IVLP 2005, Washington, DC

Posted by Picasa

Hambatan-Hambatan dalam Dialog Antar-Agama

Hambatan-Hambatan dalam Dialog Antar-Agama
Oct 5, ’07 2:00 PM for everyone

Oleh Hassan Hanafi
ABSTRAKAgama dinamis, lawan dari agama statis, adalah konsep keagamaan yang bersifat liberal, spiritual, modernis, moral, internal, individual dan manusiawi, dan hasil dari pengalaman religius mendalam yang datang dari kedalaman hati manusia. Kredo, ritual, hukum, kesucian, institusi, sejarah adalah konsep sekunder dalam agama dinamis yang tidak bisa mengantarkan orang pada dialog agama. Sebaliknya, Transendensi membebaskan pikiran manusia dari dogmatisme, fiksasi, pendewaan dan materialisme. Ia merupakan sebagai sebuah konsep metafisik, kode etik universal, norma perilaku, dan sebuah nilai untuk dikuasai. Ia sama dengan bukti rasional, dengan kecenderungan umat manusia untuk selalu mencari yang melampaui. Dalam yang universal, semua yang partikular bertemu. Transendensi melindungi persamaan semua orang, budaya dan agama.+++KERJASAMA antarkeyakinan dimungkinkan melalui dialog antaragama sebagai disiplin yang ketat, jauh dari retorika kosong mengenai persaudaraan dan toleransi. Tujuan dialog bukanlah untuk mengubah keyakinan pihak lain, juga bukan untuk membuktikan bahwa agama seseorang salah. Ia bahkan bukan permasalahan preferensi atau pilihan bebas. Setiap dialog harus didasarkan pada norma-norma dan nilai-nilai bersama. Satu pihak tidak dapat dijadikan acuan untuk pihak yang lain. Setiap agama memiliki esensi atau substansi yang terlepas dari aksiden sejarah. Sebuah gerakan pembaharuan pada dasarnya adalah sebuah gerakan kembali kepada esensi tersebut setelah ia dikacaukan dengan aksiden sejarahnya, termasuk hasrat manusia dan kepentingan sosial. Setiap agama dimulai dengan pencerahannya sendiri, yang disebut pewahyuan, yang serupa dengan pemahaman manusia dan kesempurnaan alam, yaitu kesamaan antara wahyu, akal dan alam. Kesamaan ini dapat dianggap sebagai konsep yang esensial sementara komponen-komponen agama lainnya seperti dogma, ritual, institusi, hukum, sejarah dan simbol adalah konsep-konsep yang sekunder.Setiap agama memiliki dua kecenderungan. Yang pertama bersifat tradisional, dogmatis, ritualistik, institusional dan legal, merupakan hasil sejarah, hasil interaksi sosial dan manusia. Bergson menyebutnya agama statis. Ia adalah versi yang dipelajari oleh para sosiolog agama, antropolog dan sejarawan, terutama apabila mereka mengadopsi pendekatan positivistik terhadap agama, agama sebagai fenomena sosial, seperti yang dilakukan oleh Durkheim.1 Ia adalah versi yang membuat para mistikus dan pemikir bebas memberontak kepada agama. Ia adalah versi para guru hukum Yahudi, pengurus gereja, sekte seperti kaum Parisi, yang dikritik Yesus dalam Khutbah di Bukit, yang dikritik Luther dalam gerakan pembaharuannya melawan Katolikisme Roma, yang dilampaui Budha ketika melawan Hinduisme, yang juga ditinggal oleh Konfusius di agama Cina kuno, yang ada dalam I Ching, yang ditolak oleh semua mistikus sebagai agama hukum, dan bukan agama kasih sayang, Halaka bukan Hagada, Syariat bukan Haqiqat. Ia adalah versi yang membuat para pemikir bebas mencari agama alamiah seperti Lessing, Rousseau dan Tolstoy atau menjadi benar-benar atheis seperti Feuerbach. Versi ini melambangkan konsep-konsep agama yang sekunder.Kecenderungan yang kedua bersifat liberal, spiritual, modernis, moral, internal, individual dan manusiawi, hasil dari pengalaman religius yang mendalam, yang datang dari kedalaman hati manusia. Bergson2 menyebutnya Agama Dinamis. Ia adalah versi yang dianalisis oleh psikolog agama, fenomenolog, mistikus dan penyair, seperti W. James3 dan Van Der Leuw.4 Ia adalah versi yang membuat orang-orang terkemuka dan para pemikir bebas dekat dengan agama, melindungi agama rasional seperti Kant, agama alamiah seperti Lessing. Ia adalah versi para nabi dan bukan versi para guru hukum Yahudi atau rabbi, versi para mistikus dan bukan versi para ahli hukum, Hagada melawan Halaka, Ta’wil melawan Tanzil, esoterisme versus eksoterisme, Konfusius melawan agama Cina kuno, Budha melawan Hinduisme, Socrates melawan politeisme Yunani, Yesus melawan para pedagang di kuil, Muhammad melawan pemberhalaan. Ia adalah versi dari setiap gerakan pembaharuan, Luther melawan Katolikisme Roma, Spinoza dan Yahudi reformis serta liberal melawan Sinagog. Ia adalah agama para nabi, Ibrahim melawan kaum Sabean yang menyembah bintang, Musa melawan Fir’aun, Kaum Essenian melawan kaum Parisi. Versi ini melambangkan konsep agama yang esensial.Kredo adalah konsep sekunder dalam agama. Kredo pada awalnya adalah sebuah pandangan dunia, sebuah gagasan atau motivasi untuk bertindak. Kemudian ia diubah menjadi sebuah benda. Yesus tidak hanya merupakan kesatuan antara yang ideal dan yang real, antara ruh dan alam. Tetapi ia adalah sebuah kejadian sejarah, sebuah perwujudan harfiah dalam daging sama dengan konsep kenyataan dalam positivisme. Sementara dalam fenomenologi, fakta diletakkan dalam tanda kurung, hanya esensi yang dapat dirasa secara intuitif dan makna yang dapat dipahami secara rasional. Kredo kadang dianggap melampaui akal manusia sebagai sebuah misteri, sebuah urusan keyakinan dan bukan pemahaman. Doktrin dosa asal, penyelamatan, otoritas gereja, kesempurnaan paus dalam Kristianitas, perjanjian dan pemilihan dalam Yudaisme, politeisme dalam Hinduisme atau agama Cina kuno, mendorong akal manusia untuk memberontak atas nama pemahaman manusia. Sebuah dogma bukan merupakan kebenaran per se, sebuah teori yang memiliki kriteria validitas di dalam dirinya sendiri, tetapi sebuah alat sederhana untuk bertindak, sebuah motivasi untuk perilaku manusia. Dengan demikian, kepercayaan adalah konsep sekunder apabila ia dipahami sebagai sebuah benda, sebagai sebuah misteri, atau sebuah teori per se, dialog antar-agama yang didasarkan atas sistem-kepercayaan yang seperti itu tidak mungkin bisa terjadi karena tidak ada ruang untuk pemahaman bersama.Ritual juga merupakan konsep sekunder. Ritual adalah gerakan sederhana, eksternal dan simbolik untuk sesuatu yang lain. Ia tidak mengekspresikan esensi agama. Ia dapat dilakukan dengan bentuk murni tanpa isi. Ia bahkan dapat dilakukan untuk menutupi motivasi-motivasi tersembunyi lainnya seperti dalam kasus kemunafikan. Ritual bersifat eksternal, kesalehan bersifat internal. Semua gerakan pembaharuan bersifat anti-ritualistik dan pro-kesalehan. Konfusius menolak aspek ritualistik dalam agama Cina kuno, membuat agama bersifat etis, dan menentukan hubungan sosial antara individu dan pihak-pihak lain. Socrates mengeritik konsep tuhan yang tak bermoral, yang bersaing dan curang, dan mendukung standar moral untuk kehidupan agama. Budha juga mengubah agama sebagai gerakan tubuh menjadi agama sebagai pencerahan internal. Yesus menolak ritual-ritual eksternal seperti Sabath. Kehadiran Tuhan dalam hati manusia tidak memerlukan penampakan eksternal. Luther menolak sakramen-sakramen Katolik Roma. Orang yang beriman bisa hidup pada saat tindakan kepercayaannya berada dalam hubungan langsung dengan Tuhan tanpa perantara pengakuan iman. Tolstoy memahami kerajaan surga berada dalam diri kita dan bukan di luar diri kita. Ritual adalah sebuah konsep sekunder. Ia tidak dapat dijadikan norma dalam dialog antar-agama.Karena setiap agama memiliki sebuah sistem kepercayaan, keyakinan dan hukum, dan karena keyakinan adalah motivasi sederhana untuk tindakan yang baik, bukan sebuah nilai per se, sebuah benda atau teori, maka hukum juga merupakan aspek sekunder dalam agama. Hukum agama bukan merupakan hukuman dan bukan pula resep, yang dipaksakan oleh Kehendak Tuhan kepada manusia. Ia adalah hukum moral sederhana yang mengekspresikan sifat-dasar manusia yang tertuju kepada kesempurnaannya. Hukum pidana yang keras atau lembut tidak dapat dipahami karena tujuan agama bukan untuk menghukum. Hukum agama adalah hukum alam, yang didasarkan pada penegasan nilai-nilai manusia yang universal seperti kehidupan, akal, kebenaran dan kehormatan. Hukum mengikat, sementara alam membebaskan. Dalam setiap agama terdapat perselisihan eksternal antara makna literal dengan makna spiritual kitab suci. Makna literal biasanya adalah makna hukum. Dalam Kristianitas pertentangannya adalah antara hukum dan kasih sayang, dalam Yudaisme antara Halaka dengan Hagada, dalam Islam antara para ahli hukum dengan para mistikus, antara Tanzil dengan Ta’wil. Kant membuat hukum agama dan kanon yang eksternal menjadi hukum moral. Begitu pula Fichte dalam karyanya, Axiomatics of All Revelations. Spinoza memahami hukum Yahudi yang menjangkarkan diri pada hati manusia sebagai hukum alam, bukan hukum Sanhedrin. Agama sebagai hukum adalah konsep sekunder sementara agama sebagai kandungan sosial lebih berhubungan dengan konsep esensial yang mengizinkan dialog terbuka.Setiap agama didasarkan pada konsep suci: kitab suci, gereja suci, bapa suci, tanah suci, kota suci, sejarah suci, tempat suci, dan lain-lain, seakan-akan yang suci itu adalah sesuatu yang berada dalam ruang terpisah dari yang profan. Hal-hal itu hanyalah simbol, indikator, tanda eskatologis dari sesuatu yang lain, makna. Nabi sebagai manusia tidaklah suci. Ia merupakan alat sederhana untuk menyampaikan perkataan Tuhan. A fortiori Paus atau pendeta sama seperti umat manusia lainnya tidaklah suci. Kitab Suci adalah kumpulan sederhana dari kertas-kertas yang ditulis dengan tinta, yang dijilid bersama. Kesucian tidak datang dari kertas tetapi dari diri, yang memproyeksikan pujiannya sendiri pada hal yang dipuji, seseorang, sesuatu, sebuah tempat atau sebuah institusi. Gereja itu tidak suci. Hanya kenangan terhadap peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi di tanah yang membuatnya suci. Kota itu tidak suci kecuali dengan nostalgia kepada masa lalu. Sejarah itu tidak suci. Ia hanyalah lapangan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Kaum beriman memproyeksikan harapan-harapan dan keinginannya untuk penyelamatan di masa depan dalam hal-hal tersebut. Sementara hidup itu suci, tidak ada yang bisa memusnahkannya. Alam itu suci. Tidak ada yang bisa menghancurkan atau menghabiskannya. Suci adalah sebuah konsep sekunder dalam setiap agama, dan tidak dapat menjadi sebuah dasar dari dialog antar-agama.Institusi juga tergolong ke dalam konsep agama yang sekunder. Ia merupakan konstruksi buatan-manusia dalam konteks sosial-historis yang khusus. Ia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan esensi agama. Sebaliknya, ia mengkhianati esensi itu setiap saat. Lagipula, sebuah institusi adalah buatan-manusia. Tuhan tidak datang sendiri untuk membangun gereja, sinagog atau kuil. Gereja adalah kuil Roma yang memiliki sebuah fungsi baru. Sinagog adalah tempat Yahudi untuk perayaan dalam masyarakat. Masjid adalah bentuk baru dari tempat perkumpulan Arab pra-Islam. Kuil Hindu adalah tempat bagi kaum miskin untuk bertemu, sebuah acara pesta dan cerita rakyat. Institusi memiliki fungsi kekuasaan untuk mengatur komunitas kaum beriman, untuk memiliki kendali atas kehidupan orang-orang. Itulah kenapa ia ditantang oleh institusi politik, menciptakan perjuangan kekuasaan antara gereja dan negara. Semua gerakan pembaharuan menentang institusi agama. Ideal mereka adalah untuk mendirikan agama ruh tanpa otoritas institusi seperti yang diinginkan Luther. Institusi selalu menjadi sumber penindasan terhadap para pembaharu dan pemikir bebas. Inkuisisi adalah sebuah institusi agama. Institusi adalah perampasan kekuasaan Tuhan dan juga manusia untuk memberdayakan dirinya sendiri, melawan baik Tuhan maupun manusia. Institusi juga merupakan sebuah konsep sekunder yang tidak berguna bagi dialog antar-agama.Akhirnya, sejarah adalah sebuah konsep sekunder dalam agama. Agama berbeda dari perwujudannya dalam sejarah. Terdapat perbedaan tingkat antara de jure dan de facto, antara sein dan seinsollen, antara fakta dan norma. Sejarah penyelamatan adalah sesuatu, dan penyelamatan adalah sesuatu yang lain. Santo Agustinus telah membuat perbedaan antara Kota Dunia dengan Kota Tuhan dalam Civitate Dei. Semua yang terjadi dalam sejarah adalah bagian dari sejarah manusia. Perbedaan antara Kristianisme dengan Kristianitas terletak pada kaidah tersebut. Gerakan protes Luther hanya untuk menganggap gereja sebagai bagian dari sejarah manusia, bukan termasuk ke dalam esensi agama. Apabila tidak demikian, maka agama bertanggung jawab atas semua yang terjadi dalam sejarah yang mengatasnamakannya, di bawah dalilnya atau yang ditutupinya. Membunuh, menyiksa, membakar, mengucilkan, menghakimi, membuang dan mengutuk, menyatakan murtad, dan lain-lain, semua tindakan eksklusif ini menjadi bagian dari sejarah dan bukan agama. Apabila sejarah adalah agama, maka tidak akan ada manusia yang religius. Penerapan agama dalam sejarah adalah sebuah sasaran religius tapi versi agama yang seperti apa dan kepada siapa? Sejarah, bahkan apabila ia adalah sejarah penyelamatan, merupakan sebuah konsep yang sekunder, bukan yang esensial. Ia tidak dapat menjadi acuan dalam setiap dialog antar-agama.Sebaliknya, terdapat konsep-konsep esensial yang dapat berfungsi sebagai acuan yang baik untuk dialog antar-agama. Daripada dogma, terdapat Transendensi, yang secara etimologis berarti selalu melampaui, selalu mencari puncaknya, selalu tertuju kepada yang tak terbatas. Transendensi membebaskan pikiran manusia dari dogmatisme, fiksasi, pendewaan dan materialisme. Ia didasarkan pada perbedaan antara yang terbatas dengan yang tak terbatas, yang tampak dengan yang tak tampak, yang terlihat dan yang tak terlihat, yang material dan yang formal, …dan lain-lain, Solvitur in Excelsis. Itulah kenapa Leibniz mampu membuat Okumenismenya. Di puncak gunung, semua pihak bertemu. Transendensi sebagai sebuah konsep metafisik tampak sebagai sebuah kode etik universal, sebuah norma perilaku, sebuah nilai untuk dikuasai. Ia sama dengan bukti rasional, dengan kecenderungan umat manusia untuk selalu mencari yang melampaui. Dalam yang universal, semua yang partikular bertemu. Transendensi melindungi persamaan semua orang, budaya dan agama. Secara de jure, mereka semua sama. Ia merupakan motivasi untuk berjuang melawan semua bentuk ketidaksetaraan yang bisa ada secara de facto. Dengan Transendensi, sebuah dialog menjadi mungkin karena semua pihak setara. Mereka memiliki sebuah tujuan bersama. Mereka tertuju kepada sebuah sasaran bersama. Tanpa ruh Transendensi, pihak-pihak yang ada akan bertikai satu sama lain, setiap pihak akan berbuat seolah-olah sebagai pemegang kebenaran. Atau, mereka bisa berdiri terpisah satu sama lain di bawah dalih pluralisme yang menciptakan ruang untuk hidup berdampingan, dan bukan untuk saling-bertukar.Konsep Transendensi membawa kita ke konsep esensial lainnya, yaitu Kesatuan. Karena Transendensi memotivasi kesadaran manusia untuk selalu bergerak melampaui, maka titik tertingginya hanya satu, yaitu Vanculum Substantiale dari Leibniz. Kurang dari satu, dualisme, triadisme atau pluralisme memberikan lebih banyak kemungkinan untuk bergerak, selalu pergi melampaui menuju ke kesatuan asal. Kebanyakan sistem filsafat sedang mencari kesatuan, kesatuan asal adalah satu elemen material, seperti mazhab Elea atau satu prinsip rasional, Ide Plato atau bentuk murni yang terpisah. Mistikus juga sedang mencari kesatuan, kesatuan dengan Kosmos atau kesatuan dengan Tuhan, Panentheisme atau Pantheisme. Semua penyair dan filosof romantis merasakan kesatuan ini dalam sistem filsafat mereka, Schelling, Fichte dan Hegel atau dalam visi syair mereka, seperti Goethe dan Schiller. Kesatuan asal, kesatuan takdir, kesatuan dalam hidup, dalam kepribadian manusia, antara berpikir, merasa, berbicara dan bertindak, dalam masyarakat antara kelas sosial dan kesatuan umat manusia melawan segala bentuk pembedaan atas dasar warna kulit, ras atau agama, semuanya adalah bentuk-bentuk berbeda dari kesatuan. Kesatuan adalah konsep esensial di balik semua pengalaman kasih sayang, rasa hormat, persahabatan, dedikasi dan pengorbanan. Dalam dialog antar-agama, kesatuan pihak-pihak yang terlibat disyaratkan. Keseluruhan dialog dimaksudkan untuk mengangkat perbedaan, untuk menemukan divergensi agar bisa diorientasikan menuju konvergensi.Daripada ritual yang bersifat sekunder, terdapat perbuatan baik yang bersifat esensial. Berdoa bisa berbeda dalam bentuk, tetapi sama dalam kesalehan. Puasa bisa berbeda dalam kuantitas, tetapi semua bentuk puasa sama dalam kualitas. Perbuatan baik adalah satu yang disepakati oleh semua makhluk nasional, memberikan makan kepada yang lapar, membantu yang melarat, melindungi yang lemah, menghijaukan padang pasir, membawa air ke daerah gersang. Perbuatan baik adalah ekspresi karunia dalam alam, karena alam bersifat baik, diciptakan oleh karunia Tuhan. Tidak hanya perbuatan individual, tetapi juga perbuatan komunitarian, mewujudkan kebaikan umum tertinggi untuk semua. Mengabdi adalah bentuk perbuatan baik yang tinggi nilainya. Memberi tanpa menerima, memprakarsai bahkan tanpa menunggu balasan, mengorbankan diri demi kebaikan semua, seperti dalam kesyahidan, adalah bentuk tertinggi dari perbuatan baik. Perbuatan baik adalah satu-satunya kriteria penyelamatan di hari akhir ketika setiap individu akan dinilai berdasarkan jasanya. Perbuatan baik adalah konsep yang esensial, yang memungkinkan setiap dialog antar-agama.Apabila dogma adalah misteri yang melampaui akal manusia, apabila simbol dan citra digunakan secara harfiah, maka akal manusia akan datang, sebagai sebuah konsep esensial yang memungkinkan dialog antar-keyakinan. Lagipula adalah akal manusia yang membuat manusia mampu berkomunikasi satu sama lain. Akal diberikan secara alamiah, sebuah cahaya alamiah dalam setiap manusia, sebuah Lumen Naturalis. Argumen akal lebih komunikatif daripada argumen otoritas, otoritas teks atau otoritas tradisi. Akal manusia bersifat umum sementara teks dan tradisi tunduk kepada penafsiran. Tidak ada yang misterius dalam agama. Akal mampu memahami apa yang diberikan kepadanya sebagai obyek refleksi. Bahkan Tuhan adalah sebuah tindakan kognisi. Wahyu dan akal adalah sama, berasal dari jenis yang sama. Dalam hal terdapat pertentangan nyata antara akal dan kitab suci, maka akal akan bertahan dan kitab suci ditafsirkan sesuai dengan akal. Kitab suci tunduk kepada berbagai penafsiran, hanya memberikan dugaan, sementara akal berdasarkan pada bukti, memberikan kepastian. Akal tidak mengakui pembimbing manapun di atasnya, karena apabila demikian ia akan menjadi justifikasi atas penindasan dan kediktatoran. Akal tidak mengabsahkan sesuatu yang diandaikan sebelumnya, tetapi ia menggunakan pengandaiannya sendiri. Ia merupakan konsep yang esensial dalam semua dialog antar-agama yang dimungkinkan.Bertentangan institusi sebagai sebuah konsep sekunder dalam agama, kebebasan manusia tampil sebagai konsep yang esensial. Individu adalah keseluruhan institusi, bebas dan otonom. Dalam Islam, kebebasan kehendak adalah prinsip individuasi yang memungkinkan pemahaman bahwa ada sesuatu yang lain, yang berbeda dari tuhan dan berada di luarnya. Akal manusia bisa membuktikan Tuhan itu ada dengan semua bentuk pembuktian keberadaan Tuhan yang mungkin dan dikenal, ontologis, kosmologis, teleologis, dan lain-lain, sementara kebebasan kehendak adalah satu-satunya cara untuk membuktikkan bahwa individu itu ada. Saya bebas, maka saya ada. Cogito Islam bersifat praktis, didasarkan pada kebebasan manusia, bukan pada kognisi manusia. Itulah kenapa pendekatan Barat bersifat teoritis, sementara Islam bersifat praktis. Yang pertama bersifat epistemologis, yang kedua bersifat aksiomatik. Kebebasan manusia adalah prasyarat dari tanggung jawab individual, prasyarat dari sebuah penilaian yang adil pada hari akhir sesuai dengan hukum jasa. Manusia dilahirkan bebas, bertanggung jawab secara individual atas perbuatannya sendiri, tidak membawa kesalahan apa pun, sebuah dosa asal yang tidak dilakukannya. Ia dapat menyelamatkan dirinya dengan dirinya, dengan kekuatan kognisinya untuk membedakan antara yang benar dan yang salah dan dengan kebebasannya untuk memilih yang benar dan bukan yang salah, tanpa adanya kebutuhan akan penyelamat dari luar. Kebebasan manusia adalah sebuah konsep esensial untuk setiap dialog antar-agama.Akhirnya, apabila sejarah adalah sebuah konsep sekunder, maka komunitas adalah sebuah konsep yang esensial. Individu bukanlah seorang pengembara yang hidup sendirian, tetapi merupakan anggota sebuah komunitas. Dimensi komunitarian ini dalam individu memerlukan penerapan keadilan sosial melalui solidaritas sosial dan kohesi sosial, melalui inisiatif individu atau komitmen sosial. Kesejahteraan umum lebih tinggi daripada kepentingan pribadi individu. Solidaritas manusia adalah sebuah nilai yang positif, tak dapat ditolak oleh semua makhluk rasional. Tuhan menciptakan semua manusia setara. Perbedaannya hanyalah dalam kebajikan dan kemuliaan perbuatan. Kemiskinan adalah fenomena buatan-manusia. Ia dapat diatasi melalui solidaritas manusia. Kepemilikan lebih bersifat publik daripada pribadi. Manusia datang dan pergi dari dunia ini, membawa hanya perbuatan baiknya, dan bukan kekayaannya. Kerjasama antar-keyakinan bukan hanya persoalan saling memahami, menghormati dan mengakui, tetapi juga persoalan proyek bersama untuk keberlangsungan manusia dan kesejahteraan umum, berjuang melawan kelaparan pada musim kering, penyakit, kebodohan, buta huruf dan keterbelakangan. Ini merupakan konsep-konsep esensial untuk dialog antar-agama, bersifat efisien dan produktif, jauh dari saling menerima yang bersifat persaudaraan dan pertukaran diplomatik.[]Catatan Kaki:1. E. Durkheim: Les Formes Elémentaire de la Vie Religieuse, PUF, Paris.2. Bergson: Les Deux Sources de la Morale et de la Religion, PUF, Paris, 1955.3. W. James: The Varieties of Religious Experience, Collier, N.Y., 1972.4. Van der Leuw: Religion, its Essence and Manifestation, Payot, Paris, 1955.Diterjemahkan oleh Muhammad Zaki Hussein dari “Impediments to Inter-Religious Dialogue”

Tulisan ini diambil dari http://bahrulhaq.multiply.com/journal/item/38/Hambatan-Hambatan_dalam_Dialog_Antar-Agama

Islam di Minangkabau, Kairo 2004

Islam di Minangkabau dan Beberapa Isyu Aktual [1]
Oleh Shofwan Karim[2]

I. Introduksi
Wilayah kultural Minangkabau yang meliputi wilayah Administrasi Pemerintahan Sumatra Barat adalah Provinsi di sebelah Barat bagian tengah Sumatera. Provinsi ini berbatasan dengan sebelah Selatan dengan Provinsi Bengkulu, sebelah Barat dengan lautan Hindia, sebelah Utara dengan Provinsi Sumatra Utara dan sebelah Timur dengan Provinsi Riau dan Jambi. Penduduknya sekarang 4,5 juta orang.
Mata pencaharian pokok atau ekonomi berdasarkan perdagangan, small business, usaha kecil dan menengah, pertanian, perkebunan, dan pariwisata. Budaya Minangkabau yang berintikan Adat Minangkabau menganut sistem kekerabatan menurut garis keturunan ibu atau matrilinial line. Kehidupan sosial dan keluarga diatur di dalam tatanan kesukuan yang berdasarkan dua kelarasan utama : Bodi Caniago dan Koto Piliang yang kemudian masing-masing kelarasan itu berkembang ke dalam berbagai suku.
Setelah Islam masuk beberapa abad lalu, agama yang dipegang teguh masyarakat Minangkabau adalah Islam di samping memegang teguh adat. Dengan begitu Islam dan adat menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Maka lahirlah adagium Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Perpaduan keduanya melahirkan harmoni sosial di bawah sistem kepemimpinan tigo tunggu sajarangan: Ninik–Mamak, Alim-Ulama dan Cerdik-Pandai serta tigo tali sapilin: Adat, Syara’ dan Undang.
Di dalam menjalankan tatanan kehidupan sosial budaya, politik, pemerintahan, ekonomi dan keagamaan, masyarakat Minangkabau senantiasa mendasarkan keputusan dan membuat kebijakan melalui musyawarah dan mufakat. Bulek aie ka pambuluah, bulek kato dek mufakaik. Kok bulek dapek digiliangkan kok picak dapek dilayangkan. Intinya adalah setiap gerak kehidupan bersama mestilah dimusyawarahkan untuk diperiakan dan dipertidakkan atau dipaiokan dan dipatidokan.

II. Refleksi
Minangkabau, sebagai bagian tak terpisahkan dengan Tanah Air Indonesia, mengalami pasang naik dan surut kehidupan berbangsa dan bernegara sejak zaman klasik, penjajahan Belanda, era pergerakan nasional, penjajahan Jepang, alam kemerdekaan awal, masa Orde Lama, masa Orde baru dan sekarang Orde Reformasi (1978-2004). Yang paling khas di dalam kehidupan pemerintahan, kenegaraan dan kebangsaan itu bagi Minangkabau adalah peristiwa PRRI (1957-1960). Peristiwa ini oleh sebagian besar kalangan masyarakat Minangkabau baik yang di kampung maupun di rantau membekas sebagai trauma. Trauma itu membuat masyarakat Minangkabau tertekan secara psikologis. Keadaan itu berjalan di sisa masa akhir Orde Lama. Pada masas ini kepemimpinan dan kebijakan publik dinomisasi oleh kaum komunis dan nasionalis serta kaum agama tradisionalis yang disebut Nasakom yang pada intinya semuanya terpusat kepada Soekarno.
Pasca rezim Soekarno, setelah pembunuhan Jenderal tahun 1965, lahirlah Orde Baru atau pemerintahan Soharto. Pada masa awal era ini masyarakat Minangkabau mulai merehabilitir diri. Pada waktu ini Sumatara Barat dipimpin seorang Gubernur Sipil Harun Zain yang memerintah dengan motto : Mambangkik Batang Tarandam. Pada dasarnya era ini situasi Minangkabau yang porak-poranda dilanda perang saudara dengan pemerintah pusat sebelumnya, hendak diperbaiki. Minangkabau mengembalikan harga diri dan martabat. [3]
Era klasik dan masa pergerakan nasional yang telah diisi oleh perjuangan tokoh-tokoh Islam dan nasionalis Minangkbau ingin dijadikan motivasi ulang untuk kejayaan. Tuanku Imam Bonjol, Siti Manggopoh, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Jalaludin al-Falaki al-Azhari, Dr. Syekh Abdul Karim Amarullah (Inyiek Rasul) , Dr. Syekh Abdullah Ahmad, Syekh Moh. Jamil Jambek atau Inyiak Jambek, Inyiek Musa Parabek, Inyiek Sulaiman Al-Rasuli, Rahmah El-Yunusiah, Zainuddin Labai el-Yunisy, Agus Salim, Rasuna Said, Duski Samad, Hatta, Natsir, HAMKA, Sutan Syahrir, Moh. Yamin dan deratan tokoh besar bangsa yang sebelumnya telah mengharumkan nama Minangkabau di pelataran nasional, kembali ditoleh sebagai motivasi kemajuan.
III. Peranan Alumni Timur Tengah
Di akhir 60-an dan awal 70-an ada dua alumnus Univeristas Al-Azhar, Kairo dan Timur Tengah yang amat sentral peranannya di dalam kehidupan keagamaan dan sosial pendidikan di Minangkabau. Meraka adalah Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, H. Baharuddin Syarif, MA. Dan mantan Dubes RI di Irak. HMD Dt. Palimo Kayo.
Dua yang pertama berjasa mengembangkan pendidikan tinggi Islam IAIN Imam Bonjol yang kedua berjasa membangun harga diri keagaamaan Minangkabau sebagai Ketua MUI pertama di Sumatera Barat dan benteng umat Islam dalam menghadapi propaganda Kristen di Minangkabau.
Palimo Kayo bersama Moh. Natsir dari DDII Pusat amat berjasa di dalam mengembangkan dakwah Islam terutama menghadapi misi Kristen itu di Sumbar dengan mendirikan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina dan Sekolah Tinggi Akademi Agama dan Bahasa Arab (AKABAH) di Bukittinggi pada 1970-an awal. Ibnu Sina kini ada pada beberapa kota dan daerah di Sumbar[4] sedangkan AKABAH akhir-akhir ini tidak ada yang mengurus.
Dewasa ini alumni Timur Tengah yang berasal dari beberapa universitas di Mesir, Marokko, Saudi Arabia, Libya dan Syiria ada sekita 30-an orang. Yang paling dominan adalah dari Kairo baik Universitas Azhar maupun yang lain. Secara fungsional banyak yang mengabdi di bidang pendidikan dan dakwah. Rektor IAIN Imam Bonjol Prof. Dr. Maidir Harun dan Ketua MUI Sumbar Prof. Dr. Nasrun Harun agaknya di antara mereka yang berada pada posisi puncak institusi formal dan sosial dewasa ini. Selain mereka banyak yang mengajar di beberapa perguruan tinggi, pesantren, madrasah dan aktivis muballig di Sumbar. Sebagian di antara mereka ada yang menjadi pegawai negeri dan sebagian lain tetap swasta. Beberapa di antara mereka ada yang menamatkan sampai S3 di Timur Tengah, tetapi kebanyakan hanya sampai S1 (Lc) dan S2 (MA). Mereka yang tersebut terakhir ini banyak pula yang meneruskan kuliah strata berikutnya di Indonesia sampai jenjang paling tinggi. Secara individual mereka sangat berperanan di dalam kehidupan sisoal kemasyarakatan, pendidikan, dakwah dan keumatan secara umum. Menurut Dr. Eka Putra Warman, MA, Ketua Yayasan HIMAKA dalam waktu dekat akan diadakan konsolidasi para alumni ini.

IV. Organisasi Islam dan Pendidikan

Bersama masuknya pengaruh kemajuan pada awal abad ke-20 ke Indonesia, Minangkabau merupakan pintu gerbang utama . Menurut Korver (1985) dan Noer (1980) paling tidak ada 3 jalur utama masuknya pembaharuan pemikiran Islam ke Indonesia dari Timur Tengah. Ketiganya adalah melalui masyarakat Indonesia keturunan Arab; tokoh-tokoh modernis Islam Minangkabau; dan organisasi Islam modern dan tradisional seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama dan Tarbiyah Islamiyah.
Khusus untuk Minangkabau organisasi Islam yang dominan di tengah masyarakat di perkotaan dan pedesaan adalah Muhammadiyah[5], Tarbiyah Islamiyah[6] dan Jama’ah Tariqat, baik Syatariyah maupun Naqsyabandiyah. Dua yang pertama di samping merupakan jam’iah, persyarikatan sosial kemasyarakatan juga mempunyai amal usaha di berbagai bidang.. Muhamamdiyah mempunyai 291 instalasi pendidikan dari Taman Kanak-kanak, SD, Ibtidaiyah, Pesantren, SMA, SMP, Tsanawiyah , Aliyah dan Universitas Muhammadiyah Sumbar dengan 6 Fakultas dengan program D3, S1 dan Pascasarjana serta Akademi perawat.[7] Pusat pendidikan Islam Muhammadiyah yang akhir tahun 70-an disebut Pesantren terbesar adalah di Kauman Padang Panjang, Al-Kautsra 50 Kota, Muallimin di Sawahg Dangka Agam dan Muaalimin di Lintau dan Batu sangkar serta di Ujung Gading Pasaman Barat. Sementara Tarbiyah Islamiyah, mempunyai puluhan madrasah dengan pusatnya natra lain di Ampek Angkek Canduang serta Batu Hampar Payaukumbuh.
Di samping Muhammadiyah dan Tarbiyah ada lembaga pendidikan independen yang cukup punya nama dan sudah dianggap berjasa di dalam meningkatkan SDM angkatan muda Islam Minangkabau, khususnya dan Indonesia umumnya seperti Thawalib di Padang Panjang dan Parabek, serta Diniyah Putri Padang Panjang. Sejak tahun 1990-an lair pula Madrasah atau Pesantren moderen Nurul Ikhlas dan Serambi Mekkah di Padang Panjang serta Pondok Pesantren Moderen Terpadu Prof. Dr. HAMKA di Duku Padang Pariaman. Namun kalau dilihat dari ciri orientasi pemikiran kemoderen dan keislaman, serta tokoh-tokoh pengelolanya, mereka semua termasuk warga persyarikatan Muhammadiyah. Walaupun secara organisatopris mereka tidak terikat dengan Muhammayah.
Akan halnya Tariqat Syatariyah dan Nasqsyabandiyah, merupakan kumpulan jam’ah yang ada beberapa nagari di Pariaman, Pasaman, Agam, 50 Kota, Pesisir Selatan, Sawahlunto Sijunjung dan sebagian Tanah Datar. Koto Tuo, sebuah nagari di Agam di pinggiran jalan arah ke Maninjau dari Bukittinggi ada surau utamanya yang merupakan basis Syataruyah untuk Sumbar, Riau dan Jambi. Nagari Ulakan di Pariaman merupakan tempat ziarah utama kaum Syatariyah sebagai tempat makam Syekh Burhanuddin yang dianggap pembawa awal tariqat ini ke umbar dari Aceh pada awal abad ke-17. Jama’ah tariqat ini tidak menggarap lembaga pendidikan formal seperti Muhammadiyah dan Tarbiyah, tetapi memfokuskan diri kepada pembinaan jama’ah dan kelompok zikir, pengajian dan wirid-wirid serta bimbingan kerohanian.
Sebagian di antara mereka yang tadinya melakukan zikir dan kegiatan jama’ah secara tertutup atau semi tertutup khusus bagi jama’ah mereka sendiri, belakangan ada fenomena baru. Sebagian di antara mereka ada yang sudah menjadikan halaqah zikir itu sebagai kegiatan publik. Ini tampaknya dapat dikatakan sebagai lanjutan perkembangan dari pola di Jawa seperti kelompok zikir Ustazd Ilham dan lain-lain. Seorang anak muda, keluaran Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung, Boy Lestari Dt Palindih, akhir-akhir ini melalui Yayasan Zikir al-Ikhlas, giat melakukan bimbingan zikir massal. Ia dibantu oleh dua orang anak muda Dr. Salmadanis, M.Ag dan Dr. Duski Smad, M.Ag. Ketiga mereka mengaku sebagai aktivis angkatan muda Tarbiyah Islamiyah.

IV. Isyu Aktual

Perda No. 11 Th 2001 tentang Anti Ma’shiat. Intinya adalah pelarangan pelacuran , perjudian dan minuman keras di wilayah daerah Provinsi Sumatra Barat.

Perda No. 9 Th. 2001 tentang Pemerintahan Nagari. Intinya adalah bahwa tingkat pemerintahan terendah di Sumbar yang pada tahun 1979 dari Desa menjadi kembali ke Nagari. Dasar kehidupan nagari adalah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Di setiap nagari di samping ada pemerintahan nagari sebagai eksekutif ada lembaga Adat dan Syara’ Nagari, ada pula Badan Musyawarah Anak Nagari atau Badan Perwakilan Anak Nagari.

Pemurtadan atau Kristenisasi. Pada tahun 1970-an upaya pemurtadan melalui usaha sosial dan kesehtan di antaranya mendirikan rumah sakit Baptis Imanuel di Bukittingi. Hal itu dapat ditolak oleh masyarakat Minangkabau melalui perjuangan sengit dipimpin HMD Dt. Palimo Kayo dan Dr. Moh. Natsir. M. Natsir dan Palimo Kayo mendirikan RS Ibu Sina. RS Imanuel diambil alih oleh Pemerintah Daerah dengan mengubah nama dan status, sekarang menjadi RS Pusat Pengendalian Stroke.

Paling akhir isyu pemurtadan ini adalah melalui rayuan kepada generasi muda terutama wanita muda. Ada beberapa pasangan yang kawin antar agama. Pada mulanya yang laki-laki masuk Islam, kemudian kembali murtad. Lalu ia memurtadkan isterinya. Modus lain menculik seperti kasus Wawah yang heboh 3 tahun lalu. Belakangan ada kasus hipnotis dan memasukkan jin syetan sehingga beberapa mahasiswa di UNAND dan IAIN ditenggarai dirasuki oleh Jin dan syetan tersebut sampai kesurupan dengan menyebut Tuhan Yesus dan sebagainya. Pada 9 Juni lalu dihebohkan lagi oleh penemuan al-Qur’an yang kulit penjilidannya berlapis tulisan injil. Kasus itu sekarang sedang di dalam langkah-langkah penyelidikan dan upaya hukum.

Pada dasarnya modus operandi pemurtadan itu dalam beberapa dekade terkahir ini dapat dikategorikan kepada cara-cara sebagai berikut:
(1) Rayuan terhadap gadis Minang oleh laki-laki Salibi, dikawini dan dimurtadkan.
(2) Assimilasi melalui program transmigrasi.
(3) Pendirian Rumah Ibadah di komunitas muslim, lalu untuk kelihatan ramai pelaksanaan ibadah di tempat itu, mereka mengundang jemaat Kristen dari kota lain di Sumbar dan Provinsi Tetangga.
(4) Menyebarkan tulisan dalam Bahasa Minang dengan isi ajaran Kristiani.
(5) Penyebaran Injil berbahasa Minang.
(6) Operasi simpatik, seperti kegiatan LSM yang sangat gandrung mendiskusikan persoalan toleransi dan pluralitas yang pada pada dasarnya memberi peluang kepada penganut agama lain berkomunikasi secara intensif dengan generasi muda Islam.
(7) Memberi perhatian dan mengorganisasikan orang miskin dan anak jalanan serta pencandu narkotika untuk direhabilitasi, kemudian dimurtad kan. Hal yang terakhir ini masih bersifat rahasia dan pelaksanaanya dibawa keluar Sumbar.

Padang, 13 July 2004
[1] Wacana disampaikan dalam Seminar dan Silaturrahim keluarga Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau (KMM) Republik Arab Mesir, Kairo, Juli 2004 .
[2] Drs. H. Shofwan Karim Elha, MA adalah Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah
[3] Berturut-turut Gubernur Sumbar setelah itu adalah Ir. H. Azwar Anas Dt. Rajo Sulaiman, Ltejen. Purnawirwan (1977-1987). Drs. H. Hasan Basri Durin Dt. Rky Mulie Nan Kuniang (1997-1997). H. Mukhlis Ibrahim, Brigjen Purnawirawan ( 1997-1999). Pejabat Gubernur H. Dunija, Brigjen Purnawirwan (1999-2000). Kini adalah H. Zaibal Bakar , SH (2000-2005).
[4] Bukittinggi, Padang, Simpang Ampek Pasaman Barat, Payakumbuh dan Padang Panjang.
[5] Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan dan kawan-kawan di Yogyakarta tahun 1912 masuk ke Minangkabau dibawa oleh Dr. Abdul Karim Amarullah pada th. 1925. Organisasi ini sejakan dengan organisasi yang ide dasarnya ada kemiripan dengan Sendi Aman Tiang Selamat di Maninjau. Setelah Muhammadiyah masuk, Sendi Aman seakn melebur ke persyarikatan ini.
[6] Tarbiyah Islamiyah lahir pada tahun 1928 yang diprakarsai oleh antara lain Inyiek Canduang Syekh Sulaiman Al-Rasuli.
[7] Selanjutnya lihat Profil Muhammadiyah Sumbar terlampir।

[1] Wacana disampaikan dalam Seminar dan Silaturrahim keluarga Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau (KMM) Republik Arab Mesir, Kairo, Juli 2004 .
[1] Drs। H। Shofwan Karim Elha, MA adalah Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah [1] Berturut-turut Gubernur Sumbar setelah [1] Berturut-turut Gubernur Sumbar setelah itu adalah Ir. H. Azwar Anas Dt. Rajo Sulaiman, Ltejen. Purnawirwan (1977-1987). Drs. H. Hasan Basri Durin Dt. Rky Mulie Nan Kuniang (1997-1997). H. Mukhlis Ibrahim, Brigjen Purnawirawan ( 1997-1999). Pejabat Gubernur H. Dunija, Brigjen Purnawirwan (1999-2000). Kini adalah H. Zaibal Bakar , SH (2000-2005).
[1] Bukittinggi, Padang, Simpang Ampek Pasaman Barat, Payakumbuh dan Padang Panjang.[1] Muhammadiyah

Toleransi dan Hari Libur Nasional

screen-shot-2020-07-08-at-20.56.49
Toleransi dan Hari Libur Nasional
Oleh Shofwan Karim-Tulisan Awal 2006 (Reblog 26.04.2021)
(Dosen FU IAIN IB Padang, Rektor UMSB
dan Ketua PWM Sumbar 2000-2005)
Pada tahun lalu (2006) Indonesia paling banyak memiliki hari libur umum atau hari libur nasional di antara 4 negara utama di kawasan regional ini. Berdasarkan catatan Marek Bialoglowy’s Blog (http://bialoglowy.blogspot.com/2006/01/happy-new-year-2006-from-indonesia.html), Indonesia memiliki hari libur umum (17 hari). Bandingkan dengan Malaysia (14 hari), Singapura (12 hari) dan Australia (8 hari). Angka nominal 17 hari libur umum tahun lalu itu di Indonesia lebih banyak dari tiga negara tetangga lainnya, disebabkan ada istilah cuti bersama. Cuti bersama yaitu hari libur yang diatur mendahului atau sesudah beberapa hari dari hari yang sebenarnya libur. Bila cuti bersama ini tidak dihitung, maka Malaysia (14 hari) lebih banyak hitungannya.
Kecuali Australia, hanya menempatkan Hari Natal sebagai hari libur umum yang berdasarkan kalender agama, maka Indonesia, Malaysia dan Singapura paling banyak mengadopsi hari libur berdasarkan hari besar agama-agama. Tiga negara belakangan tadi, memberikan libur warganya untuk merayakan hari besar semua agama: Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu, termasuk yang kemarin Hari Raya Nyepi berdasarkan tahun baru menurut kalender Saka yang diagungkan saudara-saudara sebangsa kita beragama Hindu.
Merayakan hari libur umum atau hari libur nasional di Indonesia yang berdasarkan kaitan dengan hari besar agama, sepertinya merupakan warna murni toleransi kehidupan sosial keagamaan yang sudah diterima dengan ikhlas oleh semua pemeluk agama di negeri kita. Hari Raya Nyepi ini misalnya. Meskipun di Bali, menurut catatan resmi 93 persen warganya pemeluk Hindu Dharma, tetapi secara nasional, diperkirakan hanya 3 persen. Bandingkan dengan mayoritas kaum muslim di Sumatera Barat yang diperkirakan 97 persen, sedangkan pemeluk agama lain hanya sekitar 3 persen dan mungkin tidak sampai 1 persen yang penganut Hindu. Kalau dinisbahkan ke proporsi nasional, Islam dianut oleh hampir 90 persen bangsa Indonesia, di Bali mungkin hanya 5 atau 6 persen. Misalkan hari libur ini bukan berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) tetapi menjadi porsi UU No 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah, maka tentu saja libur Hari Raya Nyepi ini hanya untuk Daerah Provinsi Bali saja. Karena, katakanlah umat Hindu di luar daerah tujuan wisata itu relatif amat sedikit seperti antara lain bandingkan dengan di Sumbar tadi.
Tentu saja, kelompok minoritas di Indonesia, paling tidak merasa berbahagia atas toleransi ini dan juga memahami makna hari besar lainnya,lebih khusus lagi hari raya Islam. Dengan demikian tidak timbul kesalahfahaman dalam praktik-praktik ibadat baku dan relasi sosial yang dibolehkan dan yang tidak diharuskan. Begitu pula sebaliknya. Kaum mayoritas Muslim paling tidak juga harus tahu dan faham hal-hal umum tentang agama lain. Supaya tidak terhindar dari kesalahanfahaman serupa. Paling tidak masing-masing kita harus mengetahui mana yang kategori ibadah dan mana yang kategori upacara sosial budaya dari satu agama. Pengenalan dan pemahaman timbal balik itu, tentu saja bukan untuk mengintervensi, menuduh, menyalahkan dan merendahkan tetapi untuk menghargai dan menghormati sejauh tidak bertentangan dengan masing-masing akidah dan syari’at agama yang masing-masing kita anut.
Menurut literatur, rangkaian hari raya nyepi itu didahului sehari sebelumnya dan pada hari raya nyepi itu sendiri. Pada malam tahun baru nyepi itu, kampung-kampung sudah dibersihkan, makanan disiapkan untuk dua hari. Keesokan harinya, untuk tahun 2007 ini adalah hari Senin 19/3 kemarin yaitu pada “panglong ping 15” (tilem kesanga), tibalah Hari Raya Nyepi. Pada hari ini dilakukan Nyepi dengan puasa yang disebut Catur Beratha Penyepian dan terdiri dari: amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api): amati karya (tidak bekerja); amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Beratha ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit.
Prosesi itu dilakukan setiap warga umat Hindu dengan pemahaman bahwa setiap hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Maka untuk seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak (1 tahun 6 bulan), lambang ini diwujudkan dengan ‘matekep guwungan’ (ditutup sangkat ayam). Wanita yang beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa (Ngeraja Sewala), maka diadakan upacara ngekep (dipingit).
Begitulah setiap tahap baru dalam kehidupan, merupakan keadaan yang benar-benar bersuasana baru seakan baru lahir. Yang lebih penting dari dari pada perlambang-perlambang baru lahir itu (amati geni), sesuai dengan Lontar Sundari Gama adalah memutihbersihkan hati sanubari, dan itu merupakan keharusan bagi umat Hindu.
Seperti ditulis Postnuke, http://shterate.com/modules.php?op=modload&name , tiap orang berilmu (sang wruhing tatwa dnjana) hendaklah melaksanakan: Bharata (pengekangan hawa nafsu; yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan); tapa (latihan ketahanan menderita); dan samadhi (menunggal kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi), yang bertujuan kesucian lahir bathin).

Keadaan itu agak mirip dengan apa yang menjadi makna hakiki hari raya Idul Fithri bagi ummat Islam. Setelah menunaikan puasa wajib satu bulan Ramadhan, 29 atau 30 hari, dirayakan pada 1 Syawal sebagai hari kembali kepada kesucian. Tentu saja, bagi kaum Muslimin tidak harus dikaitkan teologi Hindu itu dengan akidah Islamiyah yang mereka anut. Akan tetapi sekedar untuk memupuk perasaan dan logika relasi sosial, agaknya pemahaman yang pas, amat diperlukan. Dan hal itu tidak cukup hanya dengan ikut menimati liburan bersama. Upaya mencari tahu dan memahami, agaknya patut pula dihargai. ***shofwan.karim@gmail.com

Etika Agama dan Pariwisata


Etika Agama
Dalam Pembangunan Pariwisata

Oleh Shofwan Karim 

Abstract:
Islamic religion has covered complete system of theology, ritualistic, ethic and social affairs. Islamic ethic could become and have a high role in the development of tourism. Without Islamic ethic, tourism will faraway or contradictory to Indonesian nation and state’s pilosophy what so called five prinsiple of Pancasila .

Kata kunci : Islam, etika dan pariwisata.
I. Pendahuluan
Agama sebagai suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal untuk dengan kehendak dan pilihannya sendiri mengikuti peraturan tersebut, guna mencapai kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat (Mu’in, 1986:121) . Agama sebagai yang dipahami secara umum adalah ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul (Nasution, 1979: 10). Islam adalah agama wahyu yang disebut al-Din. Ia mencakup tatanan semua kehidupan manusia melingkupi aspek akidah (teologi), ibadah (ritual), akhlak (etika) dan muámalah (sosio-kultural). Di dalam ungkapan lebih sederhana, ketercakupan itu merupakan pengaturan hubungan dengan Allah dan hubungan sesama manusia. Para ulama klasik menyebut Islam itu adalah aqidah dan mu’amalah. Mu’amalah di sini mereka rinci menjadi mu’amalah yang berhubungan dengan Tuhan dan muámalah yang berhubungan dengan manusia. Pada umumnya mereka cendrung memahami ajaran Islam melalui pendekatan nash (tekstual) atau doktriner.
Belakangan, ulama khalaf (belakangan) dan mutaakhir (kontemporer) seperti Syaikh Mahmud Syaltut menyebut Islam itu adalah akidah dan syariah. Syariah dibaginya menjadi ibadah, akhlak dan muámalah. Sementara Fazlur Rahman menyebut pokok ajaran Islam ada tiga: percaya kepada keesaan Tuhan; pembentukan masyarakat yang adil dan kepercayaan hidup setelah mati. Untuk lebih memudahkan pemahaman para ulama yang masyhur merinci lagi Islam sebagai Aqidah, Ibadah, Akhlak dan mu’amalah. Di dalam akidah dan ibadah, pandangan agama dibimbing oleh satu kaidah: jangan lakukan sesuatu kecuali yang disuruh dengan nash dan dalil yang kuat. Didalam akhlak dan muámalah berlaku kaidah: lakukan sesuatu kecuali yang dilarang.
Dari struktur pendekatan tadi, nampaknya risalah Islam pada dasarnya membahas masalah hubungan terhadap tiga pokok : Tuhan, alam , dan manusia atau teologi, kosmologi dan antropologi (Mukti Ali,1989:42). Oleh karena itu Islam sebagai al-din al-syumuli, agama yang meliputi segala hal atau kaffah, harus memberikan kontribusi, wazan, jugement atau pertimbangannya terhadap aktivitas hidup dunia modern yang tidak bisa lepas dari tiga hal tadi, termasuk dunia kepariwisataan. Dunia kepariwisataan termasuk subsistem kehidupan yang merupakan salah satu aspek dari muámalah, atau kehidupan sosial kemasyarakatan, ekonomi, dan budaya.

Di Indonesia, pengembangan kepariwisataan merupakan agenda nasional. Agenda ini harus ditopang oleh kekuatan masyarakat. Untuk itu kepada warga masyarakat seyogyanya secara spontan atau terprogram harus memahami, mengapresiasi, serta berpartisipasi dan pada gilirannya sangat peduli dan bertanggungjawab di dalam pengembangan kepariwisataan. Untuk maksud tersebut, maka umat beragama harus memahami fungsi dan peranan kepariwisataan dan bagaimana etika agama terhadap hal ini, merupakan pembahasan berikut ni.

II. Memahami Pariwisata
Kosa kata pariwisata berasal dari kata “pari” yang berarti banyak, berkali-kali, berputar-putar dan “wisata” artinya bepergian atau perjalanan. Jadi, pariwisata berarti suatu kegiatan perjalanan atau bepergian yang dilakukan dari satu tempat ke tempat lain, dengan tujuan bermacam-macam. (Suara Muhammadiyah, 1988:22).
Di dalam makna yang umum kepariwisataan (tourism) terambil dati kata tour atau perjalanan. Menurut kamus Encarta, tour•ism (n) 1. the visiting of places away from home for pleasure 2. the business of organizing travel and services for people traveling for pleasure. Tourisme berarti (1) kunjungan ke suatu atau beberapa tempat yang jauh dari rumah untuk kesenangan: (2) urusan yang berhubungan dengan penyelenggaraan dan pelayanan bagi orangan yang melakukan perjalanan untuk kesenangan.
Di dalam bahasa Arab, kosa kata untuk berpergian atau melakukan perjalanan khusus bersang-senang disebut rihlah . Berbeda dengan safara yang berarti bepergian untuk tujuan yang lebih umum. Kata rihlah ini juga telah disinggung Al-Qurán sebagai lambang rutinitas orang Quraisy yang biasanya melakukan perjalanan di musim dingin dan musim panas.
Secara garis besar tujuan perjalanan pariwisata itu dibedakan antara :
(1) Business tourism, yaitu perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang dengan tujuan dinas, perdagangan, atau yang berhubungan dengan pekerjaan, seperti menghadiri kongres di dalam mapun di luar negeri, seminar, konprennsi, simposium , musyawarah dan lain-lain.
(2) Vacational tourism, perjalanan uantuk berlibur datau cuti.
(3) Educatitonal tourism, perjalan untuk kepentingan pendidikan, studi dan penelitin dll.
Sementara itu dilihat dari sebgi obyeknya, pariwisata itu dapat ditinjau dari beberapa jenis:
(1) Cultural tourism, wisata kebudayaan, seni, dan pertunjukan tradisoional serta penampilan dan atraksi budaya pada umumnya, kunjungan ke lokasi peninggalan masa lalu, pusat kepurbakaan dst.
(2) Recuperational tourism, jenis kepariwisataan penyegaran dan kesehatan, kepegunungan, ke darerah tertentu dan lain-lain.
(3) Commercial tourism, yaitu kepariwisataan yang dikaitkan dengan kepentingan usaha daganag, kontak produsen dan konsumen, kontak dagang saling mengtuntungkan dan sebagainya.
(4) Sport tourism, wisata untuk menyaksikan event olahraga nasional dan internasional seperti PON, Olympiade, formula, champion dll.
(5) Poltical tourism, perjalanan menyaksikan peristiwa-peristiwa tertentu di berbagai negara seperti Pemilu, pelantikan Presiden dan Kepala Negara, Raja, upaya kenegaraan dll.
(6) Advantural tourism, yaitu perjalanan petualangan, hiking, jelajah laut, hutan, gunung, arung-jeram dan lain-lain.
(7) Sosial tourism, kunjungan wisata sambil memberikan bantuan pangan, pakaian dan obat-obatan ke suatu tempat atau masyarakat .
(8) Religious tourism, yaitu perjalanan wisata bernuansa keagamaan , termasuk umrah, haji dan seterusnya. (Suara Muhammadiyah, op.cit )

Belakangan di Indonesia ada pula apa yang disebut wisata ziarah yang pada dasarnya merupakan bagian dari wisata budaya tadi. Bahkan ada yang menyebut pada akhir-akhir ini sebagai wisata religi atau agama. Yang disebut terakhir ini tentu mempunyai dasar yang relevan juga. Bukankah perosesi haji itu sendiri oleh beberapa kalangan dipahami juga meliputi aspek wisata jasmani dan ruhani atau wisata agama.
Di dalam Bahasa Inggris, hajji yang biasa disebut pilgrimage itu, juga disebut sacred journey atau perjalanan suci. Sementara di dalam Islam sendiri ibadah haji berarti jawaban untuk memenuhi panggilan Allah sesuai do’a Nabi Ibrahim as. Sebagai lambang akidah tauhid untuk kebesaran Allah swt dan merupakan tuntutan syariát yang mesti dilakukan setiap muslim dan muslimat yang mempunyai kemampuan untuk melaksanakannya. Ibadah hajji menjadi rukun (pilar) Islam yang ke-5 berdasarkan firman Allah di dalam al-Qurán.
Sementara itu di dalam kaitan dengan nilai-nilai ideal dari kepariwisataan bagi Islam adalah bagaimana ummatnya mengambil i’tibar atau pelajaran dari hasil pengamatan dalam perjalanan yang dilakukan sebagai diisyaratkan al-Qurán (QS,6 :11) . Menurut mufassir al-Maraghi, perjalanan manusia dengan maksud dan keperluan tertentu di permukaan bumi harus diiringi dengan keharusan untuk memperhatikan dan mengambil pelajaran dari peninggalan dan peradaban bangsa-bangsa terdahulu seperti yang dinyatakan pada ayat tadi dan ayat berikut, QS Fathir,35 : 44.
Selanjutnya Al-Qur’an menggambarkan pula, apabila manusia itu mau memperhatikan, mereka akan dapat melihat dan mengetahui bahwa dalam alam sekelilingnya, malah pada diri mereka sendiri (jasmaniiah dan ruhaniah) berlaku peraturan-peraturan, sunnatullah (M. Natsir, 1969 :4) Pada bagian lain Al-Qur ‘an menekankan perlunya jaminan keamanan suatu daerah atau negara serta fasilitas yang tersedia bagi para wisatawan. Hal ini ditekankan oleh mufassir al-Qurthubi ketika memahami QS Saba’ 34: 18.

III. Fungsi dan Peranan Pariwisata
Apabila direnungkan secara mendalam, berdasarkan uraian di atas tadi maka dilihat dari makna substantif dan jenis pariwisata serta kategori wisata dilihat dari objek dan kegiatan ideal yang hendak ditujunya, maka fungsi wisata pada dasarnya adalah aktivitas luar dan di dalam ruangan (out door and indoor activities) perorangan atau kolektif untuk memberikan kesegaran dan semangat hidup baik secara jasmani mapun rohani.
Fungsi kepariwisataan yang demikian ternyata di dalam perakteknya dapat dikembangkan di dalam berbagai peranannya dalam kehidupan manusia baik secara individu maupun kolektif. Di antaranya, pariwisata berperanan di dalam peningkatan ekonomi keluarga, kelompok usahawan, lebih-lebih untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, bidang pariwisata berdampak amat signifikan di dalam perekonomian negara.
Selain itu, pariwisata berperanan di dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Wisata pendidikan baik domistik maupun mancanegara, akan meningkatkan pemahaman pelakunya di dalam menguasai ilmu pengatahuan dan teknologi, pemahaman atas peristiwa masa lalu, sejarah, kepurbakalan dan sebagainya. Semuanya akan menambah wawasan dan memberi pencerahan yang optimal kepada pelakunya.
Di samping itu, pariwisata ternyata juga berperanan di dalam mengembangkan semangat, rasa dan kesadaran keberagamaan (religousness) manusia. Bahkan wisata di dalam Islam seperti telah disiinggung di atas merupakan bagian tak terpisahkan dengan ibadah seperti ibadah haji yang melakukan prosesi dan safari suci Makkkah, Arafah, Muzdalifah, Mina dan kembali ke Mekkah. Ziarah ke kota dan masjid nabawi di Madinah dan tempat-tempat bersejarah lainnya di sekitar Mekkah dan Madinah. Bahkan sekarang berkembang wisata ibadah umrah plus mengunjungi berbagai temnpat bersejarah di negara-negara Timur Tengah. Tentu saja wisata agama ini bukan hanya milik Islam, bahkan hampir semua agama memiliki wisata jenis ini dengan segala variasinya menurut kepercayaan dan sosial budaya mereka.
Pariwisata dengan demikian mempunyai peranan yang amat luas di dalam kehidupan manusia. Akan tetapi wisata yang menyimpang dari norma ideal haruslah disingkirkan seperti wisata yang hanya menekan kepada sun, sand, sea, smile and sex (matahari, pasir pantai, laut, senyum dan seks) Wisata hiburan yang mengarah kepada eksplorasi dan eksploitasi seks dan wanita dan pria yang mengutamakan kesenangan fisik yang rendah bersifat hedonistik dan erotik untuk kepuasan lahiriah dan naluriah hewaniah, inilah yang menjadi malapetaka. Bila jeinis wisata ini yang berkembang, maka pada ujungnya akan membuahkan penyalahgunaan obat terlarang dan bahkan menjadi sarang berkembangnya HIV dan Aid, mungkin pula sars.
IV. Etika Agama Terhadap Kepariwisataan
Seperti telah disinggung pada bagian terdahulu, maka pariwisata memiliki nuansa keagamaan yang tercakup di dalam aspek muámalah sebagai wujud dari aspek kehidupan sosial budaya dan sosial ekonomi. Di dalam muámalah, pandangan agama terhadap aksi sosial dan amaliah senantiasa disandarkan kepada makna kaidah yang disebut maqashid al-syari’ah. Oleh Ibn al-Qaiyim al-Jauziah (19977:14) syariát itu senantiasa di dasarkan kepada maqashid syari’ dan terwujudnya kemaslahatan masyarakat secara keseluruhan baik di dunia maupun di akhirat, merupakan tujuan yang sesungguhnya.
Di samping itu tentu juga harus dipertimbangkan antara kemaslahatan atau manfaat dan mafsadat (keburukan), di mana menghindari keburukan jauh lebih baik daripada mengambil kebaikan . Sebangun dengan itu, mengambil yang terbaik daripada yang baik harus pula diutamakan
Di dalam kaitan ini maka bila dunia pariwisata membawa kepada kemanfaatan maka pandangan agama adalah positif. Akan tetapi apabila sebaliknya yang terjadi, maka pandangan agama niscaya akan negatif terhadap kegiatan wisata itu. Di dalam hal ini belaku kaidah menghindari keburukan (mafsadat) lebih utama daripada mengambil kebaikan (maslahat).
Oleh karena itu, pandangan agama akan positif kalau dunia kepariwisataan itu dijalankan dengan cara yang baik untuk mencapai tujuan yang baik. Agama akan berpandangan negatif terhadap wisata walaupun tujuan baik untuk menyenangkan manusia dan masyarakat tetapi dilakukan dengan cara-cara yang menyimpang dari kemauan syariat, maka hal itu ditolak.
Wisata yang menyimpang pasti bertentangan dengan agama. Terhadap hal ini, agama apa pun mengharamkannya. Lebih dari itu, pariwisata dapat pula menjadi media penumbuhan kesadaran, keimanan dan ketaqwaan serta mencapai nilai-nilai kehidupan yang luhur dan tinggi. Pada tataran ini, maka nilai-nilai filosofis adagium Minangkabau yang tertuangkan dalam ungkapan adat basandi syara, sayara’basandi kitanbulla (ABSSBK) akan terkait dengan kepariwisataan.
Untuk maksud yang terakhir ini, maka diperlukan perhatian yang proporsional dalam hubungan agama dan kepariwisataan. Dan hal ini merupakan keharusan bagi Indonesia yang mempunyai filsafat hidup berbangsa bernegara berdasarkan Pancasila yang pada sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk maksud itu semua maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut. Pertama, nilai-nilai luhur agama menjadi amat penting menjadi motivator dan sumber nilai ideal dalam pengembangan kepariwisataan. Tentu saja diperlukan suatu pendekatan persuasif, interaktif, komunikatif dan produktif antara pelaku dunia wisata seperti PHRI, ASITA, Dinas Pariwisata dan pemimpin formal dan informal di peringkat paling strategis, termasuk pimpinan dan tokoh di kenagarian pada wilayah rural dan kelurahan di wilayah urban. Termasuk ke dalamnya semua warga masyarakat harus di gesa untuk memahami kepariwisataan yang ideal. Lebih-lebih lagi di dalam Islam, semua aktifitas yang baik dan mengandung nilai-nilai positif serta dilaksanakan dengan cara yang baik, selalu bernilai ibadah.
Yang diperlukan bagi para ulama dan tokoh masyarakat adalah suatu pemahaman bahwa dunia wisata adalah bagian dari kebutuhan jasmani dan ruhani manusia yang terbimbing ke arah yang baik dan benar, terjauh dari yang berbau maksiat. Simbol-simbol kepariwisataan di antaranya dibolehkannya atau bahkan dibiasakannya petugas hotel dan wisata memakai busana muslim dan muslimah, tentu saja akan membuat warga umat Islam umumnya dan masyarakat sekitar pada khsusunya, terjauh dari prasangka buruk. Dunia perhotelan haruslah dijauhi dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai dan budaya Islami.
Selanjutnya diperlukan pengaturan tamu hotel yang harus benar-benar dijauhkan dari penggunaan obat terlarang dan sejalan dengan pencegahan praktek-praktek pergaulan bebas lintas kelamin yang tidak syah. Ini semua secara implisit merupakan bentuk ideal kemaslahatan yang menunjang kepariwisataan. Begitu pula pertunjukan yang disajikan seniman atau pelaku seni pada dunia wisata ditampilkan dalam batas-batas kewajaran dengan memperhatikan nilai adat dan agama.
Kedua, nilai-nilai ideal Islam tentang disiplin, kebersihan, kesantunan, kesabaran, keikhlasan dapat pula hendaknya menjadi rujukan bagi masyarakat pelaku dunia wisata dan masyarakat pada umumnya. Sejalan dengan itu komponen umat yang senantiasa terjun ke masyarakat seperti da’i atau mubbaligh dan muballighat, jama’ah pengajian, majelis ta’lim dan lainnya dapat diberdayakan pula untuk mengajak masyarakat luas menggunakan fasilitas wisata seperti toilet umumfasiltas umum dan objek wisata sebagai sesuatu yang mesti dipelihara kerapihan, kebersihan dan kenyamanannya secara bersama-sama dan untuk kemaslahatan (kebaikan) bersama.
Ketiga, para pekerja sektor wisata seperti sopir angkutan wisata, interpretor, pemandu wisata, travel agent, tour leader (pimpinan perjalanan) dan pramuwisata lainnya pada dasarnya merupakan representasi pencerminan apakah agama berperanan terhadap pengembangan wisata yang ideal. Apabila mereka menjalankan tugasnya secara baik, etis atau berakhlakul karimah, dan bagi yang beragama (Islam) menjalankan ibadahnya serta menyediakan waktu pula bagi peserta wisata menjalankan ibadah mereka, maka otomatis mereka bekerja sambil beribadah.
Keempat, objek wisata yang memberikan dampak nilai-nilai spiritual yang biasa disebut wisata ziarah atau wisata budaya diharapkan semakin diperkaya di samping objek lainnya. Begitu pula item-item dan pajangan bernilai sejarah, kultural, dan bernuansa religi yang terdapat di museum, gallary dan sebagainya seyogyanya diperkaya dengan hasil karya dan produk serta peninggalan yang menunjukkan jati diri bahwa artifak bernuansa agama juga tertampilkan dalam visualisasi yang memadai.
Kelima, fasilitas, perlengkapan, peralatan, akomodasi dan konsumsi. Pada setiap tempat objek wisata hendaknya di samping dilengkapi dengan toko souvenir, toilet dan sebagainya, seharusnya disediakan tempat sholat atau tempat ibadah serta ketersediaan air yang memadai untuk berwuduk yang bersih dan memadai. Penyediaan ruangan ibadah, sajadah, kitab suci al-Qur’an di laci meja atau fasilitas ibadah di dalam kamar atau di ruangan lain seperti mushalla dan masjid di dalam komplek perhotelan, amatlah penting dan komplementer. Lebih dari itu, makanan dan minuman yang disajikan terutama untuk wisatawan lokal dan domistik, harus dijamin kehalalannya. (Shofwan Karim, 2003:6-8)

IV. Penutup.
Dengan bahasan beberapa landasan normatif-tekstual dan empirik aktual tadi, tidak ada alasan bagi umat Islam untuk bersikap pasif di dalam mengembangkan dunia kepariwisataan. Karena nilai-nilai luhur Islam seperti yang diisyaratkan firman Allah swt pada bagian terdahulu, tidak ada yang bertentangan dengan kepariwisataan yang bersifat ideal.
Akan tetapi bila kepariwisataan itu hanya berkisar antara sun, sand, sea, smile and sex, dengan lebih mementingkan berjemur diri di panas pantai dengan pameran aurat dan penyalahgunaan dunia entertainment (hiburan) serta pergaulan bebas di luar ketentuan syari’at, maka hal itu bertentangan dengan nilai-idealdan tentu saja tidak mungkin cocok (compatible )dengan pandangan agama ( Islam).
Sebaliknya bila wisata yang dikembangkan benar-benar berfungsi untuk kepentingan kesejahteraan lahiriah dan batiniah yang sehat, khairat, ma’rufat tanpa maksiat dan mungkarat, inilah yang dituju . Wa Allah a’lam bi al-shawab. ***

Kepustakaan
Al-Qur’an al-Karim.

Encarta. Encylopedia Delux. Microsoft: t.t.p, 2002. CD 2

PTIQ. 1983. Pancaran Al-Qur’an terhadap Pola Kehidupan
Bangsa Indonesia. Jakarta . Pustaka Al-Husna.

Karim, Shofwan. 2003. “ Dakwah sebagai Media Pengembangan
Kepariwisataan.”. Padang: Dinas Parsenibud Sumbar.
Makalah.Forum Pertemuan antara Seniman, Budayawan,
Pemuka Agama, Adat serta Usaha Pariwisata (PHRI-
ASITA) dan MUI, 16 Juni di Bumi Minang Hotel.

Muhammadiyah, Suara. 1988. “Industri Pariwisata”. Yogyakarta.
PP Muhammadiyah. No. 18/68.

Mu’in, KHM Taib Thahir Abd. 19866. Ilmu Kalam. Jakarta.
Wijaya. Cet. VIII.

Natsir, M. 1969. Fiqhud-Da’wah : Jejak Risalah dan Dasr-dasar
Da’wah. Jakarta: Kiblat.

Nasution, Harun. 1979. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya.
Jakarta. UI Press. Jilid I.

%d blogger menyukai ini: