Pariwisata, Apa Lagi?

http://gogel-sonay.blogspot.com/2011/06/pariwisata-apa-lagi.html. Akses, 11.03.2014

fullsizeoutput_8e54
Lembah Harau dari sisi lain dari Nagari Harau, Idul Fitri 2017. (Foto: Dok Klg)

Pariwisata, Apa Lagi?

SHOFWAN KARIM

APAKAH lagi yang menjadi idaman pelaku dunia wisata di Sumbar? Mungkin pidato Gubernur Irwan Prayitno dan Ketua DPD RI Irman Gusman dapat menjawabnya.

Adalah Festival Langkisau yang sudah sejak 10 tahun lalu diadakan di Painan, Pesisir Selatan, kembali digelar di bibir pantai teluk Painan, Selasa (21/6/2011). Tokoh BA 1 dan RI 7 itu memberi pidato sambutan yang melankolik dan romantis.

Gubernur menyebut potensi wisata Sumbar semakin hari semakin dikembang-gerakkan. Akan tetapi, sejalan dengan upaya terstruktur oleh SKPD yang berkaitan di provinsi dan di kabupaten-kota, gubernur mengajak untuk introspeksi, peranan masyarakat tak kalah pentingnya.

Paling tidak, kata gubernur, dalam hal kultur kepawirisataan, masyarakat mampu memberikan jasa dan pelayanan yang prima.

Masyarakat di sini, tentu saja ada dua. Pertama, masyarakat pelaku jasa dan bisnis berkaitan kepariwisataan. Kedua, masyarakat umum yang secara langsung atau tidak, telah menjadi ekosistem kepariwisataan itu sendiri.

Untuk yang pertama, misalnya sopir taksi, rental mobil, angkot, pelayanan di restoran, hotel dan para pelaku yang menjadi subyek pada setiap titik land-mark pariwisata tadi.

Yang kedua tentu saja masyarakat umum yang ada di mana-mana di sepanjang jalan, amatlah tak kalah pentingnya.

Sampai sekarang, kita seakan membiarkan apa adanya alias taken for granted beberapa hal yang kelihatan sepele. Misalnya toilet alias tempat kajamban. Secara faktual, hanya ada satu atau dua saja pompa bensin Pertamina yang boleh disebut agak memadai. Di situ ada mushala dan toilet yang agak lumayan. Selain itu, diserahkan kepada ‘nasib’ dan tak terurus.

Selebihnya, janganlah kita bertanya soal rest-area atau tempat-rehat antara satu titik dengan titik lain di seantero wilayah ini.

Gubernur mengaku dari Padang ke Painan saja terpaksa menahan hajat kecilnya karena tidak tersedia tempat semacam itu sepanjang jalan.

Pada sisi lain Ketua DPD RI Irman Gusman lebih menekankan kepada fokus pembangunan Sumbar, yang menurut pemikirannya dapat disebut sebagai 3 T: traveling, trading dan training . Yang dimaksudkannya sebagai kepariwisataan, perdagangan dan pendidikan.

Tentu saja semua sektor pembangunan Sumbar merupakan amanah penuh, dilaksanakan sesuai RPJM dan RPJP. Irman tampaknya terobsesi bahwa kepariwisataan, perdagangan dan pendidikan merupakan soko guru dari semua sektor pembangunan.

Pintanya, secara tersistemik dan terukur, ketiga bidang tadi menjadi base-line semua kiprah pembangunan oleh pemerintah maupun masyarakat di ranah ini.

Persoalan sekarang, apakah dorongan gubernur dan gugus pikir Ketua DPD tadi menjadi arus utama konsepsi ke depan kita? Masih perlu diuji oleh situasi dan kondisi.

Sang waktu akan membuktikan, kapankah Allah memberikan ruang kesadaran yang prima kepada kita tentang kepariwisataan? (*)

Diterbitkan oleh Home of My Thought, Talk, Writing and Effort

Mengabdi dalam bingkai rahmatan li al-alamin untuk menggapai ridha-Nya.

%d blogger menyukai ini: