Gelar Pahlawan Bagi Gus Dur Perlu Pengkajian – Yahoo! Indonesia News

Gelar Pahlawan Bagi Gus Dur Perlu Pengkajian

Antara

Antara – Selasa, 19 Januari

 Gelar Pahlawan Bagi Gus Dur Perlu Pengkajian

Padang (ANTARA) – Cendekiawan muslim Sumbar, Dr.Shofwan Karim, mengatakan, pemberian gelar pahlawan bagi mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) perlu pengkajian.

"Butuh proses, dan mari dipelajari lagi. Harus dilihat dulu aturan, sebelum menetapkannya," kata Shofwan di Padang, Senin.

Mantan Ketua PW Muhammadiyah Sumbar itu mengatakan, banyak sekali orang yang sudah berjasa di negeri ini yang belum dianugerahi gelar. Di Sumbar, ada Tan Malaka, M Asa`ad, dan tokoh-tokoh lainnya.

Karena itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumbar itu mengingatkan, pemberian gelar pahlawan memerlukan kajian akademik, sosial budaya, sejarah dan peraturan.

Secara akademik, kata dia, yang dikatakan pahlawan itu adalah orang berjasa dalam suatu bangsa, dalam masa perjuangan kemerdekaan.

"Belum ada gelar pahlawan diberikan pada orang yang berjasa setelah kemerdekaan," kata dia.

Sekarang, kata dia, Gus Dur dianggap berjasa besar dalam memberikan porsi yang berimbang kepada seluruh elemen bangsa baik mayoritas maupun minoritas.

Gelar Pahlawan Bagi Gus Dur Perlu Pengkajian – Yahoo! Indonesia News

Facebook | Shofwan Karim

DSC01983 

Facebook | Shofwan Karim

Peace: Mohammad Natsir (1908-1993)

 

Wednesday, June 28, 2006

Mohammad Natsir (1908-1993)

 Mohammad Natsir (1908-1993)
Oleh Shofwan Karim

Mohammad Natsir adalah seorang tokoh kunci dan pejuang yang gigih mempertahankan negara kesatuan RI, yang sekarang menjadi pembicaraan hangat karena melemahnya rasa kesatuan bangsa sebagai akibat reformasi yang kebablasan. Berkali-kali dia menyelamatkan Republik dari ancaman perpecahan. Ia lah yang pada tahun 1949 berhasil membujuk Syafruddin Prawiranegara, yang bersama Sudirman merasa tersinggung dengan perundingan Rum-Royen, untuk kembali ke Jogya dan menyerahkan pemerintahan kembali kepada Sukarno Hatta. Dia jugalah kemudian yang berhasil melunakkan tokoh Aceh, Daud Beureuh yang menolak bergabung dengan Sumatera Utara pada tahun 1950, terutama karena keyakinan Daud Beureuh akan kesalehan Natsir, sikap pribadi yang tetap dipegang teguh sampai akhir hayatnya. Natsir juga seorang tokoh pendidik, pembela rakyat kecil dan negarawan terkemuka di Indonesia pada abad kedua puluh. Kemudian ketika kegiatan politiknya dihambat oleh penguasa, dia berjuang melalui dakwah dengan membentuk Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dimana dia berkiprah sampai akhir hayatnya membangun masyarakat di kota-kota dan pedalaman terpencil.
Natsir dilahirkan di Alahan Panjang, Solok pada tanggal 17 Juli 1908. Kedua orang tuanya berasal dari Maninjau. Ayahnya Idris Sutan Saripado adalah pegawai pemerintah dan pernah menjadi Asisten Demang di Bonjol. Natsir adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Dia kemudian diangkat menjadi penghulu atau kepala suku Piliang dengan gelar Datuk Sinaro Panjang di Pasar Maninjau.
Natsir pada mulanya sekolah di Sekolah Dasar pemerintah di Maninjau, kemudian HIS pemerintah di Solok, HIS Adabiyah di Padang, HIS Solok dan kembali HIS pemerintah di Padang. Natsir kemudian meneruskan studinya di Mulo Padang, seterusnya AMS A 2 (SMA jurusan Sastra Barat) di Bandung. Walaupun akan mendapatkan beasiswa seperti di Mulo dan AMS untuk belajar di Fakultas Hukum di Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Rotterdam, dia tidak melanjutkan studinya dan lebih tertarik pada perjuangan Islam.
Pendidikan agama mulanya diperoleh dari orang tuanya, kemudian ia masuk Madrasah Diniyah di Solok pada sore hari dan belajar mengaji Al Qur’an pada malam hari di surau. Pengetahuan agamanya bertambah dalam di Bandung ketika dia berguru kepada ustaz Abbas Hasan, tokoh Persatuan Islam di Bandung. Kepribadian A Hasan dan tokoh-tokoh lainnya yang hidup sederhana, rapi dalam bekerja, alim dan tajam argumentasinya dan berani mengemukakan pendapat tampaknya cukup berpengaruh pada kepribadian Natsir kemudian. Natsir mendalami Islam, bukan hanya mengenai teologi (tauhid), ilmu fiqih (syari’ah), tafsir dan hadis semata, tetapi juga filsafat, sejarah, kebudayaan dan politik Islam. Di samping itu ia juga belajar dari H. Agus Salim, Syekh Ahmad Soorkati, HOS Cokroaminoto dan A.M. Sangaji, tokoh-tokoh Islam terkemuka pada waktu itu, beberapa di antaranya adalah tokoh pembaharu Islam yang mengikuti pemikiran Mohammad Abduh di Mesir. Pengalaman ini semua memperkokoh keyakinan Natsir untuk berjuang dalam menegakkan agama Islam.
Pengalaman organisasinya mulai ketika dia masuk Jong Islamieten Bond (JIB) di Padang. Di Bandung dia menjadi wakil ketua JIB pada 1929-1932, menjadi ketua Partai Islam Indonesia cabang Bandung, dan pada tahun empat puluhan menjadi anggota Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI), cikal bakal partai Islam Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) yang kemudian dipimpinnya. Ia menjalin hubungan dengan tokoh politik seperti Wiwoho yang terkenal dengan mosinya “Indonesia Berparlemen” kepada pemerintah Belanda, dengan Sukarno, dan tokoh politik Islam lainnya yang kemudian menjadi tokoh Masyumi, seperti Kasman Singodimejo, Yusuf Wibisono dan Mohammad Roem.
Berbeda dengan tokoh pergerakan lainnya, sejak semula Natsir juga bergerak di bidang dakwah untuk membina kader. Pada mulanya ia aktif dalam pendidikan agama di Bandung, kemudian mendirikan lembaga Pendidikan Islam (Pendis) yang mengasuh sekolah dari TK, HIS, Mulo dan Kweekschool yang dipimpinnya 1932-1942. Di samping itu ia rajin menulis artikel di majalah terkemuka, seperti Panji Islam, Al Manar, Pembela Islam dan Pedoman Masyarakat. Dalam tulisannya dia membela dan mempertahankan Islam dari serangan kaum nasionalis yang kurang mengerti Islam seperti Ir. Sukarno dan Dr. Sutomo. Khusus dengan Sukarno, Natsir terlibat polemik hebat dan panjang antara tahun 1936-1940an tentang bentuk dan dasar negara Indonesia yang akan didirikan. Natsir menolak ide sekularisasi dan westernisasi ala Turki di bawah Kemal Attaturk dan mempertahankan ide kesatuan agama dan negara. Tulisan-tulisannya yang mengeritik pandangan nasionalis sekuler Sukarno ini kemudian dibukukan bersama tulisan lainnya dalam dua jilid buku Capita Selecta.
Kegiatan politik Natsir menonjol sesudah dibukanya kesempatan mendirikan partai politik pada bulan November 1945. Bersama tokoh-tokoh Islam lainnya seperti Sukiman dan Roem, dia mendirikan partai Islam Masyumi, menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan anggota Badan Pekerja KNIP. Dalam kabinet Syahrir I dan II (1946-1947) dan dalam kabinet Hatta 1948 Natsir ditujuk sebagai Menteri Penerangan. Sebagai menteri, tanpa rasa rendah diri dia menerima tamunya di kantor menteri dengan pakaian amat sederhana, ditambal, sebagaimana ditulis kemudian oleh Prof. George Kahin, seorang ahli sejarah Indonesia berkebangsaan Amerika yang waktu itu mengunjunginya di Yogya.
Ketika terbentuknya negara RIS sebagai hasil perjanjian KMB pada akhir Desember 1949, Natsir memelopori kembali ke negara kesatuan RI dengan mengajukan Mosi Integral kepada parlemen RIS pada tanggal 3 April 1950. Bersama dengan Hatta yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri RIS, ide ini tercapai dengan dibentuknya negara kesatuan RI pada 17 Agustus 1950. Mungkin atas jasanya itu, Natsir ditunjuk sebagai Perdana Menteri oleh Sukarno, atau juga karena pengaruhnya yang besar, sebagaimana kemudian terlihat dari hasil Pemilu 1955..
Tidaklah mudah menjadi Perdana Menteri dalam keadaan sulit ketika itu. Hampir di semua daerah terdapat perasaan bergalau akibat perang yang menimbulkan rasa ketidak-puasan di mana-mana. Beberapa tokoh yang selama ini berjuang untuk Republik berontak, seperti Kartosuwiryo dan kemudian Kahar Muzakkar. Pengikut RMS dan Andi Azis yang berontak ke pada Hatta masih belum tertangani. MMC (Merapi Merbabu Complex) yang beraliran komunis berontak di Jawa Tengah. Daud Beureuh menolak menggabungkan Aceh ke dalam propinsi Sumatera Utara. Walaupun kemudian Natsir pada bulan Januari 1951 berhasil membujuk Daud Beureuh yang sengaja berkunjung ke Aceh sesudah Assaat dan Syafruddin gagal meyakinkannya, namun Daud Beureuh meninggalkan pemerintahan dan pulang kekampungnya di Pidie. Dengan berat hati Natsir terpaksa membekukan DPR Sumatera Tengah dan mengangkat gubernur Ruslan Mulyoharjo sebagai gubernur. Dalam waktunya yang pendek (September 1950-April 51) Natsir membawa RI dari suasana revolusi ke suasana tertib sipil dan meletakkan dasar politik demokrasi dengan menghadapi bermacam kendala, termasuk perbedaan pendapat dengan Sukarno dan partainya PNI.
Sesudah meletakkan jabatannya di pemerintahan, Natsir aktif dalam perjuangan membangun bangsa melalui partai dan menjadi anggota parlemen. Pada pemilihan umum 1955 Partai Islam Masyumi yang dipimpinnya mendapat suara kedua terbanyak sesudah PNI walaupun memperoleh kursi yang sama dengan PNI. Pada sidang-sidang konstituante antara 1956-1957 dengan gigih dia mempertahankan pendiriannya untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara. Sebelum sidang konstituante ini berhasil menetapkan Anggaran Dasar Negara, Sukarno memaklumkan kembali ke UUD 1945 dan membubarkan parlemen serta konstituante hasil pemilu. Natsir menjadi penantang ide dan politik Sukarno yang gigih dan teguh.
Penantangannya kepada Sukarno terutama karena Sukarno kemudian berubah menjadi pemimpin yang otoriter dan menggenggam kekuasaan di tangannya sendiri dengan bekerjasama dengan Partai Komunis Indonesia dan partai lain yang mau menuruti kemauan Sukarno. Bukan saja Natsir, Hatta pun malah juga terdesak. Hatta meletakkan jabatannya sebagai usaha mengembalikan presiden Sukarno ke jalur yang benar, tapi hal itu malah makin membuat Sukarno leluasa. Natsir makin terjepit karena pengaruh PKI yang anti Islam.
Pergolakan politik akibat perebutan hegemoni Islam dan non Islam yang mencuat secara demokratis di parlemen diikuti pula oleh kekisruhan ekonomi dan politik secara tidak terkontrol di luar parlemen. Hal ini berujung dengan munculnya kegiatan kedaerahan yang berpuncak pada pemberontakan daerah dan PRRI pada tahun 1958. Natsir yang dimusuhi Sukarno bersama Sjafruddin Prawiranegara dan Burhanuddin Harahap melarikan diri dari Jakarta dan ikut terlibat dalam gerakan itu. Karena itu partai Masyumi dan PSI Syahrir dipaksa membubarkan diri oleh Sukarno.
Ketika PRRI berakhir dengan pemberian amnesti, Natsir bersama tokoh lainnya kembali, namun kemudian ia dikarantina di Batu, Jawa Timur (1960-62), kemudian di Rumah Tahanan Militer Jakarta sampai dibebaskan oleh pemerintahan Suharto tahun 1966. Ia dibebaskan tanpa pengadilan dan satu tuduhanpun kepadanya.
Walaupun tidak lagi dipakai secara formal, Natsir tetap mempunyai pengaruh dan menyumbang bagi kepentingan bangsa, misalnya ikut membantu pemulihan hubungan Indonesia dengan Malaysia. Melalui hubungan baiknya, Natsir menulis surat pribadi kepada Perdana Menteri Malaysia Tungku Abdul Rahman guna mengakhiri konfrontasi Indonesia-Malaysia yang kemudian segera terwujud.
Karena tidak mungkin lagi terjun ke politik, Natsir mengalihkan kegiatannya, berdakwah melalui perbuatan nyata dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Pada tahun 1967 dia mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang aktif dalam gerakan amal. Lembaga ini dengan Natsir sebagai tokoh sentral, aktif berdakwah bukan saja kepada masyarakat dan para mahasiswa di Jakarta dan kota lainnya, tapi juga di daerah terasing, membantu pendirian rumah sakit Islam dan pembangunan mesjid, dan mengirim mahasiswa tugas belajar mendalami Islam di Timur Tengah. Bahkan di antara mahasiswa ini kemudian menjadi tokoh nasional yang religius seperti Amien Rais Yusril Ihza Mahendra, dan Nurchalis Majid, di antara beberapa tokoh penggerak orde reformasi yang mengganti orde Suharto. Kegiatan dakwahnya ini telah menyebabkan hubungannya dengan masyarakat luas tetap terpelihara, hidup terus sebagai pemimpin informal. Kegiatan ini juga membawa Natsir menjadi tokoh Islam terkenal di dunia internasional dengan menjadi Wakil Presiden Kongres Islam se dunia (Muktamar Alam Islami) yang berkedudukan di Karachi (1967)dan anggota Rabithah Alam Islami (1969) dan anggota pendiri Dewan Masjid se Dunia (1976) yang berkedudukan di Mekkah. Di samping bantuan para simpatisannya di dalam negeri, badan-badan dunia ini kemudian banyak membantu gerakan amal DDII, termasuk pembangunan Rumah Sakit Islam di beberapa tempat di Indonesia. Pada tahun 1987 Natsir menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic Studies, London.
. Namun kebebasannya hilang kembali karena ia ikut terlibat dalam kelompok petisi 50 yang mengeritik Suharto pada tahun 1980. Ia dicekal dalam semua kegiatan, termasuk bepergian ke luar negeri. Sejak itu Natsir aktif mengendalikan kegiatan dakwah di kantor Dewan Dakwah Salemba Jakarta yang sekalian berfungsi sebagai masjid dan pusat kegiatan diskusi, serta terus menerus menerima tamu mengenai kegiatan Islam.
Atas segala jasa dan kegiatannya pada tahun 1957 Natsir memperoleh bintang kehormatan dari Republik Tunisia untuk perjuangannya membantu kemerdekaaan Negara-negara Islam di Afrika Utara. Tahun 1967 dia mendapat gelar Doktor HC dari Universitas Islam Libanon dalam bidang politik Islam, menerima Faisal Award dari kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1980 untuk pengabdiannya pada Islam dan Dr HC dari Universitas Sains dan Teknologi Malaysia pada tahun 1991 dalam bidang pemikiran Islam.
Pada tanggal 7 Februari 1993 Natsir meninggal dunia di Jakarta dan dikuburkan di TPU Karet, Tanah Abang. Ucapan belasungkawa datang tidak saja dari simpatisannya di dalam negeri yang sebagian ikut mengantar jenazahnya ke pembaringan terakhir, tapi juga dari luar negeri, termasuk mantan Perdana Menteri Jepang, Takeo Fukuda yang mengirim surat duka kepada keluarga almarhum dan bangsa Indonesia
Walaupun telah tiada, buah karya dan pemikirannya dapat dibaca dari puluhan tulisannya yang sudah beredar, mulai dari bidang politik, agama dan sosial, di samping lembaga-lembaga amal yang didirikannya. Perkawinannya dengan Nur Nahar, aktifis JIB pada tahun 1934 di Bandung telah memberinya enam orang anak.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Ahmad Syafi’i Ma’arif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, (Bandung : Mizan, 1993)
Ajib Rosidi, M. Natsir, Sebuah Biografi, (Jakarta : Girimukti Pasaka, 1990)
Anwar Harjono, et-al., Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1996)
Lukman Harun, "Hari-Hari Terakhir PDRI" dalam Endang Saifuddin Anshari dan Amin Rais, Pak Natsir 80 Tahun, Pandangan dan Penilaian Generasi Muda, (Jakarta : Media Dakwah, 1988)
Mohammad Natsir, “Politik Melalui Jalur Dakwah” dalam Memoar Senarai Kiprah Sejarah,(Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1993)
Mohammad Natsir, Pendidikan, Pengorbanan, Kepemimpinan, Primordialisme dan Nostalgia, (Jakarta : Media Dakwah, 1987)
Tohir Luth, M.Natsir, Dakwah dan pemikirannya, (Jakarta: Gema Insani, 1999)
Yusril Ihza Mahendra, Modernisme Islam dan Demokrasi, Pandangan Politik M.Natsir dalam Islamika No.3, 1994
Yusuf Abdullah Puar, Mohammad Natsir 70 tahun, (Jakarta: Pustaka Antara, 1978)

Posted by Shofwan Karim at 10:22 AM

2 comments:

Fami Fachrudin said…

Bang Shofwan, mohon ijin tulisan tentang Natsir saya posting di blog saya. Sbg pengagum pak Natsir, saya perlu mengkoleksi artikel tentang beliau. Terimakasih sebelumnya.

10:05 AM

Shofwan Karim said…

Alhamdulillah dan saya bersyukur kalau dipajangkan di Blognya tentang Moh Natsir. Memang itu antara lain tujuan saya untuk terus memberikan info tentang tokoh Ummat, salah satu di antaranya Bapak Moh. Matsir. Salam, Shofwan Karin

2:26 PM

Post a Comment

Links to this post
Mohammad Natsir (1908-1993)
Oleh: Shofwan Karim Mohammad Natsir adalah seorang tokoh kunci dan pejuang yang gigih mempertahankan negara kesatuan RI, yang sekarang menjadi pembicaraan hangat karena melemahnya rasa kesatuan bangsa sebagai akibat reformasi yang
Posted byFami Fachrudin at10:03 AM

Peace: Mohammad Natsir (1908-1993)

Surat Shofwan Karim dari London1

Surat Shofwan Karim dari London (1):
Menjadi Mahasiswa Terjun Bebas
Bak Sepasang Merpati
Sahabatku H. Darlis, Zaili, Hasril dan Eko. Hari Senin 26/7 kami berangkat dari
Bandara Lama Internasional Kairo. Bandara ini khusus basis penerbangan Egypt Air.
Penerbangan lain dari berbagai perusahan seluruh dunia terletak pada Bandara Baru.
Kami berangkat ke London dengan MS 777 pukul 14.05 waktu Kairo. Kami sampai di
Terminal Heathrow London seyogyanya menurut tulisan di tiket adalah pk. 17.05 waktu
setempat.
Penerbangan ditempuh 4 jam 55 menit. Akan tetapi, menurut Eddy Pratomo, SH,
MA, Deputy Chief of Mission, atau wakil Duta Besar RI di London, kami terlambat. Ia
telah berada di airport menjemput kami sesuai jadwal. Tetapi pesawat kami terlambat 45
menit.
Meskipun kami sudah di London, tetapi pikiran saya masih di Kairo. Ada tiga hal
lain tentang Kairo yang akan saya ceritakan. Pertama soal suka-duka mahasiswa
Indonesia umumnya dan khususnya Minang di Mesir. Kedua tentang Pimpinan Cabang
Istimewa Muhammadiyah, Kairo, Mesir.
Dan ketiga apa yang saya lihat dan pikirkan ketika kami diajak oleh Pengurus
KMM mengunjungi kota Wisata Alexandria atau Iskandariyah, pantai Utara Mesir pada
Ahad, 25/7 sehari sebelum ke London. Dengan demikian, apa yang menjadi agenda,
kami lakukan serta kami pikirkan di London, khususnya dan Inggris umumnya, akan saya
tunda pada surat berikutnya.
Seorang Mahasiswa menceritakan kepada saya. Dan ini dibenarkan oleh salah
seorang staf di KBRI, ketika saya pamitan dan diterima oleh Kuasa Usaha At Interim S.
Permadi. Seperti telah disebutkan Dubes Prof Dr. Bachtiar Aly sedang ke Indonesia.
Sekarang cerita yang pertama dulu.
Kedatangan mahsiswa Indonesia belajar di Kairo melalui tiga cara. Pertama
melalui testing Departemen agama RI. Dulu itu dilakukan di pusat. Sejak dua tahun
terakhir sudah di IAIN yang ditunjuk di beberapa daerah, termasuk di IAIN Imam
Banojol Padang.
Ini biasanya, kalau lulus tahun ini, maka tahun depan sudah berangkat di Kairo
dan langsung dapat bea-siswa dan jelas universitas yang dituju, misalnya al-Azhar. Tetapi
jangan lupa pula, Universitas Al-Azhar tidak hanya ada di Kairo tetapi juga di bebrapa
provinsi Mesir di luar ibukota ini.
Mahasiswa Indonesia, bahkan dari KMM pun ada yang kuliah di luar Kairo itu.
Oh, ya perlu saya jelaskan agak detil. Bea siswa dari al-Azhar atau dari lembaga atau
perorangan manapun hanya untuk kuliah agama di beberapa universitas dan institut di
Mesir. Di luar bidang studi agama, kecil sekali kemungkinannya mendapat beasiswa
tersebut.
Model kedua adalah dengan terjun pakai “parasut”. Ini istilah itu mereka yang
tidak melalui testing Depag RI, tetapi melalui upaya perorangan. Di antraranya berkat
jasa alumni dari berbagai pesantren dan Madarasah Aliyah di Indonesia.
Para senior ini menelusuri kemampuan dan minat dari adik-adik mereka. Lalu
mereka yang mampu dan berminat sangat tinggi diminta mengirimkan copy ijazah, akta
kelahiran dan passport yang sudah dilegalisir. Semua copyian yang telah dilegalisir ini
sampai di Kairo diurus oleh senior untuk mendapatkan pengantar khusus dari KBRI di
sini. Kemudian barulah dinegosiasi ke jurusan, fakultas dan Universitas yang dituju.
Biasanya kalau berjalan lancara, maka masing-masing calon sudah kmendapat
surat penermaan langsung. Dengan begitu maka calon mahasiswa segera mengurus visa
mahasiswa di Kedutaan Mesir di Jakarta. Hanya, mereka harus membiayai sendiri
kedatangannya ke Mesir dengan tikt pulang-pergi yang open.
Di antara mereka ada yang langsung kuliah pada tahun itu juga. Jadi tidak perlu
menunggu tahun depan. Tergantung kecepatan pengurusan dan kalender tahun akademik
baru yang bakal diikuti. Bagi mereka yang beruntung, langsung bahkan dapat beasiswa.
Bagi yang tidak harus rela menanggung dulu bea hidup sendiri. Biasanya keadaan itu
hanya berlangsung satu semster atau paling lama satu tahun. Berikutnya beasiswa sudah
tersedia.
Ketiga ada istilah terjun “bebas”. Ini berlaku untuk anak-anak muda yang nekat,
berani dan siap tanggung resiko. Saya tidak akan sebutkan sumbernya. Tetapi si Fulan,
misalnya, sukses melakukan itu. Sekarang dia kuliah dengan baik dan berprestasi baik
dan mendapat beasiswa sama dengan yang proses normal lainnya.
Si Fulan sebut saja begitu datang ke Mesir dengan visa turis. Tinggal di hotel 2
sampai 3 hari, kemudian menghilang dan mencari tempat himpunan kekeluargaan
mahasiswa yang ada di sini. Seperti telah disinggung pada surat sebelumnya, ada 16
kekeluargaan di sini. Kemudian ada lagi 4 organisasi lintas ethnis dan daerah di
Indonesia. Misalnya Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah, Pimpinan Cabang
Istimewa Nahdhatul Ulama, Keluarga Persatuan Islam (Persis), dan PPMI sendiri.
Semua kekeluargaan mahasiswa dan organisasi itu mempunyai sekretariat dan
tempat berkumpul resmi. Sekitar seribuan orang warga Inndonesia non-mahasiswa yang
sudah bermukim lama dengan berbagai profesi di sini, juga tempat berlindung sementara
mereka. Belakangan setelah diproses, seperti yang terjun “parasut” tadi, mereka akan
menjadi mahasiswa legal.
Bea-siswa yang mereka adalah sama akhirnya. Baik yang resmi, baik yang
“parasut” maupun terjun bebas tanpa parasut. Jumlahnya untuk yang tinggal di asrama
adalah 90 (sembilan puluh) pounds Mesir. Untuk yang non-asrama162(seratus enam
puluh dua) pounds Mesir. Kira-kira setara dengan 27 dan 15 dollar AS . Atau kalau
dirupiahkan langsung dari pounds Mesir setara 1500 rupiah, jadinya antara 243 ribu dan
135 ribu rupiah.
Untuk yang tinggal di asrama, mereka semua difasilitasi gratis termasuk makan
siang. Untuk mereka yang tinggal di luar, tentu saja bersama-sama kos dengan beberapa
teman di satu kamar tentu agak mengencangkan ikat pinggang. Tetapi, sekedar bertahan
untuk hidup, masih bisa. Karena beras satu kilo hanya 1 pound atau seribu lima ratus
rupiah. Bandingkan lain, satu jam pakai internet 1 pound atau juga 1500 rupiah.
Bagi yang campin dan cekatan, dan ini umumnya mereka yang terjun bebas,
banyak hal bisa dilakukan untuk tambah belanja. Suka duka mereka bervariasi. Ada yang
menjadi pembantu di toko. Ada yang jadi sopir dan ada yang menjadi penjaga dan
pelayan warung internet. Apalagi sejak akhir Juni sampai September nanti mereka libur
panjang musim panas. Yang paling enteng kerjanya adalah menjadi perantara untuk
bermacam keperluan orang . Sejak dari tiket pesawat sampai ke alat alat elektonik hingga
keperluan rumah tangga . Modalnya hanysa satu : telepon genggam atau HP.
Kalau ingin lebih hemat dan banyak suka rianya, adalagi. Dan ini juga berlaku
bagi mereka yang suka suka nekat dalam bentuk lain. Mulai kuliah, langsung cari
pasangan dan menikah. Tinggal bersama dan biya digabung berdua dan masak sendiri
pula lagi. Bahkan tak jarang, yang nekat begini lebih tinggi prestasinya . Mungkin karena
lebih konsentarasi dan bahagia. Kami bertemu dengan satu pasangan mahasiswamahasiswi
seperti ini. Mereka tampak cerah. Bak sepasang merpati yang terbang dan
pulang ke rumahnya yang damai dan belajar berdua-dua.***.

Surat Shofwan Karim dari London1

About the Bureau

 http://exchanges.state.gov/about.html

About the Bureau

%d blogger menyukai ini: