Inspirasi Ramadan dan Inklusi Sosial

Inspirasi Ramadhan dan Inklusi Sosial

Shofwan Karim

Beberapa hari sebelum Ramadhan, ada Musrenbang RKPD Tahun 2023 . Sebagai Ketua Muhammadiyah Sumbar, penulis diundang dan hadir

Beberapa hari sebelum Ramadhan, ada Musrenbang RKPD (Rencana Kerja Pembangunan Daerah) Tahun 2023 . Sebagai Ketua Muhammadiyah Sumbar, penulis diundang dan hadir. Musrenbang kali ini terasa nuansa berbeda.

Selain pidato dan sambutan Gubernur, Ketua DPRD dan Bappenas, ada sesi rencana aksi penyandang disabilitas. Narasumber yang spesial untuk ini adalah  Antoni Tsaputra, S.S, MA, Ph.D. Ia  seorang Doktor dengan disabilitas fisik berat.

Alumni salah satu universitas terkenal di Australia dan kini menjadi Dosen di salah satu PTN di Padang ini memaparkan dengan amat mengena. Dari kursi roda, ia menyentuh nalar, rasio dan kalbu para hadirin.

Ingatan ini melayang ke  Quran Surat Abasa, 1-10. Abdullah bin Ummi Maktum datang kepada Nabi. Ada kesan Nabi agak abai terhadap penyandang disabilitas tunanetra ini. Di tenggarai kurang hangat penerimaannya.

Menurut asbabun nuzul, ayat-ayat ini adalah bentuk halus teguran Allah kepada Nabi. Atas sikap Rasulullah terhadap salah satu warga umat. Kala itu, Nabi Muhammad sedang berdiskusi dengan pembesar Quraisy. Di antara mereka ada Abu Jahl, ‘Utbah bin Rabi’ah, ‘Abas bin Abd al-Muthollib, dan Walid bin Murighah. Diskusi tersebut dilakukan dengan harapan kaum Quraisy bisa tercerahkan dan masuk Islam.

Di tengah diskusi tersebut, datanglah Abdullah bin Ummi Maktum. Ia minta diajarkan mengenai Islam dan mengucapkannya sampai berkali-kali.

Rasulullah SAW dianggap terganggu karena percakapannya menjadi terputus. Akhirnya menunjukkan tatapan tidak senang dan memalingkan wajahnya dari Abdullah. Dalam ayat kedua dijelaskan bahwa Abdullah memiliki fisik yang tidak sempurna, ia terlahir dalam keadaan buta.

Bila Nabi yang maksum (nihil dosa) saja ditegur Allah, bagaimana pula kaum muslimin secara perorangan lebih-lebih pemerintah yang abai kepada hamba Allah yang disabilitas?

Kembali ke Dr. Antoni, ia memetakan keadaan para penyandang berkemampuan khusus di Indonesia. Berkemampuan khusus itu ternyata bukan hanya orang yang panca indra dan ada sebagian anggota jasad dan mungkin juga rohaninya tak berfungsi normal atau disablitas.

Termasuk kepada kotegori ini juga orang tua yang semakin uzur dan anak-anak yang memang belum dapat mandiri dalam menjalankan fungsi fisik dan psikhisnya.

Menurut  Dr. Antoni yang juga periset pada Australia Indonesia Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN) tadi, perhatian kepada disabilitas sangat minim. Oleh karena itu Antoni mengajukan kerangka pembangunan yang inklusi.

Dari beberapa literatur, pembangunan infra struktur berwawasan inklusi ini sudah banyak  diteliti dan ditulis. Kerjasama Bappenas dengan Australia meneliti wawasan pembangunan inklusi di bawah payung “Gender Equalitiy and Social Inclusion (GESI)”.

Asian Development Bank (ADB) mendefinisikan inklusi sebagai upaya pada penghapusan halangan bagi kelompok-kelompok marjinal. Penguatan insentif untuk meningkatkan akses kesempatan-kesempatan berpartisipasi dalam proses pembangunan bagi individu-individu dan kelompok-kelompok yang beragam.

Karenanya inklusi sosial lebih pada setiap anggota masyarakat dapat menikmati hak dan manfaat yang sama pada semua bidang. Baik itu infrastruktur maupun suprastruktur. Pembangunan sarana fisik perhubungan, pasar, gedung perkantoran dan lainnya, mestilah dapat dengan enteng diakses para disabilitas. Begitu pula suprastruktur politik, ekonomi, maupun sosial dan budaya dapat menampung aktifasi para disabilitas.

Lalu Sumbar diminta Antoni untuk pembangunan infrastruktur masa sekarang dan ke depan mempertimbangkan dengan sungguh, wawasan pembangunan yang inklusi ini. Dan di Ramadhan yang hanya sekali setahun, sebulan penuh umat muslim berpuasa ini, kiranya melandasi aura lain dari bentuk pembangunan yang inklusi itu.

Secara intensif dalam setiap waktu ada pencerahan dan taushiyah tentang hikmah Ramadhan. Baik oleh para muballigh, ustazd, ulama, media sosial, YouTube dan internet  of thing. Semuanya mendiskusikan bahwa puasa adalah ibadah universal.

Dalam sejarah umat manusia, semua Nabi  dan Rasul dari Adam as sampai yang terakhir Muhammad SAW dengan kaifiat yang bervariasi termasuk umat agama lain yang samawi dan ardhi menjalankan ritual ibadah yang satu ini.

Semua menahan haus-dahaga, lapar, hubungan bologis meskipun di luar siang Ramadhan halal. Menahan diri dari semua yang membatalkan. Bahkan menurut Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i (1058-1111) yang biasa disebut Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, puasa lebih dari hanya sekedar aspek fisik.

Bagi Filosof, Teolog , Sufi Muslim Persia itu, ada kategori tertinggi puasa, yaitu puasa khawasil khawas.  Menahan dari berkata kosong, kotor, “nyeleneh”, marah dan emosional. Menahan hati secara total dari arus ketidakbaikan. Menghindar dari cacat individual dan sosial. Berpuasa fokus kepada semata-mata mengarus-utamakan yang ihsan dan maslahat.

Dengan begitu inspirasi‎ Ramadhan dan inklusi sosial puasa adalah ibadah bagian dari pembangunan infrastruktur sosial. Tanpa membeda-bedakan kedudukan dan posisi sosial, ekonomi dan strata kehidupan. Semua menahan diri dan senantiasa berprilaku baik. Wa Allah a’lam bi al-Shawab. *

Kajian Ramadhan-1 1443-2022

www.facebook.com/100014738113885/posts/1327808481053743/

Masyakat Madani, dari Wako ke Gubernur?

Ketua PW Muhammadiyah Sumbar, Buya Shofwan Karim Elhussein (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: SHOFWAN KARIM

Pada 25 Februari 2021 menggelora progam100 hari Mahyeldi-Audy. Beberapa saat setelah dilantik menjadi Gubernur-Wagub Sumbar, 2021-2024 itu beberapa komitmen telah digaungkan.

Intinya, keduanya ingin membangun masyarakat Sumatra Barat madani. Tak lama lagi, 25 Februari 2022 ini menjadi ulang tahun pertama, semangat dan agenda itu berjalan.

Kini, Mahyeldi-Audy menunjukkan keseriusan dan komitmen yang tinggi. Keduanya membentuk susunan Tim Percepatan Sumbar Madani (TPSM). Selain Gubernur-Wagub, Mahyeldi-Audy sebagai Pengarah, ada 14 Anggota Tim Pelaksana dengan Sekretariat adalah Bappeda Provinsi Sumbar.

Ke-14 Tim Pelaksana dimaksud yaitu, Tijas Utomo, S.E., Akt., M.B.A., Ph.D; Miko Kamal, S.H.H., L.L.M., Ph.D., Drs. Sudarman, M.A., Dr. Ir. Hidayat, S.T., M.T., I.P.M., Ir. Djoni., Acep Lulu Iddin, S.Sos.I., Yosrizal, S.T., M.T., Ph.D., Syariuf Maulamna, S.Sos.I.; Hamdanus, S.Fil.I., M.Si.; M.Zuhrizul, S.E., M.Lt.; Maksun Jatmiuko, S.E., M.M.; Muhammad Irfan, S.E., M.Si.; Mulyadi Muslim, L., M.A.; Nikki Lauda Hariyona, S.Ikom., M.Sc.

Ketika masih Wako Padang, Mahyeldi sudah menyebut juga pembangunan masyarakat madani. Itu artinya, ketika menjadi Gubernur, Mahyeldi bertekad memperluas dan memperdalam program ini. Kini Gubernur-Wagub dengan TPSM, sedang kebut program demi kepentingan umat dan masyarakat provinsi ini.

Sebelum menyauk lebih dalam , pembangunan Sumbar Madani yang dimaksudh Gubernur-Wagub dan TPSM, ada baiknya kita ikhtisarkan secara sepintas apa yang pernah menjadi konsepsi dalam sejarah pemikiran tentang masyarakat madani tersebut.

Civil-Society atau Masyarakat Madani?


Istilah civil society pertama kali dikemukakan oleh Cicero (104-43 SM) dalam filsafat politiknya societies civilis (Raharjo , 1997). Artinya masyarakat-kewargaan atau masyarakat sipil. Menurut orator Yunani itu, civil society merupakan gambaran komunitas politik yang beradab .


Ia mencontohkan masyarakat kota yang memiliki kode hukum sendiri. Dengan konsep civility (kewargaan) dan urbanity (budaya kota), maka dipahami bukan hanya sekadar konsentrasi penduduk, melainkan juga sebagai pusat peradaban dan kebudayaan.
Civil-society, semakin populer sepanjang sejarah.

Filsuf Yunani Aristoteles (384-322 M) berpendapat bahwa masyarakat sipil sebagai suatu sistem kenegaraan atau identik dengan negara itu sendiri. Pandangan ini mengalami beberapa fase.


Pertama, wacana civil society ang berkembang dewasa ini, merupakan wujud asasi dari masyarakat sipil dari luar, sebagai penyeimbang lembaga negara. Pada masa ini civil society dipahami sebagai sistem kenegaraan dengan menggunakan istilah koinonia politike, yakni sebuah komunitas politik tempat warga dapat terlibat langsung dalam berbagai percaturan ekonomi-politik dan pengambilan keputusan.

Kedua, pada tahun 1767 Adam Ferguson (1723-1816) mengembangkan wacana civil society, dengan konteks sosial dan politik di Skotlandia. Berbeda dengan pendahulunya, filsuf Scotlandia ini lebih menekankan visi etis pada civil society dalam kehidupan sosial. Pemahaman ini lahir tidak lepas dari pengaruh revolusi industri dan kapitalisme yang melahirkan ketimpangan sosial yang mencolok.


Ketiga, berbeda dengan pendahulunya, pada tahun 1792 Thomas Paine (1737-1809) memaknai wacana civil society sebagai suatu yang berlawanan dengan lembaga negara, bahkan ia dianggap sebagain anitesis negara. Filsuf Inggris ini bersandar pada paradigma, bahwa peran negara sudah saatnya dibatasi. Menurut pandangan ini, negara tidak lain hanyalah keniscayaan buruk belaka, konsep negera yang absah, menurut pemikiran ini adalah perwujudkan dari delegasi kekuasaan yang diberikan oleh masyarakat demi terciptanya kesejahteraan bersama.


Keempat, wacana civil society selanjutnya dikembangkan oleh G.W.F Hegel (1770-1831 M), Karl Max (1818-1883 M), dan Antonio Gramsci (1891-1837 M).
Dalam pandangan ketiganya, civil society merupakan elemen ideologis kelas dominan. Pemahaman ini kelihatannya sebagai reaksi atas pandangan Paine. Hegel memandang civil society sebagai kelompok subordinatif terhadap negara.
Pandangan ini, menurut pakar politik Indonesia Ryass Rasyid (73), erat kaitannya dengan perkembangan sosial masyarakat borjuasi Eropa. Pertumbuhannya ditandai oleh pejuang melepaskan diri dari cengkeraman dominasi negara.

Kelima, wacana civil society sebagai reaksi terhadap mazhab Hegelian yang dikembangkan oleh Alexis de Tocqueville (1805-1859). Bersumber dari pengalamannya mengamati budaya demokrasi Amerika, ia memandang civil society sebagai kelompok penyeimbang kekuatan negara. Menurutnya kekuatan politik dan masyarakat sipil merupakan kekuatan utama yang menjadikan demokrasi Amerika mempunyai daya tahan yang kuat.

Agaknya pada fase kelima inilah civil society sampai sekarang menjadi pilar demokrasi. Seperti disinggung Dewi Fortuna Anwar (64) peran warga sipil ini sebagai advokasi, pemberdayaan dan pengawas jalannya demokrasi (Detik, 2011). Dalam makna mempengaruhi kebijakan public, memberdayakan peran public dan menjadi sosial kontrol di luar parlemen.

Civil society menjadi populer di ujung masa Orde Bariu Indonesia. Sebagai mana di negara mayoritas Muslim, konsep civil society sering dirujuk sebagai inspirasi masyarakat madani.

Masyarakat Madani

Madani terambil dari kosa kata Madinah. Empat belas abad lalu, telah berdiri sebuah masyarakat yang mampu melakukan lompatan besar peradaban dengan berdirinya sebuah komunitas yang bernama Masyarakat Madinah. Negara-Kota (City-State) Madinah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad Rasulullah SAW (Umari, 1999) mengubah urat tunggang dan struktur masyarkat Madinah.

Terjadi transformasi radikal dalam kehidupan individual dan sosial. Nabi merombak dan mengubah total nilai, simbol, dan struktur masyarakat yang telah berakar kuat dengan membentuk sebuah tatanan baru yang berlandaskan pada persamaan dan persaudaraan.

Bentuk masyarakat Madinah inilah, yang kemudian ditransliterasikan menjadi “masyarakat madani. Suatu gugus pradigma tipikal ideal mengenai kosepsi sebuah negara modern yang menjunjung hak-hak sipil, kebersamaan, kebhinnekaan, kebebasan di bawah hukum, berbudaya dan berperadaban, menghomati hak asasi manusia, perempuan, orang tua dan anak.


Masyarakat madani, sering dikonsepsi sebagai aplikasi cerdas dari penerjemahan istilah dari civil society dengan penyempurnaan tegaknya nilai-nilai rububiyah ke-Tuhanan, Allah swt.


Isitilah ini, kemudian digulir ulang oleh Dato Seri Anwar Ibrahim (75) dalam ceramahnya pada simposium Nasional dalam rangka forum ilmiah pada acara Festival Istiqlal, 26 September 1995 di Jakarta.


Wakil PM Malaysia 1993-1998 itu memberikan inspirasi ke banyak tokoh Indonesia. Apalagi di penggalan akhir dekade ke-3 Orde Baru, ketika masyarakat tokoh sipil Muslim Indonesia yang lama terpinggirkan, mulai dekat pemerintah.


Diawali dengan kelahiran Ikatan Cenekiawan Muslim se-Indonesia, 1990 dengan naikya pamor Habibie, istilah madani menjadi menu utama pada dekde 1990-an itu. Kosa kata Islam dan Syariah mulai lagi bergulir. Lahir Bank Muamalat sebagai Lembaga keuangan-ekonomi Syariah pertama ujung Orde Baru menambah getah perekat masyarakat madani.


Sepanjang 1990-an itu, wacana masyarkat madani bergulir. Mun’im (1994) mendefinisikan istilah civil society sebagai seperangkat gagasan etis yang mengejawantah dalam berbagai tatanan sosial, dan yang paling penting dari gagasan ini adalah usahanya untuk menyelaraskan berbagai konflik kepentingan antarindividu, masyarakat, dan negara.


Robert Hefner menyatakan bahwa masyarakat madani adalah masyarakat modern yang bercirikan demokratisasi dalam berinteraksi di masyarakat yang semakin plural dan  heterogen. Dalam keadan seperti ini masyarakat diharapkan mampu mengorganisasi dirinya, dan tumbuh kesadaran diri dalam mewujudkan peradaban. Mereka akhirnya mampu mengatasi dan berpartisipasi dalam kondisi global, kompleks, penuh persaingan dan perbedaan.


Mahasin (1995) menyatakan bahwa masyarakat madani sebagai terjemahan bahasa Inggris, civil society. Kata civil society sebenarnya berasal dari bahasa Latin yaitu civitas dei yang artinya kota Illahi dan society yang berarti masyarakat. Dari kata civil akhirnya membentuk kata civilization yang berarti peradaban. Oleh sebab itu, kata civil society dapat diartikan sebagai komunitas masyarakat kota yakni masyarakat yang telah berperadaban maju dan berketuhanan.


Istilah madani menurut Munawir (1997) sebenarnya berasal dari bahasa Arab, madaniy. Kata madaniy berakar dari kata kerja madana yang berarti mendiami, tinggal, atau membangun. Kemudian berubah istilah menjadi madaniy yang artinya beradab, orang kota, orang sipil, dan yang bersifat sipil atau perdata.


Dengan demikian, istilah madaniy dalam bahasa Arabnya mempunyai banyak arti. Konsep masyarakat madani menurut Madjid (1997) kerapkali dipandang telah berjasa dalam menghadapi rancangan kekuasaan otoriter dan menentang pemerintahan yang sewenang-wenang di Amerika Latin, Eropa Selatan, dan Eropa Timur.


Hall (1998) mengemukakan bahwa masyarakat madani identik dengan civil society, artinya suatu ide, angan-angan, bayangan, cita-cita suatu komunitas yang dapat terjewantahkan dalam kehidupan sosial. Pada masyarakat madani pelaku social akan berpegang teguh pada peradaban dan kemanusiaan.


Kembali konsep yang diajukan oleh Anwar Ibrahim ini hendak menunjukkan bahwa masyarakat yang ideal adalah kelompok masyarakat yang memiliki peradaban maju. Lebih jelas Anwar Ibrahim menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat madani adalah sistem sosial yang subur yang diasaskan kepada prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan perorangan dengan kestabilan masyarakat.


Masyarakat madani diharapkan menjadi sistem sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu untuk stabilitas masyarakat. Inisiatif individu dan masyarakat akan berpikir, berapresi tinggi kepada seni. Melaksanaan kepemerintahan berdasarkan hukum dan tidak karena nafsu atau keinginan individu.


Mereka adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Allah SWT memberikan gambaran oleh beberapa kalangan dirujuk sebagai framing masyarakat madani. Q.S. Saba, 34: 15.


Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun”.


Di awal abad ke-20 KH Ahmad Dahlan (1868-1923), pendiri Muhammadiyah, 1912 mengguinakan kata maju. Belakangan oleh Muhammadiyah dipahami sebagai aplikasi agama islam yang berkemajuan. Penggunaan akal-pikiran, ilmu-pengtahuan untuk membumikan ajaran Islam. Begitu pula di zaman Abdullah Ahmad Badawi (83) PM Malaysia, 2003-2009 mengumandangkan istilah masyarakat hadhari (bekemajuan)
Lalu, di atas semua uraian tadi, pertanyaannya masyarakat madani yang bagaimana sedang diformat dan dituju oleh Mahyeldi-Audy ?.


Salah seorang TPSM, Miko Kamal (25/1/2022) memberikan kepada Penulis deskripsi singkat dari Perda Np. 6 Tahun 2021 tentang RPJMD 2021-2021. Intinya “Masyarakat Madani di Sumbar yang dimaksud adalah masyarakat yang memiliki tatanan kehidupan yang demokratis. Masyarakat madani berpegang teguh pada demokrasi, menghargai hak asasi manusia, taat hukum dan menghormati nilai keadilan dan peradaban.

Misi untuk mewujudkan masyarakat Sumatera Barat yang madani tentu selaras dengan adat dan budaya Minangkabau yang egaliter dengn pengetahuan dan pemahaman tentang adat dan agama yang berkaitan dengan etika dan moral”.

Untuk wujudnya Sumatera Barat Madani yang dimaksud, Mahyeldi -Audy mengkontruk misinya: (1)meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sehat, berpengetahuan, terampil dan berdaya saing; (2) meningkatkan tata kehidupan sosial kemasyarakatan berdasarkan Falsafah Adaiak Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah; (3) meningkatkan nilai tambah dan produktifitas pertanian, perkebunan, perternakan dan perikanan; (4) meningkatkan usaha perdagangan dan industri kecil/menengah serta ekonomi berbasis digital; (5) meningkatkan ekonomi kreatif dan daya saing kepariwisataan; (6) meningkatkan pembangunan infrastruktur yang berkeadilan dan berkelanjutan; (7) mewujudkan tata kelola pemerintah dan pelayanan publik yang bersih, akuntabel serta berkualitas. https://sumbarprov.go.id/home/pages/1-visi-dan-misi.html Akses, 20/1/2022.


Dibandingkkan dengan konsepsi awal mulai dari Cicero, Aristoteles, sampai ke Anwar Ibrahim dan Dewi Fortuna Anwar, ada yang tak kelihatan dari visi dan misi Mahyeldi-Audy. Di antaranya yaitu advokasi, pemberdayaan dan pengawasan oleh masarakat madani itu sendiri di luar pemerintahan.


Bagaimana masyarakat sipil membangun masyarakat Sumbar madani sebagai mitra pemerintah, agaknya perlu didiskusikan lagi. Adakah perubahan substansi, konten dan strategi ketika Mahyeldi menjadi Wako dan kini Gubernur?. Wa Allah al-A’lam bi al-Shawab.

*/Penulis adalah seorang Ketua PW Muhammadiyah Sumbar, Dosen PPs UM Sumbar dan Ketua Umum YPKM.

Artikel ini sudah tayang di Masyakat Madani, dari Wako ke Gubernur? – Minangkabaunews.com

Telesik Al-Quran dan Teologi Bencana

Telesik Al-Quran dan Teologi Bencana

Oleh Shofwan Karim

Matanya menggerayangi dengan cermat sebuah artikel Jurnal Ilmiah 18 halaman.

Abdul Mustaqim  (AM) menulis, “Teologi Bencana Perspektif Al-Qur’an”,  Nun, Vol 1, No. 1, 2015.

Sangat penting dan sangat menarik kajian telisik al-Quran tetang teologi bencana ini.

Pertama, bencana banjir yang menimpa kaum Nabi Nuh (Q.S. al-Mukminun [23]: 27).

 Kedua, bencana hujan batu seperti yang menimpa umat Nabi Luth. (Q.S. Al-A’râf [7]: 84).

Ketiga, Bencana gempa bumi atau (al-zalzalah) ini pernah terjadi pada umat Nabi Musa (Q.S. (Q.S. al-A’râf [7]:155).

Keempat, bencana angin topan yang menimpa orang kafir pada waktu perang Khandaq (Q.S. al- Ahzâb [33]:9).

Pendekatan tafsir maudhu’i atau tematik dalam penelitian AM membuat Saga Jantan (SgJ)  kembali merekognisi kuliah doctoral-Drs,  45 dan Magister-M.A., Doktor-nya, 33, 30 tahun lalu.

Pada waktu itu kata teologi (Theology) ilmu Ke-Tuhanan tidak biasa di kalangan umum.

SgJ ingat, suatu kali, ada beberapa orang yang datang ke Fakultas Ushuludin Univertas di mana SgJ menjadi dosen sebelum pensiun sebagai ASN.

Mereka mempertanyakan apa itu teologi dan ilmu kalam yang ada dalam mata kuliah di fakultas itu. Bahkan sebenarnya mereka memprotes. Setelah disyarahkan dengan sabar dan rinci, mereka paham.

Oleh karena itu harus ditarik ke kata atau diksi awal. Terma yang sudah ada sejak kajian klasik, pertengahan dan era pra-modern pemikir Muslim menurut bidangnya.

PW Muhammadiyah membantu warga Andalas Padang terdampak musibah kebakaran rumah, 2026. (Foto Dok PWM)

Kajian ini secara kelasik disebut  Ilmu Tauhid, Ilmu Kalam, Ilmu Akidah atau Ilmu Ushuluddin.

Yakni ilmu yang berbicara tentang sistem keyakinan Islam.

Sayangnya, istilah teologi selama ini dipahami sangat teosentris.  

Artinya hanya mengkaji dan mendiskusikan sejumlah konsep-konsep untuk “mengurusi” Tuhan. Misalnya apakah kalâmullâh itu qadîm atau hadîts?.  

Bagaimana sifat-sifat Tuhan, bagaimana keadilan Tuhan, bagaimana menilai orang lain kafir atau mukmin dan sebagainya.

Sementara itu persoalan manusia dan lingkungan kurang dikaitkan. Bahkan kalau pun ada terasa agak kurang.

Padahal al-Quran banyak menayangkan hal-hal itu. SgJ menelisik hasil penelitian AM ini dengan lebih hati-hati.

Sambil membaca pula dengan cermat Laporan  Posko Tanggap Darurat Muhammadiyah Disaster Menagement Center (MDMC) di Kajai dan Malampah, ujung jari  SgJ terus membalik   puluhan lainnya ayat al-Qur’an terkait.

Baik simbolik, konseptual, tekstual, kontektual,  filosofis dan historis.

Akan tetapi Kakek 70 tahun ini belum akan membahas apa yang  menari dalam benaknya sebagai yang sering pula disebut  fikih bencana.

Yaitu cara spontan tangggap-darurat bencana. Begitu pula program lanjutan. Biasanya disebut sebagai trauma healing, rehabilitasi-rekonstruksi (Rehab-Rekon) menurut ajaran Islam dalam pendekatan fisik material- non-fisik immaterial, jasmani-rohani-spiritual.

“Harus satu-satu dulu”, katanya bergumam sendiri.

Kembali ke teologi bencana. AM mengikhtisarkan 4 paradigma atau gugus pikir.

Pertama,  teologi bencana adalah suatu konsep tentang bencana dengan berbagai kompleksitasnya yang didasarkan pada pandangan al-Qur’an.

Menurut al-Qur’an terma bencana dapat terwakili dengan beberapa istilah, yaitu bala’ yang secara bahasa dapat berarti jelas, ujian, rusak.

Bencana yang diungkapkan dengan term bala’ mempunyai aksentuasi makna bahwa bencana itu merupakan bentuk ujian Tuhan yang sengaja diberikan Tuhan untuk menguji manusia, agar tampak jelas keimanan.

Sebagai sering dikutip muballigh potongan hadist, keimanan itu yazid wa yanqush (adakalanya bertambah-adakalanya berkurang).

Bencana yang disebut bala’ dapat berupa hal-hal yang menyenangkan , dapat pula hal-hal yang tidak menyenangkan.

Kedua,  bencana dengan terma mushîbah lebih merupakan segala sesuatu yang menimpa manusia yang umumnya berupa hal-hal yang tidak menyenangkan.

Ketika terkait dangan hal-hal yang baik, maka al-Qur’an menisbatkannya kepada Allah, sementara ketika musibah itu terkait dengan hal-hal yang menyengsarakan, al- Qur’an menyatakannya, bahwa hal itu akibat hal-hal lain, dan boleh jadi karena kesalahan manusia itu sendiri.

Maka musibah itu sesungguhya bisa sebagai ujian, bisa pula sebagai teguran, bahkan juga bisa sebagai siksaan.

Ketiga, bencana juga disebut dengan fitnah, maka kecenderungan maknanya adalah untuk menguji manusia. Bencana yang diungkapkan dengan terma fitnah lebih merupakan ujian untuk mengetahui kualitas seseorang.

Maka menurut AM setelah meneliti ayat-ayat al-Quran yang relevan,  secara ontologis  (hakiki-wujudiah) al-Qur’an memandang bahwa bencana itu merupakan bagian dari sunnah kehidupan, yang memang telah menjadi “desain” Tuhan di al-Lauh Mahfudz.

Bencana tidak mungkin terjadi kecuali atas izin Tuhan dan atas sepengetahuan-Nya.

Akan tetapi hal ini tidak berarti lalu manusia hendak menyalahkan Tuhan, sebab terdapat berbagai penyebab terjadinya bencana alam antara lain,

  • sikap takdzîb (mendustakan) terhadap ayat-ayat Tuhan dan ajaran para rasul,
  • zhalim berbuat aniaya terhadap diri, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya
  •  israf (berlebihan-lebihan) dalam bermaksiat dan mengeksplotasi alam,
  • jahl (berlaku bodoh), yakni tahu kebenaran dan kebaikan tetapi dilanggar, dan
  • takabbur (sombong) dan kufur nikmat.

Untuk itu, diperlukan kearifan dan berfikir  menyauk lebih dalam ke lubuk hikmah  setiap menghadapi bencana.

Antara lain senantiasa, bersabar, optimis, tidak berputus asa dari rahmat Tuhan dan senantiasa bermuhasabah (introspeksi diri). 

Berbagai bencana yang menimpa manusia mengandung pesan moral antara lain sebagai tanda peringatan Tuhan.

Tentu pula sebagai bahan evaluasi diri. Lebih dari itu tanda kekuasaan-Nya dan teguran Tuhan buat manusia supaya kembali ke jalan yang benar.

Selanjutnya, harus selalu waspada. Apalagi kalau menurut penelitian dan teori  bahwa semua bencana sudah dapat  diasumsi dan diprediksi. Meski mungkin oleh sebagian pihak diangggap bersifat spekulatif tetapi tetap bukan khayalan kosong.  

Dan yang faktual akan diuji terus menerus sesuai gejala alam . Hal itu dalam tinjauan teologis,  sebenarnya juga merupakan takdir dan mungkin sunnatullah.

Wa Allahu a’lam. ***

Shofwan Karim, Dosen PPs UM Sumbar, Ketua PWM dan Ketua Umum YPKM.

Menjaga Tauhid, Renovasi dan Perluasan Al-Haram

Laporan Perjalanan Umrah 2014

Dari teras masjid Bir Ali, memasang niat.

 

 

 

Menjaga Tauhid, Renovasi dan Perluasan Al-Haram

4 Februari 2014 pukul 10.35

 

Menjaga Tauhid, Renovasi dan Perluasan Al-Haram

 

http://hariansinggalang.co.id/menjaga-tauhid-renovasi-dan-perluasan-al-haram/

Setelah 12 Tahun ke Mekkah (9): 

Shofwan Karim Bin Abdul Karim Husein

 — Muhammad Ibnu Abd al-Wahhâb (1115 – 1206 H/1701 – 1793 M ) berkolaborasi dengan Ibnu Saud, melakukan reformasi total kehidupan beragama di Jazirah Arabia pada ujung abad ke-18. Mereka menamakan gerakannya salafiyun (gerakan awal) yaitu kembali menerapkan agama Islam yang murni seperti yang diajarkan Rasulullah saw dengan menegakkan akidah Tauhid yang murni. 

 

Meng-Esakan Allah tanpa reserve dengan tidak tedeng aling-aling. Mereka menyebut gerakan al-Muwahhidun. Prinsip teologi yang semata-mata mengiukuti al-Quran dan Hadist-Sunnah al-Shahihah.


Sebagian ahli menyebut bahwa mereka dalam teologi menggunakan pemikiran Ibn Taymiyah dan pemikiran Fikih, bermazhab Hanbali.
Oleh pihak Barat, mengikuti cara pikir para ahli Orientalis (ahli ketimuran) , mereka menyebut gerakan Wahabi.

 

Persiapan Thawaf, Saa’i dan Tahallul


Oleh karena bersandarkan kepada seorang tokoh sentral yaitu Muhammad ibnu ‘Abd al-Wahab . Hal itu merupakan metoda Barat dalam setiap menamakan gerakan, pikiran, dan gagasan yang selalu bersandarkan kepada tokoh sentral setiap gagasan itu.
Maka dulu, oleh para Orientalis masa awal, agama Islam disebut mereka sebagai Mohammadanisme atau paham Muhammad. Agak aneh terasa, sebagian besar umat Islam sekarang menisbahkan pula pemurnian Islam di Saudi itu sebagai Wahabisme atau paham Wahabi.
Muhammad Ibn Abdul Wahab, mengikat perjanjian dengan Muhammad Ibnu Saud, seorang pemimpin suku di wilayah Najd. Sesuai kesepakatan, Ibnu Saud ditunjuk sebagai pelaksana administrasi pemerintah atau bahasa populernya mengurus hal-hal yang bersifat politik.


Sementara Muhammad bin Abd al-Wahhâb menjadi pemimpin syariah, pengawal akidah dan kehidupan spiritualitas. Sampai saat ini, gelar Malik atau Raja dan “keluarga kerajaan” negara Arab Saudi dipegang oleh keluarga Saud. Namun Mufti Umum Kerajaan, tidak selalu dari keluarga Muhammad bin Abd al-Wahhâb misalnya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibn Abdullah Ali Ibn Baz (1909-1999).


Dalam kajian sejarah, kolaborasi Ibnu Saud dan Ibnu Abdul Wahab itu, telah mengalami pasang naik dan surut dari akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-20.


Pada tanggal 23 September 1932, Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Sa’ud mem proklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi atau Saudi Arabia (Al-Mamlakah Al-’Arabiyah Al-Su’udiyah) dengan menyatukan wilayah Riyadh, Najd (Nejed), Ha-a, Asir, dan Hijaz. Abdul Aziz kemudian menjadi raja pertama pada kerajaan tersebut. Dengan demikian dapat dipahami, nama Saudi berasal dari kata nama keluarga Raja Abdul Aziz Al-Sa’ud. Pada waktu, Negara kerajaan ini beum makmur. Tetapi setelah minyak bumi ditemukan sebe lumnya serta dieksplorasi 1938, kerajaan ini menjadi kaya raya.


Pada 26 Agustus 2011, Raja Arab Saudi (ke-VI dinobatkan 2005) yang memerintah sebagai Raja, Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan, Abdullah bin Abdul Aziz (lahir 1924) meletakkan batu pertama dimulainya proyek akbar perluasan Masjidil Haram.
Abdullah dilantik sebagai Pangeran 1985 dan setelah Raja Fahd kurang sehat maka secara defacto sebelum dilantik sebagai Raja tadi, telah bertindak sebagai Raja sejak 1995. Kemudian setelah Raja Fahd, saudara seyahnya wafat tahun 2005, Abdullah menjadi Raja sampai sekarang.

 

Belajar agama, seoerang anak dengan gurunya, antara zuhu dan ashar di Masjdi Nabawi Madinatyul Munawwarah

 


Selain perluasan Masjidil Haram, Raja Abdullah telah meresmikan berfungsinya Makkah Royal Clock Tower, yang merupakan menara jam tertinggi di dunia.


Puncak menara jam paling akbar berlapis emas itu tingginya 661 meter. Tower tempat bertenggernya jam raksasa itu, sekaligus ikon atau landmark kota Makkah. Menara ini bukan berdiri sendiri.
Melainkan hanya satu puncak tertinggi saja dari satu komplek gedung super-luas-megah, yang di situ ada 8 hotel .


Di bawahnya ada super market, mall, toko dan sekalian pusat bisnis nasional dan multi nasional. Komplek gedung dan tower ini menghadap tepat pintu satu Masjidil Haram.


Bila Matahari belum sampai ke 90 derjat, maka menara raksasa itu, tampak memberi keteduhan dibalik bayang-bayangnya kepada Ka’bah di tengah Masjidil Haram. Baik pagi atau sore hari.


Tentang renovasi dan perluasan Masjidil Haram, menurut media on-line dan dari mulut ke mulut, diperkirakan akan selesai 2018. Oleh karena itu, siang –malam, non-stop pekerjaan dikebut.


Setelah menunaikan ibadah umrah 2 kali, setelah tahwaf dan ibadah wajib dan sunat lainnya, kami menyusuri bagian kanan luar tempat Saa’i, Safa-Marwa. Tampaknya wilayah itu menjadi perluasan yang dimaksud. Dan Bukit-bukit di sekitar itu mulai diruntuhkan dan digaruk.
Bahkan dari ujung luar Marwa, tidak bisa ditembus dengan jalan kaki sekarang, alias ditutup. Maka kalau kita akan mengelilingi Masjidil Haram, harus masuk lagi ke tempat Saa’i dan keluar merencah membelah Masjid untuk keluar lagi di depan Hotel Hilton.


Di tengah renovasi bagian dalam, tampak ditata rapi, “sementara”, dengan dinding fiber-glass pada bagian-bagian yang sedang dikerjakan.
Sekaligus pengaman. Sehingga tidak mengganggu ibadah yang setiap menit sepanjang hari dilakukan jamaah.


Sebuah jalan depan Multazam, di belakang Makam (jejak) Ibrahim, merupakan lorong lebar yang di sekat kiri-kanan arah ke Bukit Safa. Dulu pada tahun 1996 di sini tempat sumur Zamzam. Sekarang tempat itu sudah rata dengan pelatran thawaf semuanya.


Artinya semua air Zamzam sudah dilalirkan ke semua titik yang sudah diatur dan dimasukkan ke tank untuk diletakkan di berbagai tempat terutama jalur jalan masuk arah ke Ka’bah. Dan kalaupun masih ada yang ingin berwuduk dengan air Zanzam, ada tempatnya dipinggir dinding belakang bagian dalam Masjidil Haram.


Termasuk di lantai 2. Dan bila ingin ke toilet dan berwuduk, maka tempat di luar Masjid di pekarangan luar sudah ditata lebih bagus dan indah lagi.


Dulu kalau mau berwuduk sekaligus harus turun ke bawah permukaan tanah atau basement yang menyatu dengan parkiran. Sekarang, kalau hanya untuk wuduk saja dan sekalian minum air Zamzam, selain dari tanki, juga ada keran yang di tata rapi merata dengan jarak tertentu di pekarangan atau halaman sekeliling Masjid. Tetapi kalau ingin ke toilet sekalian, ya tetap harus masuk ke bawah pelataran basement tadi, seperti masa lalu. (*)

%d blogger menyukai ini: