:::HARIAN SINGGALANG ONLINE :::

Senin, 06 September 2010

KKM Salah Samek

BASRIL BASYAR
Samek hanyalah sebuah benda kecil yang terbuat dari logam. Biasanya ibu-ibu lebih akrab dengan benda ini ketimbang bapak-bapak. Sebab samek sendiri banyak disimpan ibu-ibu, karena dapat membantu pekerjaan-pekerjaan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, samek atau dalam bahasa Indonesia disebut peniti berfungsi sebagai alat yang dapat membantu seseorang, mempertemukan suatu bidang kain dangan bidang yang lain.
Dapat dipastikan fungsi samek kadang-kadang sangatlah luar biasa, bahkan bisa menyelamatkan seseorang dari rasa malu. Coba bayangkan kalau di tengah orang ramai, tiba-tiba celana seseorang robek, apalagi pada bahagian penting. Betapa malunya orang itu. Hanya sameklah yang bisa menyelamatkan.
Namun, apa pula jadinya kalau ada yang mengatakan “salah samek?. Pasti lain artinya. Orang tua-tua dahulu sering menggunakan kata-kata salah samek untuk mengatakan sesuatu yang dikerjakan tidak pada tempatnya. Kalau pekerjaan kita tidak bermanfaat atau asal buat saja yang tidak berguna dikatakan oleh orang tua kita
Hey waang salah samek mah.
Artinya kita menggunakan samek itu tidak pada tempatnya, bukan pada bidang yang robek tadi, misalnya, tetapi pada sembarangan. Tetapi kata-kata salah samek ini kadang-kadang juga dipakai sebagai kata kias. Daun telinganya bisa memerah., kalau dikatakan orang kita salah samek.
Kalau boleh kita perumpamakan, mungkin inilah yang sedang dialami Panitia Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM) sekarang. Saya yakin dan percaya bahwa orang atau panitia yang merumuskan materi KKM adalah orang pintar dan peduli dengan Minangkabau. Saya juga yakin bahwa beliau-beliau itu sudah menghabiskan waktu, daya dan dana untuk merampungkan pekerjaan tersebut. Beliau-beliau itu juga punya segudang pengalaman.
Tetapi karena yang mereka kerjakan belum dipaiyokan dengan orang ranah, akhirnya jadi bagalegoh. Kerja besar itu kandas karena belum disepakati. Terobosan organisasi Gebu Minang mengambil langkah penting untuk mempertajam pemahaman ABS-SBK menjelang berakhir masa kepengurusan Desember 2010 mendatang adalah sesuatu yang patut mendapat pujian. Tetapi, ya karena salah samek akhirnya jadi berantakan.
Secara merathon, para penggagas, terutama SC sudah merampung draft yang isinya mungkin sangatlah bagus. Namun sekali lagi, ketika pembahasan dimulai, belum tersosialisasikan dengan baik, terutama terhadap lembaga-lembaga terkait, LKAAM, MUI, Dewan Kesenian serta organisasi kemasyarakatan lainnya, masalah jadi lain.
Ibaratnya, orang di kampuang atau ranah dibaok an bajak sudah. Inilah yang terjadi sekarang. Suara-suara penolakan makin nyaring, bahkan dalam pertemuan dengan Wakil Gubernur Jumat pekan lalu, sudah diputuskan KKM ditolak. Urgensinya belum mendesak untuk dibicarakan sekarang.
Sebenarnya kita juga paham dengan apa yang disampaikan beliau-beliau yang diberi mandat oleh Bakor-bakor orang Minang di Jakarta. Apa yang disampaikan Dasrul Lamsuddin, Marwan Paris, Firdaus Umar, Suhatmansyah dan Zul dapat kita pahami secara bersama-sama. Marwan Paris misalnya meminta agar para peserta rapat terutama yang ada di ranah dapat mempertimbangkan kerja keras para penggagas atau panitia di Jakarta. Berbulan-bulan mereka menyiapkan bahkan juga ada FGD (Fokus Group Discussion). Kalau kurang tolong ditukuak, singkek tolong diuleh dan panjang tolong dikarek.
Mana yang tidak perlu, orang rantau rela menerimanya. Tetapi lagi-lagi hal ini tidak mendapat tanggapan. Belum lagi para narasumber yang akan menyampaikan makalah dalam kongres. Banyak pihak yang menilai bahwa narasumber sebagian kurang kompeten dan relevan. Ketika diadakan pertemuan antara rang ranah dengan rang rantau di rumah Irman Gusman di Jakarta, ada rencana mau disempurnakan pemakalah. Tetapi kenyataannya masih belum diubah, sehingga resistensi rang ranah semakin keras.
Inilah pelajaran pahit yang mesti kita terima. Ketahuilah bahwa zaman sudah berubah. Menggadang-gadangkan pejabat di atas. Katakanlah KKM akan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atau Mendagri Gamawan, Ketua DPD Irman Gusman serta para tokoh-tokoh di Jakarta sudah sepakat dengan acara ini, nampaknya tak mempan lagi. Menakut-nakuti orang di kampuang, tidak masa lagi.
Kalau zaman Orba, mungkin apa yang direncanakan KKM seperti sekarang pasti jalan, karena sudah ada restu dari atas. Tetapi keadaan sudah terbalik, tak lagi top down, tapi buttom up.
Jaanlah awak salah samek juo lai, apak-apak awak yang di Jakarta! (*)

:::HARIAN SINGGALANG ONLINE :::

Diterbitkan oleh Home of My Thought, Talk, Writing and Effort

Mengabdi dalam bingkai rahmatan li al-alamin untuk menggapai ridha-Nya.

%d blogger menyukai ini: