Toleransi Kehidupan Antar Pemeluk Agama

Toleransi Kerukunan

Antar Pemeluk Agama

Oleh Shofwan Karim

Selain Sumbar, ada 7 provinsi lagi sebagai percontohan pilot proyek Kerukunan Beragama. Yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sulawesi Tengah, Riau, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Secara sepintas, kelihatan bahwa menurut penuturan Pelaksana Kakanwil kementerian agama Sumbar ini kabar baik.

Artinya kini Sumbar sudah keluar dari tuduhan sebagai provinsi intoleran (tidak toleran). Tentu dengandemikian termasuk 7 contoh lain tadi. Lihat,

https://www.republika.co.id/berita/r4gxwe430/sumbar-jadi-percontohan-kerukunan-beragama.

Mengapa dulu Sumbar dianggap sebagai wilayah intoleran? Padahal tidak ada yang berubah. Kecuali isu yang dikembangkan pihak tertentu. Maka kalau sekarang isu tidak lagi meruyak, tentulah dari dulu mestinya Sumbar adalah daerah toleran.

Untuk itu, agaknya perlu dilihat makna toleransi secara umum. Yaitu sebagai sikap manusia agar saling menghargai dan menghormati terhadap perbedaan yang ada.

Itu tidak berarti mengakui kebenaran pihak lain kalau bertentangan dengan kebenaran hakiki menurut doktrin dasar agama mereka.

Dalam kehidupan beragama, Islam melihat bahwa perbedaan itusudah diterima sebagai apa adanya. Perbedaan dalam Ibadah danakidah tidak akan mengganggu kalau tidak ada pemaksaankepada mereka untuk mengikuti yang berbeda dengan prinsipmereka.

Jangankan dengan berlainan agama, sesama atau seagama saja, umat Islam sudah terbiasa berbeda dalam pelaksanaanpemahaman, pemikiran serta praktek Ibadah mereka.

Meskipun rukun iman sama dan rukun Islam sama tetapi sudah menjadi kenyataan umum dalam kaifiat-cara pelaksanaan ternyata ada perbedaan . Dan itu semua dilaksanakan dengan prinsip salingmenghargai dan menghormati.

Terhadap mereka yang berlainan keyakinan agama sudah terlaksana dengan baik tidak menggangu mereka bahkan membiarkan mereka dalam cara yang berbeda terhadap akidahdan Ibadah.

Lebih-lebih dalam pergaulan social.

Tidak ada larangan bertegur-sapa, berjual beli, mengikuti pendidikan disatu lembaga yang mereka pilih. Bahkan ada yang jelaslembaga pendidikan agama lain, anak didiknya ada yang tidak sama agama mereka. Itu sudah berlangsung berabad-abad sejakzaman penjajahan, pra kemerdekaan, dan sekarang.

Membiarkan, mentoleransi di sini bukan berarti ikutmelaksanakan akidah dan Ibadah agama lain.

Tetapi kokohdengan akidah dan agama sendiri itu berarti sudah menghargaiagama lain. Karena akidah dan Ibadah adalah dasar masing-masing agama yang bersumber dari wahyu dan ajaran nabi mereka masing-masing,

Itulah pemahaman standar bagi umumnya umat Islam dari Quran, 109-Al-Kafirun : 6. Lakum di nukum waliyadin. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Keristen ternyata sama dengan prinsip di atas. Di dalam Kristen sendiri, lihat: https://student-activity.binus.ac.id/po/2016/05/toleransi-beragama-dalam-pandangan-kristen/

(akses : 22.12.2021), mereka harus berpegang teguh kepadaiman eksklusifnya sekaligus hidup bertoleransi dengan orang beragama lain. Caranya, bersikap tulus dan menghormatiterhadap iman dan keyakinan agama lain tetapi itu tidak berartimengakui apa yang mereka katakan tentang kebenaran bilabertentangan dengan kebenaran Kristen

.

Matius 5: 45 tertulis. “Karena dengan demikianlah kamumenjadi ana-anak Bapamu yang di syorga, yang menerbitkanmatahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik danmenurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidakbenar.”

Dalam pemahaman mereka meskipun Tuhannyamenciptakan Matahari untuk orang jahat dan baik, tidak berartiTuhan menyetujui perbuatan jahat dan Tuhan hanya menyetujuiperbuatan baik. Pada sisi lain ada ada arahan toleransi akidah-teologis yang gamblang tidak memaksa.

Quran membiarkan akal manusiamengikuti petunjuk secara bebas dan bahkan Tuhan pun tidakmemaksa manusia beriman kepadanya.

Di dalam Quran 6-Al-An’am: 35 “…Dan sekiranya Allah menghendaki, tentu Diajadikan mereka semua mengikuti petunjuk, sebab itu janganlahsekali-kali engkau termasuk orang-orang yang bodoh.”

Selanjutnya, Quran 10-Yunus: 99 , “Jikalau Rabbmumengehendaki tentulah beriman semua orang yang dimuka bumiseluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusiasupaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya”. Itulah sebabnya, ada kesimpulan hanya karena izin, rahmat, karunia, hidayah serta Ridha Allah sesorang itu beriman kepadaAllah dan memeluk agama yang diredhai-Nya.

Sementara di dalam pergaulan social, sebaiknya menoleh kepadaal-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13. “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lak-lakidan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisiAllah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”Di dalam konteks ini, kata takwa dapat dipahami sebagaimemelihara diri dan menghormati prinsip orang lain.

Persoalannya muncul ketika toleransi, berlapang dada, kepala sejuk, hati dingin- dianggap melebihi pijakan agama yang dipahami secara umum.

Misalnya ketika dikaitkan dengan kata kehidupan beragama. Kerukunan kehidupan beragama atau toleransi kehidupan beragama. Oleh pihak tertentu dianggap semua sama saja.

Ada tafsir pihak tertentu yang menyamakan antara kerukunan akidah dan ibadah dengan pergaulan social. Padahal akidah dan ibadah-ritualistik khusus adalah prinsip dasar yang tidak bisadicampur adukkan dengan masalah sosial umum. Bagi Islam Nabi Isa adalah Rasullullah dan Nabi dalam deretan 25 Rasullah yang masyhaur. Bukan yang lain statusnya. Soal shalat tidak bisa untuk ditoleransi dengan mengikuri kebaktian di Gereja dll.

Akan tetapi soal muamalah ada prinsip ihsan. Kebaikan kemanusiaan. Tidak ada batasan berjual beli dengan orang tidak seagama. Tidak ada larangan berbentuk Fatwa Ulama MUI, Pusat dan Daerah. Tidak ada larangan keputusan dari Pastor danPendeta. Tidak ada larangan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), PerhimpunanHindu Dharma Indonesia, Ratu Pedanda, dan Pemangku Agamalainnya.

Bolehkah bertegur sapa dengan berlainan agama? Tidak adaketentuan yang melarang di dalam teks dan konteks dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu, sebagai agama-agama yang resmi pada kementerian agama di negara ini.

Bahkan di dalam urusan kemanusian seperti menanggulangi bencana alam, banjir, gunung meletus, tanah longsor, mengatasi penyakit menular seperti Covid-19, dengan segalavariasinya seperti Omicron dan mengatasi kemiskinan sertakebodohan, semua pemeluk agama bekerjasama dan tidakpernah mengaitkan dan menanyakan, kamu beragama apa? Di sinilah letak toleransi antar pemeluk dan kehidupan beragama. Oleh karena setiap agama, apapun agamanya mempunyaikonsep kemaslahatan sosial kemanusiaan yang tidak terikat olehfirkah dan aliran masing-masing mereka.

Untuk yang terakhir, bertegur sapa, kehidupan sosial dankemanusiaan mengucapkan selamat hari tertentu menjadisensitif. Pada praktek pranata sosial dan budaya inilah antaralain ada sikap “ghuluw” atau berlebih-lebihan melampaui batas.

Ada keinginan secara halus bahkan kasar oleh pihak tertentuuntuk mengikuti budaya agama lain dalam memperingati hari besar mereka.

Keinginan seperti itu sebenarnya yang boleh disebut sikap intoleransi. Jangan dibalik, Orang yang tidak mengikuti tetapi hanya membiarkan dan tidak mengganggu dianggap tidak menghormati,

tidak toleran dan sebagainya. Bila itu yang terjadi, inilah yang disebut “ghuluw” Atau berlebihan, melampaui batas.

Hal itu disinggung dalam QS,5, Al-Maidah:77.

“… janganlahkamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) danmereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan merekatersesat di jalan yang lurus (tersesat dan menyesatkan)”. ***

Tulisan ini merupakan edit ulang dari artikel Komentar Harian Singgalang Format PDF 23 Desember 2021.

Shofwan Karim dan Pengabdian Tanpa Pensiun Hingga Akhir Hayat

 

Shofwan Karim dan Pengabdian Tanpa Pensiun Hingga Akhir Hayat

Ketua PW Muhammadiyah Sumbar, Buya Shofwan Karim Elhussein (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh Buya Dr. Shofwan Karim Elhussein

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS, 17:23)

Yold atau Young Old adalah singkatan kata yang saya kutip dari sebuah video TouTube. Artinya adalah orang muda dan sekaligus tua https://youtu.be/qc923i_8HwM

Pada Desember 2013 dan Februari 2015, saya sering bertemu Yold. Pada dua musim winter itu, setelah rapat-rapat ada kunjungan ke lokasi program aksi kepemimpinan pemuda. Ke berapa kota kecil atau komunitas di 4 provinsi. Ontario, Quebec, Nova Scotia dan Prine Edaward Island, Kanada, belahan Timur.

Kanada dengan populasi 35 Juta orang (2015) boleh menjadi contoh fenomena Yold. Jaminan kesehatan yang tinggi. Ekonomi dan kemakmuran yang tinggi. Tingkat indeks kebahagiaan atau happiness index yang tinggi Ditambah melimpahnya imigran ke Kanada. Kini (2021) penduduk Kanada naik tajam menjadi 39.500.000 atau hampir 40 Juta jiwa.

Di kota Halifax, Truro dan Charlottetown saya sering berbincang dengan senior citizen atau para lanjut usia, Yold ini. Di sela review program Youth Leaders In Action (YLIA) Canada World Youth kami berkunjung ke pusat-pusat kerja anak muda dan ke panti jompo.

Menurut statistik 2011 pergeseran demografis Kanada usia di atas 65 tahun meningkat dari 13,7 % tahun 2006 menjadi 14,8 % tahun 2011. Bagaimana Indonesia? Catatan 2021 populasi indonesia lebih 270,2 juta juta jiwa.

Orang Indonesia berusia lanjut di atas 65 tahun per-Februari 2021 adalah 5,95 %. Artinya sekitar 16 juta jiwa. Maka nampaknya, di manapun usia lanjut semakin bertambah terutama di negara G-20 (Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brazil, Britania Raya, RRT, India, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Prancis, Rusia, Turki, dan Uni Eropa).

Di Truro, kota bagian tengah Provinsi Nova Scotia, saya agak serius menggali bagaimana para Yold ini menikmati hidup dengan suka cita. Mereka bukan saja ada di tempat keramaian dan rekreasi tetapi banyak pula yang bekerja di pusat pelatihan pemuda.

Di pusat rehabilitasi remaja yang bermasalah. Baik rumah tangga maupun pelanggaran moral dan penyalahgunaan ganja, narkotika dan obat terlarang sampai 2015.

Tahun 2018 pemakaian narkoba sudah legal. Baik untuk medis maupun kesenangan atau rekreasi. Akan tetapi efeknya tidak berkurang atas prilaku seseorang. Di dunia ada 5 negara yang melegalkan ganja dan semacamnya. Belanda, Kanada, Amerika Serikat, Thailand dan Jamaica. Pembimbing oang-orang penyintas narkoba untuk kembali normal, banyak kaum Yold ini.

Selain itu para Yold ini banyak pula yang menjadi guru seni musik, dan lukis. Ada yang menjadi penolong anak-anak sekolah dasar, play grup, kindergarten atau taman kanak-kanak yang akan menyeberang jalan pada zebra cross.

Juga ada yang menjadi pelayan panti asuhan, disablitas (berkebutuhan khusus). Bahkan di panti Jompo untuk orang seusia mereka pun dilayani oleh para Yold itu. Di sini panti jompo (terjemahan bebas) disebut, Nursing Home. Banyak sekali jenis dan macam pekerjaan para Yold ini.

“Mengapa masih tetap bekerja?” tanya saya kepada beberapa di antara mereka. Saya tahu mereka sudah mempunyai jaminan sosial dan jaminan hari tua. Baik untuk pensiunan pemerintah maupun swasta bahkan mereka yang bekerja mandiri, sistem di sini sudah mengatur pensiunan. Atas pertanyaan itu dengan santai kaum Yold ini menjawab.

Pertama, “badan sehat, pikiran normal, dan jiwa pun senang serta bahagia. Dengan bekerja itu, semuanya dapat dipertahankan.” kata mereka dengban sumringah dan dada lapang sambil menyedu secangkir kopi. Di luar hujan salju sedang memberikan pemandangan lain.

Kedua, “ada kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri dengan bekerja”, kata mereka. “Terkoneksi dalam relasi yang mumpuni dengan orang lain di komunitas pekerjaan. Rasanya hidup lebih berarti. Secara finansial, untuk hidup sederhana sudah ada jaminan asuransi sosial dan kesehatan . Semua anak-anak dan keluarga sudah punya kehidupan sendiri.” sambung mereka.

Anak-anak mereka bahkan punya rumah sendiri terpisah dengan para Yold tadi. Maka pasangan Yold merasa lebih bermakna hidupnya bila mereka yang sudah menjadi kakek dan nenek itu tererus bekerja di tempat yang sesuai dengan gairah dan talenta masing.

Ketiga, ” di sini (Kanada) ada peraturan umum secara federal dan aturan khusus pada tiap provinsi dan territorial khusus. Kanada mempunyai 10 provinsi dan 3 wilayah khusus tadi. Provinsi British Columbia di sebelah Barat, Alberta, Saskatchewan dan Manitoba di wilayah Prairie. Lalu Ontario dan Quebec, agak ke Timur. Lalu di kawasan pantai dan kepulauan di Timur: New Brunswick, Prinsce Edward Island, Nova Scotia dan New Foundland-Labrador. Kemudian special territory Northwest Territory, Yukon dan Nunavut.

Bagi mereka para pensiunan yang sehat lahiriah-batiniyah dan sanggup berkerja yang kita sebut Yold ini, dibolehkan bekerja paruh waktu dan menjadi relawan . Bidangnya terserah kepada yang bersangkutan dan ketersediaan di pemukiman atau kota dan komunitas domisili mereka.

Bahkan pada provinsi tertentu seperti Nova Scotia di Kota Truro, mereka dihimbau untuk lanjutkan pengabdian 3 kali dalam sepekan.

“Saya sambil yang ini (3 kali sepekan)”, seorang Yold yang menarik grobak mengangkut tumpukan pakaian bekas pakai yang masih bagus untuk dicuci.

“Nanti pakaian ini akan digelar pada open hause, untuk mereka yang memerlukan”, katanya. Dan pada suatu sore saya melihat beberapa orang yang memilihnya. Ketika saya tanya, siapa mereka, mereka jawab, “kami para imigran dari beberapa negara”. Lalu , kami saling melambaikan tangan.

/* Penulis adalah Ketua PW Muhammadiyah Sumbar

Shofwan Karim dan Pengabdian Tanpa Pensiun Hingga Akhir Hayat

[R@ntau-Net] Shofwan Karim : Sumbar Belum Kehilangan Tokoh-Tokoh

[R@ntau-Net] Shofwan Karim : Sumbar Belum Kehilangan Tokoh-Tokoh
— Read on www.mail-archive.com/rantaunet@googlegroups.com/msg23652.html

Dua Buku Shofwan Dibedah Para Cendikiawan

Dua Buku Shofwan Dibedah Para Cendikiawan
Kam Des 24 , 2020

Cover Buku karya Shofwan Karim

Cover Buku karya Shofwan Karim

bakaba.co | Padang | Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) meluncurkan dan membedah dua buku sekaligus secara virtual, 18 Desember 2020. Buku Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar Buya Dr. Drs. H. Shofwan Karim, BA, MA tersebut, berjudul “Islam sebagai Dasar Negara: Polemik antara Mohammad Natsir versus Soekarno” dan “68 Tahun Melukis di Atas Awan: Memoar Biografi Dr. Shofwan Karim”.

Peluncuran dan bedah buku terbitan UMSB Press tersebut dihadiri dosen dan sivitas akademika UMSB serta warga Muhammadiyah Sumbar. Acara yang dibuka Rektor UMSB Dr. Riki Saputra MA itu menghadirkan beragam pembicara baik dari dalam maupun luar negeri.

Bedah Buku karya Shofwan Karim
Bedah Buku karya Shofwan Karim
Ketua DPD RI 2009-2016, Irman Gusman, SE, MBA yang diundang sebagai pembicara perdana mengungkapkan bahwa Shofwan Karim merupakan sahabat dekat yang sudah dikenalnya lebih dari 25 tahun. Terkait pandangannya terhadap polemik M. Natsir dan Soekarno, Irman Gusman mengatakan bahwa pandangan dan pilihan politik boleh saja berbeda, tetapi persahabatan itu abadi sifatnya. “Inilah yang diteladankan Natsir dan Bung Karno,” katanya.

Acara peluncuran dan bedah buku dimulai dengan pengantar dari editor buku Efri Yoni Baikoeni, SS, MA, dilanjutkan presentasi dari pembicara dari Malaysia, Brunei dan Indonesia.

Dr. Gamal Abdul Naseer, dosen senior Universiti Brunei Darussalam (UBD) berbicara mengenai pemikiran M. Natsir tentang integrasi ilmu pengetahuan. Cendikiawan Brunei yang pernah mengambil S-3 di Universiti Kebangsaan Malaysia dengan meneliti pemikiran M. Natsir dalam Pendidikan Indonesia tersebut menjelaskan bahwa M. Natsir telah menggagas pendidikan integral tahun 1934, jauh sebelum dunia Islam memulai pemikiran “Islamization of knowledge” pada Konferensi Pendidikan Islam pertama di Makkah tahun 1977. Gagasan ini kemudian dilanjutkan Prof. Dr. Ismail Al Faruqi. Sementara di Malaysia, konsep “Pendidikan Bersepadu” diperkenalkan Dr. Anwar Ibrahim ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan Malaysia yang sangat mengagumi konsep pemikiran M. Natsir.

Cover buku M. Natsir vs Soekarno
Cover buku Polemik Natsir vs. Soekarno
Sementara itu, pembicara dari Malaysia Prof. Dr. Firdaus Abdullah mendiskusikan mengenai pengaruh pemikiran M. Natsir di Malaysia. Mantan Wakil Rektor Universiti Malaya dan Senator Parlemen Malaysia itu menyatakan, sosok negarawan M. Natsir memberi inspirasi kepada gerakan pemuda Islam Malaysia yang tergabung dalam organisasi Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) yang pernah dipimpin Dr. Anwar Ibrahim, mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia.

Hadir pula pembicara lain, diantaranya Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. Sir Azyumardi Azra, MA yang memberi “testimoni” perjuangan Shofwan Karim ketika menyelesaikan S3 pada Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta tahun 2008 dengan judul penelitian “Nasionalisme, Pancasila dan Islam sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (Studi Pemikiran Mohammad Natsir). Bersama dengan Prof. Dr. Badri Yatim, MA, Azyumardi Azra menjadi promotor disertasi Shofwan Karim.

Baca juga: Rektor: Penerbit penting bagi Catur Dharma UMSB

Sementara Rektor Universitas Yarsi Jakarta, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D menjelaskan kiprah Shofwan Karim yang tidak hanya dikenal di dalam negeri namun juga di luar negeri khususnya keterlibatannya dalam kegiatan program pertukaran pemuda Indonesia ke luar negeri. Mantan Wakil Menteri Pendidikan RI tahun 2010–2011 tersebut mengakui memiliki banyak kesamaan jalan hidup karena pada masa mahasiswa pernah mengikuti program pertukaran pemuda ke Kanada mewakili Sumbar. Karena memiliki rekam jejak yang bagus, keduanya pun kemudian berpeluang menjadi “group leader“ bahkan “country coordinator”.

Satu-satunya pembicara wanita dalam acara ini Dr. (HC) Nurhayati Subakat, CEO PT Paragon Technology & Innovation yang menjadi sponsor dalam penerbitan buku biografi Dr. Shofwan Karim. Dalam kesaksiannya, wanita hebat di balik kesuksesan produk kosmetik “Wardah” ini mengulas kesannya terhadap buku ini. Menurutnya, dengan membaca buku ini setidaknya terdapat tiga hikmah yang dapat dipetik. Pertama, buku-buku ini dapat menjadi “legacy” sebagai pusaka bagi anak cucu. Kedua, buku ini bercerita sesuatu yang baru sehingga mengisi kekosongan yang ada “narrowing gap”. Ketiga, berbagi semangat mendokumentasikan sejarah agar nilai-nilainya dapat diwariskan kepada generasi Milenial yang dapat menuntun menuju masyarakat yang lebih beradab dan beradat.

Cover Buku Memoar Shofwan Karim
Cover Buku Memoar Shofwan Karim
Ulama senior Sumbar Buya Mas’oed Abidin dan Didi Rahmadi, S.Sos, MA (dosen Fisipol UMSB) menyorot tentang perbedaan pandangan politik antara M. Natsir dengan Soekarno. Mantan sekretaris pribadi M. Natsir tersebut juga memberikan kesaksiannya tentang upaya-upaya M. Natsir dalam mewujudkan negara Islam di Indonesia secara konstitusional.

Tokoh pers nasional, H. Basril Djabar menceritakan kesan atas semangat kegigihan seorang Shofwan Karim sehingga bisa sukses dalam berbagai dimensi, tidak saja dalam bidang pendidikan, akademisi, maupun keluarga. Penasehat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar tersebut juga menjelaskan interaksi mereka yang cukup intens tidak saja karena sama-sama menjabat sebagai Komisaris PT Semen Padang namun juga kesamaan pandangan dalam mengembangkan dunia jurnalistik di Sumbar.

Acara diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan dari Rektor UMSB kepada para narasumber. Setiap peserta berkesempatan mendapat e-book kedua buku tersebut secara gratis.

Dua Buku Shofwan Dibedah Para Cendikiawan

Cover Buku karya Shofwan Karim

Cover Buku karya Shofwan Karim

bakaba.co | Padang | Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) meluncurkan dan membedah dua buku sekaligus secara virtual, 18 Desember 2020. Buku Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar Buya Dr. Drs. H. Shofwan Karim, BA, MA tersebut, berjudul “Islam sebagai Dasar Negara: Polemik antara Mohammad Natsir versus Soekarno” dan “68 Tahun Melukis di Atas Awan: Memoar Biografi Dr. Shofwan Karim”.

Peluncuran dan bedah buku terbitan UMSB Press tersebut dihadiri dosen dan sivitas akademika UMSB serta warga Muhammadiyah Sumbar. Acara yang dibuka Rektor UMSB Dr. Riki Saputra MA itu menghadirkan beragam pembicara baik dari dalam maupun luar negeri.

Bedah Buku karya Shofwan Karim
Bedah Buku karya Shofwan Karim

Ketua DPD RI 2009-2016, Irman Gusman, SE, MBA yang diundang sebagai pembicara perdana mengungkapkan bahwa Shofwan Karim merupakan sahabat dekat yang sudah dikenalnya lebih dari 25 tahun. Terkait pandangannya terhadap polemik M. Natsir dan Soekarno, Irman Gusman mengatakan bahwa pandangan dan pilihan politik boleh saja berbeda, tetapi persahabatan itu abadi sifatnya. “Inilah yang diteladankan Natsir dan Bung Karno,” katanya.

Acara peluncuran dan bedah buku dimulai dengan pengantar dari editor buku Efri Yoni Baikoeni, SS, MA, dilanjutkan presentasi dari pembicara dari Malaysia, Brunei dan Indonesia.

Dr. Gamal Abdul Naseer, dosen senior Universiti Brunei Darussalam (UBD) berbicara mengenai pemikiran M. Natsir tentang integrasi ilmu pengetahuan. Cendikiawan Brunei yang pernah mengambil S-3 di Universiti Kebangsaan Malaysia dengan meneliti pemikiran M. Natsir dalam Pendidikan Indonesia tersebut menjelaskan bahwa M. Natsir telah menggagas pendidikan integral tahun 1934, jauh sebelum dunia Islam memulai pemikiran “Islamization of knowledge” pada Konferensi Pendidikan Islam pertama di Makkah tahun 1977. Gagasan ini kemudian dilanjutkan Prof. Dr. Ismail Al Faruqi. Sementara di Malaysia, konsep “Pendidikan Bersepadu” diperkenalkan Dr. Anwar Ibrahim ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan Malaysia yang sangat mengagumi konsep pemikiran M. Natsir.

Cover buku M. Natsir vs Soekarno
Cover buku Polemik Natsir vs. Soekarno

Sementara itu, pembicara dari Malaysia Prof. Dr. Firdaus Abdullah mendiskusikan mengenai pengaruh pemikiran M. Natsir di Malaysia. Mantan Wakil Rektor Universiti Malaya dan Senator Parlemen Malaysia itu menyatakan, sosok negarawan M. Natsir memberi inspirasi kepada gerakan pemuda Islam Malaysia yang tergabung dalam organisasi Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) yang pernah dipimpin Dr. Anwar Ibrahim, mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia.

Hadir pula pembicara lain, diantaranya Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. Sir Azyumardi Azra, MA yang memberi “testimoni” perjuangan Shofwan Karim ketika menyelesaikan S3 pada Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta tahun 2008 dengan judul penelitian “Nasionalisme, Pancasila dan Islam sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (Studi Pemikiran Mohammad Natsir). Bersama dengan Prof. Dr. Badri Yatim, MA, Azyumardi Azra menjadi promotor disertasi Shofwan Karim.

Baca juga: Rektor: Penerbit penting bagi Catur Dharma UMSB

Sementara Rektor Universitas Yarsi Jakarta, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D menjelaskan kiprah Shofwan Karim yang tidak hanya dikenal di dalam negeri namun juga di luar negeri khususnya keterlibatannya dalam kegiatan program pertukaran pemuda Indonesia ke luar negeri. Mantan Wakil Menteri Pendidikan RI tahun 2010–2011 tersebut mengakui memiliki banyak kesamaan jalan hidup karena pada masa mahasiswa pernah mengikuti program pertukaran pemuda ke Kanada mewakili Sumbar. Karena memiliki rekam jejak yang bagus, keduanya pun kemudian berpeluang menjadi “group leader“ bahkan “country coordinator”.

Satu-satunya pembicara wanita dalam acara ini Dr. (HC) Nurhayati Subakat, CEO PT Paragon Technology & Innovation yang menjadi sponsor dalam penerbitan buku biografi Dr. Shofwan Karim. Dalam kesaksiannya, wanita hebat di balik kesuksesan produk kosmetik “Wardah” ini mengulas kesannya terhadap buku ini. Menurutnya, dengan membaca buku ini setidaknya terdapat tiga hikmah yang dapat dipetik. Pertama, buku-buku ini dapat menjadi “legacy” sebagai pusaka bagi anak cucu. Kedua, buku ini bercerita sesuatu yang baru sehingga mengisi kekosongan yang ada “narrowing gap”. Ketiga, berbagi semangat mendokumentasikan sejarah agar nilai-nilainya dapat diwariskan kepada generasi Milenial yang dapat menuntun menuju masyarakat yang lebih beradab dan beradat.

Cover Buku Memoar Shofwan Karim
Cover Buku Memoar Shofwan Karim

Ulama senior Sumbar Buya Mas’oed Abidin dan Didi Rahmadi, S.Sos, MA (dosen Fisipol UMSB) menyorot tentang perbedaan pandangan politik antara M. Natsir dengan Soekarno. Mantan sekretaris pribadi M. Natsir tersebut juga memberikan kesaksiannya tentang upaya-upaya M. Natsir dalam mewujudkan negara Islam di Indonesia secara konstitusional.

Tokoh pers nasional, H. Basril Djabar menceritakan kesan atas semangat kegigihan seorang Shofwan Karim sehingga bisa sukses dalam berbagai dimensi, tidak saja dalam bidang pendidikan, akademisi, maupun keluarga. Penasehat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar tersebut juga menjelaskan interaksi mereka yang cukup intens tidak saja karena sama-sama menjabat sebagai Komisaris PT Semen Padang namun juga kesamaan pandangan dalam mengembangkan dunia jurnalistik di Sumbar.

Acara diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan dari Rektor UMSB kepada para narasumber. Setiap peserta berkesempatan mendapat e-book kedua buku tersebut secara gratis.

| relumsb/bakaba

Dua Buku Shofwan Dibedah Para Cendikiawan

Para Ketua PWM Sumbar

https://hadinur.net/2020/02/02/ketua-pwm/

Buya Ahmad Rasyid Sutan Mansur

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat

Buya Ahmad Rasyid Sutan Mansur adalah Ketua PWM Sumbar ke-4, 1939-1936. Ayah Prof Dr Hadi Nur, Prof. Drs. Nur Anas Djamil, adalah Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat yang ke-21 (1995-2000), dan Prof. Dr. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) adalah ketua yang ke-5 (1946-1949).

No. Nama Tahun

1. Engku Dt. Panghulu Basa * 1925

2. Saalah Yusuf St. Mangkuto * 1926-1928

3. Saalah Yusuf St. Mangkuto * 1928-1930

4. A.R. Sutan Mansoer * 1930-1935

5. Prof. Dr. Hamka * 1946-1949

6. Saalah Yusuf St. Mangkuto ** 1949-1956

7. H.A. Malik Ahmad ** 1956-1958

8. Muhammad Yatim ** 1958-1962

9. H. Haroen El Ma’any 1962-1964

10. Drs. Jam’an Saleh, M.O 1964-1966

11. H.A.K. Dt. Gunung Hijau 1966-1969

12. H.A.K. Dt. Gunung Hijau 1969-1972

13. H. Zainoel Abidin Syuaib 1972-1975

14. H. Zainoel Abidin Syuaib 1975-1978

15. H. Zainoel Abidin Syuaib 1978-1983

16. H. Zainoel Abidin Syuaib 1983-1984

17. H. Hasan Ahmad 1984-1984

18. H.M. Idris Manaf 1984-1986

19. H. Amir Ali 1986-1991

20. H. Radin Rahman 1991-1995

21. Prof. Drs. H. Nur Anas Djamil 1995-2000

22. Dr. H. Shofwan Karim Elhussein, M.A. 2000-2005

23. Drs. H. RB. Khatib Pahlawan Kayo 2005-2010

24. Drs. H. Dasril Ilyas 2010-2013

25. Prof. Dr. H. Rusydi AM. Lc. M.Ag. 2013-2015

26. Dr. H. Shofwan Karim Elhussein, M.A. 2015-2020

* Periode Perintis ** Ketua Sumatera Tengah

%d blogger menyukai ini: