Sumbar Madani, Mitra dalam Kesatuan

Sumbar Madani,  Mitra dalam Kesatuan

Oleh Shofwan Karim

Pada 25 Februari 2021 menggelora progam100 hari Mahyeldi-Audy. Beberapa saat setelah dilantik menjadi Gubernur-Wagub Sumbar, 2021-2024 itu beberapa komitmen telah di gaungkan. Intinya, keduanya ingin membangun masyarakat Sumatra Barat madani. Tak lama lagi, 25 Februari 2022 ini menjadi ulang tahun pertama, semangat dan agenda itu berjalan. 

Kini,   Mahyeldi-Audy menunjukkan keseriusan dan komitmen yang tinggi. Keduanya membentuk susunan Tim Percepatan Sumbar Madani (TPSM).  Selain Gubernur-Wagub, Mahyeldi-Audy sebagai Pengarah,  ada 14 Anggota Tim Pelaksana dengan Sekretariat adalah Bappeda Provinsi Sumbar. 

Ke-14 Tim Pelaksana dimaksud yaitu, Tijas Utomo, S.E., Akt., M.B.A., Ph.D; Miko Kamal, S.H.H., L.L.M., Ph.D., Drs. Sudarman, M.A., Dr. Ir. Hidayat, S.T., M.T., I.P.M., Ir. Djoni., Acep Lulu Iddin, S.Sos.I., Yosrizal, S.T., M.T., Ph.D., Syariuf Maulamna, S.Sos.I.; Hamdanus, S.Fil.I., M.Si.; M.Zuhrizul, S.E., M.Lt.; Maksun Jatmiuko, S.E., M.M.; Muhammad Irfan, S.E., M.Si.; Mulyadi Muslim, L., M.A.; Nikki Lauda Hariyona, S.Ikom., M.Sc.

Ketika masih Wako Padang, Mahyeldi sudah menyebut juga pembangunan masyarakat madani. Itu artinya, ketika menjadi Gubernur, Mahyeldi bertekad memperluas dan memperdalam program ini. Kini  Gubernur-Wagub dengan  TPSM,  sedang kebut program demi kepentingan umat dan masyarakat provinsi ini. 

Sebelum menyauk lebih dalam , pembangunan Sumbar Madani yang dimaksudh Gubernur-Wagub dan TPSM, ada baiknya kita ikhtisarkan  secara sepintas apa yang pernah menjadi konsepsi dalam sejarah pemikiran  tentang masyarakat madani tersebut.

Civil-Society atau Masyarakat Madani?

Istilah civil society  pertama kali dikemukakan oleh Cicero (104-43 SM) dalam filsafat politiknya  societies civilis(Raharjo , 1997). Artinya masyarakat-kewargaan atau masyarakat sipil. Menurut orator Yunani itu,  civil society merupakan gambaran  komunitas politik yang beradab . 

Ia mencontohkan masyarakat kota yang memiliki kode hukum sendiri. Dengan konsep civility (kewargaan) dan urbanity (budaya kota), maka dipahami bukan hanya sekadar konsentrasi penduduk, melainkan juga sebagai pusat peradaban dan kebudayaan.

Civil-society, semakin populer sepanjang sejarah. Filsuf Yunani Aristoteles (384-322 M) berpendapat bahwa masyarakat sipil sebagai suatu sistem kenegaraan atau identik dengan negara itu sendiri. Pandangan ini mengalami beberapa fase. 

Pertama,  wacana civil society ang berkembang dewasa ini, merupakan wujud asasi dari masyarakat sipil dari luar, sebagai penyeimbang lembaga negara. Pada masa ini civil society dipahami sebagai sistem kenegaraan dengan menggunakan istilah koinonia politike, yakni sebuah komunitas politik tempat warga dapat terlibat langsung dalam berbagai percaturan ekonomi-politik dan pengambilan keputusan.

Kedua, pada tahun 1767 Adam Ferguson (1723-1816)  mengembangkan wacana civil society, dengan konteks sosial dan politik di Skotlandia. Berbeda dengan pendahulunya, filsuf Scotlandia ini lebih menekankan visi etis pada civil society dalam kehidupan sosial. Pemahaman ini lahir tidak lepas dari pengaruh revolusi industri dan kapitalisme yang melahirkan ketimpangan sosial yang mencolok.

Ketiga, berbeda dengan pendahulunya, pada tahun 1792 Thomas Paine (1737-1809) memaknai wacana civil societysebagai suatu yang berlawanan dengan lembaga negara, bahkan ia dianggap sebagain anitesis negara. Filsuf Inggris ini bersandar pada paradigma, bahwa  peran negara sudah saatnya dibatasi. Menurut pandangan ini, negara tidak lain hanyalah keniscayaan buruk belaka, konsep negera yang absah, menurut pemikiran ini adalah perwujudkan dari delegasi kekuasaan yang diberikan oleh masyarakat demi terciptanya kesejahteraan bersama.

Keempat, wacana civil society selanjutnya dikembangkan oleh G.W.F Hegel (1770-1831 M), Karl Max (1818-1883 M), dan Antonio Gramsci (1891-1837 M). 

Dalam pandangan ketiganya, civil society merupakan elemen ideologis kelas dominan.  Pemahaman ini kelihatannya sebagai  reaksi atas pandangan Paine. Hegel memandang civil society sebagai kelompok subordinatif terhadap negara. 

Pandangan ini, menurut pakar politik Indonesia Ryass Rasyid (73), erat kaitannya dengan perkembangan sosial masyarakat borjuasi Eropa. Pertumbuhannya ditandai oleh pejuang melepaskan diri dari cengkeraman dominasi negara.

Kelima, wacana civil society sebagai reaksi terhadap mazhab Hegelian yang dikembangkan oleh Alexis de Tocqueville (1805-1859).  Bersumber dari pengalamannya mengamati budaya demokrasi Amerika, ia memandang civil societysebagai kelompok penyeimbang kekuatan negara. Menurutnya kekuatan politik dan masyarakat sipil merupakan kekuatan utama yang menjadikan demokrasi Amerika mempunyai daya tahan yang kuat.

Agaknya pada fase kelima inilah civil society sampai sekarang menjadi pilar demokrasi. Seperti disinggung Dewi Fortuna Anwar (64) peran warga sipil ini sebagai advokasi, pemberdayaan dan pengawas jalannya demokrasi  (Detik, 2011). Dalam makna mempengaruhi kebijakan public, memberdayakan peran public dan menjadi sosial kontrol di luar parlemen. 

Civil society menjadi populer di ujung masa Orde Bariu Indonesia. Sebagai mana di  negara mayoritas Muslim, konsep civil society sering dirujuk sebagai inspirasi masyarakat madani.

Masyarakat Madani

Madani terambil dari kosa kata Madinah. Empat belas abad lalu, telah berdiri sebuah masyarakat yang mampu melakukan lompatan besar peradaban dengan berdirinya sebuah komunitas yang bernama Masyarakat Madinah. Negara-Kota (City-State) Madinah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad Rasulullah SAW (Umari, 1999) mengubah urat tunggang dan struktur masyarakat Madinah.

Terjadi transformasi radikal dalam kehidupan individual dan sosial. Nabi merombak dan mengubah  total nilai, simbol, dan struktur masyarakat yang telah berakar kuat dengan membentuk sebuah tatanan baru yang berlandaskan pada persamaan dan persaudaraan. 

Bentuk masyarakat Madinah inilah, yang kemudian ditransliterasikan menjadi “masyarakat madani.   Suatu gugus pradigma  tipikal ideal mengenai kosepsi sebuah negara modern yang menjunjung hak-hak sipil, kebersamaan, kebhinnekaan, kebebasan di bawah hukum, berbudaya dan berperadaban, menghomati hak asasi manusia, perempuan, orang tua dan anak.

Masyarakat madani, sering dikonsepsi sebagai aplikasi cerdas dari  penerjemahan istilah dari  civil society  dengan penyempurnaan tegaknya  nilai-nilai rububiyah ke-Tuhanan,  Allah swt. 

Isitilah ini, kemudian digulir ulang  oleh Dato Seri Anwar Ibrahim (75)  dalam ceramahnya pada simposium Nasional dalam rangka forum ilmiah pada acara Festival Istiqlal, 26 September 1995 di Jakarta. 

Wakil PM Malaysia 1993-1998 itu memberikan inspirasi ke banyak tokoh Indonesia. Apalagi di penggalan akhir dekade ke-3 Orde Baru, ketika masyarakat tokoh sipil Muslim Indonesia yang lama terpinggirkan, mulai dekat pemerintah. 

Diawali dengan kelahiran Ikatan Cenekiawan Muslim se-Indonesia, 1990 dengan naikya pamor Habibie, istilah madani menjadi menu utama pada dekde 1990-an itu. Kosa kata Islam dan Syariah mulai lagi bergulir. Lahir Bank Muamalat sebagai Lembaga keuangan-ekonomi Syariah pertama ujung Orde Baru menambah getah perekat masyarakat madani.

Sepanjang 1990-an itu, wacana masyarkat madani bergulir. Mun’im (1994) mendefinisikan istilah civil society sebagai seperangkat gagasan etis yang mengejawantah dalam berbagai tatanan sosial, dan yang paling penting dari gagasan ini adalah usahanya untuk menyelaraskan berbagai konflik kepentingan antarindividu, masyarakat, dan negara.

Robert Hefner menyatakan bahwa masyarakat madani adalah masyarakat modern yang bercirikan demokratisasi dalam berinteraksi di masyarakat yang semakin plural dan  heterogen. Dalam keadan seperti ini masyarakat diharapkan mampu mengorganisasi dirinya, dan tumbuh kesadaran diri dalam mewujudkan peradaban. Mereka akhirnya mampu mengatasi dan berpartisipasi dalam kondisi global, kompleks, penuh persaingan dan perbedaan.

Mahasin (1995) menyatakan bahwa masyarakat madani sebagai terjemahan bahasa Inggris, civil society. Kata civil society sebenarnya berasal dari bahasa Latin yaitu civitas dei yang artinya kota Illahi dan society yang berarti masyarakat. Dari kata civil akhirnya membentuk kata civilization yang berarti peradaban. Oleh sebab itu, kata civil society dapat diartikan sebagai komunitas masyarakat kota yakni masyarakat yang telah berperadaban maju dan berketuhanan.

Istilah madani menurut Munawir (1997) sebenarnya berasal dari bahasa Arab, madaniy. Kata madaniy berakar dari kata kerja madana yang berarti mendiami, tinggal, atau membangun. Kemudian berubah istilah menjadi madaniy yang artinya beradab, orang kota, orang sipil, dan yang bersifat sipil atau perdata.

Dengan demikian, istilah madaniy dalam bahasa Arabnya mempunyai banyak arti. Konsep masyarakat madani menurut Madjid (1997) kerapkali dipandang telah berjasa dalam menghadapi rancangan kekuasaan otoriter dan menentang pemerintahan yang sewenang-wenang di Amerika Latin, Eropa Selatan, dan Eropa Timur.

Hall (1998) mengemukakan bahwa masyarakat madani identik dengan civil society, artinya suatu ide, angan-angan, bayangan, cita-cita suatu komunitas yang dapat terjewantahkan dalam kehidupan sosial. Pada masyarakat madani pelaku social akan berpegang teguh pada peradaban dan kemanusiaan.

Kembali konsep yang diajukan oleh Anwar Ibrahim ini hendak menunjukkan bahwa masyarakat yang ideal adalah kelompok masyarakat yang memiliki peradaban maju. Lebih jelas Anwar Ibrahim menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat madani adalah sistem sosial yang subur yang diasaskan kepada prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan perorangan dengan kestabilan masyarakat.

Masyarakat madani diharapkan menjadi sistem sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu untuk stabilitas masyarakat. Inisiatif individu dan masyarakat akan berpikir, berapresi tinggi kepada seni. Melaksanaan kepemerintahan berdasarkan hukum dan tidak karena nafsu atau keinginan individu.

Mereka adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Allah SWT memberikan gambaran oleh beberapa kalangan dirujuk sebagai framing masyarakat madani. Q.S. Saba, 34: 15.

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun”.

Di awal abad ke-20 KH Ahmad Dahlan (1868-1923), pendiri Muhammadiyah, 1912 mengguinakan kata  maju. Belakangan oleh Muhammadiyah dipahami sebagai aplikasi agama islam yang berkemajuan. Penggunaan akal-pikiran, ilmu-pengtahuan untuk membumikan ajaran Islam.  Begitu pula di zaman Abdullah Ahmad Badawi (83) PM Malaysia, 2003-2009 mengumandangkan istilah  masyarakat hadhari  (bekemajuan)

Lalu,  di atas semua uraian tadi, pertanyaannya masyarakat madani yang bagaimana sedang diformat dan dituju oleh Mahyeldi-Audy ?.

Salah seorang TPSM, Miko Kamal  (25/1/2022) memberikan kepada Penulis deskripsi singkat dari Perda Np. 6 Tahun 2021 tentang RPJMD 2021-2021.  Intinya “Masyarakat Madani di Sumbar  yang dimaksud adalah masyarakat yang memiliki tatanan kehidupan yang demokratis. Masyarakat madani berpegang teguh pada demokrasi, menghargai hak asasi manusia, taat hukum dan menghormati nilai keadilan dan peradaban. Misi untuk mewujudkan masyarakat Sumatera Barat yang madani tentu selaras dengan adat dan budaya Minangkabau yang egaliter dengn pengetahuan dan pemahaman tentang adat dan agama yang berkaitan dengan etika dan moral”. 

Untuk  wujudnya Sumatera Barat Madani yang  dimaksud, Mahyeldi -Audy mengkontruk misinya: (1)meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sehat, berpengetahuan, terampil dan berdaya saing;  (2) meningkatkan tata kehidupan sosial kemasyarakatan berdasarkan Falsafah Adaiak Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah; (3) meningkatkan nilai tambah dan produktifitas pertanian, perkebunan, perternakan dan perikanan; (4) meningkatkan usaha perdagangan dan industri kecil/menengah serta ekonomi berbasis digital;  (5) meningkatkan ekonomi kreatif dan daya saing kepariwisataan; (6) meningkatkan pembangunan infrastruktur yang berkeadilan dan berkelanjutan; (7) mewujudkan tata kelola pemerintah dan pelayanan publik yang bersih, akuntabel serta berkualitas. https://sumbarprov.go.id/home/pages/1-visi-dan-misi.html Akses, 20/1/2022.

Dibandingkkan dengan konsepsi awal mulai dari Cicero, Aristoteles, sampai ke Anwar Ibrahim dan Dewi Fortuna Anwar, ada yang tak kelihatan dari visi dan misi Mahyeldi-Audy. Di antaranya yaitu advokasi, pemberdayaan dan pengawasan oleh masarakat madani itu sendiri di luar pemerintahan.  

Bagaimana warga sipil membangun masyarakat Sumbar madani sinkron dengan pemerintah. Keduanya, pemerintah dan warga masyarakat hakikinya adalah mitra dalam kesatuan. Agaknya  ini perlu didiskusikan lagi.Wa Allah al-A’lam bi al-Shawab. ***

(Shofwan Karim adalah Ketua PWM, Dosen PPs UM Sumbar dan Ketua Umum YPKM)

Sudah tying di Harian Singgaklang Cetak, Jum’at, @8 Januari 2022.

Paradoks Populisme Eksklusif-Inklusif

Paradoks Populisme Eksklusif-Inklusif

Oleh Shofwan Karim

Istilah populisme ekslusif (Exclusive Populism) di dalam wacana tulisan ini  adalah diksi pinjaman dari Rober W Hefner (2016).

Guru Besar Universitas Boston ini menggambarkan era Donald Trump (DT), Presiden Amerika 2014-2018. DT terkenal populis atau berpihak kepada rtakyat dan popular karena teriakan dan  programnya yang menolak pihak lain. Kini menjadi kenangan.

Pendahulu Joe Biden ini  memainkan isu sensitif. Seperti Islamofobia, anti imigran, anti Meksiko dan   Latino. Pada Tahun 2017 DT  melarang rakyat 7 negara muslim masuk Amerika. Ke-7 negara itu adalalah  Iran, Irak, Suriah, Yaman, Sudan, Somalia dan Libya.

Untuk meredam masuknya imigran dari Meksiko dan Latin Amerika , DT pada  Tahun 2017  juga meminta senat Amerika mengesahkan rencana pembangunan tembok raksasa pembatas antara Amerika dan Meksiko.

Bagi kalangan tertentu di Amerika, DT sangatlah popular. Terutama dari kalangan pendukung Partai Republik, dari mana DT berasal. Seorang  presiden terkaya Amerika 2,5 abad ini.

Partai Republik dengan ideologi konservatisme  sangat kaku terhadap yang berbau asing.

Kunto (2020)  menyebutkan bahwa ada empat pandangan yang dianut oleh konservatisme.

Pertama,  negara harus melindungi warga negaranya dari negara lain secara ketat.

Kedua, konservatisme memuja kebebasan pasar yang sebebas-bebasnya.

Ketiga, konservatisme punya kecenderungan asosiasi kuat dengan agama, terutama nilai-nilai protestan.

Keempat, sangat ekslusif. Dalam arti melindungi total kepentingan negeri dan meniadakan pihak lain atau negeri lain.

Berbeda dengan Partai Republik,  Partai Demokrat dengan ideologi  liberalismenya . Pertama, menganggap bahwa masyarakat tidak perlu terkungkung dengan negara.

Kedua,  berkompetisi dengan negara dan warga negara lain.

Ketiga, tidak perlu ada proteksi total ekonomi yang berlebihan.  Proteksi yang berlebhan itu  akan melemahkan persaingan dan kompetisi di luar negeri.

Dengan ideologi itu tadi, Joe Biden  dianggap  kalangan tertentu lebih rasional, lebih matang,   lebih dewasa, lebih inklusif. Dalam arti lebih menerima keberagaman dengan pihak-pihak lain dengan tetap melindungi kepentingan negerinya.

Meskipun kedua ideologi tersebut,  sama-sama berdiri pada ideologi kapitalis, namun yang membedakan adalah konservatisme dan liberalismenya atau eksklufisme dan inklusifisme tadi.


Teori Hefner di atas mungkin dapat dilekatkan kepada hal yang berbeda dalam konten yang sama kepada isu lain di negeri kita.

Misalnya populisme  ekslusif  dan populisme inklusif di Indonesia. Ada kalangan yang populer karena eksklusifisme. Populeritas yang berdasarkan ketidak bepihakan kepada pihak lainnya. Bahkan menyakitkan. Sebaliknya adalah populisme yang rasional, lebih santun serta inklusif tehadap pihak lain.

Pada beberapa  kasus misalnya para “buzzer” dan  “influencer”. Buzzer (B. Inggris) bisa disebut  lonceng, alarm atau kentongan . Ia berfungsi untuk memanggil, memberitahu dan mengumpulkan orang untuk melakukan sesuatu.

Akhir-akhir  ini “buzzer” juga disebut lebih halus dengan kata “influencer”. Subyek yang mempengaruhi. Membuat sesutu menjadi “trending” atau “trend setter”.

Kedua kosa kata itu menjadi konten dominan di media sosial dalam berbagai variasi.

Akan tetapi penggunaannya, untuk buzzer lebih kepada isu dan kepentingan politik menumbuhkan populisme kelompok, partai politik atau tokoh.

Sementara influencer biasanya lebih kepada tujuan komersial, bisnis, ekonomi dan pemasaran. Baik dalam bentuk opini, tayangan iklan  iPod, YouTube, IG, FB, LinkdIn dan lainnya.

Bila menimbulkan kontra produktif untuk kemaslahatan umat, bangsa,  negara dan  kelanjutan generasi, maka hal itu dapat dikategorikan kepada buzzer dan  influencer katgori populisme eksklusif.

Akan tetapi bila diperkirakan  sesuai dengan arus utama yang  normatif dan positif bagi mayoritas akal sehat, budaya dan ketinggian budi, inilah yang diharapkan menjadi populisme inklusif. Maka di situlah makna QS, Al-Anbiya, 21: 107, “Dan tidak Kami utus engkau ya Muhammad, kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”

Bukan paradoks populisme ekslusif-inklusif. Tidak mengandung kontradiksi terhadap kebersamaan. Sebaliknya menjadi kentongan untuk harmonisasi dan kerukunan.

Wa Allah a’lam bi al-shawab. Dan Allah Maha Tahu apa yang sebenarnya. ***

(Shofwan Karim., Ketua PWM, Dosen PPs UM Sumbar dan Ketua Umum YPKM)tua Umum YPKM)

Sudah tayang di Harian Singgalang versi cetak 3/2/2022.

In Memoriam Mafri Amir: Wartawan, Akademisi, Kantor Wapres dan Ormas

Ramatan li al-Alamin

Ladang Fikiran, Tulisan dan Ikhtiar

In Memoriam Mafri Amir: Wartawan, Akademisi dan Ormas

– 

Dr. H. Mafri Amir, M.A

In Memoriam(1) :  

Mafri Amir,  Wartawan, Akademisi dan Ormas

Oleh Shofwan Karim

In Memoriam(1) :  

Mafri Amir,  Wartawan

In Memoriam(1) :  


Mafri Amir bersama isterinya Roslaini

Oleh Shofwan KarimOleh Shofwan Karim

Mafri Amir, lengkapnya  Dr. Drs. H. Mafri Amir, B.A., M.A. Sebagian teman memanggil Mafri Amir, sejak muda dengan kependekan MA. Perawakan badan bulat, kening lebar, rambut lurus, dan tinggi sedang.   Postur rata-rata Baby Boomer  ada pada MA. Cocok dengan  teori generasi pra-milenial, tokoh berusia 63 tahun itu. MA adalah  sahabat semua orang kenalan lama atau baru. 

Beberapa pekan lalu,  sahabat karib ini masuk rumah sakit.  Saya bertanya kepada, Rifa, putri MA. Katanya sudah pulang ke rumah di Pamulang.  Saat itu masa terapi di rumah dan sudah banyak perkembangan. Keluarga kami  berencana akan berkunjung-bezook Selasa, 28/12/. Kata Rifa, “baik pak,  selesai beliau terapi”. 

Tiba-tiba pagi 27/12 lalu, saya kaget membaca pesan WA. Mantan wartawan Haluan padang, Drs. H. Herman L Dt. Rangkayo Bandaro Anggota DPR RI 1999-2004 menulis, “ Innalillahi wa innailaihi rajiun.  MA  berpulang ke Rahmatullah, Senin pukul 09.47 pagi di rumah Sakit Hermina, Ciputat,  Jakarta Selatan. Padahal, Kamis 23 Desember, saya (Herman) sempat bezook ke rumah almarhum”. 

“ Ternyata itu pertemuan terakhir saya dengan sahabat Mafri Amir yang tak pernah dibayangkan. Waktu itu sahabat karib ini tak bisa lagi dajak bicara, hanya pakai isyarat. Tentu semuanya atas ketentuan Allah swt. Selamat jalan sahabat,” kata Herman L. 

Lama saya tertegun mengulang kalimat istirja’ , “Innallihi rajiun”.  Ingatan saya berpendar ketika membaca tulisan Dr. Abdullah Khusairi, M.A. Hanya selang berapa puluh menit pasca berita duka itu, sudah tayang  di https://www.topsatu.com/wartawan-senior-mafri-amir-berpulang/. Yang lain  ada di Antara, Wartawan senior Mafri Amir berpulang – ANTARA Sumbar (antaranews.com), Wardas Tanjung di In Memoriam: Mafri Amir yang Saya Kenal | Semangat News, dan Nofi Sastera di In Memorium DR. H. Mafri Amir, MA Si Jago Lobby itu Kembali ke Haribaan-Nya | Semangat NewsIn Memorium DR. H. Mafri Amir, MA Si Jago Lobby itu Kembali ke Haribaan-Nya – Majalah Intrust. Syafruddin Al, https://imeskaworld.tumblr.com/post/671872195184689152/selamat-jalan-buya-mafri-amir-jualan-film-di

Saya sendiri bertemu wajah trakhir kali  ketika berkunjung ke rumahnya di Pamulang. Saat itu MA segar-bugar bersama isteri, anak dan cucunya. Itu kejadian jauh  sebelum Pandemik Covid-19 Maret 2020.  Sejak itu hanya bertelepon ria. Banyak hal yang kami “ota”kan dengan canda dan gaya “garah” MA. 

Tentu saja siapa almarhum MA,  secara singkat sudah ada di link di atas. Lebih dari itu,  ternyata teman-teman lain sama dengan Saya merasa persahabatan dengan almarhum begitu mendalam.  Bahkan pada  In Memoriam yang mereka tulis tadi,    dalam momen dan versinya masing-masing menyebut nama sahabat-sahabat lain yang membersamai tugas jurnalistik dengan MA. 

Tokoh wartawan senior ini semula menjadi dosen Fakultas Dakwah di IAIN IB dan kemudian pindah menjadi Dosen Fakutas Ushuluddin UIN Jakarata UIN Syarif Hidayatullah. Ia  pernah mengabdi di  Kantor Wapres JK (2004-2009; 2014-19) antara lain sebagai  Asisten Staf Khusus Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, M.Phil Wapres Bidang  Reformasi Birokrasi., M.A., C.B.E. Sebelumnya, Asisten Staf Khusus bidang keagamaan Kantor Wakil Presiden. Bersamaan dengan masa Uda  Syahrul Ujud, S.H. Wali Kota Padang 1982-1992 sebagai salah seorang Deputi di Kantor Wapres JK. 

In Memoriam Mafri Amir: WartawIn Memoriam Mafri Amir: Wartawan, Akademisi dan Ormasan, Akademisi dan OrmasMafri Amir,  Wartawan, Akademisi dan Ormas

Oleh Shofwan Karim

In Memoriam Mafri Amir: Wartawan, Akademisi dan Ormas (2)

MA bersana Wapres JK dan kolega sejawat

Panji Masyarakat (PM)

MA terpaut usia 6 tahun di bawah saya. Beliau lahir  1 Maret1958 di Koto Sani Solok, pinggir  Danau Singkarak.  Tokoh Suku Caniago-Panyalai ini beristeri Roslaini, suku Koto dari nigari yang sama, Koto Sani. Mereka mempunyai 1 putra dan 2 putri  . Ahmad Zaki (37),  Rifa Wahyuni (34) dan Shofi Adriya (31). 

Menantu mereka Eko Defrianto (34) dan Ari Darmansyah (38). Dari semua anak dan menantu itu , MA dan Roslaini dikaruniai  5 orang cucu. Mereka adalah Fadlan Dhiya Ahmad (14), Rania Nur Izzah (13), Altaf Farell Ahmad,  (6) Athif Refat Arya Shaker (4) dan Shakeela Akifah Lashira Arya (9)

Persahabatan kami berkisar tentang dunia pers kampus, tulis menulis, ormas Islam dan relasi pengabdian kemasyarakatan, kekeluargaan dan kemanusiaan. Almarhum  aktif sebagai wartawan dan redaksi Koran Kampus IAIN yang terbit awal 1979.  

Ia berkarir menjadi wartawan harian Semangat Padang.  Kemudian MA  menjadi koresponden tetap dan wartawan Majalah Islam Panji Masyrakat (PM), Jakarta di masa kepemimpinan Rusydi Hamka setelah Buya Hamka Wafat 1981.  Bagi kami kala itu Mafri menjadi plus karena semasa dengan Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat dan Badri Yatim serta Iqbal Abdul Rauf  Saimima di PM. Majalah Islam ini sangat bergengsi di mata kami khususnya para aktifis dan mahasiswa Islam dan umumnya umat Islam. 

Mengenang MA, rasanya merepleksi kenangan saya kepada tokoh mahasiswa dan aktifis kampus di akhir tahun 1970-an dan 80-an ini. Kami bergelut dalam dunia  tulis menulis, atau gagahnya jurnalistik di Sumbar. Kala itu banyak anak muda sebelum menjadi wartawan sebenarnya, dengan memegang kartu anggota Pers PWI resmi, adalah tokoh kampus. Baru setelah atau sedang menjadi aktifis pers kampus itu mereka menjadi wartawan daerah atau nasional pada masanya. 

Koran Pertama

Menengok jauh ke belakang, koran pertama yang terbit di Indonesia Bataviasche Nouvelles, pada zaman VOC sekitar tahun 1745. Isinya hanya memuat aneka berita tentang kapal dagang VOC, mutasi pejabat, berita pernikahan, kelahiran dan kematian. Pembacanya pun masih terbatas warga Belanda sendiri. Koran ini terbit seminggu sekali sebanyak 4 halaman.   Semua beritanya ditulis tangan. Koran ini kemudian berkembang pesat dan berubah menjadi koran yang berisi kritik terhadap perbudakan di Batavia dan perilaku penguasa VOC ketika itu. 

Tepat pada 20 Juni 1746, koran pertama ini pun menjadi yang pertama kali dibredel seperti diceritakan dalam buku “Toko Merah: Saksi Kejayaan Batavia lama di Tepi Muara Ciliwung” karya Thomas B. Ataladjar. Lihat: Ini Dia Koran Pertama yang Terbit di Indonesia – Citizen6 Liputan6.com (Akses, 27/12/2021).

Bagaimana di Sumbar?. Koran pertama di Sumbar, terbit 1859  bernama Sumatera Courant di Padang. Menurut Khairul Jasmi (KJ), link:  Pers Sumatra Barat: ~ Khairul Jasmi (akses, 27/12/2021). “Meski suratkabar ini lahir sebelum abad ke-20, tetapi dinamika persuratkabaran di wilayah ini  baru terasa pada awal abad itu hingga menjelang kemerdekaan Indonesia”.

“Sejumlah nama penting dalam dunia jurnalisme masa itu antara lain, Mahyuddin Datoek Soetan Maharadja, Rohana Kudus, Sa’adah Alim, Abdullah Ahmad, dan Adinegoro serta Hamka pada generasi berikutnya. Tercatat pula sebuah nama lain yang tak kalah pentingnya, Ahmad Chatib, pemilik suratkabar Djago Djago dan Pemandangan Islam”.

KJ mengatakan, sejak 1859 sampai kemerdekaan, tercatat 81 penerbitan di Minangkabau. Sejak kemerdekaan hingga kini tercatat 41 suratkabar, termasuk 23 yang terbit setelah jatuhnya presiden Soeharto. Daftar panjang suratkabar ini jadi bukti sejarah bahwa Minangkabau telah lama akrab dengan teks dan kata-kata.

KJ menguraikan, “kepiawaian menulis atau mengeluarkan pendapat berpendaran di halaman-halaman surat kabar. Media massa menjadi sarana melancarkan perbincangan dan polemik. Mula-mula tentang kebangkitan Asia, Jepang, lalu format masa depan negara. Tak luput juga tentang bagaimana agama Islam seharusnya dipahami dan dijalankan. Pesertanya kaum tua dan muda. Perdebatan agama inilah yang malah berlangsung tajam”. 

Bagaimana terbitan pers digital sekarang? Menurut Dewan Pers: Ada 43 Ribu Media Online, Hanya 168 yang Profesional (idntimes.com) (Akses, 28/12/2021). Bayangkan berapa berapa jumlah di Sumbar (?). Belum lagi media sosial FB, IG, Link, LinkdIn, WeChat, Telegram dll. Semuanya menjadi media bebas dalam relasi subyek dan obyek, seseorang dengan orang dan kelompok dan grup lain. Dengan medsos, setiap orang menjadi wartawan untuk dirinya sendiri. Bebas, tidak ada redaktur yang filter, seleksi dan edit. Itulah yang sekarang disebut  netizen, citizen journalism atau  jurnal warga. Agaknya boleh  disebut surat kabar tanpa penerbit, tanpa editor, tapa tanggungjawab.  Bagi pers resmi ada UU Pers 1999 dan 2016. Bagi bagi pers online tetap belaku UU Pers . Tetapi blog, web pribadi, jurnal bebas online tampaknya belum menampung hoak dan berita bohong yang tidak terkait dengan kerugian konsumen dalam transaski elektronik. Banyak pakar hukum mengaitkan setiap kebohongan itu dapat di hukum dengan hukum pidana sesuai sifatnya bermutan kesusilaan, perjudian, penghinaan dan atau pencemaran nama baik, pemerasaan dan atau pengancaman, SARA, kekerasan atau menakut-nakuti dsb. Yang semua dapat dikaitkan dengan beberapa Pasal 28 dan ayat di  UU ITE tadi. 

Bagaimana dengan hoax  dalam media sosial dan jurnalistik warga yang tak terkait hal-hal tadi? Tulisan insinuatif, mengada-ada, meme, dan dialog yang tak berdasar yang mencederai akal sehat dan hati-nurani bersih? Itu semua harusnya difilter oleh subyek atau yang bersangkutan sebagai sumber. Bagaimana dengan Hoax dan pembohongan public online? Paling ada klarifikasi dari subyek atau obyek. Oleh karena itu setiap orang haru melek atau safar literasi online dan liteasi digital. Apalagi public figure atau tokoh public. Teruslah waspada. Hal ini sering kami diskusikan dengan MA dan beberapa teman yang intensif mengikuti perkembangan media. 

Pada kajian lebih filosifis, kini disebut era post truth-pasca kebenaran. Orang lebih percaya kepada medsos, apa dan siapa sumbernya tak peduli. Bahkan ada yang lebih poercaya hoax daripada hasil penelitian dan uraian akademisi. Sejak beberapa waktu terakhir Mark Zukenberck menjejal dengan apa yang diebut Metaverse. Facebook telah berubah menjadi Meta. Penggambaran semesta virtual , diakses oleh virtual reality (VR). Raksasa teknologi itu mengejar peluang metaverse secara reolusioner dan amat agresif. Dunia nyata fisik berubah  kepada jejaring dan artificial intelligent (AI), meski belum tuntas konsepnya. 

MA terampil menggunakan kedua media tradisional dan IT ini. Setiap saat MA ke berbagai negara, saya selalu dikirimi bukan hanya foto tetapi video instant. Ada yang dengan caption keterangan gambar lenhkap. Ada pula yang saya saja menafsirkan MA sedang di mana. Apakah seadang di London, Paris, Amsterdam atau sedang di dalam KA dari New York ke Washington DC. Beliau banyak mengadakan perjalan luar negeri, lebih-lebih selama di Kantor Wapres RI dalam dua periode berjarak kamrin itu.  

In Memoriam(3) :  

Mafri Amir,  Wartawan, Akademisi dan Ormas

Oleh Shofwan Karim

In Memoriam Mafri Amir: Wartawan, Akademisi dan Ormas (3)


MA bersama isteri dan  cucu

Kenangan Sebelum Revolusi 4.0-5.0

Pada tahun 1970-an, atau jauh sebelum revolusi 4.0-5.0, Sumbar hanya mengenal surat kabar cetak. Mulai dari Haluan (1949), Singgalang (1968), Angkatan Bersenjata kemudian menjadi Semangat, Aman Makmur, dan Canang. 

Untuk menjadi wartawan kala  itu amat sulit. Hanya orang-orang yang hebat saja yang menjadi  wartawan resmi. Ada budayawan, sastrawan yang merangkap wartawan. Sebutlah A A Navis, Nasrul Sudik, Marthias Duski Pandoe, Basril Djabar, Sukma Jaya, Annas Lubuk, Rusli Marzuki Saria, Pasni Sata, Chairul Harun, Muchlis Sulin, Makmur Hendrik, Wall Paragoan, Rivai Marlaut, Joesfik Helmi, Wisran Hadi, Hamid Djabbar, Anwar Thahar, dan beberapa nama lain.

Generasi sesudah itu yang menari di ingatan saya di Surat Kabar Haluan adalah Ersi Rusli, Yalvema Miaz, Nazar, Masri Marjan, Saiful Bahri, Indra Merdy, Herman L, Mufti Syarfi, Djufri, Jon Edward Rony, Sayfri Amir, dll. 

Di Singgalang ada  Adi Bermasa, Darlis Syofyan,  Fachrul Rasyid,  Luzi Diamanda, Akmal Darwis, Hasril Chaniago, Indra Nara Persada, Eko Yanche, Ramli Karlen, Muhammad Said, Wan Bata, Nasril Zainun, Basril Basyar, Alirman Sori, Wannofry Samry, Edi Utama, Zul Efendi, Hambali, Musriadi Musanif dan sekitar dua ratus tujuh-puluhan alumninya yang pernah dibukukan beberapa tahun lalu. 

Di Koran Semangat,   selain Sukma Jaya di atas adalah Kamardi Rais Dt P Simulie, Effendi Koesnar, Yulizal Yunus, Khairul Jasmi yang kemudian menjadi wartawan Republika dan kini Pemred Singgalang dan Komisaris PTSP, Gatot Santoso, kemudian TPI,  Gusfen Khairul kemudian RCTI, Yutrian Yutri (Cici) kemudian ke Padang Ekpres dan Komisaris PTSP, Erion Saad, Ahmad Zubeir, Hasnah dan lainnya. 

Di ketiga koran tadi,bahkan terakhir ke-empat Padang Ekspres, saya berinteraksi aktif dengan “gerombolan” wartawan senior dan yunor di atas. Di ke-4 koran itu sejak 1974 saya sudah menulis, walaupun resemi mendapat tugas sebagai koresponden Singgalang (1989-1993) dengan surat tanda tangan Pemimpin Umum/Pemred waktu itu adalah Uda Basril Djabar. Saya menulis di Semangat 1976 sd tamatnya koran cetak itu. Begitu Haluan dari 1974 sd sekarang. Padang ekspes sejak lahirnya tahun 1999 sd sekarang, meski tidak terlalu rutin.

Saya sering minta kritikan MA. Karena gaya penulisan saya tidak jelas. Kadang katanya, bergaya akademik, kadang feature, kadang soft news, straight news. MA tidak segan-segan mencoret dan katakan , “ganti”. Begitu pula Zaili Asril dan Fachrul Rasyid. Kedua yang belakangan terpaut lebih kurang 2 atau  3 tahun di atas MA. Saya anggap kami segenerasi. Dan saya banyak belajar dari mereka. Zaili menjadi Wartawan Kompas. Kemudian  membangun Padang Ekspres. Fachrul Rasyid dari Singgalang ke Tempo dan Gatra. MA, dari Semangat ke Panji Masyarakat. Pada masa itu, gensi menjadi wartawan koran Jakarta dianggap wartawan nasional.

Tiga Koran Kampus

Kembali ke MA, kami membersamai Surat Kabar Kampus yang menjadi tren tahun ujung  1970-an. Mulai  dari Suara Kampus IAIN Imam Bonjol Padang, Ganto di IKIP Padang dan Gema Andalas di Unand. Sejalan dengan Resimen Mahasiswa  Bataliyon Mahasakti IAN, Mahawira Unand dan Mahabhakti IKIP. Ketiga Wakil Rektor membidangi mahasiswa waktu itu mengandalkan kegiatan mahasiswa ekstra kampus secara bersama.  

Di Koran Kampus IAIN ada tokoh mahasiswa lebih senor  dari MA, tetapi lebih sabar dan tidak banyak kata. Namanya Yulizal Yunus. Tepatnya sekarang adalah Dr. Drs. H. Yulizal Yunus, B.A., M.Si. Tokoh ini di samping aktif di Koran Semangat kala itu mengajukan gagasan. Kami menyokong gagasan awal Yulizal, didukung  Zaili, dan Fachrul, lalu menjadi  gagasan bersama. 

Di antaranya Adi Bermasa, Herman L, Alirman Hamzah. Generasi berikutnya  Mafri Amir, Akmal Darwis, Wardas Tanjung, Asfar Tanjung, Salmadanis, Sartoni, Syamsuar,  Raihul Amar, Hambali, Nurhayati Zain, Hildawati,  Emma Yohanna, Nuraini Ahmad, Ilza Mayuni dan lainnya.  Gagasan ini yang kemudian melahirkan Shautul Jamiah 1979 itu ditampung oleh Drs. M. Sanusi Latif Rektor dan Wakil Rektor II dan III Drs. Soufyan Ras Burhany. Kemudian Drs. Aguslir Nur dan Drs. Kamaruttaman menjadi pengayom meneruskan petinggi IAIN sebelumnya. 

 Kala itu kami mencetak SK  di Sumatera offset jalan Hiligoo. Pemiliknya Bapak Kamener. Belum dengan percetakan modern seperti tahun 1980-an ke atas. Masih dengan cetakan timah dituang. Dengan cetakan moderen barulah berbentuk  majalah di Percetakan Harian Singgalang oleh adik-adik penerus Suara Kampus (SK) itu. Dan sekarang menjadi SK online 

Khusus kerjasama ketiga Koran Kampus, terasa amat dinamis. Mereka  berganti-ganti melakukan pelatihan jurnalistik. Pesertanya terdiri dari aktifis mahaiswa tiga kampus tersebut. Hampir sekali 3 bulan di IAIN, IKIP dan Unand diadakan pelatihan Jurnalistik tingkat dasar, menengah dan lanjutan. Instrukturnya kami minta dari Koran Haluan, Singgalang dan Semangat serta  koreponden Jakarta seperti Kompas, Tempo dan Merdeka. Di antaranya para wartawan senior yang telah disebut di atas tadi.

Kerja sama koran kampus di tiga Perguruan Tinggi (PT)  pada 50-40 tahun lalu itu dimulai dari suasana sebelumnya.  Adanya dinamika dunia intelektual, kecendekiawanan dan kebudayaan, kesusastreaan, kesenimanan  dan kewartawanan di zaman Gubernur Harun Zain. Berlanjut masa Azwar Anas dan Hasan Durin. 

Kampus masa itu menjadi soko guru pemerintah dan masyarakat yang amat kondusif. Mungkin karena pemerintah  masih belum mempunyai cukup SDM dan kelembagaan, maka PT dianggap sebagai gudang pemikiran dan konsep. Oleh karena itu kerja sama menjalar ke bidang lain. Sementara PT  waktu itu belum  mandiri . 

Oleh karena itu kerjasama lintas PTN dan PTS dengan dukungan Pemprov, Pemko dan Pemkab, menjadi keniscayaan. Tentu saja pendanaan pun belum sebesar seperti  sekarang.  Kerjasama antara kampus dengan pemerintah dalam pengabdian masyarakat, riset dan penelitian, kegiatan institusi, minat dan bakat mahasiswa seperti Dewan Mahasiswa, Senat Mahasiswa,  Resimen Mahasiswa, Olahraga Mahassiswa dan Seni Mahasiswa bergebyar-uyar. Klub teater, drama, paduan suara dan pertandingan olah raga sangat meriah dan dinamis.

Bahkan di bawah kepemimpinan gubernur-gubernur tadi, mahasiswa seperti dianak emaskan. Sekali 2 bulan ada kumpul-kumpul atau kalau sekarang gathering di gubernuran. Kita diminta oleh para gubernur yang berbeda masa itu memberikan masukan dan perkembangan Sumbar dalam berbagai hal. 

Maka wartawan-wartawan yang belum jadi dari kampus waktu itu amat bergairah berdiskusi, bedah buku, berwacana politik. Itu semua  menjadi menu utama setiap mahasiswa “kongkow-kongkow”. 

Di suasana dan aura dinamika intelektual demikianlah, para aktifis kampus berada. Dari IAIN, sahabat MA sangat banyak. Mereka di antaranya  Adi Bermasa (nama asli Aditiawarnan Bermawi), Herman L, Alirman Hamzah, Akmal Darwis, Wardas Tanjung, Asfar Tanjung, Salmadanis, Sartoni, Raihul Amar, Hambali,  Sutan Zaili Asril, Yulizal Yunus, Nurhayati Zain, Hildawati,  Emma Yohanna, Nuraini Ahmad, Ilza Mayuni dan lainnya.  

Tentu saja dalam kurun dan generasi berbeda  setelah itu ada yang meneruskan. Di antaranya seperti Abdullah Khusairi, Andi al-Faruqi, Abdul Salam, Bakhtiar dan beberapa lagi. 

Dari Unand yang segar dalam ingatan saya adalah Hari Susanto, Saiful Bahri, Ivan Aldilla, Khairul Ananda,  Budi Putra, Yongki Slmeno, Rusli Sulaiman, Atviarni dan seterusnya. Sementara dari IKIP dengan mentornya Makmur Hendrik,  Achyar Sikumbang, Haris Efendi Thahar, John Herry , Wendy HS, dan Muhardi. 

In Memoriam(4) :  

Mafri Amir,  Wartawan, Akademisi dan Ormas

Oleh Shofwan Karim

In Memoriam Mafri Amir: Wartawan, Akademisi dan Ormas (4)

Shofwan Karim bersama Dr. H. Mafri Amir, M.A. Pada Kongres Umat Islam 

Indoensia (KUII) Pangkal Pinang, Bangka Belitung, 28 Februari 2020. 

MA di Dunia Akademik 

Memasuki akhir 80-90-an, MA dan tentu pula yang lain sudah boleh disebut menjadi tokoh di bidangnya masing-masing. Ada yang tetap menggeluti dunia kewartwanan, ada yang menggandengnya dengan profesi lain. Ada yang parallel dengan dunia kepenulisan seperti Hasril Chaniago focus ke penulisan buku biografi (sampai sekarah lebih 30 buku sudah ditulisnya). Khairul Jasmi menulis biografi dan novel. Wannofry Samry dosen di Unand, Haris Efendi Tahar dan Yalvema Miaz, keduanya menjadi  Guru Besar di UNP. Salmadanis, Guru Besar IAN IB Padang.

Bila di dunia kewartawan ada kompetensi  wartawan muda, madya dan utama maka di dunia akademik dosen, ada kategori Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala dan Profesor.  Untuk menjadi Lektor Kepala dan Profesor (Guru Besar) pendidikannya mesti ditambah ke Pascasarjana S-2 dan S.3. 

Sejak beberapa tahun terakhir untuk Profesor tidak mungkin lagi tanpa S.3/Doktor. Bahkan ada peraturan baru bahwa Doktor yang sudah Lektor Kepala berhak disebut Associate Profesor. Kini sudah sering digunakan beberapa pihak. Mereka yang sudah lama Doktor dan Lektor Kepala otomatis menjadi Associate Profesor tersebur. Asal mereka mempunyai Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) atau Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) yang masih berlaku, alias mereka masih bertugas sebagai dosen PTN atau PTS. 

MA masuk S.2, Magister Artium (M.A.) di Pascasarjana IAIN IB Padang tahun 1993. Kemudian tahun 1999 ia ke S.3 Pascasarjana UIN Jakarta dan selesai tahun 2003. Buku yang pernah ditulisnya adalah Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam (Jkarta: Logos, 1999). 

Belakangan, sepengamatan saya karena sibuk di dunia akademik, dunia jurnslistik mulai berkurang digelutinya. Setelah dosen di IAIN Padang dan pindah kerja penuh waktunya sebagai dosen di UIN Jakarta, MA . Tetap nyambi menjadi muballig. Saya sering salat di Masjid Perwakilan Pemda Sumbar Jl Matraman Raya 19 sebelum menjadi Hotel Rankiang sekarang ini. MA menjadi khatib bulanan tetap di situ. 

Kantor Wapres JK

Belakangan setelah Wapres JK terpilih bersama Presiden SBY 2004-2009, MA juga menjadi Asisten Staf Khusus seperti disebut di atas tadi. Masa ini saya memperkaya relasi dengan MA. Terutama bila hendak berrsilaturrahim dengan Uda Suyahrul Ujud dan Prof Azyumardi Azra. Dan sekali-sekali ingin bertemu dengan Wapres JK. 

Saya melanjutkan relasi ketika 2000 sampai pra terpilih menjadi Wapres 2004. Sewaktu Pak JK menjadi Menko Kesra sebelumnya , saya melalui Uda Syahrul menemui Bp JK untuk keperluan yang berhubungan dengan Muhammadiyah. Waktu itu saya Ketua PW Muhammadiyah Sumbar 2000-2005. Begitu pula ketika saya bertugas sebagai Komisaris PT Semen Padang 2005-2015.

 Pertama yang saya call adalah MA. Minta akses ke Bang Syahrul yang nantinya ke Pak JK. Termasuk ketika memperjuangkan IAIN IB menjadi UIN yang sudah intensif ketika Rektor Prof Makmur Syarif dan belakangan tuntas zaman Rektor Prof Ek Putra Warman. Selain itu, saya juga minta informasi kalau sudah dekat hari raya Idul Fitri. Biasanya keluarga Pak JK menyediakan Paket Lebaran untuk ormas Islam, termasuk Muhmmadiyah. Melalui MA diminta kontak Uda Syahrul. Saya sangat menghormati mereka dan tidak mau langsung, sebelum berbisik ke MA langsung atau by call. Setiap tahun Muhammadiyah Sumbar selalu masuk rencana mereka, kecuali kami terlambat lapor. 

In Memoriam(5) :  

Mafri Amir,  Wartawan, Akademisi dan Ormas

Oleh Shofwan Karim

In Memoriam Mafri Amir: Wartawan, Akademisi dan Ormas (5)

MA pada resepsi perkawinan putri Herman L 

MA di Ormas Islam

Selama mahasiswa, MA setahu saya adalah anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Termasuk Salmadanis, (Kemudian Guru Besar FD IAIN IB). Akan tetapi setelah beberapa tahun tamat kuliah S.1 atau dokrandus, belakangan MA, aktif di Tarbiyah Islamiyah. Tarbiyah Islamiyah  awalnya adalah  Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah lahir tahun 1928). Perti  oleh pendirinya Syekh Sulaiman al-Rasuli (1871-1970) atau lenih dikenal sebagai Inyiak Canduang,   hanya organisasi Ormas Islam berbasis pendidikan. Di awal kemerdekaan semuja kekuatan poltik Islam berada di Partai Politik  Masyumi. Belakangan Syarikat Islam, Nahdhatul Ulama serta Perti kelur dari Masyumi dan pada Pemilu 1955  mempunyai bendera sendiri sebagai Partai Politik.

Perkembangan Islam dan Politik di Indonesia naik dan turun. Partai Masyumi membubawrkan diri tahun 1959 dan resmi dibubarkan Presiden Soekarno tahun 1960. Partai Islam Modern yang kokoh itu akhirnya bubar. Ini antara lain  karena bentrok dengan Orde Lama, Soekarno dengan Poros Nasakomnya (Nasionalis, Agama-Komunis) .

Setelah Orla runtuh di bawah Soekarno dan muncul Orba di bawah Soeharto, Partai Masyumi ingin bangkit. Tetapi maksud itu tak terwujud karena berbagai hal. Kecewa maksud tak sampai maka sebagian mereka melahirkan Parmusi (Partai Muslimin Indonesia).    Pada 1971 bersama  partai Islam lain, seperti Parmusi tadi, Perti,  Syarikat Islam dan Nahdhatul Ulama,  ikut Pemilu lagi secara mandiri. Akan tetapi ketika terjadi pernyederhanan partai yang disebut Pusi 9 Parpol dan 1 Golkar, menghadapi Pemilu 1977, sebagian warga Perti masuk Golkar. Mereka menyebut dirinya Tarbiyah Islamiyah. 

Golkar mempunyai organisasi sayap yang disebut melahirkan Golkar, dilahirkan Golkar dan Penerus Golkar. Yang pertama tadi sebetulnya ada 14 organisasi yang bergabung dalam sekretriat bersama Golkar pada tahun 1964. Belakangan mereka dikonsolidasikan ke dalam Tri Karya yaitu MKGR, Kosgoro dan Soksi. 

Sementara yang dilahirkan Golkar adalah organsiasi baru atau diperbaharui seperti  buruh, tani, nelayan dan ulama, wanita dan pemuda. Maka lahirlah FBSI, HKTI, HNSI, GUPPI, Tarbiyah Islamiyah, Satkar Ulama, Wanita al-Hidayah, AMPI dan KNPI. 

Rekayasa sosial politik masa itu hanya mengenal 2 Parpol dan 1 Golkar. Akan tetapi setiap Pemilu yang menang adalah Golkar yang sebenarnya masa itu adalah kumpulan terbesar para tokoh lintas sector, fungsi, ideologi yang waktu itu masih boleh menggunakan yang lain di samping Pancasila. 

Tahun 1973 terjadi penyederhanan Parpol. Itu yang disebut sebagai pusi. Pada pusi ini Perti, NU, SI dan Parmusi menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Murba, PNI, IPKI, Parkindo, dan Partai Katolik menjadi PDI. Jadilah pada Pemilu 1977 ada 2 Parpol (PPP dan PDI) dan satu Golkar  sebagai hanya 3  peserta. 

Dengan habitat sosio-kultural-politik begitu, MA memasuki Tarbiyah Islamiyah. Almarhum tetap menjalankan tyugas akademik, kewartwaan dan aktifg di Ormas Tarbuyah Islamiyah. Apakah MA mempunyai ambisi politik untuk duduk di kursi Gokar pada DPRD Kota, Kabupaten atau Provinsi seperti yang lain di masa itu, wa Allahu a’lam bi al-shawab. 

MA sempat menjadi Ketua Permuda Tarbiyah Islamiyah  dan menjadi Pengurus inti di Tarbiyah Islamiyah Provinsi Sumbar. Sebelumnya,  MA adalah yunior saya di IMM.  Di masa belakangan walaupun yang satu di Tarbiyah dan saya di  Muhammadiyah, terasa persahabatan kami tidak kupak sedikit pun.  

Termasuk hal-hal tentang  perkembangan  masing-masing organisasi,  kakobeh dan dinamika tokoh, kami sering berbagi untuk kebaikan . Bagi kami persyarikatan, organisasi, jama’ah dan jam ‘iyah adalah kamar-kamar keluarga dalam satu rumah “gadang” ummat dan masyarakat Islam. Suasana batin yang berbeda  saya dapatkan dari tokoh yang lain. Inilah kepingan kenangan abadi persahabatan  tak terlupakan yang amat mengesankan bersama MA. ***

 

 

– 

– 

Arsip

Laporkan Penyalahgunaan

Ramatan li al-Alamin

In Memorium DR. H. Mafri Amir, MA Si Jago Lobby itu Kembali ke Haribaan-Nya oleh Nofi Sastera

In Memorium DR. H. Mafri Amir, MA Si Jago Lobby itu Kembali ke Haribaan-Nya

In Memorium DR. H. Mafri Amir, MA Si Jago Lobby itu Kembali ke Haribaan-Nya

Sungguh, terlalu cepat, tak ada yang menyangka. Ketika pagi ini sekitar jam 10.00 WIB beredar khabar di berbagai grup whatsapp bahwa senior Kami DR. H. Mafri Amir MA berpulang ke rahmatullah setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Hermina Ciputat. Kullu nafsin za ikatul maut. Setiap yang bernyawa pasti akan menemui kematian. Kun Fayakun, kata Allah. Kalau sudah Allah yang berkehendak, kita mau bilang apa..

Saya masih ingat tanggal 16 Oktober 2021 lalu Kami sama-sama hadir ikut mendoa hajatan naik rumah barunya di Kuranji sana. Saat itu banyak yang hadir. Di antaranya Uda Muhammad Mufti Syarfie , Heranof Firdaus Bin Amriel , Rafles Rajo Endah serta banyak lagi.

Pada sekitar 9 Desember Kami mendapat khabar bahwa Beliau terserang stroke. Tiga hari kemudian Kami sempat video call bersama Uda Mafri Amir dari rumahnya di Ciputat Jakarta, karena saat itu Beliau sudah diperkenankan pulang. Saat itu Uda Mafri Amir memanfaatkan fasilitas video call dari HP alumni Semangat di Jakarta yakni Hamdani Hamdani yang dibantu Tarmizi Ayum. Ikut serta saat itu sejumlah alumni Semangat seperti Bang Makmur Hendrik , Zulnadi , Khairul Jasmi Bang Awe Saja Desri Imam Mudo dan Ahmad Zubier.

Meskipun saat itu Uda Mafri tidak bisa bicara, namun Beliau tampak gembira dan bahkan ingin ngomong bersama Kami. Ia juga mengerti dan paham dengan apa yang disampaikan Kawan-kawannya. Termasuk juga pesan dari Bang Makmur Hendrik yang mengatakan ndak usah terlalu memikirkan penyakit ini. “Pokoknya Mafri jaan banyak pikiran. Ndak usah dipikiakan bana panyakik ko. Lawan. Kok dapek memang harus Mafri yang punyo semangat untuk melawan panyakik ko,” ujar Bang Makmur saat itu.

Mafri Amir, nama itu bagi Kami para alumni Harian Semangat khususnya, jelas bukan sembarang nama. Pasalnya di antara tiga Redaktur Kami di Semangat dulu, kurenahnya agak sedikit berbeda dengan Mas Gatot Santoso maupun Uda Zulnadi. Ia berpenampilan tenang, cerdas, suka bercanda meski ia sendiri tidak mau tertawa dengan candaannya. Selain itu, ia juga dikenal sebagai jago lobby. Di bagian lain, ia juga guru yang yang baik dan menjadi kenangan hebat bagi para yunior serta mahasiswanya di kampus. Khairul Jasmi yang kini jadi Komisaris PT. Semen Padang dan Abdullah Khusairi di beberapa sisi adalah murid langsung dari Beliau

Lelaki alumni IAIN Imam Bonjol Padang yang sekarang jadi Staf Dosen di UIN Jakarta itu memang punya banyak prestasi hebat. Di antara Kami, ia satu-satunya mantan alumni Semangat yang sempat menjadi Staf Ahli di Deputi Menko Kesra maupun sebagai Asisten Staf Khusus Wapres selama 2 periode. Seperti dikatakan Bang H. Syahrul Udjud, SH mantan Walikota Padang di Buku Harian Semangat yang akan terbit, ia merasa terbantu karena Harian Semangat. Karena itu salah satu wartawan Semangat, H. Mafri Amir, dibawanya ke Jakarta dan bergabung Jadi Staf Ahli Menko Kesra dan Staf Khusus Wapres.

Masih seputar Buku Harian Semangat, lewat Uda Mafri pula saya dikenalkan dengan mantan wartawan Harian Merdeka Uda Syahdanur. Dari Beliau berdua saya banyak mendapat masukan, terutama dari Uda Syahdanur yang saat itu juga akan menerbitkan Buku Harian Merdeka yang kedua. Itu pula sebabnya berkat dipertemuka Uda Mafri, hubungan saya dengan Uda Syahdanur menjadi sangat akrab, meski belum pernah berjumpa secara fisik.

Saya juga masih ingat beberapa tulisan di Buku Harian Semangat, terutama yang ditulis Khairul Jasmi dan Gatot Santoso. Seperti ditulis Khairul Jasmi di buku itu, “MA (Mafri Amir) punya mata elang dalam dunia jurnalistik. Konsep berita sosial kontrol tentulah wajib dikuasai wartawan. Namun konsep berita baik agar rakyat tahu bahwa negara sedang membangun, adalah juga baik. Sisi ini sering disuguhkan MA.
MA cepat mengetik, karena berita sudah selesai dalam kepalanya. Mesin tiknya tak pilih-pilih, beda dengan GT yang rapih bersih dan teliti. MA adalah tipikal wartawan yang inspirasinya keluar jika merokok. GT sebaliknya.
MA dan Kepala Dinas PU Sumbar Sabri Zakaria merancang sebuah skenario. Hasilnya dibangunlah bendungan Batanghari yang terkenal itu. Bagaimana caranya? MA melakukan liputan mendalam ke Sijunjung sampai ke ujung negeri. Memotret sawah yang kekeringan, wawancara dengan banyak petani, lalu membuat laporannya di Semangat. Inti laporan itu, Batanghari perlu dibendung, sebab rakyat butuh irigasi. Koran itu dibawa ke Jakarta dan diberikan pada Menteri PU, maka kemudian dimulailah proyek tersebut.

Cerdas, bernas dan bisa mengemas sesuatu menjadi sangat penting itulah ciri khas Mafri Amir. Lelaki yang memulai karir kewartawannya di Harian Semangat sejak tahun 1979 itu memulai dengan naik sepeda ontel. Setelah sempat memakai Vespa, ia kemudian membeli sebuah mobil Kijang bak terbuka. Dari mobil itu pulalah Uda Mafri pandai membawa oto. Hal mana yang sering dicandain oleh Mas Gatot Santoso.

“Di Universitas Semangat, MA (Mafri Amir) saya kenal sebagai sosok yang ulet dan gigih. Mungin karena nasibnya, MA punya fighting spirit lebih, dari rata-rata kami. MA adalah spesialis meneruka lahan berita baru. Dengan teknik canggih, ia ahli merawat komunikasi dengan nara sumber ‘potensial’. Hasilnya, MA lancar mewawancarai narasumber itu, bila saja diperlukannya.
Dengan postur ‘semampai’, MA adalah sosok santun. Penyayang pada para wartawan muda yang se-ulah. KJ adalah salah satu yang beruntung dapat transfer of knowledge dari MA. KJ sering diajak pergi menikam jejak ke pelabuhan kapa gulo. Mungkin karena mereka semazhab. Sama-sama ahli hisap alias perokok. Sebagai pembelajar, KJ disayang MA, karano sangat tidak banyak ulah. Patuh. Banyak tanya, tapi tidak pembantah. “Pai meliput jo Uda MA buliah samo, tapi untuak wawancara khusus, tunggu di lua. Tarimo hasil barasiah sajo…”, begitu kata KJ sambil ketawa ngakak.

Sungguh, menceritakan seorang Mafri Amir, terlalu banyak untuk diceritakan. Termasuk bagaimana seorag Abdullah Khusairi, mahasiswanya di kampus IAIN menceritakan seorang Mafri Amir. “Ia telah memperkenalkan saya dengan Teknik Menulis Tajuk Rencana dan Feature. Hampir seluruh yang diajarkannya saya lahap. Kuliah dengannya, ia sering melucu. Tetapi ia sendiri tidak pernah ketawa dengan guyonnya. Meski kuliah di ruang panas waktu siang tapi tetap menarik untuk diikuti. Betapa ruginya jika tidak masuk.

Latihan menulis dari beliau saya tekuni dengan hati. Meski pun saya pakai mesin ketik dan sering diketawakan karena masih sering memakai kalimat pasif dan salah ketik. Salah ketik adalah stupid mistake ditanamkan sebagai sesuatu yang diharamkan dalam dunia jurnalistik. Hingga ke bangku program doktor pun saya kutip pernyataannya. “Menulis tajuk itu, setengah bersastra setengah lagi berilmiah,” ujarnya di kelas. Saya menyatakan itu kembali di ujian promosi doktor saya, yang ia saksikan sendiri di bangku tamu pada hari itu, tulis Khusairi.

Ya, takkah habis bahan untuk menuliskan tentang seorang Mafri Amir. Tapi hari ini Beliau sudah berpulang ke haribaannya. Selamat jalan Da Mafri. Semoga syurga jannatun naim yang menunggumu. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Al Fatihah… (Nofrialdi Nofi Sastera) Telah tayang di :

https://majalahintrust.com/in-memorium-dr-h-mafri-amir-ma-si-jago-lobby-itu-kembali-ke-haribaan-nya/

In Memoriam: Mafri Amir yang Saya Kenal oleh Wardas Tanjung

In Memoriam: Mafri Amir yang Saya Kenal

ZulnadiSenin, 27 Desember 2021 | 13:34 WIB

In Memoriam: Mafri Amir yang Saya Kenal

Oleh Wardas Tanjung

Tubuhnya pendek. Keningnya agak lebar. Rambut hitam sisir ke belakang. Perokok berat. Sehingga di bibirnya tampak jelas keperokokannya. Kalau ketawa selalu tampak giginya yang putih bersih. 

Saya memgenalnya sekitar tahun 1981. Waktu itu saya masih tahun pertama di Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang. Uda Mafri adalah senior tingkat doktoral di Fakultas Syariah yang mempelonco maba (mahasiswa baru). Baca Juga:  Gubernur Mahyeldi Optimis Target Vaksinasi Sumbar Tercapai

Selang beberapa bulan kemudian saya tahu ternyata beliau salah seorang wartawan di “Suara Kampus” IAIN bersama senior Uda Fachrul Rasyid. Saya tertarik jadi wartawan (juga). Maka mulailah saya belajar dari beliau berdua. Mulanya ikut pelatihan jurnalistik di kampus. Kemudian mecoba masuk ke Surat Kabar Singgalang. Alhamdulillah jadi. Sementara Uda Mafri berkiprah di SKH Semangat. Baca Juga:  Pemprov Sumbar Siap Kejar Dana Pusat Untuk Pembangunan

Dalam melakoni tugas sebagai wartawan, saya sering bersama beliau meliput berita di lapangan. Saya dapat tugas ngepos di DPRD Prop.Sumbar, Ktr Gubernur dan Perguruan Tinggi. Ketika ada pejabat pusat ke daerah, saya sering ditugasi meliput. Demikian juga Uda Mafri, sehingga kami sering bersama di lapangan. 

Satu hal yang saya kenang dari almarhum, selalu mau berbagi info untuk melengkapi berita yang akan ditulis. Sebagai senior dan sekaligus guru jurnalistik, saya memang banyak belajar ke beliau. Apalagi kalau menulis laporan dari forum seminar dan diskusi ilmiah, beliau sering mengingatkan saya untuk menambah referensi, jangan memadai dari pemikiran yang berkembang di forum itu saja. Laman berikutnyaPage 2 of 3

Setelah beliau hijrah dari IAIN IB ke IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, saya sangat jarang bertemu. Kecuali jika beliau ada tugas ke Padang. Uda Mafri selain dosen di Fak.Ushuluddin UIN Syarif, adalah juga salah seorang Staf pada Kantor Sekretariat Wapres bersama mantan Wako Padang H.Syahrul Ujud (semasa Wapres Jusuf Kalla). 

Suatu kali, saya menjadi Imam shalat Jumat di Masjid Raya Ganting, rupanya ada rombongan dari Jakarta yang beliau ajak Jumatan di sana. Selesai shalat kami bertemu, beliau bertanya kenapa imam tidak memimpin doa bersama, padahal kekhususan shalat di MR Ganting adalah doa bersama itu. Saya tidak memberikan jawaban, krn sejak saya ditetapkan sebagai Imam Besar di sana taun 1997, berdoanya sudah sendiri sendiri. Baca Juga:  Peran Strategis UIN Imam Bonjol Dukung Sumbar jadi Pusat Ekonomi Syariah Nasional

Sekitar Juni 2018 saya menghubungi beliau untuk minta bantuan mencari tempat tinggal bagi anak saya Ghufron yang akan kuliah di UIN Syarif. “Datanglah ka Jkt, sobok wak,” katanya dari balik gagang telepon. Seminggu kemudian saya ke Jkt dan kami bertemu di rumah beliau di Pamulang, Tangsel. Saat pamit, beliau menitipkan satu seminar kit berlabel Sekretariat Wakil Presiden. “Untuk dibaca baca,” ucapnya. Kami janjian untuk bertemu kembali besoknya di kampus UIN, Ciputat.

Pada pertemuan hari kedua ini saya diajak keliling kampus dan mengantarkan saya ke sebuah rumah yang akan ditempati Ghufron. Rumah itu adalah milik seorang perantau asal Solok, yang kemudian menjadi tempat penampungan sementara mahasiswa baru asal Minang. “Silahkan Ghufron tinggal di sini sampai dapat tempat kos,” katanya. Laman sebelumnyaLaman berikutnya

Jangan Lewatkan

Page 3 of 3

Sudah lama kami tak bertemu, malah ketika beliau mengundang untuk acara syukuran menaiki rumah barunya di kompek PWI, Kuranji, saya tak sempat hadir karena sedang ada tugas ke luar kota. Tadi pagi dapat kabar duka dari grup WA PWI Sport bahwa Uda Mafri telah berpulang ke Rahmatullah. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun. Kami sekeluarga turut berdukacita yang dalam semoga Uda Mafri meninggal dalam keadaan husnul khatimah, diampuni segala dosa, diterima segala amal baik, diberikan kalapangan kubur dan diberi tempat terbaik oleh Allah SWT di syorgaNYA. AamiinLaman sebelumnya

In Memoriam: Mafri Amir yang Saya Kenal

ZulnadiSenin, 27 Desember 2021 | 13:34 WIB

Setelah beliau hijrah dari IAIN IB ke IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, saya sangat jarang bertemu. Kecuali jika beliau ada tugas ke Padang. Uda Mafri selain dosen di Fak.Ushuluddin UIN Syarif, adalah juga salah seorang Staf pada Kantor Sekretariat Wapres bersama mantan Wako Padang H.Syahrul Ujud (semasa Wapres Jusuf Kalla). 

Suatu kali, saya menjadi Imam shalat Jumat di Masjid Raya Ganting, rupanya ada rombongan dari Jakarta yang beliau ajak Jumatan di sana. Selesai shalat kami bertemu, beliau bertanya kenapa imam tidak memimpin doa bersama, padahal kekhususan shalat di MR Ganting adalah doa bersama itu. Saya tidak memberikan jawaban, krn sejak saya ditetapkan sebagai Imam Besar di sana taun 1997, berdoanya sudah sendiri sendiri. Baca Juga:  Audy Joinaldy Beri Suntikan Semangat bagi SPFC Dalam Laga Hidup Mati di Pekanbaru

Sekitar Juni 2018 saya menghubungi beliau untuk minta bantuan mencari tempat tinggal bagi anak saya Ghufron yang akan kuliah di UIN Syarif. “Datanglah ka Jkt, sobok wak,” katanya dari balik gagang telepon. Seminggu kemudian saya ke Jkt dan kami bertemu di rumah beliau di Pamulang, Tangsel. Saat pamit, beliau menitipkan satu seminar kit berlabel Sekretariat Wakil Presiden. “Untuk dibaca baca,” ucapnya. Kami janjian untuk bertemu kembali besoknya di kampus UIN, Ciputat.

Pada pertemuan hari kedua ini saya diajak keliling kampus dan mengantarkan saya ke sebuah rumah yang akan ditempati Ghufron. Rumah itu adalah milik seorang perantau asal Solok, yang kemudian menjadi tempat penampungan sementara mahasiswa baru asal Minang. “Silahkan Ghufron tinggal di sini sampai dapat tempat kos,” katanya. Laman sebelumnyaLaman berikutnyaPage 2 of 2

Sudah lama kami tak bertemu, malah ketika beliau mengundang untuk acara syukuran menaiki rumah barunya di kompek PWI, Kuranji, saya tak sempat hadir karena sedang ada tugas ke luar kota. Tadi pagi dapat kabar duka dari grup WA PWI Sport bahwa Uda Mafri telah berpulang ke Rahmatullah. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun. Kami sekeluarga turut berdukacita yang dalam semoga Uda Mafri meninggal dalam keadaan husnul khatimah, diampuni segala dosa, diterima segala amal baik, diberikan kalapangan kubur dan diberi tempat terbaik oleh Allah SWT di syorgaNYA. AamiinLaman sebelumnya

In Memoriam: Mafri Amir yang Saya Kenal

ZulnadiSenin, 27 Desember 2021 | 13:34 WIB

Sudah lama kami tak bertemu, malah ketika beliau mengundang untuk acara syukuran menaiki rumah barunya di kompek PWI, Kuranji, saya tak sempat hadir karena sedang ada tugas ke luar kota. Tadi pagi dapat kabar duka dari grup WA PWI Sport bahwa Uda Mafri telah berpulang ke Rahmatullah. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun. Kami sekeluarga turut berdukacita yang dalam semoga Uda Mafri meninggal dalam keadaan husnul khatimah, diampuni segala dosa, diterima segala amal baik, diberikan kalapangan kubur dan diberi tempat terbaik oleh Allah SWT di syorgaNYA. AamiinLaman sebelumnya

%d blogger menyukai ini: