Amati, Pikirkan, Renungkan dan Pilih

Minggu, 29 Desember 2013 | 12:53 WIB
Amati, Pikirkan, Renungkan dan Pilih
Paling pokok agaknya adalah substansi, kota menjadi kondusif dan bergairah kembali.
Wartawan: Shofwan Karim | Editor: Redaksi
Amati, Pikirkan, Renungkan dan Pilih
Pilkada Padang (KLIKPOSITIF/Muhammad Fitrah)
Pada hari Kamis 16 Januari 2014, sebagai yang telah ditetapkan KPU Kota Padang, Insya Allah pemungutan suara putaran kedua Pilkada dilakukan. Setiap warga kota pasti berharap, kota akan mendapatkan pemimpin. Baru atau lama inilah yang menjadi pikiran sebagian mereka.

Sebagian orang berharap ada perubahan. Perubahan pada orang atau kebijakan memimpin kota. Harapan terdalam adalah bagaimana kehidupan kota menjadi kondusif dan bergairah kembali?

Terlepas dari yang baru itu orang atau kebijakan, dan itu sulit diprediksi karena betatapun hasil survey, bisa terjadi hal-hal yang diluar dugaan.

Paling pokok agaknya adalah substansi, kota menjadi kondusif dan bergairah kembali. Untuk itu harus kita lihat prasyarat kota kondusif dan bergairah kembali itu pada beberapa sisi.

Pertama, sarana vital listrik dan air bersih. Keduanya merupakan infra dan supra struktur kehidupan yang dibutuhkan oleh setiap manusia yang bernafas. Primitif atau modern suatu komunitas, amat tergantung kepada dua kebutuhan ini.

Soalnya, apakah suatu kota sudah mendapat pelayanan yang prima dan merata? Atau kedua kebutuhan ini sama saja dengan 10 atau 20 bahkan 30 tahun lalu? Mati-hidup, tak tentu jamnya. Tiba-tiba pemilik rumah tangga sudah mendapat peringatan untuk sambungan listrik dan air itu diputus karena belum bayar.

Kedua, kebersihan dan keteraturan kehidupan kota. Ini bisa dilihat apakah jalan raya, perkantoran, lingkungan rumah tangga dan perumahan, taman-taman, pasar-pasar, pantai, terminal (kalau ada), fasilitas umum atau public space semuanya bersih dari sampah, genangan air, pecahan dan potongan benda-benda daan pandangan mata yang nyaman. Letak tata bangunan, apakah teratur dan asri? Iklan yang berserakan di tengah kota, apakah punya nilai estetika, etika dan budaya?

Ketiga, transportasi. Jalur transportasi, apakah sudah memudahkan warga untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Apakah terminal diperlukan atau tidak diperlukan karena semua sudah teratur rute dan jalurnya. Setiap warga akan dengan mudah mengakses, dari dan kemana.Angkot, apakah sesuai standar dan tidak hingar-bingar serta dicat sesuai dengan keindahan dan kepatutan serta budaya kota? Sehingga akan ada ciri dalam imajinasi bahwa ini adalah angkot kota Padang.

Keempat, tempat ibadah. Apakah setiap warga kota menjadikan tempat ibadah sebagai ruangan public yang nyaman, bersih, teratur dan tidak terlihat kumal. Jarak antara satu dengan lainnya dipertimbangkan untuk kebaikan dan kenyaman tadi. Suara mickrophone, kira-kira menyejukkan telinga atau membuat lingkungan terpaksa mendengar karena ini urusan agama sehingga tidak perlu dipertanyakan.

Kelima, sarana kesehatan dan pendidikan. Dua hal prasyarat hidup modern ini merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Baik secara fisik maupun non-fisik, prangkat keras atau prangkat lunak, piranti SDM atau piranti prasarana, sarana dan fasilitas materialnya. Semuanya harus diukur dengan jumlah penduduk kota dalam perbandingan rasio yang minimal atau maksimal?

Keenam, kebutuhan publik penggunaan waktu luang “lieisure time” atau sarana prasana wisata serta pengelolaan wisata kota yang nyaman, berbudaya dan menghargai nilai keberagamaan, sudahkah memadai atau apa lagi yang harus ditingkatkan?

Ketujuh, rasa aman, hubungan sosial, tingkat keberagamaan, tingkat ekonomi dan keunggulan kota dalam pencitraan, apakah sudah ada atau masih harus diwujudkan dan ditingkatkan?

Butiran kebutuhan tadi bisa dikembangkan lagi. Tetapi 7 hal tadi merupakan pra dan syarat sebuah kota yang beradab dan berbudaya. Lihatlah buku-saku pedoman perjalanan “travelling book guide”, ensiklopedi kota, dan referensi kota yang sudah baku di seluruh dunia.

Dan di Indonsia, semua hal di atas tadi dikategorikan kepada 3 tugas pokok pemimpin kota, bupati bahkan gubernur. Mereka bertugas dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan, tugas menyelenggarakan pembangunan dan tugas membina masyarakat dan sosial-budaya.

Semua hal itu menjadi menu sehari-hari bagi apa yang disebut sebagai dinas dan perangkat daerah. Dan mereka akan dipimpin, diarahkan, dikomandokan, dibina dan diberi wawasan serta dinilai oleh Wako dan Wawako yang terpilih nanti. Passangan yang disebut terakhir ini yang menjadi penanggungjawab utama, tidak ada yang lain.

Di situlah nanti akan kelihatan kharismatik, leadership dan keampuhan pemimpin produk demokrasi itu diuji. Di era otonomi daerah penuh sekarang, tentu tidak perlu Wako, Bupati dan Gubernur berkata: itu bukan wewenang kami, itu wewenang pusat. Bukankah beliau memililiki kekuasan penuh (otonom) sekaligus mewakili pemerintah pusat di daerah?

Dan masyarakat akan merasa berperanan aktif untuk pembangunan kotanya kalau lahir pemimpin yang punya kompetensi seperti itu tadi. Mari lihat, amati, pikirkan dan khayalkan, lalu pilih, pasangan mana yang pantas? (*)

Diterbitkan oleh Home of My Thought, Talk, Writing and Effort

Mengabdi dalam bingkai rahmatan li al-alamin untuk menggapai ridha-Nya.

%d blogger menyukai ini: