Tokoh Muda Minang: Esa Hilang Dua Terbilang

Prof. Dr. Saldi Isra. (Foto: detik.com)

Tokoh Muda Minang:

Esa Hilang Dua Terbilang

Oleh Shofwan Karim

Tentu saja lelaki 60-an tahun itu senyum dan bersyukur membaca induk berita halaman pertama Harian Singgalang, Selasa, 11 April 2017 kemarin.

Teman yang terpaut usia hampir dua dasawarsa di bawahnya menghiasi halaman koran ini. Prof. Dr. Saldi Isra, SH., MPA dilantik Presiden Joko Widodo menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi (MK).

Bagi lelaki ini bukan Saldi yang menjadi titik pikirannya. Tetapi kondisi kejiwaan masyarakat dan warga Minang yang di kampung dan di rantau, itulah yang membuat dia tersenyum dan sekaligus bersyukur.

Di tengah badai kejiwaan kolektif etnis Minang yang terjepit dan meleleh akhir-akhir ini, Saldi bangkit. Dia menjadi setitik lubang yang ditimpa cahaya dalam sebuah kamar yang gulita.

Ini bukan berarti menapikan nama-nama lain yang mungkin masih ada di belantara jagat republik ini. Mereka yang lain tentu ada pula yang  mempunyai prestasi dan prestise seperti Saldi. Akan tetapi dalam keadaan jiwa masyarakat dan warga ranah Minang yang 2 tahun ini galau tak alang kepalang, kini  mendapat siraman sedikit air menyejukkan.

Beberapa lama, di lepau, di café, dan di sudut-sudut palanta, bagai bunyi nyamuk menderu suara bising menyesali diri . Oleh karena satu persatu tokoh Minang yang selama ini dianggap menjadi ikon bahkan mascot, dicokok berbagai persoalan.

Tidak usahlah menyesali diri berkepanjangan. Tegakkan kepala dan atur siasat dan strategi lagi. Taka  guna mengurut dada. Tak guna membuang diri. Tak guna menyesal. Dunia ini selalu dan akan berubah.

Saldi, dia anggap unggul dalam hal siasat dan strategi ini. Tak lama setelah Saldi diangkat menjadi Komisaris Utama (Komut) PT SP, ada perjumpaan tak sengaja. Apa lagi lelaki itu pernah 10 tahun  menjadi Komisaris pada korporat  tempat Saldi Komut dewasa itu. Dalam perecakapan singkat, Lelaki ini diberi tahu tidak sengaja oleh Saldi. Katanya, “dirinya mungkin tidak akan lama menjadi Komut PTSP.”

Mendengar kata-kata itu, Lelaki ini  seakan sudah mendapat angin bahwa Komut hanyalah langkah pertama Saldi memasuki wilayah beban tanggungjawab kenegaraan.  Di luar tugas pokoknya sebagai Guru Besar di Unand. Atau tafsiran  lainnya, ada ketidaknyamanan Saldi terus menjadi Komut. Pikiran lelaki itu melayang ke beberapa tahun silam. Waktu lelaki itu Komisaris, debu corong  Pabrik Indarung menimpa Sebagian Kawasan Ulu gadut Perumahan Dosen Unand.

Saldi sukup vocal terhadap hal itu. Bahkan Saldi pernah bilang bahwa keberatan itu sudah dilayangkannnya ke Pusat dan beberapa instansi terkait. Waktu itu, karena merasa dekat dengan Saldi, lelaki itu secara bijak diam saja. Tetapi di dalam rapat Komisaris dan Direksi, hal itu disampaikan dengan baik dan santun supaya menjadi perhatian. Dan Direksi menerangkan bahwa kabut asap yang mengandung partikel halus itu hanya ketika menghidupkan awal pabrik yang berganti-ganti pada Pabrik yang tua. Sedang Pabrik yang baru, tidak sama sekali. Itu hanya terjadi ketika listirik mati.  Kemudian pabrik dihidupkan  lagi.

Sekarang, Lelaki itu membalik kembali memori kogninitifnya. Sejak masa awal reformasi, Saldi adalah anak muda yang vokal. Dia masih ingat di Masjid Raya Taqwa Muhammadiyah Pasar Raya, Saldi,  bersama pemuda Muhammadiyah pada  awal reformasi dan pasca reformasi, sering kumpul.  Tahun 1998,  1999 dan 2000, Saldi menjadi patron pemuda-pemuda itu. Saldi berkata keras dan  kritis soal korupsi.

Apalagi waktu itu, ada kasus yang dikenal dengan korupsi berjamaah pada DPRD Sumbar 1999-2004. Beberapa orang anggota dewan dari kalangan Muhammadiyah pada beberapa partai Politik, merasa tidak nyaman. Saldi mendapat tekanan. Bahkan singkat cerita, Saldi hampir tidak mau lagi dekat dengan komunitas yang semula menjadi tikar awal namanya dikenal. Bukan karena apa-apa, tetapi komunitas itu sudah mengucilkannya karena ada pihak tertentu yang amat tersinggung oleh vokalnya suara Saldi waktu itu.

Dan Saldi memang ibarat pepatah.  Esa hilang dua terbilang. Dia tekun berkonsentrasi bukan lagi dengan cara lama tetapi dengan pedang ilmu dan analisisnya. Saldi menjadi penulis “kondang” di media nasional. Tak banyak tokoh Minang yang menulis di koran nasional  waktu itu. Bahkan, di Koran Kompas,setelah generasi almarhum Prof Hendra Asmara, beberapa dekade sebelumnya, Saldi boleh disebut pelanjutnya.

Tulisannya ditunggu untuk dibaca di koran lokal dan nasional. Suaranya dinanti di forum-forum nasional. Bahkan selama hampir dua minggu beberapa tahun lalu Saldi berkeliling Amerika atas undangan luar negeri itu menjajakan betapa korupsi harus diberantas di negerinya. Untuk  yang terakhir ini, Lelaki itu secuil punya kenangan.

Suatu kali, sekitar 10 tahun lalu. Mendadak ada telepon dari Kedubes AS. Di ujung telepon, staf Kedubes AS bilang, tolong Pak carikan kandidat yang akan kirim ke AS. Waktunya sangat mendesak. “Kenapa bukan saya saja?” Kata lelaki itu. “Maaf, Pak. Tidak boleh dalam masa 7 tahun seorang yang sudah dikirim ke AS oleh Pemerintah ikut program yang diatur Pemerintah.” “ Baik, saya paham”, kata lelaki itu.

Lelaki itu baru 2 tahun sebelum ini,  ikut progam IVLP (International Visitor Leadership Program) on Democracy. Program sepanjang satu bulan itu membawanya dari Utara ke Selatan dan dari Barat ke Timur di  sebagian besar kawasan negara federal AS itu. Dan itu kunungannya ke delapan atas seponsor pihak lain sejak 1980 sampai dengan 2005.

Ketika lelaki itu mengatakan calonnya Dr. Saldi Isra (waktu itu belum Prof), maka langsung dikatakan, “segera Pak, hubungi dan berikan nomor HP Saldi ke Saya”, dari ujung sana.

“Kualifikasinya, apa ? “ tanya lelaki itu. “Pakar anti korupsi”, kata ujung sana. “Wah, Saldi pakar hukum tata negara”, “tetapi Saldi juga pegiat anti korupsi kata lelaki itu. “Nanti saya, coba yakinkan otoritas pengirim, Pak,” kata Jakarta. Dan tak kurang dari 2 pekan, setelah dialog telepon tadi, Saldi sudah berada di AS.

Kembali ke Saldi pada masa akhir tadi ketika diangkat  menjadi Hakim MK. Prof ini sangat mumpuni. Dan jangan lupa, meski tidak ada yang menghujatnya, di Sumbar,  Saldi dianggap oleh pihak pemenang Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pihaknya pada Pilpres 2014. Dan koneksi LSM serta tokoh nasional lainnya, terutama yang berkaitan dengan kecendekiawanan umum dan khusus pakar hukum tata negara, membanggakan.

Tentu saja Saldi paham,  betapa Jokowi-JK kalah telak, hanya 23,08 persen pada Pilpres 2014 di Sumbar dan menang besar di tingkat nasional.   Markas Besar Tuah Sakato Pemenang Pilpres Jokowi-JK yang berkantor di pertigaan Sudirman-A Yani Padang luluh mengurut dada waktu itu. Orang-orang seperti Buya Masud, Basril Djabar, Shofwan Karim, Marzul Veri, Muharam yang pinjam rumah untuk Posko, dan seterusnya yang ikut tanda tangan pernyataan di halaman koran Singgalang, pastilah gundah.

Diangkatnya Prof Daldi sebagai Hakim MK, mungkin bisa disebut Esa hilang dua terbilang. Boleh juga dianggap sebagai obat demam pelerai sansai bagi orang Minang. Saldi adalah generasi penyambung yang diharapkan dapat mengemban tugasnya selamat sampai masa yang wajar.

Tentulah tanggung jawab saldi boleh jadi berlipatganda. Bukan hanya untuk diri dan keluarga serta kampungnya, lebih-lebih lagi untuk pelanjut wibawa dan marwah serta martabat Minang. Dan ini adalah tugas nasional. Tugas bangsa. Tugas negara.  

Semoga Allah memberi enerji dan kekuatan kepadanya. Akhirnya tulisan ini selesai juga dibuat oleh penulisnya. ***

Published by Harian Singgalang, Wednesday, 12 April 2017.  Naskah di Singgalang, sebagian telah diedit oleh penulis, untuk penerbitan teakhir ini.  

Diterbitkan oleh Home of My Thought, Talk, Writing and Effort

Mengabdi dalam bingkai rahmatan li al-alamin untuk menggapai ridha-Nya.

%d blogger menyukai ini: