Menjaga Tauhid, Renovasi dan Perluasan Al-Haram

Laporan Perjalanan Umrah 2014

Dari teras masjid Bir Ali, memasang niat.

 

 

 

Menjaga Tauhid, Renovasi dan Perluasan Al-Haram

4 Februari 2014 pukul 10.35

 

Menjaga Tauhid, Renovasi dan Perluasan Al-Haram

 

http://hariansinggalang.co.id/menjaga-tauhid-renovasi-dan-perluasan-al-haram/

Setelah 12 Tahun ke Mekkah (9): 

Shofwan Karim Bin Abdul Karim Husein

 — Muhammad Ibnu Abd al-Wahhâb (1115 – 1206 H/1701 – 1793 M ) berkolaborasi dengan Ibnu Saud, melakukan reformasi total kehidupan beragama di Jazirah Arabia pada ujung abad ke-18. Mereka menamakan gerakannya salafiyun (gerakan awal) yaitu kembali menerapkan agama Islam yang murni seperti yang diajarkan Rasulullah saw dengan menegakkan akidah Tauhid yang murni. 

 

Meng-Esakan Allah tanpa reserve dengan tidak tedeng aling-aling. Mereka menyebut gerakan al-Muwahhidun. Prinsip teologi yang semata-mata mengiukuti al-Quran dan Hadist-Sunnah al-Shahihah.


Sebagian ahli menyebut bahwa mereka dalam teologi menggunakan pemikiran Ibn Taymiyah dan pemikiran Fikih, bermazhab Hanbali.
Oleh pihak Barat, mengikuti cara pikir para ahli Orientalis (ahli ketimuran) , mereka menyebut gerakan Wahabi.

 

Persiapan Thawaf, Saa’i dan Tahallul


Oleh karena bersandarkan kepada seorang tokoh sentral yaitu Muhammad ibnu ‘Abd al-Wahab . Hal itu merupakan metoda Barat dalam setiap menamakan gerakan, pikiran, dan gagasan yang selalu bersandarkan kepada tokoh sentral setiap gagasan itu.
Maka dulu, oleh para Orientalis masa awal, agama Islam disebut mereka sebagai Mohammadanisme atau paham Muhammad. Agak aneh terasa, sebagian besar umat Islam sekarang menisbahkan pula pemurnian Islam di Saudi itu sebagai Wahabisme atau paham Wahabi.
Muhammad Ibn Abdul Wahab, mengikat perjanjian dengan Muhammad Ibnu Saud, seorang pemimpin suku di wilayah Najd. Sesuai kesepakatan, Ibnu Saud ditunjuk sebagai pelaksana administrasi pemerintah atau bahasa populernya mengurus hal-hal yang bersifat politik.


Sementara Muhammad bin Abd al-Wahhâb menjadi pemimpin syariah, pengawal akidah dan kehidupan spiritualitas. Sampai saat ini, gelar Malik atau Raja dan “keluarga kerajaan” negara Arab Saudi dipegang oleh keluarga Saud. Namun Mufti Umum Kerajaan, tidak selalu dari keluarga Muhammad bin Abd al-Wahhâb misalnya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibn Abdullah Ali Ibn Baz (1909-1999).


Dalam kajian sejarah, kolaborasi Ibnu Saud dan Ibnu Abdul Wahab itu, telah mengalami pasang naik dan surut dari akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-20.


Pada tanggal 23 September 1932, Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Sa’ud mem proklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi atau Saudi Arabia (Al-Mamlakah Al-’Arabiyah Al-Su’udiyah) dengan menyatukan wilayah Riyadh, Najd (Nejed), Ha-a, Asir, dan Hijaz. Abdul Aziz kemudian menjadi raja pertama pada kerajaan tersebut. Dengan demikian dapat dipahami, nama Saudi berasal dari kata nama keluarga Raja Abdul Aziz Al-Sa’ud. Pada waktu, Negara kerajaan ini beum makmur. Tetapi setelah minyak bumi ditemukan sebe lumnya serta dieksplorasi 1938, kerajaan ini menjadi kaya raya.


Pada 26 Agustus 2011, Raja Arab Saudi (ke-VI dinobatkan 2005) yang memerintah sebagai Raja, Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan, Abdullah bin Abdul Aziz (lahir 1924) meletakkan batu pertama dimulainya proyek akbar perluasan Masjidil Haram.
Abdullah dilantik sebagai Pangeran 1985 dan setelah Raja Fahd kurang sehat maka secara defacto sebelum dilantik sebagai Raja tadi, telah bertindak sebagai Raja sejak 1995. Kemudian setelah Raja Fahd, saudara seyahnya wafat tahun 2005, Abdullah menjadi Raja sampai sekarang.

 

Belajar agama, seoerang anak dengan gurunya, antara zuhu dan ashar di Masjdi Nabawi Madinatyul Munawwarah

 


Selain perluasan Masjidil Haram, Raja Abdullah telah meresmikan berfungsinya Makkah Royal Clock Tower, yang merupakan menara jam tertinggi di dunia.


Puncak menara jam paling akbar berlapis emas itu tingginya 661 meter. Tower tempat bertenggernya jam raksasa itu, sekaligus ikon atau landmark kota Makkah. Menara ini bukan berdiri sendiri.
Melainkan hanya satu puncak tertinggi saja dari satu komplek gedung super-luas-megah, yang di situ ada 8 hotel .


Di bawahnya ada super market, mall, toko dan sekalian pusat bisnis nasional dan multi nasional. Komplek gedung dan tower ini menghadap tepat pintu satu Masjidil Haram.


Bila Matahari belum sampai ke 90 derjat, maka menara raksasa itu, tampak memberi keteduhan dibalik bayang-bayangnya kepada Ka’bah di tengah Masjidil Haram. Baik pagi atau sore hari.


Tentang renovasi dan perluasan Masjidil Haram, menurut media on-line dan dari mulut ke mulut, diperkirakan akan selesai 2018. Oleh karena itu, siang –malam, non-stop pekerjaan dikebut.


Setelah menunaikan ibadah umrah 2 kali, setelah tahwaf dan ibadah wajib dan sunat lainnya, kami menyusuri bagian kanan luar tempat Saa’i, Safa-Marwa. Tampaknya wilayah itu menjadi perluasan yang dimaksud. Dan Bukit-bukit di sekitar itu mulai diruntuhkan dan digaruk.
Bahkan dari ujung luar Marwa, tidak bisa ditembus dengan jalan kaki sekarang, alias ditutup. Maka kalau kita akan mengelilingi Masjidil Haram, harus masuk lagi ke tempat Saa’i dan keluar merencah membelah Masjid untuk keluar lagi di depan Hotel Hilton.


Di tengah renovasi bagian dalam, tampak ditata rapi, “sementara”, dengan dinding fiber-glass pada bagian-bagian yang sedang dikerjakan.
Sekaligus pengaman. Sehingga tidak mengganggu ibadah yang setiap menit sepanjang hari dilakukan jamaah.


Sebuah jalan depan Multazam, di belakang Makam (jejak) Ibrahim, merupakan lorong lebar yang di sekat kiri-kanan arah ke Bukit Safa. Dulu pada tahun 1996 di sini tempat sumur Zamzam. Sekarang tempat itu sudah rata dengan pelatran thawaf semuanya.


Artinya semua air Zamzam sudah dilalirkan ke semua titik yang sudah diatur dan dimasukkan ke tank untuk diletakkan di berbagai tempat terutama jalur jalan masuk arah ke Ka’bah. Dan kalaupun masih ada yang ingin berwuduk dengan air Zanzam, ada tempatnya dipinggir dinding belakang bagian dalam Masjidil Haram.


Termasuk di lantai 2. Dan bila ingin ke toilet dan berwuduk, maka tempat di luar Masjid di pekarangan luar sudah ditata lebih bagus dan indah lagi.


Dulu kalau mau berwuduk sekaligus harus turun ke bawah permukaan tanah atau basement yang menyatu dengan parkiran. Sekarang, kalau hanya untuk wuduk saja dan sekalian minum air Zamzam, selain dari tanki, juga ada keran yang di tata rapi merata dengan jarak tertentu di pekarangan atau halaman sekeliling Masjid. Tetapi kalau ingin ke toilet sekalian, ya tetap harus masuk ke bawah pelataran basement tadi, seperti masa lalu. (*)

Terdakwa, Terbela dan Masa Depan GMM

Terdakwa, Terbela dan Masa Depan GMM

Oleh Shofwan Karim

Seakan terdakwa, tertuduh, sekaligus ada pembelaan terhadap generasi muda Minangkabau (GMM).  Hal itu dilakukan dalam FGD (Focus Group Discusion), Rabu, 23 Maret 2022 lalu.

Ditaja atas kerjasama UM Sumbar-FKP (Forum Komunikasi Palanta). Bertempat di Covention Hall Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag, Kampus III UM Sumbar di Bukittinggi.

Gubernur Mahyeldi personal sebagai pembicara kunci.  Nara sumber Prof. Dr. Ir. H.  Musliar Kasim, M.P.-Rektor Univ. Baiturrahmah-Wakil Menteri Dikbudnas (2011-2014). Kini Ketua MPW-ICMI Sumbar.

Rektor ISI Padangpanjang, Prof. Dr. Novesar Jamarun. Prof. H. Ganefri, Drs., M.Pd., Ph.D-Rektor UNP.  Rektor UM Sumbar Dr. Riki Saputra, M.A,.  

Ketua FKP Dr. Mawardi, M.Kes, Wako Padangpanjang-Ketua Gebu Minang Fadly Amran, BBA Dt. Paduko Malano. Ketua MUI Sumbar Dr. H. Gusrrizal Gazahar, Lc., M.A.

Tajuk FGD ini cukup menantang,  “Berkurangnya Kualitas Generasi Muda Minangkabau ”

Saga Jantan (SJ) mengikuti secara Daring. Ia ingin mengubah kata “nya” menjadi “kah”. Untuk lebih netral. Mka  judul menjadi, “Berkurangkah Kualitas Generasi Muda Minangkabau?”

SJ seakan membuat “proceeding” sendiri.  Prosiding “icak-icak” dalam kepala SJ.Idenya terbersit dari pembicara kunci, nara sumber dan tanggapan peserta forum.

Pertama, generasi muda dan  generasi tua Minangkabau. Keduanya menjadi “terdakwa atau tertuduh”.

Sebagai pra-anggapan, generasi muda sekarang  hidup  dalam dua wajah.  Bergerak di  budaya ideal normatif Minangkabau dan berenang di lautan-samudra perubahan.

Ada dakwaan, GMM tercerabut dari akar budayanya. Tidak tahu di “nan-ampek” dan seterusnya.

Kedua, seakan pembelaan.  “Nyeleneh”nya GMM, tersebab kurangnya keteladanan.  Di situ yang terdakwa adalah generasi tua (GT). Dan GT justru yang egois. Apa-apa harus mencontoh mereka. Padahal mereka hidup di zaman”katumba”.

Dr. Riki menayangkan  cluster generasi. Dari silent generation, Baby Boomer,  (lelahiran 90 -70-60 tahun lalu)  ke generasi milenial x, y, z dan alpha (kelahiraran 50, 40, 30 ke 20-10 tahun lalu). Ia memaparkan bahwa tiap generasi itu beda tantangan dan peluangnya.

Prof. Novesar menyentil. Jangan di tarik ke belakang terus menerus. Atau frasa  lain,  “kalau nyopir mobil jangan hanya lihat kaca spion. Bisa ketabrak”.

Kita akui dan belajar ke sejarah. Founding Fathers republik ini mayoritas “urang awak”. Proklamator hanya dua, Soekarno-Hatta. Ini artinya 50 persen saham kita. Sebagai motivasi boleh saja ada yang  terus ulang-sebut tokoh hebat kita.

Soekarno menjuluki Agus Salim  “The Grand Oldman”. Ada  Tan Malaka, Syahrir, Yamin, Natsir, Hamka dan seterusnya.

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi Imam Besar Masdjidll Haram, tokoh utama Mazhab Syafii di Mekah.  Syekh Thaher Jalaludin  al-Falaki, ulama dan ahli ilmu falak, jurnalis Islam dan pendidik utama di Malaya dan kemudian mukim di Singapura.

Tunku Abdul Rahman, Proklamartor dan PM Pertama, Malaysia. Peresiden  pertama Singapura Yusof Bin Ishak. Semua mereka adalah pohon yang tumbuh dari bibit dan bebet Minangkabau.

Begitu  puluhan lainnya tokoh primer dari 10 negara Asean banyak yang ditulis sebagai zurriyyat-keturunan Minangkabau .

Namun ada nara sumber dalam FGD ini, seakan mengatakan, “sudahlah, jangan  mangapik daun kunyik”. Itu sudah selesai.

Bagaimana GMM sekarang dan ke depan? Apa  capaian ilmu pengetahuan mereka. Bagamana merebut kepakaran . Bagaimana kemahiran dan keahlian yang harus wujud pada diri mereka?

Maka muncul nama yang juga ratusan kalau tidak ribuan keturunan Minang yang berhasil menjadi “the top” di bidangnya.

Cuma mereka lebih banyak hidup, berprofesi, menjadi tokoh di luar Sumbar.  Politisi dan kritikus  nasional yang vocal.

Eselon atas di  kementerian, komisaris dan direksi BUMN, aktivis YouTuber, Podcast, Content Creator, Webmaster dan pegiat ekonomi digital, banyak “urang awak”.  Diperkirakan ada  20 persen lebih mereka yang keturunan Minang.

Politisi Minang Senayan, sukses menjadi representasi  dari 33 Provinsi Inonesia lain. Tragisnya, bahkan ada beberapa yang pernah mencalonkan diri di Sumbar tak beruntung. Mereka sukses di luar sana. Tentu kerisauan JK yang sering menyentil kini kurangnya muballgh kondang yang kurang dari Minang, perlu kita renungkan pula.

Oleh karena itu mempersempit generasi muda Minangkabau dengan yang hanya lahir, hidup, belajar dan berprofesi di Sumbar, mungkin kurang relevan.

Ketiga, masa depan generasi muda Minangkabau itu, bukan Sumbar . Lapangan mereka itu Indonesia dan dunia. Akan tetapi apakah Sumbar harus  biasa-biasa saja?

Agaknya  ini yang hendak dijawab FGD kemarin itu. Berapa banyak keberhasilan lulusan SMA dan Madrasah di Sumbar yang tembus masuk 10 rangking PTN/PTS terbaik pada satu dekade terakhir? Berapa banyak yang tembus kuliah di Universitas ternama di 5 Benua di dunia?

Lebih dari itu, dalam keberagamaan dan ilmu agama seberapa banyak generasi muda Sumbar yang sedang dan siap menjadi ulama hebat, pakar dan teladan umat? Tentu kerisauan JK Wapres 2004-2009; 2014-2019, sumando kita yang sering menyentil  muballgh kondang yang kurang di Jakarta dari Minang, perlu kita renungkan pula.

Ada suara bahwa  kualifikiasi merka tidak harus selalu dikaitkan dengan Buya, Inyiak dan Syekh zaman dulu. Bagaimana sosok mereka itu kini dan ke depan?

Nara sumber mengajukan beberapa alternatif. Sebagian besar tentang skill yang dibutuhkajn zaman ini. Di samping hard skill (piranti keras) lebih-lebih lagi soft skill (piranti lunak).

Banyak pakar  menayangkan “21st Century Skill” memerlukan 17 kemampuan dan kompetensi. Itu yang klop untuk suksesnya seseorang  masuk dunia kerja sekaligus menjadi umat dan warga bangsa yang baik.

Prof. Musliar menawarkan 9 kompetensi kemampuan masa depan dimaksud. Berkomunikasi baik dan produktif. Berpikir kritis dan jernih. Menjadi warga negara yang bertanggungjawab. Mampu hidup dalam masyarakat yang mengglobal. Mampu mempertimbangkan segi moral satu permasalahan.

Selanjutnya, mampu mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda . Memiliki minat luas dalam kehidupan. Memiliki kesiapan untuk bekerja. Memiliki kecerdasan, kreativitas sesuai dengan bakat-minatnya

Ilustrasi foto pernikahan GMM 2022 (Dok Internet)

Hanya 5 atau 6 yang hard skill dari 17 item di atas tadi yang perlu sekolahan. Selebihnya datang dari rumah tangga, lingkungan dan masyarakat.  Soft skill yang intinya karakter, akhlak serta kondisi kejiwaan dan budaya lebih menentukan.

Kerja keras, stabilitas dan suasana hati. Bekerja di tenggat waktu terbatas dan di bawah tekanan. Dan sekarang generasi milenial lebih bebas melompat dari satu profesi ke yang lain.

Mereka mampu bekerja simultan, multi-tasking karena lancar ber-IT dan bergital. Waktu, ruang dan suasana tidak lagi menjadi kendala. Simultan nonton YouTube, Podcast, stream-line FB, IG, Tiktok. Dengar digital musik yang ribuan aplikasi dan  template. Mereka bisa menjadi content-creator, webinar-daring, diskusi, transaksi, order apa saja dan mengerjakan apa saja.

Mereka menjadi mandiri, individualis sekaligus komunal dan kerjasama-kolegial. Meski tak bersua fisik, tetapi dalam dunia meta verse ini mereka bermitra dan berkolaborasi.

Meskipun begitu,  tetap  terpenting  penguasaan sains-ilmu pengetahuan sejalan dengan  kokohnya akidah dan ibadah,  keberagamaan, karakter dan budaya menghadapi lingkungan dan perubahan.  

Strategi, program dan agenda itu semua tadi, sekarang dan ke depan adalah tergantung kita bersama. Mari mengingat firman Allah swt,

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (QS, Al-Nisa,4:9)”

Ini yang harus kita jawab. Mendidik generasi taqwa, unggul serta berkarakter benar dalam kata dan perbuatan. Dan itu tak cukup hanya dengan FGD, seminar, diskusi yang berulang. Apa lagi hanya sekali. Wa Allah a’Lam. ***

(Shofwan Karim adalah Ketuan PWM dan  Dosen PPs UM Sumbar)

Prof Azra, Muazin Bangsa, Keritis dan Sederhana

Azyumardi Azra, Muazin Bangsa yang Kritis dan Sederhana

17 Maret 2022 20:58 WIB

Bebas Akses cendekiawan muslim

Azyumardi Azra, Muazin Bangsa yang Kritis dan Sederhana

Pada 4 Maret lalu, Guru Besar Ilmu Sejarah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini berusia 67 tahun. Sebagai bentuk hormat terhadapnya, para kolega menuliskan testimoni dan mengabadikannya dalam sebuah buku.

Oleh

DIAN DEWI PURNAMASARI

<img src="https://assetd.kompas.id/ngECbeIbScIKvENsP0fB7TzKcPk=/1024×473/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F03%2F17%2Fad28743a-02b7-4266-9bda-429aa539e79c_jpg.jpg&quot; alt="Peluncuran buku berjudul <i>Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Sir Azyumardi Azra, CBE
DIAN DEWI PURNAMASARIPeluncuran buku berjudul Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Sir Azyumardi Azra, CBE yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, secara daring, Kamis (17/3/2022). 

Di balik intelektualitas dan daya kritisnya, sosok cendekiawan muslim Azyumardi Azra selalu mendapat tempat di hati koleganya. Mereka menggambarkan Azyumardi sebagai sosok yang teguh bersikap kritis ketika menemukan hal-hal yang tidak pas dalam berbangsa dan bernegara. Sikap kritisnya itu selalu dihormati karena dia juga dikenal sebagai sosok berintegritas yang sederhana dalam laku keseharian.

Pada 4 Maret 2022, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu berusia 67 tahun. Sebagai bentuk hormat dan takzim terhadap sosok Azyumardi, para koleganya menuliskan berbagai testimoni dalam buku berjudul Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Sir Azyumardi Azra, CBE.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD yang hadir dalam peluncuran buku tersebut secara daring, Kamis (17/3/2022), misalnya, menggambarkan Azyumardi sebagai cendekiawan muslim yang berintegritas dan selalu bersuara kritis. Sebagai muazin bangsa, Azyumardi selalu menyuarakan kritiknya yang pedas. Jika ada kekeliruan dalam kritik yang disuarakan pun, Azyumardi tak segan untuk mengoreksi pendapatnya.

”Saya yang duduk di pemerintahan merasa senang ada orang yang terus menyuarakan kritiknya. Kritik bukan untuk menarget seseorang secara personal, tetapi obyektif. Beliau adalah sosok intelektual yang berintegritas,” ujar Mahfud.

Baca juga : Menghindari Beban Sejarah Baru

Peneliti agama dari Universitas Emory, Atlanta, Amerika Serikat, James B Hoesterey, hadir dalam peluncuran buku "Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Sir Azyumardi Azra, CBE" yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, secara daring, Kamis (17/3/2022).
DIAN DEWI PURNAMASARIPeneliti agama dari Universitas Emory, Atlanta, Amerika Serikat, James B Hoesterey, hadir dalam peluncuran buku “Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Sir Azyumardi Azra, CBE” yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, secara daring, Kamis (17/3/2022).

Seorang peneliti agama dari Universitas Emory, Atlanta, Amerika Serikat, James B Hoesterey, juga menyebut betapa harum nama Azyumardi sebagai cendekiawan muslim di luar negeri. Pendapatnya selalu dikutip dalam penelitian ataupun pemberitaan di media massa. Di kalangan peneliti pun ada anggapan bahwa jika sedang meneliti masalah Islam di Indonesia, mereka harus sowan kepada Azyumardi.

”Beliau adalah cendekiawan muslim yang menjadi pedoman intelektual orang Barat. Selama saya meneliti Islam di Indonesia, beliau juga menjadi mentor saya yang sangat baik dan ramah,” kata Hoesterey.

Betapa harum nama Azyumardi sebagai cendekiawan muslim di luar negeri. Pendapatnya selalu dikutip dalam penelitian ataupun pemberitaan di media massa.

Hoesterey, yang pada tahun 2005 meneliti soal fenomena dai seleb di Indonesia, juga merasa berutang budi kepada Azyumardi. Sebab, pada saat banyak peneliti lain meragukan topik yang dia teliti, Azyumardi tetap mendukungnya dengan pola pikirnya yang begitu luas. Berkat dukungan itu, dia mantap melanjutkan penelitiannya.

Di luar negeri, nama Azyumardi memang harum. Dia adalah orang pertama di luar negara anggota Persemakmuran Inggris yang mendapat gelar ”Sir” dari Kerajaan Inggris. Dia dikenal sebagai seorang sejarawan dan intelektual Muslim dunia yang terkemuka. Karya dan pemikirannya mewarnai kancah pemikiran Islam di Indonesia dan kajian serupa di ruang publik. Sosoknya dikenal konsisten merawat dunia keilmuan dan pemikiran, melalui tulisan dan gagasan cemerlangnya.

Baca juga : Resentralisasi Kekuasaan

Putri Presiden ke-4 Indonesia, Anita Wahid, hadir dalam peluncuran buku "Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Sir Azyumardi Azra, CBE" yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, secara daring, Kamis (17/3/2022).
DIAN DEWI PURNAMASARIPutri Presiden ke-4 Indonesia, Anita Wahid, hadir dalam peluncuran buku “Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Sir Azyumardi Azra, CBE” yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, secara daring, Kamis (17/3/2022).

Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Anita Wahid, bahkan menyebut intelektualitas Azyumardi seolah menjadi penyangga bagi keberlangsungan Islam dan demokrasi di Indonesia. Ketika kalangan fundamentalis menyebut bahwa demokrasi bertentangan dengan ajaran Islam, Azyumardi muncul dengan pendapatnya yang mencerahkan. Dia menyebut bahwa Islam sangat selaras dengan demokrasi. Pendapat Azyumardi yang teguh, dengan prinsip memperjuangkan kemaslahatan bangsa, menjadi pegangan bagi masyarakat.

”Beliau selalu menjadi role model atau rujukan bagi permasalahan kebangsaan. Sosok yang teguh pada nilai yang dipegang tidak terombang-ambing dalam perkubuan. Dia mengkritik karena kecintaan terhadap negeri ini,” kata Anita.

Mantan Duta Besar RI untuk Inggris dan Irlandia Rizal Sukma bahkan memiliki pengalaman personal yang menunjukkan betapa sederhana sikap Azyumardi.

Mantan Duta Besar RI untuk Inggris dan Irlandia Rizal Sukma bahkan memiliki pengalaman personal yang menunjukkan betapa sederhana sikap Azyumardi. Saat itu, mereka sedang satu pesawat dalam perjalanan dari Hawaii, Amerika Serikat, ke Jakarta. Oleh panitia acara, mereka diberikan tiket first class. Mereka pun spontan mengiyakan fasilitas itu. Namun, pada saat bersamaan, mereka sama-sama kebingungan saat hendak menyetel kursi pesawat, juga saat menggunakan toilet yang serba otomatis.

”Ini pengalaman berharga sekali, di mana kami berdua sama-sama bingung di bangku first classSingapore Airlines saat itu. Betapa sebagai cendekiawan yang top, beliau tetap menjaga kesederhanaan,” kata Rizal.

Baca juga : Menggelorakan Kritik

Azyumardi Azra
ABKAzyumardi Azra

Azyumardi pun merasa tersanjung dan bangga atas kesan yang ditangkap para koleganya tersebut. Pengakuan itu akan menjadi cambuk semangat untuk terus mengkritik sesuatu hal yang, menurut dia, tidak pas. Namun, ketika ada anggapan yang keliru, misalnya tudingan pemerintah yang islamofobia, dia juga akan dengan senang hati meluruskan.

”Bagaimana mungkin pemerintahan Pak Jokowi ini disebut islamofobia jika wakil presidennya saja ulama Muslim. Saya akan luruskan jika ada pendapat yang akan merusak kohesi sosial seperti itu,” katanya.

Tayang ulang dari:

https://www.kompas.id/baca/polhuk/2022/03/17/azyumardi-azra-muadzin-bangsa-yang-kritis-dan-sederhana

Ibrah dari Qutb dan Natsir

Sayyid Qutb Mati, Tapi Idenya Abadi bagi Kaum Islam-Politik

Ibrah dari Sayyid Qutb dan M Natsir

Oleh Shofwan Karim

Paling tidak ada dua kutub pemikiran Islam tentang  kekuasaan. Pertama, rebut. Kedua, isi.

Merebut, kesannya lebih revolusionar. Lebih cepat sampai. Mengisi, seakan lebih berkeadaban. Hanya terkesan evolusioner, bertahap, lamban bahkan merayap.

Pendapat pertama, Sayyid Qutb (1906-1966 M ) . Katanya,  Amar ma’ruf nahy mungkar tidak bisa ditegakkan tanpa kekuasaan.

Oleh karena itu, berkuasa dulu baru amar ma’ruf nahy mungkar bisa terlaksana dengan sempurna.

Gugus pikir yang demikian,  antara lain  sering dikutip ketika tokoh Ikhawanul Muslimin ini memahami,  QS. Ali Imran, 3:104.

Kedua, Ibnu Katsir (1301-1372 M).   Ketika memahami ayat yang sama tadi, mufassir klasik ini menisbahkan kepada hadist Rasulullah saw,

Bila anda melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan “tangan” atau kekuasaan. Bila tak mampu ubah dengan lidah atau ucapan. Bila tidak mampu juga maka ubahlah dengan hati, (tidak mengikuti kemungkaran dan mendoakan yang berbuat mungkar berubah  perlahan kepada yang khair dan ma’ruf,   pada waktunya). Dan itulah selemah-lemah iman”.

Kedua prasa tadi dapat dibaca di dalam Tafsir Quran Fi Zhilal al-Quran oleh Sayyid Qutub  dan Tafsir Al-Quranul Karim oleh Ibnu Katsir.

Para politisi Muslim modern dan kontemporer agaknya banyak yang mengikuti, paling kurang mempertimbangkan pemikiran politik Sayyid Qutb.

Sementara para muballigh dan da’i , lebih cendrung memviralkan pemikiran cara memahami gaya Ibnu Katsir.

Yang pertama tentulah lebih gebyar, bergemuruh, militan dan seakan-akan cepat sampai ke tujuan.

Yang kedua, terkesan lamban, memerlukan waktu, SDM, strategi dan upaya yang tak kenal lelah.

Yang pertama, lebih strukturalis dan jelas formatnya. Mereka berpendapat, segenggam kekuasaan lebih baik dan lebih bermakna dari pada segudang kebenaran.

Sementara yang kedua, lama memeras keringat, memerlukan waktu, tenaga, semangat dan pikiran tanpa henti.

Di Indonesia,  kedua arus pemikiran di atas bervariasi dalam dinamika hubungan antara Islam politik dan Islam kultural.  

Ada yang tak berhenti ingin merebut kekuasaan politik melalui  demokrasi dengan aplikasi dan demokrasi prosedural partai.

Dengan niat, bila duduk di DPR RI atau DPRD akan bisa menjadi pengawas pembangunan, merancang APBN-APBD, menjadi media panyalur aspirasi .

Lebih dari itu bersama eksekutif membuat dan menetapkan Undang-undang dan Perda .

Itu artinya segenggam kekuasaan. Dapat digunakan untuk memenuhi aspisasi ummat.

Sementara yang lain, ada yang terus menerus menjalankan dan menggerakkan diri, keluarga dan persyarikatan, jama’ah,  jami’ah serta organisasinya.

Mereka  selalu berupaya dan bekerja  membumikan  nilai  normatif dan amal aktual Islam melalui jalan kultural dan dakwah.

Biografi Mohammad Natsir | Republika Online

Mohammad Natsir (1908-1993) sebagai contoh. Beliau dengan gigih di dekade awal kemerdekaan RI (1945-1957) memperjuangkan Islam melalui kekuasaan.

Beliau menjadi Menteri, Perdana Menteri dan Anggota Lagislator Konstituante sekaligus Ketua Umum Partai Masyumi.

Pada dekade kedua (1957-1967), jalan kekuasaan tertutup baginya. Di masa Orde Lama, ditutup jalan itu oleh Soekarno, bahkan masuk penjara (1962-1966).

Masa Orde Baru (1966-sampai wafatnya Natsir 1993) jalannya melalui kekuasaan politik ditutup Soeharto.

Dimulai dari konsolidasi politisi Muslim modern 1967 di Semarang. Pada waktu itu M Natsir dan para tokoh visioner politik Islam ingin merevivalisasi atau merevitalisai Masyumi.

Tokoh pengikut Natsir (lebih sering disebut tokoh Bulan-Bintang mengacu ke lambang dan logo Masyumi) dalam Badan Koordinasi Amal Muslimin, mencoba dengan sangat kuat dan besemangat untuk bangkit.

Mereka adalah  tokoh-tokoh Muslim yang berbilang. Di antaranya, H. Djarnawi Hadikusumo dan Lukman Harun dari Muhammadiyah. Para tokoh itu berinisiasi mendirikan satu partai Islam modernis, reinkarnasi Masyumi.

Maksud itu dihalau oleh intelijen dan  gagal.

Pada tahun 1968 konsolidasi politik Islam itu berlanjut. Mereka lolos dengan sedikit berkelit seakan merajut keinginan rezim yang berkuasa.

Dengan begitu maka lahirlah Partai Politik Parmusi.  Untuk Pemilu 1971, Parmusi mendapat suara hanya 5,6 %.

Belakangan 1973, Parmusi bergabung menjadi PPP sebagai fusi dari Parmusi, Partai Islam Perti, Partai NU dan PSII Syarikat Islam.

Kearifan dan spekulasi positif menyelinap ke diri M.Natsir. Melihat gelagat cakrawala politik Islam di Indonesia kala  itu tidak begitu cerah,  M. Natsir berubah.

Tokoh ini mulai mengubah haluan dan strategi. Beliau mentransfomasi diri dari pejuang politik sturuktural ke politik kultural.

M. Natsir mendirikan Dewan Dakwah Islamiyiah Indonesia (DDII) 1967. Mengirim ribuan da’I dan muballigh ke daerah transmigrasi, daerah terisolir dan terpencil.

Mendirikan  rumah sakit di berbagai kota. DDII sepertinya mengikuti pola amar ma’riuf nahy mungkar dengan amal usaha aktif, produktif dalam  Pendidikan, Kesehatan dan pelayanan social.

Beliau bersama pemimpin DDII lain medirikan Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI)  dengan membangun banyak Rumah Sasit. DDII juga mendirikan  Sekolah Tinggi, Universitas dan Pesantren Pertanian.

Bahkan di Sumatera Barat, misalnya banyak sekali tokoh Muhammdiyah juga adalah tokoh DDII. Duplikasi positif itu ada pada  generasi awal, masa pertengahan dan masa sekarang.

Sejak dari HMD Dt. Palimo Kayo, H Hasan Bayk Dt. Marajo, Buya Mas’ud Abidin, Prof Dr. Amirsyah, Prof. Dr. Yaswirman, Drs. H. Adly Etek dan lainnya.

M. Natsir pada masa belakangan tadi, lebih dari sekedar tokoh DDII dan penggerak politik non-kekuasaan  tetapi politik sosial dan kebudayaan Indonesia bahkan trans nasional.

Natsir menjadi tokoh pemimpin,  cendekiawan, kebudayaan dan memajukan peradaban dunia.

Natsir menjadi Wakil Presiden Kongres Islam se-dunia (Muktamar Alam Islami) yang berkedudukan di Karachi (1967).

Beliau menjadi anggota Rabithah Alam Islami (1969) dan anggota pendiri Dewan Masjid se Dunia (1976) yang berkedudukan di Mekkah.

Pada tahun 1976, Natsir bersama tokoh Muslim di dunia mengadakan konperensi dan pameran  kebudayaan Islam sedunia di Oxford dan  London.

Pada tahun 1987,  Natsir menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic Studies, London.

Peraih gelar 3 Doktor Kehormatan  dari Lebanon dan Malaysia ini, akhirnya menjadi Pahlawan Nasional yang diumumkan pada 10 November 2018.

Dari sketsa di atas, kelihatan kedua pemimpin dunia Islam abad ke-20 Sayyid Qutb dari Mesir  dan M Natsir dari Indonesia, memberikan pelajaran berharga kepada tokoh pemikir dan pejuang serta penggerak Islam dan ummat di mana saja.

Belajar dari Sayyid Qutb yang berjuang melalui struktur bahkan mau merebut struktur tetapi dianggap melawan legalitas dan oriritas yang ada.

Lalu tokoh ini  dituduh berkomplot akan melakukan pembunuhan Presiden Gamal Abdul Naser.

Ulama  pejuang ini akhirnya dihukum gantung oleh pemerintahnya sendiri pada tahun 1966.

Lain dengan M. Natsir, meski penuh onak dan duri dalam perjuangan merebut struktur kekuasaan yang legal demokratis berujung juga dengan kegagalan.

Sejak zaman Belanda dan Jepang berjuang untuk kemerdekaan RI. Natsir melanjutkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI dan mengisi kemderdekaan itu dalam proses pemerintahan demokratis.

 Belakangan  terasa ada prinsip-prinsip yang beriubah dan tak kondusif. M. Natsir  melanjutkan perjuangan itu ke strategi kebudayaan, peradaban dan dakwah, nasional dan intenasional.

Ujungnya, 25 tahun setelah wafat, M. Nastir diakui pemerintah RI sebagai Pahlawan Nasional.

Inilah ibrah (pembelajaran) gaya perjuangan tokoh  Muslim modern  ummat dan  bangsa Indonesia abad ke-20 yang perlu menjadi kenangan dan torehan memori berbilang  generasi. Wa Allah al-‘lam bi al-Shawab.***

(Shofwan Karim, Ketua PWM, Dosen PPs UM Sumbar. Ketua Umum YPKM dan Korbid Sosbud MPP ICMI)

Al-Farabi, Ikan Busuk dari Kepala

Shofwan Karim (Foto: Dok. Pri)

Al-Farabi, Ikan Busuk dari Kepala

Oleh Shofwan Karim

Sebuah negara, provinsi, kabupaten atau kota itu bagaikan jasad manusia. Ada jasad  yang anggota tubuhnya   penuh kelebihan dan kebaikan. Jasad atau tubuh  itu memiliki akal, pikiran, jasmani dan ruhani yang cerdas, bijak, sehat dan berbudi tinggi.

Ada jasad yang memiliki akal rendah. Kualitas tubuh yang serba kurang. Pikiran sederhana, fisik yang sakitan dan ruhani yang kacau.

Sementara ada pula jasad yang angota tubuhnya prima. Mempunyai akal dan ilmu pengetahuan seperti yang pertama, hebat, sehat dan  kuat.

Akan tetapi kelakuan anggota batang tubuh lainnya  seperti yang kedua, kacau dan tidak bermoral hanya mementingkan kesenangan diri, keluarga dan oligarkinya.

Tipologi negara, provinsi, kabupaten dan kota pertama, warga masyakat serta kepala pemerintahahannya,  disebut oleh Al-farabi sebagai al-Madinah al-Fadhilah  atau kota utama.  

Lawannya tipologi kedua. Warga masyarakat serta  presiden, gubernur, bupati dan walikotanya, otak dan pikirannya tidak cerdas. Banyak yang sakit pisik dan mengalami spiritualitas atau ruhani tak bemutu. Ini disebutnya, al-Madinah al-Jahiliah. Kota yang terkebelakang.

Sementara tipologi ketiga, warga dan pemimpinnya tampak luar sehat dan segar tetapi memiliki otak, akal, pikiran bulus dan lebih-lebih lagi spiritualitas dan ruhaninya rusak. Tipologi ini disebutnya al-Madinah al-Fasiqah.

Al-Farabi  (870-950 M) bernama lengkap Abu Nasr Muhammad Al-Farabi lahir di desa Wasij di wilayah Farab, Transoxania,  Asia Tengah. Kira-kira sekarang menjadi wilayah Uzbekistan.

Al-Farabi adalah seorang Filosof Islam yang meyakini bahwa agama tidak betentangan dengan filsafat. Keduanya membawa kepada kebenaran.

Al-Madinah al-Fadhilah merupakan pemikiran filsafat politik Al-Farabi yang sampai sekarang masih menjadi rujukan pemikiran Islam tentang watak pemimpin dan warga bangsa dalam kehidupan kenegaraan dan pemerintahan.

Meskipun menggunakan kosa-kata al-Madinah atau kota tetapi oleh para pemikir Islam filsafat politik Al-Farabi ini dinisbahkan kepada kehidupan berbangsa dan bernegara .

Al-Farabi, dengan pemahaman itu menekankan bahwa tujuan utama bernegara adalah tercapainya kebahagiaan bagi warga negara.

Kebahagian lahiriah dan batiniah. Kokoh dan kuatnya otak, pikiran dan kreatifitas, sehat jasmani dan ruhani setali dengan kebaikan hidup menurut aturan hukum duniawi dan agama.

Dengan begitu  pemimpin dan warga negara yang disebut al-Madinah al-Fadhilah itu, menjadi proto-tipe masyarakat seperti masa kepemimpinan Nabi Muhammad Rasulullah saw dan masa para sahabat.

Konsep negara ideal dalam gagasanya dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan juga Aristoteles. Terutama dalam  gagasan tentang manusia sebagai makhluk sosial.

Tentu saja, selain itu Al-Farabi dipengaruhi banyaknya peristiwa sosial politik pada masa khalifah Abbasyiah.

Pemerintahan Mu‟ti suatu priode yang paling kacau dan tidak ada stabilitas politik. Filsafat politik Al-Farabi ini kelihatannya sebagai oto kritik bagi pemerintahan Abbasiyah ini.

Muncul bermacam tantangan pertentangan politik, pemberontakan, stabilitas politik dan keamanan yang tidak terjamin menjadi faktor utama gagasan tersebut muncul.

Timbul pemberontakan terhadap kekuasaan Abbasiyah dengan berbagai motif. Ada motif  agama, kesukuan, dan materi dan harta benda. Banyak anak raja dan penguasa lama berusaha mendapatkan kembali wilayah dan kekuasaan nenek moyangnya, khususnya orang-orang Persia dan Turki.

Masa muda Al-Farabi di Bukhara dan masa tua sampai wafatnya di Aleppo, Syria, menjadikan pemikiran filsafatnya menjadi bagian yang tak terelakkan dari dinamika masa kemunduruan Abbasiyah. Terutama segi intelektualitas dan kembalinya pemikiran lama sebelum kejayaan Abbasiyah.

Filsafat politik Al-Farabi   menggunakan  teori organik, belakangan amat populer.

Al-Farabi menyatakan bahwa pemerintahan dalam negara itu seperti halnya sistem organisme tubuh manusia, dimana setiap unsur yang ada saling memperkuat untuk mencapai satu tujuan. Yaitu  tercapainya  kesejahteraan dan kebahagiaan bagi warga negara.

Dengan teori organik, Al-Farabi menyatakan bahwa pemerintahan dalam negara itu seperti halnya sistem organisme tubuh manusia, dimana setiap unsur yang ada saling memperkuat untuk mencapai satu tujuan.

Akan tetapi yang paling utama dari semua organik tubuh manusia itu terletak di kepalanya. Pemimpin, itulah yang paling menentukan. Untuk yang tertinggi tentulah kepala negara.

Presiden paling menentukan. Kemudian gubernur. Dan kalau  dilacak kepada proforma negara modern dan negeri kita, tentulah bupati dan walikota sebagai organik paling di atas di daerahnya.

Bila ingin suatu negara, suatu kota atau kabupaten menggunakan teori filsafat politik Al-Farabi, mereka tersebut tadi itulah titik sentral penentu sebagai sekrup utama.

Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota dikiaskan sebagai kepala. Bila diibaratkan sebagai seekor ikan, maka kualitas kepala ikan menentukan baik atau tidak baiknya batang tubuh ikan secara keseluruhan.

Ikan busuk tampak di kepalanya. “Ada pepatah, ikan busuk mulai dari kepala, kalau pimpinannya bermasalah, bawahannya akan bermasalah juga. Pimpinan harus jadi teladan sehingga bawahannya akan meneladani. Karena kita tidak mungkin diikuti kalau kita tidak memulai yang baik, kita tidak mungkin menegur kalau tidak jadi teladan, harus mulai dari pemimpin atau diri sendiri.”

Begitu ucap Kapolri dalam acara penutupan pendidikan Sespimti Polri Dikreg ke-30, Sespimen Polri Dikreg ke-61, dan Sespimma Polri angkatan ke-66 di Lembang, Jawa Barat, Rabu (27/10). (Kompas TV, 29/10.2021)

Itu tidak berarti semata-mata hanya tergantung para kepala tadi. Kualitas dari warga masyarakat itu sendiri tak kalah pentingya. Semua saling terkait. 

Bila warga bangsa dan masyarakat tidak mengikuti gerak simetris, vertikal dan horizontal organik tubuh yang lain, terutama bagian atas yang disebut kepala tadi, maka tujuan utama al-Madinah al-Fadhilah akan jauh panggang dari api. Wa Allah a’lam bi al-shawab. ***

(Shofwan Karim adalah Ketua PWM, Dosen PPs UM Sumbar dan Ketua Umum YPKM)

%d blogger menyukai ini: