Shofwan Karim’s Family – Harian Singgalang Online

 

Link: http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=2…

Rabu, 12 August 2009
Hari Jadi Kota Padang
(Shofwan Karim)
Kota Padang dengan luas 695 km2, terdiri atas 11 kecamatan berpenduduk 765.40 ribu jiwa (statistik 2003), merupakan melting-pot atau wajan gado-gado dalam segala hal. Menurut catatan Pemko Padang, seperti yang sering dipresentasikannnya, penduduk Padang 60 persen dari Padang Pariaman dan 20 persen dari Solok, selebihnya daerah lain di Sumbar dan luarnya seperti Nias, Jawa, Batak, Keling dan Cina. Begitupula latar belakang mata pencarian dan profesi. Kebanyakan petani, nelayan, pegawai negeri, pelaku bisnis, pedagang kecil, industri rumah tangga, wartawan, siswa dan mahasiswa, perantau tak menetap, datang dan pergi.
Dari multicultural latar belakang itu, agaknya kesadaran sebagai warga kota terhadap tanggungjawab dan haknya, tidak selalu sejajar dengan pemahaman mereka tehadap masa lalu, masa sekarang dan masa depan tempat mereka menarik nafas setiap waktu ini. Karena itu ketika Hari Jadi kota ini diperingati, ada baiknya di-update dan di-refresh ulang khazanah intelektual dan batin mereka. Serangan rakyat dari Kota (koto) Pauh terhadap Belanda 7 Agustus 1669 telah resmi dinyatakan sebagai Hari Jadi kota Padang. Dengan begitu, Padang dianggap lahir sejak 340 tahun lalu berdasarkan heroistik rakyat, bukan karena saat itu bangunan pertama berdiri di dataran ini, atau bukan pula hari pertama seseorang atau sebuah keluarga menapak dan menetap di sini.
Karena itu, bolehlah dibolak-balik kesadaran kolektif kita terhadap masa lalu yang tidak begitu jauh, dan masa kini yang di pelupuk hati dan mata, serta masa depan dalam idaman dan cita-cita.
Katakan saja ketika kota ini mulai diperhatikan dengan amat serius kebersihannya pada masa Hasan Basri Durin, kemudian menjulang namanya dengan merebut Adipura masa Syahrul Wujud, masa Zuiyen Rais dan tentu sekarang di masa Fauzi Bahar.
Masing-nasing ‘nakhoda kapal’ kota ini mempunyai kelebihan manajemen, kepemimpinan dan gebrakannya.
Akan tetapi sorotan kepada peranan, status, fungsi dan partisipasi warga kota perlu pula diperhatikan. Tentu saja kalau sudah dipahami bersama bahwa kota ini enak ditinggali, sedap dikunjungi, pendidikan berkembang kualitasnya, perawatan kesehatan dapat menjadi alternatif. Bahasa krennya menjadi kota wisata, pendidikan, kesehatan dan bisnis, yang dilandasi iman dan taqwa serta berakhlaqul karimah.
Mungkinkah dicarikan stategi yang tepat mendidik warga kota supaya meningkatkan peranannya yang sederhana tetapi berdampak luar biasa terhadap karisma dan wibawa sebuah kota. Hal kecil itu misalnya soal disiplin jalan raya, dan keramahan di ruang publik. Lebih meningkat lagi soal kebersihan kota, penataan tata kota, penciptaan lapangan kerja dan seterusnya.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, seseorang atau satu zaman dari pemimpin kota, rasanya tidak adil kalau dipuji setinggi langit atau dicerca sampai ke perut bumi tanpa secara berimbang harus juga memuja atau mengoreksi warganya sendiri.
Soalnya adalah, seberapa jauh inisiatif dan kreativitas warga kota juga diapresiasi oleh pemkonya. Sebaliknya seberapa jauh pula program pemko diterima dengan hati dan dijalankan dengan ikhlas oleh warganya. Untuk ini harus dilihat simpul-simpul transformator unsur masyarakat antara warga biasa dengan pemkonya.
Misalnya para sopir angkutan kota, pemilik dan karyawan restoran, hotel, plasa, pedagang, atau orang pasar, petugas pelabuhan, lapangan terbang dan seterusnya. Mereka jangan dilihat sebelah mata.
Misalnya sopir angkot. Baik oplet, bus maupun taksi. Atau mereka juga jangan merasa tidak punya arti dalam dinamika kemajuan kota. Mereka adalah gerbang hati dan otak kota. Bahkan gerbang kota di antara BIM dan pusat kota di Lubuk Buaya boleh tumbang, tetapi sopir angkot dan taksi tak boleh berhenti melayani apalagi pelaku binis hotel, resto dan sektor publik lainnya.
Merekalah sebenarnya yang menjadi garda terdepan dalam memberikan kenyamanan warga kota dan pengunjung dari luar, baik wisatawan maupun orang biasa.
Singkatnya perlu keseimbangan peranan antara pemko dan warga dalam mencintai kota yang “kujaga dan kubela ini”. (*)

Tags: kota padang

Prev: Mandat ICMI Silaknas – Fullscreen

Shofwan Karim’s Family – Harian Singgalang Online

Diterbitkan oleh Home of My Thought, Talk, Writing and Effort

Mengabdi dalam bingkai rahmatan li al-alamin untuk menggapai ridha-Nya.

%d blogger menyukai ini: