Dengan Kereta ke Yogyakarta

Pasca Bom Jalan Thamrin (1):

Dengan Kereta ke Yogyakarta

Oleh Shofwan Karim

Delapan hari pasca Bom Jalan Thamrin (14/1/2016) saya dengan isteri Dra. Hj. Imnati Ilyad, BA., S. Pd., M. Pd, Konselor dan putra kami Adam Putra ke Yogkarta, Jumat, 22/1/2016.

Ke Yogyakarta kali ini tujuan pertama saya adalah nenghadiri pernikahan dan kenduri putri pertama Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M. Ag. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

 

Setalian dg itu, ingin silaturrahim dg Ketua Umum PP MUhammadiyah hasil Muktamar Muhammadiyah ke 47 Makassar Agustus lalu Dr. H. Haedar Nashir, M. Si.

Sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar hasil Musywil Desember lalu yang sudah di putuskan PP Muhammadiyah dg SK 9 Januari ini, adalah kewajiban moral bagi saya utk hadir dan bertemu dengan kedua tokoh tadi.

Untuk ke Yogyakarta, kali ini saya naik Garuda dari Padang ke Jakarta, kemudian naik kereta Argo Dwipangga. Ada dua alasan mengapa kali ini saya ingin naik kereta dari Jakarta ke Yogyakarta.

Pertama, bagaimana rasanya naik kereta dari Jakarta ke Jawa (sebutan lama untuk Jateng dan Jatim oleh orang dulu), setelah lebih 10 tahun tidak saya lakukan.

Kedua, pasca bom jalan Thamrin, bagaimana sekuriti atau keamanan bepergian. Bila di pelabuhan udara banyak aparat berwajib dan kemanan, bagaimana pula di stasiun dan dalam gerbong kereta.

Saya mulai dengan rasanya naik kereta setelah absen 10 tahun. Khayalan saya terkait dengan “gawe” Jokowi. Kemarin lalu, 21/1/2016 Presiden Jokowi meresmikan dimulainya peletakan batu pertama atau “ground breaking” Kereta Cepat Jakarta ke Bandung.

Nanti, jarak tempuh 154 km dua kota utama itu akan hanya dalam waktu 54 menit (Kata Wako Bandung Ridwan Kamil dalam instagram 35 menit) yang dapat dinikmati tahun 2019.

Di Stasiun Kereta Beijing-Selatan:

unnamed-7.jpg

 

 

Di dalam car,/wagon/gerbong ekonomi kereta Shanghai-Beijing (Foto: Dok. SK)

Image-4

 

Saya ingin merasakan kereta eksekutif yang ada sekarang ini dibandingkan dengan kereta 2019. Oleh karena kereta cepat 2019 itu nanti adalah hasil teknologi China Tiongkok, maka dalam imajinasi samalah dengan kereta cepat yang kini sedang ngetren di China seperti yang saya nikmati dengan isteri tgl 29/12/2015 barusan dari Shanghai ke Beijing.

Jarak Shanghai-Beijing 1500 km itu kami tempuh 5 jam, beberapa menit stop di beberapa stasiun dengan kecepatan rata-rata 300 km perjam. Harga 1 tiket eksekutif 933 Yuan untuk sekali jalan atau hampir 2 juta rupiah.

Sementara sekarang jarak Jakarta-Yogyakarta 535 km ditempuh lebih kurang 8 Jam. Harga tiket eksekutif sekali jalan 380 ribu rupiah.

Foto: Di dalam kereta Argo Dwipangga, kondektur dengan petugas keamanan yg waspada (Dok. SK)

 

unnamed-2
.

Kereta Argo Dwipangga yang kami duduki terdengar keras keretak, keretok dan goyang-goyangan seperti duduk di mobil truk lewat batu cadas atau bagai di sampan panjang di atas ombak laut.

Keadaan itu sama sekali tidak kami rasakan di Kereta China. Dari Shanghai ke Beijing rasaya kami seperti di dalan rumah atau di atas mobil di jalan aspal mulus atau bagai di atas kapal berlayar di laut tenang tanpa ada suara berisik apa lagi suara keras gemeretak.

Tidak ada ” ampang-ampang” kereta utuk melewati kota atau desa di sepanjang jalan antara Shanghai-Beijing yang dilewati karena kereta akan melintasinya melalui terowongan atau jembatan di atas kampung atau kota itu. (Bersambung)

Pasca Bom Jalan Thamrin (Habis):

Keamanan dan Kenyaman dalam Kereta

Oleh Shofwan Karim

Memasuki stasiun kereta di Sanghaihongqiao tentu saja punya aura sangat berbeda dengan stasiun Jakartagambir.

Yang pertama merupakan stasiun pusat yang terletak berdampingan dg Bandar Udara Shanghai dan agak keluar kota. Sedang yang kedua di pusat kota Jakarta dan bukan stasiun pusat, karena stasiun pusat di Jakarta adalah stasiun di Kota, beberapa menit dari Gambir.

Apakah nanti stasiun Halim Perdana Kusumah stasiun awal Jakarta kereta cepat ke Bandung itu akan mirip dengan stasiun Shanghaihongqiao yang bersebelahan lapangan terbang? Sepertinya, iya. Karena lapangan Halim kini hidup lagi di samping untuk militer juga publik dan komersial terutama utk penerbangan ke Timur.

Kalau asumsi ini benar dan nanti proyek kereta cepat tadi sukses, maka seperti disebut beberapa kalangan, akan diteruskan menjadi kereta cepat Jakarta-Surabaya.

Dengan begitu tentulah Halim menjadi stasiun kereta super luas dan amat besar seperti stasiun Beijingnan atau Shanghaihangqiao tadi. Kita tunggu sampai pada suatu waktu yg tidak terlalu lama.

Maka memasuki stasiun seperti memasuki lapangan terbang. Semua orang, barang dan bawaan melewati detector dan Xtray . Sistem ticketing, ruang tunggu, boarding dan seterusnya sama seperti bepergian terbang nasional, regional dan internasiona

Stasiun Kereta Shanghaihongqiao. ( Foto: Dok. SK)unnamed

Image-15
Dalam berkhayal begitu, saya dikejutkan oleh situasi tadi di Stasiun Gambir melihat beberapa aparat keamanan lewat dan masuk ke gerbong.

Di dalam kereta kelas eksekutif Argo Dwipangga ini aparat keamanan kembali terlihat.

Kondektur masuk gerbong kami dan di belakangnya merapat petugas keamanan. Alhamdullillah, tidak dengan senjata lengkap. Hanya saya lihat mata dan cara berdirinya cuku awar dan waspada. Tidak ada kesan yang menakutkan, apa lagi mencekam. Di dalam hati saya bersyukur.

Tentu saja keadaan ini berbeda dengan apa yang saya saksikan di China dari 15 sampai dengan 21 Desember bulan lalu. Tidak satupun aparat keamanan berseragam yang kelihatan di stasiun Shangharhingqiao, dalam kereta sepanjang perjalanan sampai ke Stasiun Beijingan. Tidak terlihat juga ada says lihat di tembok raksasa China, and atau dalam dan sekitar komplek Masjid Neujie yang berusia seribu tahun itu.

Sebelumnya di kota-kota Suzhou, Hangzhou dan Shanghai, saya juga tidak melihat aparat dan petugas keamanan berseragam dan bersenjata. Sesuatu yang kontras dengan apa yang saya saksikan dengan pemandangan di Beijing pada tahun 1995. Artinya, sejak 20 tahun terakhir China secara umum lebih aman. (Habis)

 

Diterbitkan oleh Home of My Thought, Talk, Writing and Effort

Mengabdi dalam bingkai rahmatan li al-alamin untuk menggapai ridha-Nya.

%d blogger menyukai ini: