Sambutan a.n. Tamu Pada Walimat al-Ursy

H. Irman Gusman, S.E., M.B.A. (Ketua DPD RI 2009-2016) pada Walimatul Ursy Resepsi Perkawinan Putri Bp Dr.H. Alirman Sori, S.H., M.Hum., M.M (Anggota DPD RI 2009-2014; 2019-2024) Pangeran Beach Hotel Padang, 17 Juli 2022

Mempelai Wanita, Anak Daro, Bunga Lirvina Sori. Bunga adalah Putri dari Bp Dr. H. Alirman Sori, S.H.,M. Hum., M.M & Ibu Nira Pravita Sary, A.Md. Mempelai Pria Gumilang Kresna Putra. Kresna adalah Putra dari Bapak Suharjita & Ibu Puji Ismaryatun

Sambutan Bp H. Irman Gusman, S.E., M.B.A. (Ketua DPD RI 2009-2016) pada Walimatul Ursy Resepsi Perkawinan Putri Bp Dr.H. Alirman Sori, S.H., M.Hum., M.M (Anggota DPD RI 2009-2014; 2019-2024) Pangeran Beach Hotel Padang, 17 Juli 2022

Dari Sintuak ka Saniang Baka, 

urang mamukek pagi pagi, 

dari ujuang taruih ka pangka, 

dari tangah sampai ka tapi,

ketek indak basabuik namo, 

gadang indak bahimbau gala, 

ujuik taucap nan tapanggi nan hadir di dalam ruangan iko, 

Sairiang balam jo barabah, 

balam lalu barabah mandi. 

Sairiang salam jo sambah, 

sambah lalu salam kumbali, sambuik lah salam agamo dan adaik kito, 

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala asyrafil ambiya wal mursalin wa ‘ala alihi washahbihi ajmin, amma ba’du.

Izinkan saya menyapa terlebih dahulu, menyampaikan penghormatan kepada  yang amat berbahagia, nan amat kita sayangi, 

Anak daro nan rancak banamo  Bunga Lirvina Sori

Putri Bp Dr. H. Alirman Sori, S.H.,M. Hum., M.M & Ibu Nira Pravita Sary, A.Md

Marapulai nan gagah banamo Gumilang Kresna Putra, Putra dari Bapak Suharjita & Ibu Puji Ismaryatun.

Selanjutnya penghormatan saya sampaikan kepada silang nan papangka, karajo nan bajunjung,  ninik-mamak, sanak keluarga, karib kerabat kedua mempelai.

Kemudian penghormatan saya tujukan kepada semua hadirin yang kita bersama-sama memberikan doa restu berharap ridha-Allah kepada kedua mempelai ini. 

Saya minta izin dengan menundukkan kepala yang satu, menyusun jari nan sepuluh, berdiri di sini mengatas-namakan kita yang hadir seperti diimbau oleh MC tadi, untuk  mengucapkan sepatah-dua patah kata pada perhelatan yang amat meriah, khidmad dan penuh bahagia ini.

Yang amat bahagia kedua mempelai, kedua keluarga dan hadirin dan hadirirat yang amat saya hormati.

Pertama,  marilah kita besyukur kepada Allah swt dan bersalawat untuk Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat dan para pengikutnya sampai akhir zaman.

Setelah itu,  paling utama di dalam majelis penuh rahmat dan bahagia ini, kita menyatakan hati yang suci, muka yang jernih mengucapkan, dan memanjatkan doa selamat kepada penganten. 

Keduanya sekarang sudah berbuhul mati dalam akad ijab-kabul secara syar’i, sesuai undang-undang negara untuk berlayar dalam satu kapal bahtera kehidupan. Penuh kecintaan dan kasih sayang dalam mereguk madu kehidupan di bawah  siraman ridha dan berkah Allah swt.

Berikutnya  marilah bersama-sama kita bermunajat kepada Allah swt, menyampaikan do’a yang ikhlas dan tulus,  

Baarakallahu laka wa jama’a bainakuma fi khairin. Baarakallahu likulli wahidin minkuma fi shahibihi wa jama’a bainakuma fi khairin. Amin ya Rabbal alamin.

Artinya: “Berkah Allah (semoga tercurahkan) bagimu. Dan (semoga) Allah mengumpulkan ananda  berdua dalam kebaikan. Berkah Allah (semoga tercurahkan) bagi masing-masing Ananda berdua atas pasangannya, dan (semoga) Allah mengumpulkan ananda berdua dalam kebaikan.” Perkenan ya Allah Tuhan sekalian alam.

Mengiringi do’a itu mari kita ucapkan sampiran berikut: 

Langit membentang warnanya biru, 

datangnya hujan menimpa batu, 

selamat menempuh hidup baru, 

semoga bahagia sepanjang waktu. 


Nak duo pantun sairiang:

Kerlip bintang di langit yang tinggi
Syahdu sungguh menggugah rasaku
Dua hati berjanji suci
Selamat Menempuh Hidup Baru

Semut meniti pohon waru,
Hinggap di dahan burung tekukur.
Selamat meniti hidup baru,
Nikmati hidup penuh bersyukur.

Demikianlah sambutan singkat ini kami sampaikan, semoga Allah swt senantiasa melimpahkan kebahagiaan kepada kedua pengantin dalam batin dan hati yang suci,  sakinah, mawaddah war rahmah.

Kita menadahkan tangan mendoakan pada ada saatnya kepada pasangan keluarga baru ini, akan dilimpahi karunia keturunan yang saleh dan salehah, rezeki yang luas dan selalu sehat dan dalam peluikan cinta sejati dengan ibadah yang tertib, iman dan taqwa yang kokohj. Amin ya rabbal alamin.

Jalan-jalan ke kota Mekah, 

Ingin sembahyang berlama-lama, 

Semoga sepatah kata  ini membawa berkah, 

Membawa rahmat untuk kita bersama.

Bunga mekar di perbukitan 

Sawah luas di pedesaan 

Terima kasih untuk perhatian 

Mohon maaf untuk kesalahan.

Di Irian banyak cenderawasih,

Cukup sekian terima kasih

Wabillahitaufiq wal hidayah, 

Wassalamu alaikuk warhamatullahi wabarakatuh.

.

Infak, Sadakah-Sembako: Altruisme Al-Ghazali

Shofwan Karim (Photo Doc)

Infak, Sadakah-Sembako: Altruisme Al-Ghazali

Oleh Shofwan Karim

Tulisan ini terinspirasi oleh Pidato Pengukuhan Guru Besar Pemikiran Islam UIN IB Padang, 2 Juni 2021. Judulnya, “Altruisme dalam Literasi Intelektual, Spiritual, Sosial Imam Al-Ghazali”

Pada dasarnya pidato itu untuk kalangan akademik. Oleh karena itu agaknya perlu mensyiarkannya untuk umum. Sehingga bermanfaat menjadi pemikiran dan pemahaman massa dan umat.

Mengutip beberapa literatur Prof Taufiq, memaparkan  konsepsi altruism  pandangan al-Ghazali.

Lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i Ia adalah seorang filsuf dan teolog, 1058-1111. Sering disebut Imam Al-Ghazali yang menulis di antaranya Ihya Ulumuddin ( menghidupkan Ilmu-ilmu agama).

Konsep dasar altrusitik adalah perilaku (akhlak) mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri. Banyak pemahaman literatur yang menyandarkan konsep filantrofi (kedermawanan) dan charity (kepemurahan) berbagai pemeluk agama dunia. Dan dalam hal ini Prof Taufiq mengalamatkannya kepada prilaku yang beragama Islam.

Paham altruistik (altruisme) ini melebihi konsepsi kedermawanan. Maksudnya, bila seseorang memberikan kelebihan rezekinya maka itu baru tingkat kedermawanan biasa.

Adalah lumrah  kalau seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain, bila  dia sendiri lebih berada, kaya, dan sudah punya. Apa yang diberikannya tidak meninggalkan sedikit pun kekurangan pada dirinya. Tentu saja  aksi kedermawan itu memdapat pahala dari Allah swt.

Sementara Altruisme, adalah perilaku memberikan sesuatu kepada orang lain. Apa lagi kepada yang sangat memerlukannya. Meskipun sang pemberi juga sangat membutuhkannya. Artinya pemberi mau berbagi mekipun dirinya sendiri  belum mencukupi.

Kira-kira Prof Taufiq ingin menjelaskan  QS,Ali Imran, 3: 133-134:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

“Mereka adalah orang yang terus-menerus berinfak di jalan Allah, baik di waktu lapang, mempunyai kelebihan harta setelah kebutuhannya terpenuhi, maupun sempit, yaitu tidak memiliki kelebihan, dan orang-orang yang menahan amarahnya akibat faktor apa pun yang memancing kemarahan dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

Di dalam ayat itu ada kata infak. Sesuatu yang harus diberikan selalu dalam waktu sedang berlebih atau tidak berlebih atau mungkin kurang (sempit). Maka nafkah atau infaq untuk diri sendiri dan keluarga tanggungannya adalah kewajiban moral sang punya diri. Sama suasana hatinya bila berbagi dengan yang lain, sama dengan berbagi kepada diri dan keluarganya.

Kosa kata Arab anfaqa yang berarti “mengeluarkan sesuatu untuk kepentingan sesuatu, sedangkan sedekah berasal dari kata Arab shadaqah yang berarti “sebuah pemberian yang bertujuan untuk mencari rida Allah”.

Maka bila direnungkan pembagian sembako, hadiah, dan bantuan berbagai bentuk dari bebagai Lembaga, itu termasuk sadakah atau kedermawanan biasa. Karena lembaganya punya keuntungan yang dikategorikan sebagai CSR (Corporate Sosial Responsilibity).

Agaknya dalam kategori ini termasuk bagi-bagi Sembako kepada masyarakat ekonomi lemah oleh pihak dan kalangan tertentu lainnya.

Kalau konsep pemikiran altruisme di atas digunakan, maka ini termasuk sadakah  bukan infak (altruisme) tadi.

Apapun diksi dan wacana tentang altruisme, harus dilihat sebagai istilah baru dalam hakikat isi yang jauh ada sebelumnya.

Dirunut ke literatur oleh Prof Taufiq, dalam sejarah pemikiran filsafat, ternyata konsep altruisme datang dari Auguste Comte (1798-1857).

Padahal, Al-Ghazali  hidupnya mendahului lebih 700 tahun sebelumnya.

Oleh karena itu, harus dilihat pidato pengukuhan sebagai penyesuaian dengan  perkembangan zaman dalam literatur Islam yang harus dibumikan terus menerus.

Dengan demikian memudahkan bagi umat Islam membaca dan memahami pemikiran keagamaan mereka. Wa Allahu a’lam bi al-shawab. ***

Sumber:

Foto Artikel : Infak, Sadakah-Sembako: Altruisme Al-Ghazali – Kompasiana.com

Infak, Sadakah-Sembako: Altruisme Al-Ghazali Halaman all – Kompasiana.com

Sejarah Singkat UM Sumbar

Sejarah UMSB dan Bangunan Kampus 1 Padang

H. Syahruji Tanjung Ketua BPH menyaksikan Rektor Drs. H. Shofwan Karim, B.A., M.A. menandatangani dokumen Pewisudaan Sarjana UMSB tahun 2005

Rabu, 26/1/2022.

Universitas Muhammadiyah Sumbar disingkat mula berdiri UMSB dengan Rektor (1985-1988)  Drs. Ec. H. Gusman Gaus. Singkatan itu berubah menjadi UM Sumbar th 2019 Rektor semasa Rektor Dr. Riki Saputra, M.A.

Pada awalnya UM Sumbar merupakan perubahan bentuk dari gabungan (merger) beberapa Sekolah Tinggi Muhammadiyah yang mulai berdiri di Sumatera Barat pada Tahun 1955.

Penggabungan Sekolah Tinggi Muhammadiyah di Sumatera Barat, di antaranya adalah Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Padang Panjang, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Muhammadiyah Bukittinggi, Sekolah Tinggi Ilmu Teknik (STIT) Muhammadiyah Bukittinggi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Muhammadiyah Payakumbuh, dan Akademi Manajemen (AMA) Muhammadiyah Padang.

Dr. Riki Saputra, M.A. (36 Th) Dilantik sebagai Rektor UM Sumbar 2019-2023 oleh Ketua Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah Prof. Dr. Lincolin Arsyad, 8 Februari 2019.

Cikal bakal Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, resmi berdiri pada tanggal 18 November 1955, ditandai dengan diresmikannya Fakultas Falsafah dan Hukum di Padang Panjang oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah AR. Sutan Mansur. Rektor pertama adalah Dr. H. Ali Akbar dan sebagai Dekan adalah Drs. Danuhusodo, kemudian dilanjutkan oleh Mr. Ezidin. Fakultas ini sekaligus menandai berdirinya Universitas Muhammadiyah pertama di Indonesia.

Pada tanggal 1 September 1964 berdiri Akademi Kulliyatul Muballighin di Padang Panjang, sebagai Dekannya Drs. Djama’an Shaleh. Pada tahun 1965 ditingkatkan statusnya dan berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Agama Jurusan Dakwah sebagai Dekannya Buya H. Haroun El- Ma’any. Fakultas ini sempat punya cabang di Medan yang diresmikan pada tanggal 11 Pebruari 1973. Pada tahun 1964 berdiri Akademi Niaga di Bukittinggi. Kemudian pada tanggal 20 Desember 1965 ditingkatkan statusnya menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah. Selanjutnya, ada tanggal 18 November 1965 berdiri Fakultas Adab di Padang yang terdiri dari dua jurusan yaitu Jurusan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dengan Dekannya adalah Drs. Nur Anas Djamil. Fakultas ini hanya eksis selama satu tahun yaitu sampai 10 Desember 1966 dan kemudian terjadi kefakuman.  Berdasarkan kondisi demikian, maka  pada Musyawarah  Wilayah Majelis Tarjih tanggal 27 April 1967 Fakultas Adab tersebut berganti nama menjadi Fakultas Syari’ah dengan mahasiswanya berasal dari mahasiswa Fakultas Adab Jurusan Bahasa Arab. Dekan pertama yang menjabat adalah H. Darwas Idris, yang pada waktu itu menjabat Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Sumatera Barat.

Seiring dengan itu, pada tahun 1966 tepatnya tanggal 20 Agustus 1966 didirikan Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat di Bukittinggi. Kemudian pada tanggal 1 Maret 1967 juga didirikan Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat di Solok. Namun, karena berbagai faktor di antaranya kurang mendapat dukungan maka Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat di Solok digabungkan dengan Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat yang ada di Bukittinggi dengan Dekan pertamanya adalah Firdaus SH.

Pada tahun 1967 itu juga tepatnya tanggal 16 Maret 1967 berdiri pula Akademi Teknik di Sawah Lunto dengan Dekannya adalah Ir. Atmoso Suhud. Namun, pada tanggal 30 Mei 1968 fakultas tersebut terpaksa ditutup karena kurangnya peminat serta kesulitan lainnya.

Dua tahun setelah itu, tepatnya tanggal 20 Desember 1969 berdiri Fakultas Tarbiyah di Padang Panjang dengan Dekan pertamanya adalah H. Haroun El-Ma’any. Pada tahun 1976 STIE Muhammadiyah berubah menjadi Akademi Manajemen dan Akuntansi (AMA).

Tahun 1983 tepatnya tanggal 5 April 1983 berdiri Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Padang Panjang  yang sebelumnya bernama Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang dipimpin oleh Dekan Drs. M. Kadir.

Setahun setelah itu, yaitu pada tanggal 23 Juni 1984 berdiri Fakultas Teknik yang berlokasi di Bukittinggi dengan Dekan pertamanya adalah Ir. Lukman HB. Berdirinya fakultas ini tidak terlepas dari keberadaan dan mata rantai dari Fakultas Teknik yang sudah ada sebelumnya di Sawah Lunto tersebut.

Seiring dengan itu, pada tahun 1984 itu juga berdiri Fakultas Pertanian di Payakumbuh  dengan Dekannya Ir. Ismail Nur Dt. Rajo Imbang. Selanjutnya dengan SK Menteri P dan K No.0125/0/1985 tanggal 13 Maret 1985 semua Sekolah Tinggi dan Akademi Muhammadiyah yang ada di wilayah Sumatera Barat bergabung menjadi Universitas  Muhammadiyah Sumatera Barat.

Setelah Gusman Gaus, Rektor berikut adalah Dr. Azmi (1989-1994). Dr. Chatlina Said (1994-1989). Dr. Hermansyah Aziz (19989-2001). Drs Shofwan Karim, MA, Pj Rektor (2001-2002). Dr. Ardinis Arbain, Rektor (2002-2004). Drs. Shofwan Karim, M.A., Pj Rektor (2004-2005) dan Dr.  Drs . Shofwan Karim, B.A., M.A  Rektor 2006-2013. Dr. Bustanuddin Agus, M.A, Rektor (2013-2014). Dr. Novelti Muis, M.Pd Rektor (2014-2019). Dr. Riki Saputra, M.A. (2019-sekarang).

Kampus di Padang dibangun selama 1991-1994. Kemudian di bagian depan dari luas lahan 5,9 hektar itu dibangun Masjid Cahaya Rohani yang diresmikan th 1995 oleh Gubernur Hasan Basri Durin.

Masjid ini dibangun sepenuhnya atas wakaf keluarga Bp Boejang. Satu keluarga wiraswasta yang cukup ternama masa itu. Salah satu putra beliau yang belakangan menjadi Direktur Utama Perusahaan Baja Cilegon. Belakangan beberapa kali perbaikan terus dibantu keluarga ini.

Kembali ke akademik, kemudian bertambah pada tahun 1996 di Padang dg berdirinya Fakultas Kehutanan dengan Dekannya adalah Dr. Ir. H. Ardinis Arbain.

Pada tahun 2002/2003 didirikan pula Program Pasca Sarjana dengan Program Studi Ilmu Agama Islam memiliki dua Konsentrasi yaitu Pendidikan Islam dan Hukum Islam dengan Direktur Prof. Dr. H. Nasrun Harun, MA.

Tiga tahun setelah berdirinya Pasca Sarjana, yaitu  tahun 2005 di Bukittinggi berdiri Fakultas Kesehatan dan MIPA dengan Program Studi Manajemen Rumah Sakit, Ilmu Keperawatan yang berdiri pada tanggal 16 Agustus 2007 dan bulan berikutnya ditambah dengan program studi Kebidanan yang berdiri pada tanggal 30 April 2007 dengan Dekan pertamanya adalah Mursyid SKM,MMR.

Pada tahun 2005/2006 diadakan Program Mahasiswa Kader Muhammadiyah di Fakultas Agama Islam sistem Asrama terpisah Putra-Putri.

Awalnya yg asrama putrì Sewa di dekat Kampus 1 Padang kemudian di Eks Sekolah SPG Aisyiah Ulak Karang. Lalu dibangun Asrama Putri dua bangunan di belakang kantor Pasca.  

Bekas labor Fakultas Teknik yg kembali menyatu ke Bukittinggi diubah status menjadi asrama putra mahasiswa kader.

Pada 2007 berdiri berdiri Maahad Zubir bin Awam kerjasama PWM-PWA-UMSB dan Yayasan Kebajikan Muslim  Asia Tenggara , Asian Muslim Charity Foundatio (AMCF).  

AMCF membantu membangun gedung kuliah dan kantor Mahad 730 Juta dan swadaya UM Sumbar 520 juta. Gedung berlantai 2 senilai 1 Milyar 250 juta selesai pertengahan 2011. Gedung yang terletak di sudut antara gedung utama dan Pascasarjana itu kini menjadi tempat kuliah Pascasarjana. Pada tahun 2021 kerjasama dg AMCF selesai. Studi Bahasa Arab menjadi Prodi di FAI.

Ma’ahad tadi setara D2 . Selama 2 tahun takhassus Lughatul Arabiyah wa Dirasatul Islamiah. Mahasiswi diasramakan menyatukan dengan mahasiswi kader di atas tadi. Belakangan Asrama Putrì 2 dan Asrama Putra diruntuhkan diganti dg Rusunawa Unires proyek Kementerian PUPR pada tahun 2018.

Berdiri berikutnya Program  Studi Usaha Perjalanan Wisata dan Perhotelan pada tahun 2008 berada di bawah Fakultas Ekonomi dengan Ketua Prodi Wirnita Eska, Amd.Par. S.Pd. MM yang semula berlokasi di Padang. Kemudian pada tahun 2010 menjadi Fakultas Pariwisata di Bukittinggi.

Pada tahun 2013 yang lalu, izin Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris keluar izinnya, yang diurus oleh Dekan pada waktu itu Dra. Novelti, M.Hum sebagai ketua Program Studi yaitu Drs. Gusmaizal Syandri, M.Pd.

Hasil editing dari,

https://umsb.ac.id/berita/info/49-sejarah

Akses, 26/1/2022 pk 06.54

H. BASRIL DJABAR: TERBEBAS DARI RAYUAN POLITIK UNTUK KEKUASAAN

Oleh Shofwan Karim

Menulis tentang seorang tokoh “beken” tentu banyak dimensi yang saling berhimpitan . Didalam khazanah intelektual dan hati nurani, dimensi ketokohan seseorang itu sulit dijelaskan dengan kata dan kalimat atau diksi tulisan.

Akan tetapi kata dan kalimat adalah sarana yang tak bisa dikesampingkan ketika seorang tokoh mau dibicarakan. Seorang tokoh bukan karena ditokohkan, apalagi melalui proses formalitas dan pabrikasi birokrasi, produk publikasi media dan wacana politik.

Di dalam sejarah Minangkabau klasik dan modern, hampir tidak ada tokoh-tokoh besar masa lalu menjadi tokoh karena semata-mata dipilih dalam Pemilu. Mereka berjuang dengan suka dan duka. Bahkan kadang-kadang dengan airmata dan pengorbanan jiwa.

Sebutlah Dr. H. Abdul Karim Amarrullah, Dr. Abdullah Ahmad, Syekh Djamil Djambek, Syekh Sulaiman Al-Rasuli, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Inyiak H. Agus Salim, Bung Hatta, Bung Syahrir, Bung Yamin, Buya HAMKA, Pak Natsir, Chatib Sulaiman, Bagindo Aziz Chan, Rohana Kudus, Encik Ramah Elyunusiah, Rasuna Said dan seterusnya.

Ketokohan mereka bukan saja setelah mereka menjadi ulama dan pejuang Islam, menlu, wakil presiden, menteri pengajaran, ulama dan pujangga serta perdana menteri, ideolog, pejuang dan pendidik. Mereka menjadi tokoh sejak dari muda, terus beringsut ke masa dewasa, tua bahkan setelah wafat pun mereka masih mendapat legitimasi sebagai seorang tokoh. Mereka menjadi bjah hati dan bjuah tutur publik.

Legitimasi ketokohan, mereka sandang bukan instan tetapi dalam proses yang panjang, alami dan bertahap sehingga sampai ke puncaknya. Dewasa ini terjadi pergeseran.

Kebanyakan tokoh kita, lahir dari karbitan. Di antaranya adalah hasil modifikasi demokrasi setelah era reformasi. Mereka yang tadinya tidak “apa-apa” dan tidak “siapasiapa”, tiba-tiba saja menjadi tokoh “popular” karena daur politik.

Ada sedikit modal, ikut partai dan kalau nasib baik terpilih menjadi anggota legislatif. Atau ada sedikit isi pundi dan modal sosial, ikut pemilihan kepala daerah. Maka jadilah ia pimpinan eksekutif. Nanti, bila selesai pengabdiannya di legislatif dan eksekutif itu, maka ia kembali menjadi orang biasa. Tidak ada buku yang ditulis, tidak ada kenangan hidup yang melekat di hati masyarakat dan tidak ada bekas ketokohan yang dikenang.

Masih syukur dan ini boleh sedikit pengecualian. Di antara mereka yang duduk menjadi tokoh sebagai hasil karbitan tadi mencoba menempa diri. Mereka yang tadi tidak pandai berpidato, karena sudah sering tampil, maka karena “belajar” sambil “bekerja” , sekarang sudah hebat. Berpidato sudah tidak lagi terikat kepada naskah atau teks yang ditulis oleh orang lain. Mereka yang pendidikannya “apa adanya”, maka dengan segala perjuangan yang keras dan liku-liku kehidupan serta disela kesibukan, mereka sekolah atau kuliah eksekutif sore dan malam, akhirnya dapat menyelesaikan pendidikan starata tertentu.

Mereka yang temasuk kategori ini, adalah tokoh yang perlu diberi apresiasi dan menerima rasa hormat. Apalagi mereka mengembangkan sayap pemikiran, koneksi dan jaringan serta selalu memperkuat tali sitaturrahim secara vertikal, ke tingkat national, dan global serta secara horizontal ke masyarakat dan ummat di wilayah ini.

Kiprah mereka menjalin komunikasi dan dengan itu semakin memperkuat ketokohannya, bolehlah dianggap sebagai fenomena modern ketokohan di masyarajat yang tengah berubah ini. Mereka adaptif dengan perubahan yang positif. Mereka adalah harapan yang telah mengubah angan-angan menjadi realitas bahwa kita tetap mempunyai tokoh yang “ mumpuni’ dan boleh jadi tokoh ini suatu waktu menjadi tokoh kharismatis dan rasional.

Kalaulah tidak melampaui, paling tidak mereka mampu mengiringi tokoh besar kita di masa lalu. Berdasarkan sketsa di atas tadi, pertanyaan yang muncul tentu, bagaimana dengan tokoh kita yang satu ini, H. Basril Djabar (HBD) atau kebanyakan kita memanggilnya Uda Bas.

Sebelum menjawab pertanyaan ini, penulis ingin menggambarkan terlebih dulu pengalaman bersama Uda Bas. Penulis mengenal tokoh kita ini sekitar tahun 1970-an. Waktu itu karena Mingguan Singgalang menjadi Harian Singgalang telah mendongkrak namanya di tengah masyarakat. Begitu pula lantaran kiprahnya di dunia usaha dan bisnis, menambah semarak wibawa dan kharismanya di dunia yang satu ini.

Oleh karena ingin mengembangkan kekuatan intelektualitas dan kecendekiawanan diri, lebih-lebih karena alasan kehidupan dan ekonomi, Penulis mulai mengirimkan pikiran dalam tulisan ke Koran ini.

Sejak itu Penulis mulai sering bertemu, bercakap-cakap dan merasa dekat dengan keluarga besar Singgalang . Mereka di antaranya adalah Chairul Harun, Muchlis Sulin, M. Jusfik Helmi, AA Navis, Hamid Djabar, Wisran Hadi, Abrar Yusra dan seterusnya generasi sesudah Inyiak Nasrul Sidik, Nazif Basyir dan Salius St. Sati. Begitu pula generasi belakangan seperti Adi Bermasa, Darlis Syofyan, Fachrul Rasyid HF, Indra Nara Persada, Hasril Chanigo, Khairul Jasmi dan seterusnya.

Apa lagi di tahun 1980-an penulis diberi kolom dua kali dalam sepekan di halaman satu, Selasa dan Jum’at di bawah tajuk “Bukan Sekedar Perintang Waktu” dan bila Ramadhan datang, menulis pada kolom” Menunggu Beduk Berbuka”.

Waktu itu penulis diangkat sebagai Editor Tamu pada harian ini. Honor tulisan dari Singgalang telah berjasa membayar biaya kelahiran putri Penulis dari sebuah rumah bidan di sebuah jalan di kota ini pada tahun 1983.

Di ujung 80-an dan awal 90-an, kaena melanjutkan kuliah di Pascasarajana IAIN (sekarang UIN) Jakarta, Penulis bahkan menjadi koresponden tetap Singgalang di Jakarta. Karena itu hampir tiap minggu bertemu dengan Uda Bas di Kantor Singgalang di Jakarta bersama Kepala Perwakilan Singgalang Suparto HR.

Di samping merasa dekat dengan Uda Bas, penulis menjadi lebih dekat lagi di tahun 1980-an dan 1990-an itu dengan adiknya H. Bahrum Yonda Djabar. Dengan yang terakhir ini penulis sama-sama pengurus KNPI Sumbar, AMPI bahkan belakangan GOLKAR.

Pada waktu di KNPI, bahkan Penulis dan Uda Yonda dikirim menjadi utusan Pemuda Indonesia ke Sidang Umum PBB pada Youth Assembly di New York, AS tahun 1988. Sebelum sidang dan sesudahnya kami berdua mengunjungi beberapa negara di Asia dan negera bagian di AS seperti Hawai dan California. Sesudah itu kami dari New York tebang ke Amsterdam dan mengunjungi negara Benelux (Belgia, Netherland dan Luxemburg). Belakangan penulis dan Da Yonda, duduk di DPRD Provinsi Sumbar hasil Pemilu 1992 sampai 1997.

Penulis semakin merasa dekat dengan Uda Bas sejak kami sama-sama menjadi Dewan Komisaris PT Semen Padang, sejak Oktober 2005 bersama Letjen (Purn.) H. Muzani Syukur, Prof. Dr. H. Elwi Danil, SH., MH dan Dr. Ir. Imam Hidayat.

Pada ulang tahun Uda Bas 21 April 2008, Penulis merasa tersanjung atas suatu pristiwa yang mengharukan tetapi menggembirakan. Waktu itu Uda Bas rela tidak berada di samping semua sanak keluarga dan anak-anaknya, tetapi bersedia datang ke acara promosi Doktor Penulis di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selesai promosi kami mensyukurinya sekaligus merayakan ulang tahun Uda Bas yang ke 65 di Wisma Syahida UIN tadi bersama sekitar 200 orang undangan dari Sumbar, Jakarta dan Yogyakarta. Sesuatu yang tak ada bandingannya bagi Penulis. Merayakan ulang tahun Uda Bas sekaligus selesainya pendidikan S.3/Doktor penulis yang cukup lama sekitar 16 tahun. Itu pun setelah berkali-kali diberi peringatan keras oleh Direktur Pascasarjana UIN SH Jakarta Prof. Dr. Azyumardi Azara, M.Phil., M.A., C.B.E.

Kembali ke soal ketokohan dan kemimpinan terdahulu, menurut pengamatan penulis maupun berdasarkan pergaulan langsung, Uda Bas masih bertahan dengan pola lama kepemimpinan masyarakat.

Secara alamiah dimulainya kepemimpinan itu di bisnis, kemudian menjalar dan simultan dengan dunia media. Secara bersamaan juga sebagai pemimpin masyarakat yang aktif di sekitar 30 organiasi profesi, yayasan, organisi social, dan kemasyarakatan di tingkat lokal dan nasional.

Akan banyak pertanyaan, mengapa Uda Bas tidak mengembangkan ketokohannya ke spektrum politik. Padahal fenomena mutakhir setelah era reformasi 1998 sampai sekarang, terjun ke dunia politik adalah menggiurkan dan amat prospektif untuk kehidupan dan mengembangkan ketokohan serta kepemimpinan.

Seingat penulis, Uda Bas sudah pernah menjadi penasihat Golongan Karya di Kota Padang di masa lalu. Sekarang di tengah puluhan organisasi social kemasyaratakan dan professional tadi Uda Bas juga pernah Ketua Dewan Penasihat Partai GOLKAR Provinsi Sumatera Barat. Sekarang Uda Bas menjadi penasihat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar 2015-2022.

Setahu Penulis, Uda Bas tidak pernah menjadi anggota dan pengurus partai sejak muda sampai sekarang selain GOLKAR. Artinya, Uda Bas tidak pernah tergiur untuk pindah-pindah atau loncat-loncat partai. Alasannya, cukup transparan.

Agaknya di antara alasan itu, Uda Bas menajadi aktivis, penasihat dan pembina partai bukanlah lantaran haus kekuasaan atau ingin memenangkan sebuah kursi politik. Pada pemahaman penulis, Uda Bas masuk partai itu seakan sama saja baginya dengan masuk ke organisasi social, masyarakat dan professional yang dia geluti yang lain tadi sejak masa mudanya sampai hari ini.

Akan tetapi sebuah budaya pluralitas politik telah dipupuk Uda Bas dalam keluarganya. Semenjak wafatnya ayahanda H. Marah Djabar dan Ibu Hj. Hafsah, Uda Bas adalah patron utama, sekaligus mungkin “role model” dalam keluarga ini.

Maka adalah atas restu Uda Bas agaknya di dalam keluarga ini ada sejumlah politisi yang berhasil lolos ke kursi politik dari berbagai partai politik. Adiknya H. Bahrum Yonda Djabar, S. IP duduk di kursi DPRD Sumbar (1992-1997 dan 2004-2009) melalui Partai GOLKAR.

Adiknya yang lain H. Dasrul Djabar duduk di kursi DPR RI dari Partai Demokrat—konon sangat dekat dengan Presiden SBY waktu itu. Dan menantunya H. Fetris Oktri Hardi, SE, SH., M. Si, duduk di kursi DPRD Provinsi Sumbar dari Partai Persatuan Pembangunan.

Sebuah “orchestra politik” yang harmonis agaknya hidup subur dalam keluarga ini. Walaupun demikian untuk dirinya sendiri, Uda Bas kelihatannya tidak tertarik untuk ikut merebut kursi politik melalui Pemilu. Maka kalaupun Uda Bas menjadi Ketua Dewan Penasihat Partai GOLKAR Sumbar, agaknya itu baginya hanya suatu keikhlasan dalam mengabdi dan memberikan yang terbaik untuk ummat dan bangsa dalam arti yang lebih luas.

Dalam arti yang lebih sempit adalah untuk komunitasnya di ranah dan rantau Minang . Dengan kata lain, Uda Bas, terbebas dari rayuan politik untuk kekuasaan. ***(shofwan.karim@gmail.com)

#Imeskafam#MuhammadiyahSumbar#Singgalang#BasrilDjabar#Shofwankarims

Inspirasi Ramadan dan Inklusi Sosial

Inspirasi Ramadhan dan Inklusi Sosial

Shofwan Karim

Beberapa hari sebelum Ramadhan, ada Musrenbang RKPD Tahun 2023 . Sebagai Ketua Muhammadiyah Sumbar, penulis diundang dan hadir

Beberapa hari sebelum Ramadhan, ada Musrenbang RKPD (Rencana Kerja Pembangunan Daerah) Tahun 2023 . Sebagai Ketua Muhammadiyah Sumbar, penulis diundang dan hadir. Musrenbang kali ini terasa nuansa berbeda.

Selain pidato dan sambutan Gubernur, Ketua DPRD dan Bappenas, ada sesi rencana aksi penyandang disabilitas. Narasumber yang spesial untuk ini adalah  Antoni Tsaputra, S.S, MA, Ph.D. Ia  seorang Doktor dengan disabilitas fisik berat.

Alumni salah satu universitas terkenal di Australia dan kini menjadi Dosen di salah satu PTN di Padang ini memaparkan dengan amat mengena. Dari kursi roda, ia menyentuh nalar, rasio dan kalbu para hadirin.

Ingatan ini melayang ke  Quran Surat Abasa, 1-10. Abdullah bin Ummi Maktum datang kepada Nabi. Ada kesan Nabi agak abai terhadap penyandang disabilitas tunanetra ini. Di tenggarai kurang hangat penerimaannya.

Menurut asbabun nuzul, ayat-ayat ini adalah bentuk halus teguran Allah kepada Nabi. Atas sikap Rasulullah terhadap salah satu warga umat. Kala itu, Nabi Muhammad sedang berdiskusi dengan pembesar Quraisy. Di antara mereka ada Abu Jahl, ‘Utbah bin Rabi’ah, ‘Abas bin Abd al-Muthollib, dan Walid bin Murighah. Diskusi tersebut dilakukan dengan harapan kaum Quraisy bisa tercerahkan dan masuk Islam.

Di tengah diskusi tersebut, datanglah Abdullah bin Ummi Maktum. Ia minta diajarkan mengenai Islam dan mengucapkannya sampai berkali-kali.

Rasulullah SAW dianggap terganggu karena percakapannya menjadi terputus. Akhirnya menunjukkan tatapan tidak senang dan memalingkan wajahnya dari Abdullah. Dalam ayat kedua dijelaskan bahwa Abdullah memiliki fisik yang tidak sempurna, ia terlahir dalam keadaan buta.

Bila Nabi yang maksum (nihil dosa) saja ditegur Allah, bagaimana pula kaum muslimin secara perorangan lebih-lebih pemerintah yang abai kepada hamba Allah yang disabilitas?

Kembali ke Dr. Antoni, ia memetakan keadaan para penyandang berkemampuan khusus di Indonesia. Berkemampuan khusus itu ternyata bukan hanya orang yang panca indra dan ada sebagian anggota jasad dan mungkin juga rohaninya tak berfungsi normal atau disablitas.

Termasuk kepada kotegori ini juga orang tua yang semakin uzur dan anak-anak yang memang belum dapat mandiri dalam menjalankan fungsi fisik dan psikhisnya.

Menurut  Dr. Antoni yang juga periset pada Australia Indonesia Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN) tadi, perhatian kepada disabilitas sangat minim. Oleh karena itu Antoni mengajukan kerangka pembangunan yang inklusi.

Dari beberapa literatur, pembangunan infra struktur berwawasan inklusi ini sudah banyak  diteliti dan ditulis. Kerjasama Bappenas dengan Australia meneliti wawasan pembangunan inklusi di bawah payung “Gender Equalitiy and Social Inclusion (GESI)”.

Asian Development Bank (ADB) mendefinisikan inklusi sebagai upaya pada penghapusan halangan bagi kelompok-kelompok marjinal. Penguatan insentif untuk meningkatkan akses kesempatan-kesempatan berpartisipasi dalam proses pembangunan bagi individu-individu dan kelompok-kelompok yang beragam.

Karenanya inklusi sosial lebih pada setiap anggota masyarakat dapat menikmati hak dan manfaat yang sama pada semua bidang. Baik itu infrastruktur maupun suprastruktur. Pembangunan sarana fisik perhubungan, pasar, gedung perkantoran dan lainnya, mestilah dapat dengan enteng diakses para disabilitas. Begitu pula suprastruktur politik, ekonomi, maupun sosial dan budaya dapat menampung aktifasi para disabilitas.

Lalu Sumbar diminta Antoni untuk pembangunan infrastruktur masa sekarang dan ke depan mempertimbangkan dengan sungguh, wawasan pembangunan yang inklusi ini. Dan di Ramadhan yang hanya sekali setahun, sebulan penuh umat muslim berpuasa ini, kiranya melandasi aura lain dari bentuk pembangunan yang inklusi itu.

Secara intensif dalam setiap waktu ada pencerahan dan taushiyah tentang hikmah Ramadhan. Baik oleh para muballigh, ustazd, ulama, media sosial, YouTube dan internet  of thing. Semuanya mendiskusikan bahwa puasa adalah ibadah universal.

Dalam sejarah umat manusia, semua Nabi  dan Rasul dari Adam as sampai yang terakhir Muhammad SAW dengan kaifiat yang bervariasi termasuk umat agama lain yang samawi dan ardhi menjalankan ritual ibadah yang satu ini.

Semua menahan haus-dahaga, lapar, hubungan bologis meskipun di luar siang Ramadhan halal. Menahan diri dari semua yang membatalkan. Bahkan menurut Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i (1058-1111) yang biasa disebut Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, puasa lebih dari hanya sekedar aspek fisik.

Bagi Filosof, Teolog , Sufi Muslim Persia itu, ada kategori tertinggi puasa, yaitu puasa khawasil khawas.  Menahan dari berkata kosong, kotor, “nyeleneh”, marah dan emosional. Menahan hati secara total dari arus ketidakbaikan. Menghindar dari cacat individual dan sosial. Berpuasa fokus kepada semata-mata mengarus-utamakan yang ihsan dan maslahat.

Dengan begitu inspirasi‎ Ramadhan dan inklusi sosial puasa adalah ibadah bagian dari pembangunan infrastruktur sosial. Tanpa membeda-bedakan kedudukan dan posisi sosial, ekonomi dan strata kehidupan. Semua menahan diri dan senantiasa berprilaku baik. Wa Allah a’lam bi al-Shawab. *

%d blogger menyukai ini: