International Visitor Leadership Program of US Gov

 http://shofwankarim-pluralitassosio-kultural.blogspot.com/

 

NYC

 

 

CapitolHill

 

Imnati.NYC  

WhiteHouse

NYC.Imnati

International Visitor Leadership Program of US Gov

UMSB | Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat – Home

FGD.UMSB.01.08.2009 

Pada tanggal 1 Agustus 2009 Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat melakukan Fokus Grup Diskusi (FGD) dengan Fasilitator dan Pemateri dari DIKTI Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sumatera Barat Bapak M. Safar Nasir, M.Si sekretaris DIKTI LITBANG PP, Bapak Prof. Dr. Eddy Suandi Hamid, M.Sc (wakil ketua DIKTI LITBANG PPM), dan juga dihadiri oleh Rektor UMSU Drs. Bahdin Nur Tanjung, MM. Diskusi tersebut dihadiri pimpinan, dekan dan staf  dilingkungan Univesitas Muhammadiyah Sumatera Barat. FGD bertujuan untuk peningkatan kualitas akademik dan manajemen kelembagaan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Bapak Prof. Dr. Eddy Suandi Hamid, M.Sc yang juga adalah rektor Univ. Islam Indonesia (UII) memberikan banyak masukan dalam peningkatan akademik dari pengalamannya memimpin UII.

UMSB | Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat – Home

Shofwan Karim’s Family – Shofwan Karim Raih Gelar Doktor Ilmu Agama

 

 

Blog Entry
Shofwan Karim Raih Gelar Doktor Ilmu Agama
Apr 25, ’08 12:41 PM
for everyone

Shofwan Karim Raih Gelar Doktor Ilmu Agama

Selasa, 22 April 2008

Padang, Padek– Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatra Barat (UMSB) Dr Shofwan Karim Elha MA berhasil mempertahankan disertasinya pada ujian promosi doktor dalam bidang Ilmu Agama Islam, di Auditorium Sekolah Pascasarjana (SPS) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Senin (21/4). Pada ujian yang berlangsung selama satu jam, cendikiawan Sumbar tersebut berhasil menjawab pelbagai pertanyaan tim penguji terhadap disertasinya berjudul, “Nasionalisme, Pancasila, dan Islam Sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, studi terhadap pemikiran Mohammad Natsir”.

Tim penguji diketuai Prof Dr Azyumardi Azra, bersama Prof Dr Bambang Pranowo, Prof Dr Sudjiyanto, Prof Dr Suwito dan Dr Damhari. Ia memperoleh gelar Doktor dengan prediket “Amat Baik” dan indeks prestasi 3,18 pada ujian yang ikut dihadiri Wakil Ketua DPD RI Irman Gusman, Anggota DPD RI Januar Muin, Dirut PT Telkom Rinaldi Firmansyah, Dirut PT Semen Padang Endang Irzal, dan mantan Direktur Transmisi dan Distribusi PLN Herman Darnel.

Saat diuji, Azyumardi Azra sempat mempertanyakan seputar sosok pejuang M Natsir, apakah termasuk kelompok yang berpikir salafi, modernis, atau corak Islam transnasional. Shofwan Karim menjawab bahwa pejuang dari Sumbar tersebut, merupakan pemikir yang modernis, karena Ia menggunakan Alquran dan Sunnah dengan akal serta menentukan corak berbangsa dan bernegara dengan ajaran Islam. Menurut Shofwan disertasinya menekankan tidak perlunya dipertentangan nasionalisme Islam dan sekuler, karena wacana nasionalisme tidak lagi pada tataran filosofis. “Sekarang sudah pada tataran aplikasi, bagaimana kita memajukan pengabdian di segala bidang. Baik bidang SDM, akhlak, disiplin dan penegakan hukum serta produktivitas terhadap bangsa dan negara,” katanya kepada Padang Ekspres. (fas/esg)


My email :
Add: shofwan.karim@gmail.com,
Cc : shofwankarim2009@windowslive.com, shofwankarim@yahoo.com

Bcc : rektor@umsb.ac.id, shofwan.karim@semenpadang.co.id, cwyalumniindonesia@gmail.com.
My spaces, blogs, groups and communities:
http://www.shofwankarim.multiply.com,

2.Shofwan.Karim2

http://shofwankarim.spa ces.live.com,
http://shofwantuunitedstates.spaces.live.com
http://www.shofwankarim.blogspot.com
http://www.universitasmuhammadiyah.blogspot.com
http://www.shofwankarim-pluralitassosio-kultural.blogspot.com
http://www.shofwankarim-resources.blogspot.com,
http://cwyindonesia.multiply.com
http://www.semenpadang.co.id,
http://www.my.opera.com/shofwan
http://picasaweb.google.com/shofwan.karim

Prev: PADANG EKSPRES Shofwan Bakal Pertahankan Disertasi (selengkapnya….)
Next: London-Kualalumpur

UMSB | Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat – Home

 http://www.umsb.ac.id/

UMSB | Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat – Home

Harian Singgalang Online

 

Senin, 04 January 2010

Suka Duka TKI Timur Tengah

LAPORAN SHOFWAN KARIM DARI MAROKO (10-HABIS)
Seperti tak habis-ha-bisnya ispirasi untuk laporan berdasarkan pandangan ma-ta dalam kunjungan kali ini. Di dalam penerbangan  kem-bali ke Tanah Air antara Casablanca ke Dubai, laporan saya dalam pesawat. Di pesa-wat ada pelayanan charging battery oleh air crew Emirates.
Sesampai di Dubai dini-hari (25/12), saya langsung menuju gate pemberang-katan ke Jakarta. Alangkah kagetnya saya melihat ratu-san orang, kebanyakan wani-ta di ruang tunggu sebelum boarding. Begitu banyaknya, sehingga tak tertampung oleh kursi yang tersedia dan se-bagian besar duduk di lantai.
Mereka adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang cuti atau pulang habis kon-trak dengan majikan mereka di berbagai negara di Teluk Persia dan Jazirah Arabia, termasuk Afrika Utara. Me-reka berangkat dari kota di mana bekerja untuk transit di Dubai, selanjutnya terus ke Tanah Air. Saya tertarik ber-cakap-cakap dengan mereka. Beberapa yang duduk di kursi kelihatan agak sedikit intelek. Pertanyaan saya sederhana saja. Apa yang paling menyenangkan?
Seorang yang bekerja di Saudi Arabia mengatakan, kebahagiaannya adalah ke-tika dibawa majikannya libur naik mobil bagus berwisata ke Bahrain yang terletak di sebuah pulau yang bukan temasuk Arab Saudi, tetapi sebuah Negara sendiri. Ia dibawa majikannya dengan mobil naik jembatan terpan-jang kedua di dunia. Jem-batan itu pangkalnya di wila-yah Dammam, Provinsi Ti-mur, Saudi Arabia dan ber-ujung di Bahrain.
Inilah pengalaman per-tama sepanjang hidup, ka-tanya. TKI yang saya ajak bercakap-cakap ini di an-taranya dari Lampung, Je-para, Jawa Tengah dan Sum-bawa, NTB. Menurutnya begi tu panjangnya Jembatan Raja Fahd itu, sehingga tak nampak ujungnya entah di mana. Setelah saya lacak di internet, ternyata panjang jembatan itu 25 km. Jem-batan ini terpanjang kedua setelah Nyatanya Bang Na Expressway, di Thailand (54 km) dari 10 jembatan terpan-jang di dunia.
Mengapa orang Arab lebih  suka naik jembatan  dan kenapa tidak naik pesawat atau kapal laut? Katanya, orang Arab ada juga takhayul-nya. Mereka takut air laut dan  karena kalau naik pesa-wat  atau naik kapal laut dan terjadi apa-apa, akan jatuh  ke laut. Dan laut pada hari kiamat nanti menjadi api.
Lalu ketika saya tanya, apa yang paling menyakitkan hati? Maka jawabnya me-nyentuh tali-dawai hati kebe-ragamaan saya. Katanya, saya sakit hati betul kepada majikan karena dijanjikan pergi umrah ke tanah suci Mekkah, tetapi tak jadi. Sam-pai hari kepulangan, sudah 15 bulan saya bekerja, janji itu belum juga ditepati, tu-tupnya sambil besemu sedih.
Data terbaru belum ter-lacak, tetapi menurut situs Depnaker-trans, selama tiga tahun (2003-2005), TKI yang diberangkatkan ke negara-negara Timur Tengah menca-pai 579.488 orang. Hanya 5.159 orang TKI atau sekitar 1% yang bekerja di sektor formal atau skill labor. Artinya, 99% bekerja di sektor informal, seperti penata laksana ru-mah tangga atau istilah Arab-nya khodimah.
Sementara jumlah TKI yang dikirim ke empat ne-gara Asia Timur (Jepang, Korea Selatan, Hong Kong dan Taiwan) pada periode yang sama 96.534 orang. Namun komposisi jenis profesi TKI di Asia Timur jauh lebih baik. Sebanyak 21.946 TKI (sekitar 22,73%) bekerja di sektor formal, mulai di pabrik ma-nufaktur, teknisi, industri pertanian/perikanan, hingga hiburan/entertainer. Lain-nya, sekitar 77,27%, bekerja di sektor informal. Sebagian besar TKI yang bekerja di sektor informal adalah pem-bantu rumah tangga  di Hong Kong dan Taiwan.
Kembali ke TKI tadi, saya bertanya lagi soal isu pende-ritaan sebagian TKI di Timur Tengah. Soal hukum pan-cung, soal penderitaan dan soal perilaku majikan terha-dap mereka. Seorang di anta-ranya mengatakan secara jujur memang ada kejadian yang tidak diinginkan. Tetapi amat tergantung juga kepada pribadi masing-masing dan nasib serta peluang yang tersedia. Kata seorang dari mereka, banyak juga majikan yang baik-baik. Kadang-kadang kita bahkan merasa bukan pembantu, karena si ibu atau si bapak ingin lang-sung melayani putra-putri-nya. Kita hanya kerja yang lain seperti bersih-bersih saja. Masak pun kadang ibu rumah. Bahkan ada yang diberi cuti, jalan-jalan dan umrah atau bahkan naik haji.
Biasanya nasib baik kalau bermajikan kepada keluarga para ulama, dosen dan pega-wai pemerintahan serta pe-bisnis besar atau kaum inte-lek yang budayanya cukup tinggi. Tetapi tak ayal juga kalau bernasib malang, mi-salnya mendapat majikan orang kebanyakan, guru ting-kat rendah atau pegawai rendahan dan pebisnis ren-dahan, ya sering dapat sum-pah serapah juga. Soal isu pemerkosaan juga harus hati-hati. Karena tidak ja-rang, sedikit saja si TKI memberi hati kepada lain jenis dalam keluarga atau tamu lainnya, maka itu bisa mengundang sengsara. Aneh nya, selalu saja yang salah TKI, meski sudah di bawa ke meja pengadilan.
Oleh karena itu, kita harus sangat hati-hati. Bagaimana lagi, katanya, anak-anak perlu biaya sekolah. Dengan hanya suami menjadi soko-ekonomi keluarga, pastilah pendidikan anak tidak sesuai keinginan. Dan kalau saya bekerja di daerah asal, mana ada yang memberi gaji me-madai. Berapa pendapatan, tanya saya? Wah, kalau dolar naik nilai tukarnya, maka  lumayan,  antara dua  sampai tiga juta rupiah perbulan. Tetapi sekarang dolar lagi turun, maka pendapatan juga turun. Maka tak salah, kalau mereka dianggap pahlawan devisa, seperti kata spanduk ucapan selamat datang yang menyambut mereka di pintu keluar Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng itu. (*)

</TD< tr>

Berita Lainnya

Harian Singgalang Online

%d blogger menyukai ini: