia termasuk ummat Islam terus berkembang. Secara kasat mata, terjadi transformasi yang terus-menerus dan tidak pernah berhenti. Dimensi syariah, ambil misalnya fikih munakahat (pernikahan). Kitab fikih kita oleh beberapa kalangan diminta untuk ditinjau secara komprehensif akibat perkembangan budaya dan peradaban baru yang disebut dunia maya (virtual world/cyberworld). Masalah ijab kabul, misalnya.
Kalau dulu ada pendapat pro kontra ijab-kabul via telepon, maka sekarang bagaimana dengan sistem chatting internet atau via video-call 3 G. Contoh-contoh itu akan bisa diperpanjang dengan bidang dan dimensi lainnya dalam perkembangan budaya dan peradaban mutakhir lainnya.
Bagaimanapun, transformasi Islam ada yang berjalan secara terencana atau sebaliknya alamiah (untuk tidak menyebut tanpa konsep). Tergantung pemahaman dan praktik Islam oleh siapa, di mana, serta pada tingkat komunitas inetelektual, akal dan budaya pendukungnya. Misalnya soal perilaku ummat.
Kalau yang kita maksud perilaku aqidah dan ibadah yang semestinya bersesuaian dengan perilaku budaya (praktik hidup), maka Al-Qur’an sudah menyebutkan secara lugas dan tegas bahwa orang yang bertaqwa itu mesti dekat kepada Allah dan selalu merasakan kehadiran Allah SWT dalam setiap tarikan nafasnya, karena Allah lebih dekat dari pada urat leher mereka sendiri.
Shalat, selanjutnya, bukankah ibadah wajib ini tidak hanya gerakan fisik tetapi lebih-lebih lagi mengubah perilaku untuk tidak melakukan yang terlarang dan yang mungkar? Sebutlah Aqidah dan ibadah mahdhah dan rukun Islam yang lain, semuanya sudah tercantum di dalam kitab-kitab putih atau kuning mengenai Ushuluddin (Tauhid), Syari’ah, Fikih, Tasawuf dan seterusnya.
Tiap-tiapnya ada pemikiran terdalam yang disebut dengan filsafat (hikmah) aqidah dan syari’ah-nya. Semuanya mengacu kepada konsep transformasi perubahan perilaku dari yang tercela kepada yang terpuji untuk setiap individu, kolegial dan komunal. Soalnya, siapa yang menatalaksanakan konsep itu dalam pentadbiran (manajemen) kehidupan?
Di sini barangkali ada sedikit perbedaan cara pandang antara CM dan CS. Kalau CM memandang beban itu terletak pada pundak umara dan ulama. Pada pikiran CS, beban itu harus dipikul bersama oleh setiap orang dan komponen serta unsur, alias tanggung jawab kolektif, sejak dari rumah tangga sampai ke ruangan publik. Tentu ulama dan zu’ama (cendekiawan) berada dan mengemban posisi dan fungsi strategis.
Keduanya sudah (relatif) dan diharapkan menjadi lokomotif, penggerak utama. CS sependapat dengan CM, sebagai transformator, umara dan ulama berada pada garis depan. Kalau umara’ menjadi mesin penggerak, maka ulama selayaknya menjadi dinamo atau aki yang merangsang mesin itu terus menerus. Tetapi perlu direnungkan bahwa kedua komponen itu tidak berarti apa-apa tanpa komponen-komponen lainnya.
Di dalam transformasi Islam ini, bisa jadi kita harus mengkaji ulang tentang Islam ini. Sebelumnya kita kita sudah terlanjur mempunyai Islam “yang masing-masing”. Betapa, kadang-kadang kita berharap orang lain berbudaya dan berperadaban Islam seperti apa yang kita pikirkan, sementara pikiran dan akal itu merupakan anugerah paling berharga dari Allah SWT.
Termasuk dalam manifestasinya pada kehidupan masing-masing diri, keluarga, komunitas dan seterusnya. Soalnya sekarang, ada di antara kita yang bekerja terus menerus di segmen praktis seperti guru, dosen, pedagang, wartawan, pemerintah, dan kelompok profesional yang terlanjur tidak menoleh ke kanan dan kiri. Ada di antara kita yang menganggap Islam yang kita pikirkan kita praktikkan, itulah yang paling benar. Sementara yang orang lain pikirkan dan praktikkan adalah salah. Artinya, masing-masing kita harus mentranformasi Islam dalam dirinya, budayanya dan peradabannya, termasuk CS. Islam yang rahmatan lil alamin. ***

Thursday, November 26, 2009

Multiply wins Disney iParenting Award

Link

Diposting oleh Shofwan Karim di 1:01 PM 0 komentar Link ke posting ini

Older Posts

Subscribe to: Posts (Atom)

About Me

My Photo

Shofwan Karim
The Time For Innovation: Ilmu amaliah, amal ilmiyah

View my complete profile

New Mexico

New Mexico
International Visitor Leadership Program Participant of 17 Countries Asia, Africa, Latin America and East Eroupe.

Canada World Youth

Canada World Youth
Indonesia Canada World Youth Exchange Program participant, Group Leader and Country Co-ordinator Orientastion Camp at Brag Creek Camp, out site of Calgary, September 1980

Powered By Blogger

Link List

Bendera kita terkoyak

Bendera kita terkoyak
Hasil Jepretan Wartawan Padang Ekspres

Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau Mesir

H. Agus Firdaus Chandra, Lc.
H. Fardi Rahman, Lc.
H. Andrizal Chandra, Lc.
H. Afrinaldi, Lc.
H. Abrar Agung, Lc.
H. Hasnul Yakin, Lc.
H. M. Husni, Lc.
H. Rony Hidayat, Lc.
H. Joni Efendi, Lc.
H. Kilal Syauqi, Lc.
H. Saiful Efendi, Lc.
H. Adrizal, Lc.
H. Abdussalam, Lc.
H. Al Mudarris, Lc.
H. Arwansyah, Lc.
H. Abu Bakar, Lc.
Malik Akbar

Idul Adhha, 1983

Idul Adhha, 1983
My family: Im, Iqbal, Opim

Kairo, Mesir Juli 2004

Kairo, Mesir Juli 2004
Seminar KMM, Isyu Aktual Islam dan Minangkabau

Saskatoon, Saskatcewan, CN

Saskatoon, Saskatcewan, CN
winter Season, Canada 1982

Blog Archive

Links

Followers

International Visitor Leadership Program of US Gov

Diterbitkan oleh Home of My Thought, Talk, Writing and Effort

Mengabdi dalam bingkai rahmatan li al-alamin untuk menggapai ridha-Nya.

%d blogger menyukai ini: