http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1848

Sabtu, 13 November 2010
 
Bupati Alis yang Gigih dan Idealis
SHOFWAN KARIM

Kenangan masa lalu dalam kepala dan dada saya berbinar. Kamis pagi di lounge Garuda Jakarta saya bicara dengan Fahmi Idris mantan Menaker dan Menprin kabinet lalu.
Bang Fahmi —demikian saya menyapa- mengatakan dia akan terbang ke pelantikan Bupati Alis Marajo Dt. Sori Marajo. Tokoh kita yang sempat istirahat lima tahun lalu dilantik lagi untuk jabatan yang sama. Alis Marajo come back.
Bupati Limapuluh Kota ini di kalangan aktivis kampus pertengahan dan akhir 1970-an bahkan sampai sekarang, dipanggil Bang Alis. Sebutan abang melekat pada kami aktivis kampus 1970-an untuk menyebut para aktivis 1966, penumbang Orde Lama pada masa itu.
Di Sumbar ada Bang Zaidal untuk menyebut almarhum dokter Zaidal Bahauddin. Bang Pohan untuk menyebut Arif Pohan, Bang Makmur untuk menyebut Makmur Hendrik, Bang Cai, almarhum Marizal Umar, Bang Syahrul untuk menyebut Syahrul Ujud, dan Bang Masfar utuk menyebut Masfar Rasyid.
Di tingkat nasional ada Bang Fahmi Idris, Bang Gafur untuk menyebut mantan Menmuda Dr. Abdul Ghafur, Bang Akbar untuk menyebut mantan Ketua DPR RI Akbar Tanjung, Bang Buyung untuk menyebut Buyung Nasution, pengacara terkenal dan seterusnya.
Tetapi istilah abang tidak berlaku untuk uda H. Basril Djabar dan uda Syarif Ali atau uda Muslim Ilyas (alm) dan tokoh lainnya yang memimpin mahasiswa dan pemuda di Sumbar di zamannya.
Kamis pagi itu saya hendak ke Konvensi Dunia Melayu Dunia Islam di Batam. Karena itu, entah diundang atau tidak, seyogyanya saya hadir utk bersimpati dan empati. Saya sempat telepon Bang Alis dua kali, tetapi isterinya menjawab, Bang Alis sedang mandi, sementara saya harus boarding.
Setelah bicara singkat dengan Bang Fahmi, saya juga melihat dari kejauhan Bang Gafur, Bang Mahdi dan sempat bicara dg Bang Rusydi yang hendak ke Payakumbuh. Di harian Singgalang online saya juga tahu bahwa Bang Syahrul juga hadir.
Semua abang-abang tadi, sekarang sudah kembali sepenuhnya ke masyarakat, setelah mereka melanglang buana dalam karir dan profesinya masing-masing di masa Orde Baru, Orde Reformasi dan Orde Pencerahan sekarang ini.
Istilah Orde Pencerahan, ini hanya ada dalam fikiran saya. Untuk menyatakan bahwa reformasi sudah selesai karena demokrasi, keadilan, anti korupsi, kesejahteraan, politik, ekonomi dan sosial budaya sekarang sudah relatif tersusun polanya (paling tidak dalam pikiran) sejak 10-11 tahun terakhir.
Dan lebih dari itu, sudah jarang istilah reformasi, ini keluar mulut orator dalam orasinya di depan publik dan opini media sejak 1-2 tahun terakhir. Maka kalau benar orde reformasi selesai, kini saya gunakan Orde Pencerahan.
Kembali ke Bang Alis. Pada ujung 1977/1978, sampai awal 1980-an muncul terma Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiwaan (BKK) di era Menteri P dan K, Daud Yusuf. Oleh Daud Yusuf rekonstruk student goverment ini dianggap revitalisasi kampus sebagai institusi ilmiah dan mahasiswa sebagai warga ilmiah. Bagi kalangan aktivis kritis waktu itu, NKK BKK dianggap delegitimisasi kekuatan kritis mahasiswa, karena waktu itu sering terjadi demo anti kebijakan pemerintah.
Bang Alis adalah korban dari kebijakan NKK BKK itu. Karena itu Bang Alis hampir tidak lagi berkutik. Padahal sebelumnya Bang Alis adalah bintang cemerlang aktivis kampus.
Lebih banyak saya berinteraksi dengan Bang Alis dalam kegiatan kemahasiswa dan kepemudaan dalam dan luar kampus yang lain.
Saya terlibat intensif menggeluti pers mahasiswa koran Suara Kampus. Di Unand ada latihan dasar jurnalistik, begitu pula di IAIN dan IKIP waktu itu. Mungkin karena perguruan tinggi belum sebanyak sekarang di Sumbar, masih dihitung dengan jari maka keakraban antar kampus waktu itu sangat terasa.
Di luar tiga PT tadi hanya ada ASKI (sekarang ISI) di Padang Panjang dan APDN di Bukittinggi. Namun setelah 30-40 tahun terakhir di Sumbar sudah 116 PTS dan PTN. Jadi wajar kalau kedekatan aktivis lintas kampus agak kurang. Bahkan sesama mereka sekampus pun belum tentu akrab. Menurut catatan Kopertis mahasiswa PTS dan PTN di seluruh Sumbar sekarang sekitar 110 ribu orang.
Bang Alis adalah tokoh idola kampus masa itu. Dalam aktivitas saya di Resimen Mahasiswa, Senat dan kemudian Dewan Mahasiswa, Lembaga Bahasa dan Sasta, Lembaga Teater, Hikmat Studi Klub, Bang Alis selalu menjadi narasumber.
Paling tidak, ada tiga konten substantif pembicaraan yang terus meluncur di bibir Bang Alis: Islamisme, Nasionalisme dan Sosialisme. Sepertinya Bang Alis ingin mewariskan kepada kami para aktivis pikirannya yang mungkin waktu itu sangat menggandrungi pemikiran M Natsir, Soekarno, Hatta dan Syahrir.
Ciri khas Bang Alis adalah suara lembut, bahkan nyaris kurang terdengar seperti orang mau berbisik, tetapi tajam dan menukik. Lebih filosifikal dan kadang-kadang sangat Minangkabauis.
Belakangan baru saya tahu, setelah saya tamat IAIN dan Bang Alis jauh di atas saya tamat di kedokteran, ternyata beliau juga penghulu kaumnya. Hemat saya, Bang Alis intensif berinteraksi sesama generasinya Bang Syahrul Udjud, Hasan Basri Nasution dan Taufik Thaib yang berpacu di dalam institusi politik Orba.
Sementara para aktivis lainnya minggir dari arena politik praktis, Bang Alis terus berpacu di jalur ini. Tentu saja sebagai orang kampus, dosen yang pegawai negeri Banh Alis dapat menjalankannya secara simultan.(*).

Diterbitkan oleh Home of My Thought, Talk, Writing and Effort

Mengabdi dalam bingkai rahmatan li al-alamin untuk menggapai ridha-Nya.

%d blogger menyukai ini: