Andalan

Di tengah Emak Tercinta Hj . Rohana Ibrahim yang Mendidik dengan hati, Jiwa dan ikhtiar Bersama Isteri yang Kokoh dan Setia Mengharungi Hidup Sejak 25 November 1977

[R@ntau-Net] Shofwan Karim : Sumbar Belum Kehilangan Tokoh-Tokoh

[R@ntau-Net] Shofwan Karim : Sumbar Belum Kehilangan Tokoh-Tokoh
— Read on www.mail-archive.com/rantaunet@googlegroups.com/msg23652.html

Dua Buku Shofwan Dibedah Para Cendikiawan

Dua Buku Shofwan Dibedah Para Cendikiawan
Kam Des 24 , 2020

Cover Buku karya Shofwan Karim

Cover Buku karya Shofwan Karim

bakaba.co | Padang | Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) meluncurkan dan membedah dua buku sekaligus secara virtual, 18 Desember 2020. Buku Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar Buya Dr. Drs. H. Shofwan Karim, BA, MA tersebut, berjudul “Islam sebagai Dasar Negara: Polemik antara Mohammad Natsir versus Soekarno” dan “68 Tahun Melukis di Atas Awan: Memoar Biografi Dr. Shofwan Karim”.

Peluncuran dan bedah buku terbitan UMSB Press tersebut dihadiri dosen dan sivitas akademika UMSB serta warga Muhammadiyah Sumbar. Acara yang dibuka Rektor UMSB Dr. Riki Saputra MA itu menghadirkan beragam pembicara baik dari dalam maupun luar negeri.

Bedah Buku karya Shofwan Karim
Bedah Buku karya Shofwan Karim
Ketua DPD RI 2009-2016, Irman Gusman, SE, MBA yang diundang sebagai pembicara perdana mengungkapkan bahwa Shofwan Karim merupakan sahabat dekat yang sudah dikenalnya lebih dari 25 tahun. Terkait pandangannya terhadap polemik M. Natsir dan Soekarno, Irman Gusman mengatakan bahwa pandangan dan pilihan politik boleh saja berbeda, tetapi persahabatan itu abadi sifatnya. “Inilah yang diteladankan Natsir dan Bung Karno,” katanya.

Acara peluncuran dan bedah buku dimulai dengan pengantar dari editor buku Efri Yoni Baikoeni, SS, MA, dilanjutkan presentasi dari pembicara dari Malaysia, Brunei dan Indonesia.

Dr. Gamal Abdul Naseer, dosen senior Universiti Brunei Darussalam (UBD) berbicara mengenai pemikiran M. Natsir tentang integrasi ilmu pengetahuan. Cendikiawan Brunei yang pernah mengambil S-3 di Universiti Kebangsaan Malaysia dengan meneliti pemikiran M. Natsir dalam Pendidikan Indonesia tersebut menjelaskan bahwa M. Natsir telah menggagas pendidikan integral tahun 1934, jauh sebelum dunia Islam memulai pemikiran “Islamization of knowledge” pada Konferensi Pendidikan Islam pertama di Makkah tahun 1977. Gagasan ini kemudian dilanjutkan Prof. Dr. Ismail Al Faruqi. Sementara di Malaysia, konsep “Pendidikan Bersepadu” diperkenalkan Dr. Anwar Ibrahim ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan Malaysia yang sangat mengagumi konsep pemikiran M. Natsir.

Cover buku M. Natsir vs Soekarno
Cover buku Polemik Natsir vs. Soekarno
Sementara itu, pembicara dari Malaysia Prof. Dr. Firdaus Abdullah mendiskusikan mengenai pengaruh pemikiran M. Natsir di Malaysia. Mantan Wakil Rektor Universiti Malaya dan Senator Parlemen Malaysia itu menyatakan, sosok negarawan M. Natsir memberi inspirasi kepada gerakan pemuda Islam Malaysia yang tergabung dalam organisasi Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) yang pernah dipimpin Dr. Anwar Ibrahim, mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia.

Hadir pula pembicara lain, diantaranya Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. Sir Azyumardi Azra, MA yang memberi “testimoni” perjuangan Shofwan Karim ketika menyelesaikan S3 pada Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta tahun 2008 dengan judul penelitian “Nasionalisme, Pancasila dan Islam sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (Studi Pemikiran Mohammad Natsir). Bersama dengan Prof. Dr. Badri Yatim, MA, Azyumardi Azra menjadi promotor disertasi Shofwan Karim.

Baca juga: Rektor: Penerbit penting bagi Catur Dharma UMSB

Sementara Rektor Universitas Yarsi Jakarta, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D menjelaskan kiprah Shofwan Karim yang tidak hanya dikenal di dalam negeri namun juga di luar negeri khususnya keterlibatannya dalam kegiatan program pertukaran pemuda Indonesia ke luar negeri. Mantan Wakil Menteri Pendidikan RI tahun 2010–2011 tersebut mengakui memiliki banyak kesamaan jalan hidup karena pada masa mahasiswa pernah mengikuti program pertukaran pemuda ke Kanada mewakili Sumbar. Karena memiliki rekam jejak yang bagus, keduanya pun kemudian berpeluang menjadi “group leader“ bahkan “country coordinator”.

Satu-satunya pembicara wanita dalam acara ini Dr. (HC) Nurhayati Subakat, CEO PT Paragon Technology & Innovation yang menjadi sponsor dalam penerbitan buku biografi Dr. Shofwan Karim. Dalam kesaksiannya, wanita hebat di balik kesuksesan produk kosmetik “Wardah” ini mengulas kesannya terhadap buku ini. Menurutnya, dengan membaca buku ini setidaknya terdapat tiga hikmah yang dapat dipetik. Pertama, buku-buku ini dapat menjadi “legacy” sebagai pusaka bagi anak cucu. Kedua, buku ini bercerita sesuatu yang baru sehingga mengisi kekosongan yang ada “narrowing gap”. Ketiga, berbagi semangat mendokumentasikan sejarah agar nilai-nilainya dapat diwariskan kepada generasi Milenial yang dapat menuntun menuju masyarakat yang lebih beradab dan beradat.

Cover Buku Memoar Shofwan Karim
Cover Buku Memoar Shofwan Karim
Ulama senior Sumbar Buya Mas’oed Abidin dan Didi Rahmadi, S.Sos, MA (dosen Fisipol UMSB) menyorot tentang perbedaan pandangan politik antara M. Natsir dengan Soekarno. Mantan sekretaris pribadi M. Natsir tersebut juga memberikan kesaksiannya tentang upaya-upaya M. Natsir dalam mewujudkan negara Islam di Indonesia secara konstitusional.

Tokoh pers nasional, H. Basril Djabar menceritakan kesan atas semangat kegigihan seorang Shofwan Karim sehingga bisa sukses dalam berbagai dimensi, tidak saja dalam bidang pendidikan, akademisi, maupun keluarga. Penasehat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar tersebut juga menjelaskan interaksi mereka yang cukup intens tidak saja karena sama-sama menjabat sebagai Komisaris PT Semen Padang namun juga kesamaan pandangan dalam mengembangkan dunia jurnalistik di Sumbar.

Acara diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan dari Rektor UMSB kepada para narasumber. Setiap peserta berkesempatan mendapat e-book kedua buku tersebut secara gratis.

Dua Buku Shofwan Dibedah Para Cendikiawan

Cover Buku karya Shofwan Karim

Cover Buku karya Shofwan Karim

bakaba.co | Padang | Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) meluncurkan dan membedah dua buku sekaligus secara virtual, 18 Desember 2020. Buku Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar Buya Dr. Drs. H. Shofwan Karim, BA, MA tersebut, berjudul “Islam sebagai Dasar Negara: Polemik antara Mohammad Natsir versus Soekarno” dan “68 Tahun Melukis di Atas Awan: Memoar Biografi Dr. Shofwan Karim”.

Peluncuran dan bedah buku terbitan UMSB Press tersebut dihadiri dosen dan sivitas akademika UMSB serta warga Muhammadiyah Sumbar. Acara yang dibuka Rektor UMSB Dr. Riki Saputra MA itu menghadirkan beragam pembicara baik dari dalam maupun luar negeri.

Bedah Buku karya Shofwan Karim
Bedah Buku karya Shofwan Karim

Ketua DPD RI 2009-2016, Irman Gusman, SE, MBA yang diundang sebagai pembicara perdana mengungkapkan bahwa Shofwan Karim merupakan sahabat dekat yang sudah dikenalnya lebih dari 25 tahun. Terkait pandangannya terhadap polemik M. Natsir dan Soekarno, Irman Gusman mengatakan bahwa pandangan dan pilihan politik boleh saja berbeda, tetapi persahabatan itu abadi sifatnya. “Inilah yang diteladankan Natsir dan Bung Karno,” katanya.

Acara peluncuran dan bedah buku dimulai dengan pengantar dari editor buku Efri Yoni Baikoeni, SS, MA, dilanjutkan presentasi dari pembicara dari Malaysia, Brunei dan Indonesia.

Dr. Gamal Abdul Naseer, dosen senior Universiti Brunei Darussalam (UBD) berbicara mengenai pemikiran M. Natsir tentang integrasi ilmu pengetahuan. Cendikiawan Brunei yang pernah mengambil S-3 di Universiti Kebangsaan Malaysia dengan meneliti pemikiran M. Natsir dalam Pendidikan Indonesia tersebut menjelaskan bahwa M. Natsir telah menggagas pendidikan integral tahun 1934, jauh sebelum dunia Islam memulai pemikiran “Islamization of knowledge” pada Konferensi Pendidikan Islam pertama di Makkah tahun 1977. Gagasan ini kemudian dilanjutkan Prof. Dr. Ismail Al Faruqi. Sementara di Malaysia, konsep “Pendidikan Bersepadu” diperkenalkan Dr. Anwar Ibrahim ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan Malaysia yang sangat mengagumi konsep pemikiran M. Natsir.

Cover buku M. Natsir vs Soekarno
Cover buku Polemik Natsir vs. Soekarno

Sementara itu, pembicara dari Malaysia Prof. Dr. Firdaus Abdullah mendiskusikan mengenai pengaruh pemikiran M. Natsir di Malaysia. Mantan Wakil Rektor Universiti Malaya dan Senator Parlemen Malaysia itu menyatakan, sosok negarawan M. Natsir memberi inspirasi kepada gerakan pemuda Islam Malaysia yang tergabung dalam organisasi Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) yang pernah dipimpin Dr. Anwar Ibrahim, mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia.

Hadir pula pembicara lain, diantaranya Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. Sir Azyumardi Azra, MA yang memberi “testimoni” perjuangan Shofwan Karim ketika menyelesaikan S3 pada Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta tahun 2008 dengan judul penelitian “Nasionalisme, Pancasila dan Islam sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (Studi Pemikiran Mohammad Natsir). Bersama dengan Prof. Dr. Badri Yatim, MA, Azyumardi Azra menjadi promotor disertasi Shofwan Karim.

Baca juga: Rektor: Penerbit penting bagi Catur Dharma UMSB

Sementara Rektor Universitas Yarsi Jakarta, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D menjelaskan kiprah Shofwan Karim yang tidak hanya dikenal di dalam negeri namun juga di luar negeri khususnya keterlibatannya dalam kegiatan program pertukaran pemuda Indonesia ke luar negeri. Mantan Wakil Menteri Pendidikan RI tahun 2010–2011 tersebut mengakui memiliki banyak kesamaan jalan hidup karena pada masa mahasiswa pernah mengikuti program pertukaran pemuda ke Kanada mewakili Sumbar. Karena memiliki rekam jejak yang bagus, keduanya pun kemudian berpeluang menjadi “group leader“ bahkan “country coordinator”.

Satu-satunya pembicara wanita dalam acara ini Dr. (HC) Nurhayati Subakat, CEO PT Paragon Technology & Innovation yang menjadi sponsor dalam penerbitan buku biografi Dr. Shofwan Karim. Dalam kesaksiannya, wanita hebat di balik kesuksesan produk kosmetik “Wardah” ini mengulas kesannya terhadap buku ini. Menurutnya, dengan membaca buku ini setidaknya terdapat tiga hikmah yang dapat dipetik. Pertama, buku-buku ini dapat menjadi “legacy” sebagai pusaka bagi anak cucu. Kedua, buku ini bercerita sesuatu yang baru sehingga mengisi kekosongan yang ada “narrowing gap”. Ketiga, berbagi semangat mendokumentasikan sejarah agar nilai-nilainya dapat diwariskan kepada generasi Milenial yang dapat menuntun menuju masyarakat yang lebih beradab dan beradat.

Cover Buku Memoar Shofwan Karim
Cover Buku Memoar Shofwan Karim

Ulama senior Sumbar Buya Mas’oed Abidin dan Didi Rahmadi, S.Sos, MA (dosen Fisipol UMSB) menyorot tentang perbedaan pandangan politik antara M. Natsir dengan Soekarno. Mantan sekretaris pribadi M. Natsir tersebut juga memberikan kesaksiannya tentang upaya-upaya M. Natsir dalam mewujudkan negara Islam di Indonesia secara konstitusional.

Tokoh pers nasional, H. Basril Djabar menceritakan kesan atas semangat kegigihan seorang Shofwan Karim sehingga bisa sukses dalam berbagai dimensi, tidak saja dalam bidang pendidikan, akademisi, maupun keluarga. Penasehat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar tersebut juga menjelaskan interaksi mereka yang cukup intens tidak saja karena sama-sama menjabat sebagai Komisaris PT Semen Padang namun juga kesamaan pandangan dalam mengembangkan dunia jurnalistik di Sumbar.

Acara diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan dari Rektor UMSB kepada para narasumber. Setiap peserta berkesempatan mendapat e-book kedua buku tersebut secara gratis.

| relumsb/bakaba

Dua Buku Shofwan Dibedah Para Cendikiawan

Para Ketua PWM Sumbar

https://hadinur.net/2020/02/02/ketua-pwm/

Buya Ahmad Rasyid Sutan Mansur

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat

Buya Ahmad Rasyid Sutan Mansur adalah Ketua PWM Sumbar ke-4, 1939-1936. Ayah Prof Dr Hadi Nur, Prof. Drs. Nur Anas Djamil, adalah Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat yang ke-21 (1995-2000), dan Prof. Dr. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) adalah ketua yang ke-5 (1946-1949).

No. Nama Tahun

1. Engku Dt. Panghulu Basa * 1925

2. Saalah Yusuf St. Mangkuto * 1926-1928

3. Saalah Yusuf St. Mangkuto * 1928-1930

4. A.R. Sutan Mansoer * 1930-1935

5. Prof. Dr. Hamka * 1946-1949

6. Saalah Yusuf St. Mangkuto ** 1949-1956

7. H.A. Malik Ahmad ** 1956-1958

8. Muhammad Yatim ** 1958-1962

9. H. Haroen El Ma’any 1962-1964

10. Drs. Jam’an Saleh, M.O 1964-1966

11. H.A.K. Dt. Gunung Hijau 1966-1969

12. H.A.K. Dt. Gunung Hijau 1969-1972

13. H. Zainoel Abidin Syuaib 1972-1975

14. H. Zainoel Abidin Syuaib 1975-1978

15. H. Zainoel Abidin Syuaib 1978-1983

16. H. Zainoel Abidin Syuaib 1983-1984

17. H. Hasan Ahmad 1984-1984

18. H.M. Idris Manaf 1984-1986

19. H. Amir Ali 1986-1991

20. H. Radin Rahman 1991-1995

21. Prof. Drs. H. Nur Anas Djamil 1995-2000

22. Dr. H. Shofwan Karim Elhussein, M.A. 2000-2005

23. Drs. H. RB. Khatib Pahlawan Kayo 2005-2010

24. Drs. H. Dasril Ilyas 2010-2013

25. Prof. Dr. H. Rusydi AM. Lc. M.Ag. 2013-2015

26. Dr. H. Shofwan Karim Elhussein, M.A. 2015-2020

* Periode Perintis ** Ketua Sumatera Tengah

Memoar 44 Tahun, Shautul Jamiah-Suara Kampus

Edisi 1986 Format Majalah.

Kiriman Abdullah Khusairi.

Memoar 44 Tahun, Shautul Jamiah-Suara Kampus

Oleh Shofwan Karim

Memoar 44 tahun lalu. Barusan terima Whatsapp Message (WA) dari Dr. Abdullah Khusairi, M.A. Rabu, 22/9/2021. Kami memanggilnya Heri. Generasi pengelola Suara Kampus tahun 2000-an. Anak muda yang cemerlang ini aktif di Pers Kampus dan menjadi Wartawan. Laporan dan tulisannya terpapar di media. Seingat saya basisnya di Jawa Pos Group, Padang Ekspres. Kini, anak muda yang tampan dan supel ini adalah dosen di Fak Dakwah UIN dan penulis aktif buku dan media pers.

Heri mengrim beberapa foto serpihan Suara Kampus (SK) yang waktu berdirinya 1977 disebut Shautul Jami’ah. Media cetak koran kemudian majalah, kemudian koran lagi, kemudian majalah lagi, kemudian koran lagi dan kini menjadi media digital online yang tetap eksis di IAIN Imam Bonjol Padang-UIN Imam Bonjol Padang.

Saya menjadi ingat tokoh-tokoh awal SK itu. Dr. Yulizal Yunus, M.Si, Drs. H. Zaili Asril, M.A (alm), Drs, Syafrizal MS (alm), Drs. Fachrul Rasyid HF, Drs. H. Adi Bermasa, Dr. H. Alirman Hamzah, M.Ag., Dr. H. Mafri Amir, M.A., Drs. Herman L, Drs. Akmal Darwis, Dr. Asfar Tanjung, M.A, Drs. Hambali, Drs. Sartoni, M.A., Prof. Dr. H. Salmadanis, M.Ag., Dr. H. Raichul Amar, M.Pd, Hj. Emma Yohanna, B.A., S.Pd.I., Dra. Nuraini Ahmad, Drs. H. Wardas Tanjung, dan lainnya.

Pembina kami waktu itu adalah Pimpinan IAIN IB dari 1976, sampai 1980-an. Mereka antara lain, Rektor Drs, kemudian Prof. Dr. H. Sanusi Latif, Drs. Soufyan Ras Burhany (Wk Rektor II & III), Drs. Usman Latif (Sekretaris IAIN), Drs. Ruslan Latif (Sekretaris IAIN), Kolonel AD Purn H. Hasnawi Karim yang menjadi Rektor setelah Prof Sanusi. Fauzan El Muhammady, M.A (Prof. Dr.) menjadi Wak Rektor I.

Ada lagi Drs. Kamaruttamam, Dekan F Tarbiyah kemudian Wk Rektor II. Drs. Aguslir Nur Dekan F Tarbiyah kemudian Wak Rektor I, Drs. Nurmawan Abdul Jabar Dekan F Tarbiyah, Drs. H. Zainir Naid (Dosen Wak Dekan I F Tarbiyah, H Bahrum Sutan Karyo dan Drs, H, Nukman, Drs. Ahmad Zaini, Dekan F Adab, Drs. Gafar MS, Drs. H Syahruddin Akhir, Dekan F Dakwah.

Ada Drs. H. Nursal Seran, M.A. Dekan F Syariah, Asnawir, B.A.-Keuangan, kemudian Wak Rektor II (Prof. Dr.), Drs. H. Djaja Sukma, Dekan F Ushuluddin, Kemudian Wak Rektor III. Dra. Hj. Meiliarni Rusli, Wak Dekan III Fak Dakwah, kemudian Wak. Rektor III.

Begitu pula Rektor Prof. Dr. Amir Syarifuddin, deretan Rektor setelah Sanusi Latif dan Hasnawi Karim. Kemudian Rektor Prof. Dr. Mansur Malik, setelah Prof Amir Syarifudin. Drs. Fauzi Yusuf-Keuangan Kantor Pusat-, Zainuddin Lajin, B.A., Tata Usaha F Tarbiyah dan banyak lagi pimpinan rektorat, dekanat dan dosen senior dan staf IAIN zaman itu.

Format Majalah. Kiriman Abdullah Khusairi.

Saya langsung audio call by WA kepada Heri. Saya bilang, ini dapat di mana? Katanya ada temannya, Taufik. Bertemu sobekan itu di tempat kosnya. Siapa Taufik? Masih saya lacak. Saya hanya katakan kepada Heri.

Bagi kami yang sudah hampir kepala 7 ini, –alhamdulillah wa syukrulillah masih diberi usia dan kesehatan oleh Sang Khalik–memoar 44 tahun lalu itu amatlah berharga. Kata saya, “Heri, ini lebih berharga dari 1 kg emas” . Heri tertawa terpingkal-pingkal. Nilainya bukan pada sobekan koran dan majalah itu tetapi mengenang kembali episoda lebih 4 dekade lalu.

Koran itu awalnya bulanan. Dicetak di Persetakan Sumatra Offset. Dulu terletak antara jalan Hiligoo-ke SMK 9 Padang, Pondok (kini). Sekarang Sumatera Offset sudah di Jl Agus Salim. Pak Kamener yang punya. Waktu 70-an awal 80-an itu masih percetakan lama dengan menyusun huruf terbuat dari timah. Rumit juga. Berhari-hari kami mengawasi karyawan bagian penyusunan huruf itu kami tongkrongi berganti-ganti.

Dana pencetakan dapat bantuan dari IAIN. Saya lupa berapa ongkos cetak sekali sebulan itu. Yang jelas kami tidak mendapat honor sebagai pekerja dan, reporter dan penulis. Honornya hanya kebahagiaan hati dan kebanggaan.

Saya masih dapat membayangkan bagaiman Fachrul Rasyid yang punya Honda CB 100 CC (beliau hanya satu-satunya di antara kami para aktifis yang punya kenderaan roda dua waktu itu) membawa tompangan bergantian di antara kami duduk di belakang bertahap-tahap membawa bundelan koran yang masih hangat cetak itu ke Kampus Sudirman 25 Padang.

Lalu digendong oleh Salmadanis, atau Sartoni atau Akmal Darwis dari Honda ke Lantai 2 Gedung Kampus 1 Sudirman. Kantor Suara Kampus dengan beberapa mesin tik di ruangan dekat WC itu. Baru nanti dibagikan gratis ke mahasiswa-mahasiswi serta dosen dan karyawan. Coba bayangkan sulitnya masa itu. Untuk satu artikel atau berita menunggu satu bulan dan proses persiapan naskah serta percetakan bisa 1 sampai 2 pekan. Tidak bisa dibandingkan dengan revolusi 4.0 atau sebentar lagi 5.0 sekarang.

Waktu itu mulai terjadi persaingan positif antara kampus. Tetapi kita SK IAIN yang tertua dan pada awalnya.Berikutnya, IKIP menerbitkan media Kampus Ganto. Pemrednya Dosen IKIP (waktu itu) UNP Makmur Hendrik dan Haris Efendi Thahar (Prof. Dr.). Makmur adalah tokoh pers masa itu yang menjadi wartawan Kompas dan penulis novel bersambung “Tikam Samurai” Singgalang sekaligus wartawan dan redaktur Singgalang. Haris adalah penyair dan penulis serta mahasiswa senior kemudian dosen dan Guru Besar UNP. Beliau-beliau di antara idola kami.

Edisi 1984 format Majalah. Kiriman Abdullah Khusairi.

Berikutnya Unand menerbitkan Suara Andalas. Saya hanya ingat salah seorang redakturnya Syaiful Bahri. Di samping Mahasiswa Fak Eknomi Unand, Syaiful Wartawan Olahraga Harian Haluan.

Walaupun kelihatan bersaing, media tiga kampus ini, tetapi kami kompak dan bermitra dalam pembinaan SDM. Maka setiap kampus mengadakan Sekolah-Penataran Pers Kampus. Berganti-ganti pelaksananya. Sekali di IAIN, berikutnya di IKIP kemudian Unand. Saya sendiri selalu ikut di 3 lokasi sekolah pers itu dan kadang-oadang jadi panitia.

Yang menjadi instruktur adalah para wartawan muda , senior nasional dan Sumbar waktu itu. Di antaranya Makmur Hendrik (Kompas), Wall Paragoan (Sinar Harapan), Inyiak Nasrul Sidik (Singgalang-Canang), Anas Lubuk, Rusli Marzuki Saria, Rivai Marlaut, (Haluan), H. Basril Djabar, Pendiri dan Pemimpin Umum Harian Singgalang dan Chairul Harun, Pemimpin Redaksi Harian Singgalang dan wartawan Tempo, Muchlis Sulin, Yusfik Helmi (Singgalang).

Begitu pula AA Navis Sastrawan dan penulis terkenal dengan Robohnya Surau Kami. Navis dan tokoh-tokoh lain tadi, bukan saja nara sumber di Sekolah Pers,. Mereka juga sering kami undang atas nama kampus menjadi nara sumber kuliah umum, diskusi, seminar. Ada lagi tokoh-tokoh seperti Wisran Hadi, Leon Agusta, Hamid Djabar , Darman Moenir, Edi P Ruslan Amanriza, Alwi Karmena, sering ke Sudirman 25. menjadi nara sumber diskusi dan tutorial sastra, seni, teater dan kebudyaan secara umum.

Deretan mereka yang disebut belakangan tadi adalah sastrawan, dramawan-teaterawan, dan budayawan top masa itu. Kami latihan drama dan teater. Manggung di Padang. Ketiga kampus utama di Padang kala itu di samping aktif dalam dunia pers juga dunia teater. Di IKIP dan Unand, juga marak aktifitas Teater Mahasiswa. Begitu pula diunia olahraga. Terutama Voli Bal. IAIN adalah juara antar univerisitas, institut dan perguruan tinggi se- Sumbar.

Untuk dunia teater, selain di Sumbar, kita manggung di Pekanbaru, Medan, dan Jakarta. Kita punya grup yang berbasis di lembaga bahasa. Saya menjadi sekretaris lembaga ini (belum pegawai). Direkrurnya adalah Drs. Zainir Naid yang pulang dari Program Colombo Plan, Australia. Dan Nursal Saeran sebagai salah satu pembina Lembaga Bahasa. Nursal baru selesai program Masternya dari Standfort University, California, AS.

Untuk Bahasa Arab dan Indonesia instruktur dan pembinanya adalah Syekh Abdul Latif Musa dari Al-Azhar University, Kairo dan Drs Nurmawan abdul Jabar serta Ibu Ramadian dari IKIP yang menjadi dosen pula di IAIN..

Pertunjukan teater dan hari haflah bahasa menjadi sinkron. Ada naskah yang diangkat dalam dan luar. ” Hanya Satu Kali” adalah karya Anton P Chekov. ” Di Kaki Bukit Taraqalli'” adaptasi karya penulis Mesir. Teater dan haflah bahasa diadakan dalam 3 bahasa (B Indonesi, B Arab dan B Inggris). Bergantian tiap bulan di Aula Sudirman. Itu semua ternyata dapat menggairah penggunaan bahasa asing.

Dengan kemampuan bahasa lisan dan tulisan, mahasiswa-i menjadi percaya diri. Maka pada waktu itu banyak mahasiswa-i IAIN mengikuti program pertukaran pemuda dan mahasiswa di dunia. Terutama Asia Tenggara dan Jepang: Yurnal Young, Eni Rosyda dan Wisyli Wahab. Ke Kanada ada Ruysdayati Idrus, Emma Yohanna , Shofwan Karim dn Bustari.

Banyak pula yang melanjutkan kuliah ke Timur Tengah seperti Kairo, Sudan, Maroko dan Saudi Arabia. Ada Maidir Harun (Prof. Dr.). Ruysdi AM (Prof. Dr). Maznal Zajuli (Prof. Dr.). M. Jarir, M.A., Yunahar Ilyas, (Prof.Dr) dan lainnya. Semuanya boleh dianggap di samping produk kemampuan akademik di bangku kuliah, handalnya dosen pengasuh dan pembimbing, juga buah dari dinamika dan mobilitas , geneologi intelektual Kampus. Ujungnya rentetan produk=-produk itu menjadi konsumsi berita bagi Shautul Jamiah-Suara Kampus. Juga menjadi konsumsi media yang terbit di daerah dan nasional.

Sisi lain, gemuruh, sorak riang-gembira dunia teter sejalan dengan dinamika penguasaan bahasa tadi . Di antara anggota grup Teater Imam Bonjol waktu itu adalah Yunahar Ilyas-Alm (Prof, Dr, GB UMY), Ilza Mayuni (Prof. Dr.) kini Guru Besar di UNJ , Yahya Imam Sari (Imam di Masjid London – Mosque), Adlis Hamdar, Yusmawati, Hj. Emma Yohanna (B.A., S.Pd.I-DPD RI), Kolonel Laut Purn Drs. Azwarlis Zakaria, Dra Latifah, Isteri Prof Dr Armai Arif, Dra. Elyusni (Pensiunan Guru), Drs. Irdinansyah, Drs. Kardinal. Di antara mereka ada yang dilirik oleh sutradara Film Jakarta, sehingga ikut main film yang shooting di Sumbar. Di antaranya Elyusni, Irdinansyah dan Kardinal . Yang saya ingat –kalau tak salah–film, “Titian Rambut Dibelah Tujuh”

Ilustrasi foto ini adalah kiriman Nandito Putra yang pernah menjadi Redaktur Suara Kampus (Kiriman 22.09.2021)

Kembali ke sekolah pers. Instruktur lain, tentu saja ada unsur pemerintah kala itu dari Kanwil Deppen. Ada tokoh cendekiawan dan kampus seperti Prof. Hendra Esmara (Ekonom) dan Dr. Mochtar Naim (Sosiolog), Unand dan para Rektor 3 Perguruan Tinggi Negeri kala itu (IKIP, IAIN dan Unand).

Produk dari kerja media pers mahasiswa cukup signifikan untuk kemajuan pers di Sumbar kala itu. Alumni media pers kampus banyak yang menjadi wartawan profesional di Sumbar dan Jakarta. Secara khusus kebanyakan yang mengisi itu dari IAIN. Sehingga ada guyonan masa itu. Kalau tamat IAIN menjadi ustazd atau wartawan. ***

Yold, Pengabdian Tanpa Pensiun

Q.S 17:23
۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS, 17:23)

Yold atau Young Old adalah singkatan kata yang saya kutip dari sebuah video TouTube. Artinya adalah orang muda dan sekaligus tua. https://youtu.be/qc923i_8HwM

Pada Desember 2013 dan Februari 2015, saya sering bertemu Yold. Pada dua musim winter itu, setelah rapat-rapat ada kunjungan ke lokasi program aksi kepemimpinan pemuda. Ke berapa kota kecil atau komunitas di 4 provinsi. Ontario, Quebec, Nova Scotia dan Prine Edaward Island, Kanada, belahan Timur.

Kanada dengan populasi 35 Juta orang (2015) boleh menjadi contoh fenomena Yold. Jaminan kesehatan yang tinggi. Ekonomi dan kemakmuran yang tinggi. Tingkat indeks kebahagiaan atau happiness index yang tinggi Ditambah melimpahnya imigran ke Kanada. Kini (2021) penduduk Kanada naik tajam menjadi 39.500.000 atau hampir 40 Juta jiwa.

Di kota Halifax, Truro dan Charlottetown saya sering berbincang dengan senior citizen atau para lanjut usia, Yold ini. Di sela review program Youth Leaders In Action (YLIA) Canada World Youth kami berkunjung ke pusat-pusat kerja anak muda dan ke panti jompo.

Menurut statistik 2011 pergeseran demografis Kanada usia di atas 65 tahun meningkat dari 13,7 % tahun 2006 menjadi 14,8 % tahun 2011. Bagaimana Indonesia? Catatan 2021 populasi indonesia lebih 270,2 juta juta jiwa.

Orang Indonesia berusia lanjut di atas 65 tahun per-Februari 2021 adalah 5,95 %. Artinya sekitar 16 juta jiwa. Maka nampaknya, di manapun usia lanjut semakin bertambah terutama di negara G-20 (Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brazil, Britania Raya, RRT, India, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Prancis, Rusia, Turki, dan Uni Eropa).

Di Truro, kota bagian tengah Provinsi Nova Scotia, saya agak serius menggali bagaimana para Yold ini menikmati hidup dengan suka cita. Mereka bukan saja ada di tempat keramaian dan rekreasi tetapi banyak pula yang bekerja di pusat pelatihan pemuda.

Di pusat rehabilitasi remaja yang bermasalah. Baik rumah tangga maupun pelanggaran moral dan penyalahgunaan ganja, narkotika dan obat terlarang sampai 2015.

Tahun 2018 pemakaian narkoba sudah legal. Baik untuk medis maupun kesenangan atau rekreasi. Akan tetapi efeknya tidak berkurang atas prilaku seseorang. Di dunia ada 5 negara yang melegalkan ganja dan semacamnya. Belanda, Kanada, Amerika Serikat, Thailand dan Jamaica. Pembimbing oang-orang penyintas narkoba untuk kembali normal, banyak kaum Yold ini.

Selain itu para Yold ini banyak pula yang menjadi guru seni musik, dan lukis. Ada yang menjadi penolong anak-anak sekolah dasar, play grup, kindergarten atau taman kanak-kanak yang akan menyeberang jalan pada zebra cross.

Juga ada yang menjadi pelayan panti asuhan, disablitas (berkebutuhan khusus). Bahkan di panti Jompo untuk orang seusia mereka pun dilayani oleh para Yold itu. Di sini panti jompo (terjemahan bebas) disebut, Nursing Home. Banyak sekali jenis dan macam pekerjaan para Yold ini.

“Mengapa masih tetap bekerja?” tanya saya kepada beberapa di antara mereka. Saya tahu mereka sudah mempunyai jaminan sosial dan jaminan hari tua. Baik untuk pensiunan pemerintah maupun swasta bahkan mereka yang bekerja mandiri, sistem di sini sudah mengatur pensiunan. Atas pertanyaan itu dengan santai kaum Yold ini menjawab.

Pertama, “badan sehat, pikiran normal, dan jiwa pun senang serta bahagia. Dengan bekerja itu, semuanya dapat dipertahankan.” kata mereka dengban sumringah dan dada lapang sambil menyedu secangkir kopi. Di luar hujan salju sedang memberikan pemandangan lain.

Kedua, “ada kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri dengan bekerja”, kata mereka. “Terkoneksi dalam relasi yang mumpuni dengan orang lain di komunitas pekerjaan. Rasanya hidup lebih berarti. Secara finansial, untuk hidup sederhana sudah ada jaminan asuransi sosial dan kesehatan . Semua anak-anak dan keluarga sudah punya kehidupan sendiri.” sambung mereka.

Anak-anak mereka bahkan punya rumah sendiri terpisah dengan para Yold tadi. Maka pasangan Yold merasa lebih bermakna hidupnya bila mereka yang sudah menjadi kakek dan nenek itu tererus bekerja di tempat yang sesuai dengan gairah dan talenta masing.

Ketiga, ” di sini (Kanada) ada peraturan umum secara federal dan aturan khusus pada tiap provinsi dan territorial khusus. Kanada mempunyai 10 provinsi dan 3 wilayah khusus tadi. Provinsi British Columbia di sebelah Barat, Alberta, Saskatchewan dan Manitoba di wilayah Prairie. Lalu Ontario dan Quebec, agak ke Timur. Lalu di kawasan pantai dan kepulauan di Timur: New Brunswick, Prinsce Edward Island, Nova Scotia dan New Foundland-Labrador. Kemudian special territory Northwest Territory, Yukon dan Nunavut.

Bagi mereka para pensiunan yang sehat lahiriah-batiniyah dan sanggup berkerja yang kita sebut Yold ini, dibolehkan bekerja paruh waktu dan menjadi relawan . Bidangnya terserah kepada yang bersangkutan dan ketersediaan di pemukiman atau kota dan komunitas domisili mereka.

Bahkan pada provinsi tertentu seperti Nova Scotia di Kota Truro, mereka dihimbau untuk lanjutkan pengabdian 3 kali dalam sepekan.

“Saya sambil yang ini (3 kali sepekan)”, seorang Yold yang menarik grobak mengangkut tumpukan pakaian bekas pakai yang masih bagus untuk dicuci.

“Nanti pakaian ini akan digelar pada open hause, untuk mereka yang memerlukan”, katanya. Dan pada suatu sore saya melihat beberapa orang yang memilihnya. Ketika saya tanya, siapa mereka, mereka jawab, “kami para imigran dari beberapa negara”. Lalu , kami saling melambaikan tangan.***

%d blogger menyukai ini: