Pahit dan Manis di Bangku Kuliah

http://www.klikpositif.com/m/news/read/25173/pahit-dan-manis-di-bangku-kuliah.html

CWY-Indonesia, Rosetown, Saskatchewan, Canada, Fall-Winter 1982-1983
CWY-Indonesia, Rosetown, Saskatchewan, Canada, Fall-Winter 1982-1983

“Saling berbagi”, itulah awal percakapan kami bersama ibu yang sudah berpisah dengan suaminya. Entah kenapa, peristiwa hampir 20 tahun lalu itu yang menjadi causa-prima perceraian, tak pernah saya tanyakan kepadanya. Di dalam beberapa kali pertemuan reuni kecil-kecilan angkatan kami, teman ini secara terbuka curhat. Beberapa anaknya sudah selesai kuliah, bahkan ada yang sudah selesai S2.

Sayang ibu kepada anaknya sepanjang jalan kehidupan. Itulah yang saya tangkap ketika teman ini menanyakan, apakah saya mempunyai relasi atau kenalan pada beberapa atau paling tidak di sebuah insitusi yang disebutnya menjadi incaran anaknya untuk bekerja. Pertanyaan seperti ini sudah tidak terhitung kalinya datang dari teman dan kalangan berbeda kepada saya. Sehingga di dalam hati ini ada kesimpulan, bahwa di zaman sekarang, ternyata orang tua lebih khawatir terhadap masa depan anaknya dibandingkan orang tua di zaman saya masih remaja dulu.

Sesuatu yang hampir tidak pernah dilakukan oleh orang tua pada tahun 1960-an sampai 1970-an pada masa kanak-kanak dan remaja saya. Namun, saya tidak merasa kurang kasih sayang dan perhatian orang tua. Bahkan ketika saya mulai kuliah, saya bilang mau bekerja sambilan, ayah dan ibu saya tersenyum bangga. Sambil kuliah, mulailah saya mengajar membaca Quran rumah ke rumah. Modal saya hanya juara baca Quran nomor 2 waktu kelas 6 SR (sekarang SD) pada Musabaqah Tilawatil Quran di kampung. Adakalanya mengajar Bahasa Inggris yang sorenya saya peroleh di tempat kursus seperti Elen School, Pak Muslim, kira-kira dekat SMA Conforty, lokasi BCA Jl. Agus Salim sekarang. Atau IES Uda Syahril Kasim, Sawahan, pindah ke Alang Laweh dan kemudian di pinggir Imam Bonjol depan Polres. Dengan bekal less tadi, malamnya atau hari lain kosong kuliah, saya datang ke rumah-rumah pejabat yang anaknya perlu private-less. Menjadi buruh kasar di Pabrik Karet Riung Lima Gunung Ujung Gurun pernah saya coba. Menjadi penenun kain sarung di PT Syukur, lokasi Universitas Dharma Andalas sekarang di Simpang Haru.

Menjadi penyiar Radio Angkasa Jaya di Pusat Kesenian Padang (sekarang Taman Budaya) pernah saya lakukan. Belakangan stasiun radio itu dibeli oleh kelompok Arbes Rasonia. Menjadi pengantar majalah dan koran, pernah saya coba. Menjadi salesman asuransi jiwa, pernah saya lakukan. Semua itu berlangsung dalam rentang waktu 1972-1982. Akibatnya tentu kuiah saya tidak tamat sesuai tenggat waktu. Untuk Sarjana Muda (BA) normalnya 3 tahun, saya menyelesaikan 4 tahun (1976). Untuk Sarjana Lengkap (Drs.) normalnya 2-3 tahun, saya menyelesaikan 6 tahun (1982). Bila disetarakan dengan sekarang, BA itu sama dengan S1. Dan Drs. itu sama dengan Magister atau S2.

Tentu saja masa itu tidak ada drop-out dalam sistem perkuliahan. Meskipun belakangan saya harus menyelesaikan lagi S2 dan S3 setelah berumur 39 tahun (1991) dan 56 tahun (2008), dan tentu saja itu dengan seabrek kesibukan dalam mendayung kehidupan. Waktu dulu itu, ayah dan ibu (keduanya saya panggil abak dan amak) dengan gembira mengetahui saya bekerja sambil kuliah. Abak malah mula-mula membelikan sepeda. Kemudian membelikan kenderaan roda-dua, Honda Kijang rombengan di Pasar Raya. Nomor Plat Polisinya masih saya ingat, BA 1409. Katanya, kenderaan ini untuk memudahkan saya kuliah dan sekaligus bekerja sambilan tadi. Belakangan Honda tadi saya kirim ke kampung karena saya ada Suzuki Menwa dan Juga Honda 110S kenderaan dinas Resimen Mahasiswa yang saya mulanya menjadi Danyon kemudian Kasmen.

Semua itu saya ceritakan ulang kepada teman tadi. Dan ini sebenarnya hanya menyegarkan ingatan saja, karena dia sudah tahu kisah hidup saya yang kelasik itu . Maklum banyak teman, termasuk dia mengetahui keadaan masa lalu saya. Maka tiba-tiba dia bilang, bahwa masa sekarang tidak mungkin ada mahasiswa seperti kisah masa lalu saya tadi. Oleh karena sekarang kuliah sangat padat dan untuk S1 yang 8 semester itu harus selesai paling lambat 10 semester atau 4 tahun atau paling lama 5 tahun. Saya kembali meyakinkan sahabat saya ini. Hanya mengulang kisah seorang Dosen Unand yang mengajar kewirausahaan tahun-tahun belakangan ini. Bahwa banyak mahasiswanya yang sekarang sudah berwiraswasta sambil kuliah. Ada yang membuka cucian kiloan. Ada yang jual pulsa. Ada yang usaha sablon. Ada yang menjadi wartawan sambil kuliah. Menjadi web-master, mengasuh blog dan berbagai usaha lain. Pada mulanya memang susah memotivasi mahasiswa untuk berwirausaha ini.

Sampai-sampai dosen itu (terimakasih Dr. Ir. Henmaidi, M.Sc atas testimoninya) menawarkan modal awal 500 ribu dari koceknya. Alhamdulillah, katanya, di antara sekian mahasiswa ada yang sukses. Mereka sukses buka usaha dan sukses pula kuliah. Dan umumnya mereka inilah yang setelah wisuda sarjana, hampir tidak pernah minta pekerjaan apa lagi minta menjadi pegawai kantoran alias pegawai negeri. Mereka sudah menyatu dengan dunia usaha yang dimulai dari usaha kecil-kecilan dan kemudian menjadi lahan kehidupan. Teman saya tadi mengangguk-angguk, tersenyum dan entah apa lagi yang ada dalam pikirannya. Saya bilang, “itulah pahit dan manisnya di bangku kuliah sambil berusaha.”

Berita Terkait: SHOFWAN KARIM: Cara Remaja Jepang Mandiri (3) Sakura, Tayang Ulang Kehidupan (2) Ke Jepang Seperti Diceritakan Imnati dan Bulqis (1) Belajar dari Senior Menghormati dalam Kesantunan

Diterbitkan oleh Home of My Thought, Talk, Writing and Effort

Mengabdi dalam bingkai rahmatan li al-alamin untuk menggapai ridha-Nya.

%d blogger menyukai ini: