Bapak – Nur Anas Djamil – Hadi Nur

“Perjalanan hidup saya tidak terlepas dari perjalanan hidup orang tua, karena merekalah yang membentuk hidup saya. Ini sebahagian dari sejarah hidup bapak yang sempat saya catat.” https://www.youtube.com/watch?v=RovbvQWqPmc Nama Bapak adalah Nur Anas Djamil. Bapak dari bapak atau datuk saya, Nurani Djamil, yang lahir di Payakumbuh pada tahun 1902 adalah seorang guru dan pedagang. Beliau fasih…
— Read on hadinur.net/2018/02/22/ayahku-nur-anas-djamil/

KHUTBAH Idul Adha 2017 Shofwan Karim di Halaman Kantor Gubernur Sumbar

www.kompasiana.com/shofwankarim/59a940284e51de0ca640de92/akidah-bonus-demografi-basamo-mako-manjadi

La Wayan ke RomaVideo Lawatan ke Rom — AmyRodzman’s Wacky Adventure

Penulis berpeluang melawat tanah Rom selama 4 hari tiga malam. Antara tempat yang penulis lawati adalah seperti: Colosseum Roman Forum Vatican City St. Peter’s Square The Pantheon The Spanish Steps Trevi Fountain Piazza Navona Palatine Hill Piazza del Campidoglio Castel Sant’Angelo Trastevere

Video Lawatan ke Rom — AmyRodzman’s Wacky Adventure

Uda Fauzi Yusuf Terima Buku Shofwan

Seniorku Uda Drs H Fauzi Yusuf dan isteri baru menerima kiriman (2) buku Shofwan Karim dari Sari Anggrek Padang kemarin lusa. Kedua buku diterbitkan dan diluncurkan 18 Desember 2020 oleh UMSB Press.

Drs H Fauzi Yusuf dan (2) buku Shofwan Karim


	

Abu Hanifah tentang Dua Buku Shofwan Karim

Drs. H. Tjik Abu Hanifah memegang dua buku Shofwan Karim.

“BUYA SHOFWAN KARIM, MULTI TALENTA”

Ranah Minang, terkenal banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional. Bahkan tokoh internasional seperti Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. (1860-1916). Seorang ulama asal Koto Tuo, Ampek Angkek, Kabupaten Agam Sumbar. Menjadi Imam di Masjidil Haram. Nama lain ada, Agus Salim, Imam Bonjol, M Hatta, Buya Hamka, Tan Malaka, Sutan Syahrir, M. Yamin, M. Natsir. Dan masih banyak yang lain. Sekarang muncul generasi baru, seperti Buya Shofwan Karim.

Beberapa waktu lalu, saya menerima kiriman dua buku. Dari Padang, Sumatera Barat. Buku pertama, 1). Memoar Biografi. Dr. Drs. H. Shofwan Karim, B.A., M.A. 68 Tahun, Melukis di Atas Awan, dan buku kedua, 2). Islam Sebagai Dasar Negara; POLEMIK, Natsir versus Sorkarno. Yang di terbitkan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat Press. Pada, Desember 2020.

Saya pertama kenal Buya Shofwan Karim, begitu biasa dia dipanggil, pada tahun 1977. Ketika itu rombongan Resimen Mahasiswa Jayakarta, tour panjang ke Medan, Sumatera Utara. Di Bukittinggi, rombongan istirahat. Disinilah saya kenal dengan Buya Shofwan Karim. Bersama kita mengatur acara acara api unggun. Kebetulan saat itu ada juga pemuda dari manca negara. Buya menguasai bahasa Inggris, maka meriahlah acara malam itu. Karena di pimpin seorang yang sangat piawai.

MULTI TALENTA
Buya Shofwan Karim, lahir di Dusun Sirih Sekapur, Sijungjung, 12 Desember 1952. Bapaknya Haji Abdul Karim bin Haji El-Hussein. Ibunya, Rahana binti Ibrahim. Sekolah Rakyat Rantau Ikil, bersamaan dengan Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Al-Hidayatul Islamiyah Sirih Sekapur, pada tahun1965.

Sejak dini pendidikan mulai di kampung hingga mencapai S-1. Pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol, Padang. Kemudian menyelesaikan S-2 dan S-3 (Doktor) di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tahun 1991. Sejak 1985 menjadi dosen tetap di IAIN-UIN Imam Bonjol. Sejak 2005 hingga 2014 menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. osen Pascasarjana UMSB sampai sekarang.

Pada tahun 1985-1987, menjadi staf pengajar Luar Biasa di Unand bersama Joke Van Rijnen dari Vrij Universteit Belanda untuk beberapa mata kuliah. Dosen Kolej Islam Muhammadiyah Singapura, sejak 2002. Buya Shofwan Karim, bukan hanya bergerak di organisasi dakwah. Di kancah dunia kepemudaan di KNPI. Pernah duduk menjadi politisi sebagai pengurus Partai Golkar dan anggota DPRD Sumbar. Menjadi Ketua Tim Seleksi Anggota Komisi Pemilihan Umum Propinsi Sumbar. Anggota Tim Seleksi Anggota Badan Pengawas Pemilu, Sumbar. Pernah terpilih sebagai Vice Presidencif International Islamic Confederation of Labour (IICL), Geneva, Swis. Dunia militer pernah menjadi Kepala Staf Resimen Mahasiswa Pagaruyung, Sumbar. Memang Buya multi talenta. Menguasai banyak hal.

Dunia internasional mulai di geluti saat dirinya menjadi peserta pertukaran Pemuda di Kanada. Sejak itu Buya sering mewakili Indonesia di berbagai pertemuan. Bahkan dirinya di percaya sebagai Ketua Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI).

Berbagai bidang telah di geluti Buya. Bukan hanya di organisasi Dakwah Muhammadiyah, sejak tahun 1973. Pernah menjadi Sekretaris ICMI. Di Bidang industri dan ekonomi Buya pernah di percaya sebagai komisaris PT. Semen Padang, dua masa bakti

Buku memoar biografi Buya terdiri empat (4) bab. Bab pertama berisi tulisan Buya yang telah di paparkan diberbagai kesempatan. Baik acara pertemuan ilmiah di berbagai tempat dan pertemuan ilmiah lainnya. Sehingga pembaca dapat menambah wawasan yang begitu berbobot. Berbagai makalah dan tulisan dapat menambah kaya pembaca.

Pada Bab 2, berisi pengalaman Buya, di berbagai negara. Antara lain, London, Hongkong, Nanjing, Kanada, dan Maroko,. Dalam perjalanan tersebut Buya, menuliskan pengalaman laporan pandangan matanya. Sebagai orang yang berjiwa wartawan. Tulisannya enak dibaca dan perlu. Hasil pengamatanya dari segi tinjauan budaya, sejarah. Bahkan membedah dari pandangan analisa ekonomi pada negara yang di kunjungi. Tak di pungkiri tulisan bersifat sosial kemanusian banyak terangkat. Hebatnya lagi, tulisan itu dimuat di koran Sumbar dan Nasional.

BANGUN KAWASAN BISINIS
Dalam Bab 3, Buya banyak menceritakan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan orang tua dan sahabat. Tapi satu hal, bahwa setiap yang di lalui dalam hidupnya, Buya akan menjadikannya tulisan. Isi tulisannya bagaikan orang bertutur. Sehingga gampang di cerna. Banyak pelajaran yang dapat menjadi contoh tauladan. Di dalam diri Buya banyak sifat yang bisa di jadikan panutan. Sangat menghargai orang yang tua, dan merangkul adik-adik untuk maju bersama.

Sewaktu memimpin organisasi dakwah, Buya menerapkan kepemimpinan bersama. Sehingga Muhammadiyah mendapatkan wakaf tanah dari berbagai pihak. Misal dari Ibu Hj. Bahniar Ibrahim, tanah seluas 3.5 hektar. Yang akan di bangun Amal Usaha Muhammadiyah.

Sementara pada Bab 4. Berisi berbagai hasil liputan Media Massa terhadap Buya Shofwan Karim, baik sebagai Komisaris PT. Semen Padang, dua masa bakti, tokoh masyarakat, intelektual dan maupun sebagai ketua organisasi dakwah. Di organisasi yang sangat di cintainya ini. Buya pernah sebagai ketua PWM Sumbar 2000-2005. Kemudian tahun 2010-2015, sebagai Penasehat Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumbar. Dan terpilih untuk jadi Ketua masa bakti 2015-2020 bahkan belum belum Muktamar akibat Pandemic Covid-19 dan belum Muswil sampai sekarang 2021 maka beliau tetap Ketua.

Pada masa kepemimpinan sebagai Ketua PWM, bersama Dr. (HC). Hj. Nurhayati Subakat, Dra. Apt. dan PP Muhammadiyah Dr. H. Anwar Abbas, M.Ag., M.M. meresmikan Amal Usaha Muhammadiyah. Berupa Kawasan Bisnis Muhammadiyah-Wardah Foundation. Di dalam kawasan sebesar 1.800 meter, sekarang bediri Mesjid Raya Taqwa Muhammadiyah, Pusat Pertokoan dan di lengkapi Hotel Muhammadiyah A Mu’in Saidi.

Satu hal yang patut di teladani dari Buya Shofwan Karim. Apabila pergi kunjungan atau pertemuan, baik di dalam Negeri maupun ke luar negeri. Apalagi pergi ke tanah suci Mekkah. Baik berhaji maupun umroh. Beliau selalu di dampingi istri tercinta. Dra. Hj. Imnati Ilyas. BA, S.Pd., M.Pd. (Kons) Selama 44 th (25 Nop 1977), selalu setia bersama.

Salam dari Mutiara Baru
Kamis. 15 Juli 2021.

**Drs. Tjik Abu Hanifah adalah Pensiunan Kementerian Tenaga Kerja RI. Sekarang tinggal di Jakarta.

%d blogger menyukai ini: